وَضَرَبَ
dan (berhubung dengan hal kaum yang kufur ingkar) … memberikanand (concerning the case of the people who disbelieve and deny) … has put forward (AllahAllah)
يَأۡتِيهَا
yang didatangi (lit. … datang kepadanya)to which … came (lit. … comes to it) (rezekinya rizquhaits provision rizquhā)
فَكَفَرَتۡ
kemudian penduduknya kufur (lit. maka … kufur)then its people denied (lit. so … denied) (ia (negeri itu)it (the town))
Terjemahan: Dan (berhubung dengan hal kaum yang kufur ingkar) Allah memberikan satu contoh: Sebuah negeri yang aman damai dan tenteram, yang didatangi rezekinya yang mewah dari tiap-tiap tempat, kemudian penduduknya kufur akan nikmat-nikmat Allah itu, maka Allah merasakannya kelaparan dan ketakutan yang meliputi keseluruhannya disebabkan apa yang mereka telah lakukanTranslation: And (concerning the case of the people who disbelieve and deny) Allah has put forward an example: a town that was secure, peaceful and calm, to which its abundant provision came from every place; then its people denied those favours of Allah, and so Allah caused it to taste hunger and fear covering it entirely, because of what they had done.
Nota nahu: بِمَا كَانُوا۟ يَصْنَعُونَ dan فَكَفَرَتْ (ayat 112).Grammar note: بِمَا كَانُوا۟ يَصْنَعُونَ and فَكَفَرَتْ (verse 112).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَحَصَلَ بِذَلِكَ أَنَّ الْجُوعَ وَالْخَوْفَ مُحِيطَانِ بِأَهْلِ الْقَرْيَةِ فِي سَائِرِ أَحْوَالِهِمْ وَمُلَازِمَانِ لَهُمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/306–307 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/306–307 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, mengkufuri “nikmat-nikmat Allah” bermakna mengkufuri Allah yang memberi nikmat, kerana penduduknya menyekutukan-Nya dalam ibadah lalu tidak bersyukur kepada Pemberi nikmat yang sebenar. Dalam ungkapan “Allah merasakannya kelaparan dan ketakutan”, kata merasakan ialah isti‘ārah (kiasan) bagi rasa sakit yang meresap seperti rasa makanan memenuhi mulut, manakala lafaz libās (pakaian) menggambarkan lapar dan takut itu seperti pakaian yang melekat pada pemakainya. Hasilnya, lapar dan takut itu meliputi penduduk negeri itu dalam segala keadaan dan tidak lekang daripada mereka.
Renungan: Nikmat aman dan rezeki boleh bertukar menjadi lapar dan takut apabila Pemberinya dilupakan; marilah kita menjaga nikmat dengan bersyukur.According to Ibn ‘Āshūr, to deny Allah’s favours means to deny the One who bestows them, for the people joined others with Him in worship and so did not thank the true Giver. In the wording, tasting is an isti‘ārah, a figure of speech, for pain that is felt deeply, the way food fills the mouth that tastes it; and the word libās, clothing, pictures hunger and fear as a garment clinging to its wearer. The result is that hunger and fear surrounded the people of that town in every state and never left them.
Reflection: Safety and provision can turn into hunger and fear when their Giver is forgotten; let us guard our blessings with gratitude.
جَآءَهُمۡ
mereka pula telah didatangi (lit. telah datang kepada mereka)they in turn were visited by (lit. came to them) (Rasul rasuluna Messenger rasūlun)
فَأَخَذَهُمُ
maka mereka pun ditimpa (lit. maka … menimpa mereka)so they were struck by (lit. so … seized them) (azab al‑‘adzabuthe punishment al‑‘adhābu)
Terjemahan: Dan demi sesungguhnya, mereka pula telah didatangi seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, lalu mereka mendustakannya; maka mereka pun ditimpa azab sedang mereka berkeadaan zalimTranslation: And most surely, they in turn were visited by a Messenger from among themselves, then they denied him; so they were struck by the punishment while they were in a state of doing wrong.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«زِيدَ هُنَا أَنَّ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ عَامٌّ لِكُلِّ عَمَلٍ لَا يُرْضِي اللَّهَ غَيْرَ مَخْصُوصٍ بِكُفْرِهِمْ نِعْمَةَ اللَّهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/308 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/308 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini menambah bahawa perbuatan yang menyebabkan negeri itu diazab meliputi setiap amalan yang tidak diredhai Allah, bukan hanya kufur nikmat; dan antara yang paling buruk ialah mendustakan Rasul yang datang “dari kalangan mereka sendiri”, sedangkan hal itu lebih jelas menunjukkan kurnia dan kelembutan Allah kepada mereka. Ayat ini dikuatkan dengan lām al-qasam (lam sumpah) dan qad (partikel penegas) kerana ia membawa peringatan kepada pendengarnya.
Renungan: Utusan yang datang dari kalangan kita sendiri ialah tanda kasih sayang Allah; marilah kita menyambut peringatan-Nya, bukan menolaknya.According to Ibn ‘Āshūr, this verse adds that the deeds behind the town’s punishment covered every act that does not please Allah, not only ingratitude for His favours; and among the worst of them was rejecting a Messenger who was one of their own, though that very fact showed Allah’s favour and gentleness to them all the more clearly. The statement is stressed with lām al-qasam, the oath particle, and qad, a particle of emphasis, because it carries a warning to those who hear it.
Reflection: A messenger sent from among our own people is a sign of Allah’s care; let us welcome His reminders rather than turn them away.
فَكُلُواْ
oleh itu, makanlah (wahai orang-orang yang beriman)so eat (O you who believe) (kamu sekalianyou all)
رَزَقَكُمُ
telah dikurniakan … kepada kamu (lit. … telah mengurniakan rezeki kepada kamu)has been bestowed on you (lit. … has provided you) (AllahAllah)
Terjemahan: Oleh itu, makanlah (wahai orang-orang yang beriman) dari apa yang telah dikurniakan Allah kepada kamu dari benda-benda yang halal lagi baik, dan bersyukurlah akan nikmat Allah, jika benar kamu hanya menyembah-Nya semata-mataTranslation: So eat (O you who believe) of what has been bestowed on you by Allah, of things that are lawful and good, and give thanks for the favour of Allah, if it is truly Him alone that you worship.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمَقْصُودُ: فَاشْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ وَلَا تَكْفُرُوهَا فَيَحِلَّ بِكُمْ مَا حَلَّ بِأَهْلِ الْقَرْيَةِ الْمَضْرُوبَةِ مَثَلًا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/309 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/309 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini disusun atas perumpamaan negeri tadi: perintah “makanlah” ialah untuk mengingatkan kurnia Allah, dan menjadi pendahuluan kepada perintah bersyukur yang menjadi tujuan sebenar, iaitu: bersyukurlah dan jangan kufur nikmat, nanti menimpa kamu apa yang menimpa penduduk negeri itu. Ungkapan “bersyukurlah akan nikmat Allah” ialah lawan bagi kufur nikmat negeri tersebut, dan ia dikaitkan dengan syarat untuk mendorong supaya kebenaran iman mereka terzahir.
Renungan: Setiap suap rezeki ialah peringatan untuk bersyukur; marilah kita menzahirkan iman kita dengan syukur yang nyata.According to Ibn ‘Āshūr, this verse builds on the parable of the town: the command to eat is a reminder of Allah’s favour and paves the way for the command to give thanks, which is the real aim, meaning: be thankful and do not deny His favour, or what befell the people of that town will befall you. The call to thank Allah answers the town’s ingratitude, and it is tied to a condition to spur people to show the truth of their faith.
Reflection: Every mouthful of provision is a reminder to be grateful; let us show our faith through real thankfulness.
ٱضۡطُرَّ
terpaksa (memakannya kerana darurat)is compelled (to eat it out of necessity) (dia (merujuk sesiapa yang)he (refers to whoever))NF
عَادٖ
melampaui batas (pada kadar benda yang dimakan itu, maka tidaklah ia berdosa)going beyond the limit (in the amount eaten, then he bears no sin)
Terjemahan: Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan kepada kamu memakan bangkai, dan darah, dan daging babi, dan binatang yang disembelih tidak kerana Allah maka sesiapa terpaksa (memakannya kerana darurat) sedang ia tidak mengingininya dan tidak melampaui batas (pada kadar benda yang dimakan itu, maka tidaklah ia berdosa), sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha MengasihaniTranslation: Truly Allah has forbidden you only to eat carrion, blood, the flesh of swine, and animals slaughtered not for Allah; so whoever is compelled (to eat it out of necessity), while not desiring it and not going beyond the limit (in the amount eaten, then he bears no sin), truly Allah is Most Forgiving, Most Merciful.
Nota nahu: nā’ib fā‘il أُهِلَّ (ayat 115).Grammar note: the nā’ib fā‘il of أُهِلَّ (verse 115).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَبَعْضُهَا مُنَافٍ لِلْفِطْرَةِ وَهُوَ مَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ لِأَنَّهُ مُنَافٍ لِشُكْرِ الْمُنْعِمِ بِهَا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/309–310 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/309–310 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini menghuraikan maksud rezeki yang halal lagi baik pada ayat sebelumnya, dengan membezakan yang baik daripada yang buruk. Antara perkara yang disebut itu, “binatang yang disembelih tidak kerana Allah” bertentangan dengan fitrah (sifat asal kejadian manusia), kerana ia menafikan syukur kepada Pemberi nikmat: Allah yang menciptakan binatang ternak, tetapi orang musyrik menyebut nama selain Allah ke atasnya.
Renungan: Rezeki datang daripada Allah, maka syukur atasnya juga milik Allah; marilah kita menyandarkan setiap nikmat kepada-Nya semata-mata.According to Ibn ‘Āshūr, this verse explains the lawful and good provision of the previous verse by setting the good apart from the foul. Among the things listed, animals slaughtered for other than Allah go against fiṭrah, the natural disposition, because this denies thanks to the One who gave them: Allah created the livestock, yet the people of shirk invoke other names over them.
Reflection: Provision comes from Allah, so the thanks for it belong to Allah too; let us credit every blessing to Him alone.
تَصِفُ
disifatkan oleh (lit. … menyifatkan)is described by (lit. … describe) (lidah kamu alsinatukumyour tongues alsinatukum)
Terjemahan: Dan janganlah kamu berdusta dengan sebab apa yang disifatkan oleh lidah kamu: "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan sesuatu yang dusta terhadap Allah; sesungguhnya orang-orang yang berdusta terhadap Allah tidak akan berjayaTranslation: And do not lie because of what is described by your tongues: “This one is lawful and this one is unlawful,” so as to fabricate something false against Allah; truly those who lie against Allah will not succeed.
Nota nahu: لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ ٱلْكَذِبَ (ayat 116).Grammar note: لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ ٱلْكَذِبَ (verse 116).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَأَظُنُّ أَنَّ هَذَا اللَّامَ لَيْسَ لَامَ الْغَرَضِ، لِأَنَّ ذَلِكَ الِافْتِرَاءَ مَا كَانَ غَرَضًا لَهُمْ بَلْ كَانَ لَامَ الْعَاقِبَةِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/282 · Shamela ↗ (huraian ayat 116–117)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/282 · Shamela ↗ (commentary on 116–117)
Kata ar-Rāzī, maksud “untuk mengada-adakan sesuatu yang dusta terhadap Allah” ialah mereka menisbahkan pengharaman dan penghalalan itu kepada Allah sambil berkata: Dia menyuruh kami begitu. Menurut beliau, lam di sini bukan lam tujuan, kerana mengada-adakan dusta itu bukan tujuan mereka, tetapi lām al-‘āqibah (lam akibat). Beliau juga menjelaskan (penjelasan yang turut terdapat dalam al-Kashshāf karya al-Zamakhsharī) bahawa ungkapan dusta yang “disifatkan oleh lidah kamu” ialah gaya bahasa yang fasih, seolah-olah hakikat dusta itu tidak diketahui, lalu kata-kata dusta mereka yang menyingkapnya.
Renungan: Lidah boleh menjerumuskan walaupun tanpa niat; marilah kita berhati-hati sebelum menyebut sesuatu dibenarkan atau dilarang atas nama Allah.Ar-Rāzī says that fabricating lies against Allah here means they ascribed that forbidding and permitting to Allah, saying: He commanded us so. In his view the lām here is not one of purpose, since fabricating a lie was not their aim; it is lām al-‘āqibah, the lām of outcome. He also explains (as al-Zamakhsharī does in al-Kashshāf) that speaking of lies described by their tongues is eloquent, refined speech: it is as if the very nature of lying were unknown, and their false words laid it bare.
Reflection: The tongue can lead us into wrong even without intent; let us take care before declaring anything permitted or forbidden in Allah’s name.
مَتَٰعٞ
(mereka hanya mendapat) … kesenangan (di dunia)(they only gain) … enjoyment (in the world)
وَلَهُمۡ
dan mereka pula akan beroleh (lit. dan bagi mereka)and they in turn will have (lit. and for them)
Terjemahan: (Mereka hanya mendapat) sedikit kesenangan (di dunia), dan mereka pula akan beroleh azab seksa yang tidak terperi sakitnyaTranslation: (They only gain) a little enjoyment (in the world), and they in turn will have a punishment painful beyond description.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَأُجِيبَ بِأَنَّ ذَلِكَ مَتَاعٌ، أَي نفع موقّت زَائِلٌ وَلَهُمْ بَعْدَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/312 · Shamela ↗ (huraian ayat 116–117)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/312 · Shamela ↗ (commentary on 116–117)
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini ialah isti’nāf bayānī (ayat baharu yang menjawab persoalan yang terlintas di fikiran): ada yang mungkin bertanya mengapa dikatakan mereka tidak berjaya, sedangkan ramai daripada mereka kelihatan hidup senang. Jawapannya, itu hanya “sedikit kesenangan”, iaitu manfaat sementara yang akan hilang, dan selepasnya azab yang pedih. Beliau menambah bahawa ayat ini juga memberi amaran kepada orang Islam supaya tidak berkata atas nama Allah apa yang tidak Dia katakan.
Renungan: Kesenangan orang yang berdusta terhadap Allah tidak kekal; marilah kita tidak tertipu oleh rupa kejayaan, dan menjaga lidah daripada berkata tanpa dalil.According to Ibn ‘Āshūr, this verse is an isti’nāf bayānī, a new sentence answering a question that arises in the mind: someone may wonder why they are said not to succeed when many of them seem to live in comfort. The answer is that this is only brief enjoyment, a passing benefit that will vanish, followed by a painful punishment. He adds that the verse also warns the Muslims against saying on Allah’s behalf what He has not said.
Reflection: The comfort of those who lie about Allah does not last; let us not be fooled by the look of success, and keep our tongues from speaking without proof.
ظَلَمۡنَٰهُمۡ
… menganiaya mereka (dengan pengharaman itu)… do them injustice (by that prohibition) (KamiWe)
Terjemahan: Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan apa yang telah Kami ceritakan kepadamu dahulu; dan tiadalah Kami menganiaya mereka (dengan pengharaman itu), tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiriTranslation: And to the Jews We forbade what We have recounted to you earlier; and We did not do them injustice (by that prohibition), but they were the ones who did injustice to their own selves.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لَمَّا بَيَّنَ مَا يَحِلُّ وَمَا يَحْرُمُ لِأَهْلِ الْإِسْلَامِ، أَتْبَعَهُ بِبَيَانِ مَا خَصَّ الْيَهُودَ بِهِ مِنَ الْمُحَرَّمَاتِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/282 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/282 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, setelah Allah menjelaskan apa yang dihalalkan dan apa yang diharamkan bagi umat Islam, Allah menyusulinya dengan menjelaskan pengharaman yang dikhususkan ke atas “orang-orang Yahudi”. Tafsiran “tiadalah Kami menganiaya mereka” dan “merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri” pula ialah apa yang disebut dalam surah an-Nisā’ ayat 160: Allah mengharamkan ke atas mereka beberapa perkara baik yang dahulunya dihalalkan, disebabkan kezaliman mereka.
Renungan: Kezaliman kita sendiri boleh menyempitkan apa yang Allah luaskan; marilah kita menjaga diri daripada menzalimi diri sendiri.Ar-Rāzī says that after Allah made clear what is lawful and unlawful for the people of Islam, He went on to state the prohibitions He had set specifically for the Jews. The explanation of His not wronging them, and of their wronging themselves, is what is stated in an-Nisā’, verse 160: certain good things once allowed to them were forbidden because of their wrongdoing.
Reflection: Our own wrongdoing can narrow what Allah has made wide for us; let us guard ourselves against wronging our own souls.
Terjemahan: Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu terhadap orang-orang yang melakukan kejahatan dengan sebab kejahilan, kemudian mereka bertaubat sesudah itu serta memperbaiki amalannya, sesungguhnya Tuhanmu sesudah (mereka bertaubat) itu, adalah Maha Pengampun, lagi Maha MengasihaniTranslation: Then truly your Lord, towards those who did evil because of ignorance, then repented after that and improved their deeds — truly your Lord, after that (their repenting), is Most Forgiving, Most Merciful.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَكُلُّ مَنْ عَمِلَ السُّوءَ فَإِنَّمَا يَفْعَلُهُ بِالْجَهَالَةِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/283 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/283 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, tujuan ayat ini ialah menjelaskan bahawa mengada-adakan dusta terhadap Allah dan menyalahi perintah-Nya tidak menghalang seseorang daripada bertaubat serta mendapat keampunan dan rahmat. Lafaz as-sū’ (kejahatan) meliputi segala yang tidak patut, dan setiap orang yang melakukan kejahatan hanya melakukannya kerana kejahilan; maksiat tidak berlaku selagi syahwat tidak mengalahkan akal dan ilmu. Kesimpulannya, walaupun seseorang lama melakukan kekufuran dan maksiat, apabila dia bertaubat, beriman dan beramal soleh, Allah “Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani”.
Renungan: Pintu taubat sentiasa terbuka; marilah kita segera kembali kepada Allah dan memperbaiki amalan kita.Ar-Rāzī says the aim of this verse is to show that fabricating lies against Allah and going against His command do not bar a person from repentance and from gaining forgiveness and mercy. The word al-sū’, evil, covers everything improper, and whoever does evil does it only out of ignorance; a sin is not committed unless desire has overpowered reason and knowledge. In sum, even if someone has persisted in disbelief and sin for a long time, once he repents, believes and does good deeds, Allah forgives him and shows him mercy.
Reflection: The door of repentance is always open; let us hurry back to Allah and set our deeds right.
Terjemahan: Sesungguhnya Nabi Ibrahim adalah merupakan "satu umat" (walaupun ia seorang diri); ia taat bulat-bulat kepada Allah, lagi berdiri teguh di atas dasar tauhid; dan ia tidak pernah menjadi dari orang-orang yang musyrikTranslation: Truly the Prophet Ibrahim was “an ummah” (even though he was alone); he was wholly obedient to Allah, and stood firm on the foundation of tawhid; and he was never of the people of shirk.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالثَّانِي: أَنَّهُ كَانَ أُمَّةً وَحْدَهُ فِي الدِّينِ لِأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ فِي وَقْتِ بِعْثَتِهِ، مُوَحِّدٌ لِلَّهِ غَيْرُهُ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/315–316 · Shamela ↗ (huraian ayat 120–122)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/315–316 · Shamela ↗ (commentary on 120–122)
Antara huraian Ibn ‘Āshūr: umat ialah golongan manusia yang besar yang dihimpunkan oleh satu ikatan, dan sifat Nabi Ibrahim sebagai “satu umat” membawa dua makna yang beliau sebut. Pertama, dalam kelebihan dan kesempurnaannya baginda setara dengan satu umat yang lengkap. Kedua, baginda satu umat seorang diri dalam agama, kerana pada zamannya tiada orang lain yang mentauhidkan (mengesakan) Allah; dengan bagindalah Allah menghidupkan tauhid. Al-qānit pula ialah orang yang taat, dan al-ḥanīf ialah orang yang menjauhi kebatilan.
Renungan: Seorang yang teguh di atas kebenaran boleh menjadi permulaan kebaikan yang besar; marilah kita tetap taat walaupun sedikit yang bersama kita.Among Ibn ‘Āshūr’s explanations: an ummah is a large body of people bound by a common tie, and calling the Prophet Ibrahim an ummah carries two meanings that he gives. First, in virtue and perfection he equalled a complete nation. Second, he was an ummah all by himself in religion, since at that time no one else affirmed Allah’s Oneness; through him Allah revived tawḥīd, belief in His Oneness. Al-qānit means the obedient one, and al-ḥanīf one who keeps away from falsehood.
Reflection: One person firm on the truth can be the beginning of great good; let us stay obedient even when few stand with us.
لِّأَنۡعُمِهِۚ
akan nikmat-nikmat Allah (lit. nikmat-nikmat-Nya)for the favours of Allah (lit. His favours)
ٱجۡتَبَىٰهُ
… telah memilihnya (menjadi Nabi)… chose him (to be a Prophet) (Dia (Allah)He (Allah))
وَهَدَىٰهُ
dan … memberi hidayah petunjuk kepadanyaand … gave him guidance (Dia (Allah)He (Allah))
Terjemahan: Ia sentiasa bersyukur akan nikmat-nikmat Allah; Allah telah memilihnya (menjadi Nabi) dan memberi hidayah petunjuk kepadanya ke jalan yang lurusTranslation: He was always grateful for the favours of Allah; Allah chose him (to be a Prophet) and gave him guidance to a path that is straight.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«الْمُرَادُ أَنَّهُ كَانَ شَاكِرًا لِجَمِيعِ نِعَمِ اللَّهِ إِنْ كَانَتْ قَلِيلَةً فَكَيْفَ الْكَثِيرَةُ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/284 · Shamela ↗ (huraian ayat 120–123)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/284 · Shamela ↗ (commentary on 120–123)
Kata ar-Rāzī, jika ditanya mengapa digunakan lafaz an‘um (jamak qillah, bentuk jamak bagi bilangan yang sedikit) sedangkan nikmat Allah kepada Nabi Ibrahim amat banyak, jawapannya: maksudnya baginda bersyukur atas semua nikmat Allah walaupun sedikit, apatah lagi yang banyak. Al-ijtibā’ (memilih) pula ialah mengambil sesuatu sepenuhnya; asal katanya daripada jabaytu, iaitu menghimpunkan air ke dalam kolam.
Renungan: Syukur Nabi Ibrahim tidak menunggu nikmat yang besar; marilah kita membiasakan diri bersyukur atas nikmat yang kecil, apatah lagi atas nikmat yang besar.Ar-Rāzī says that if one asks why the plural form an‘um, a plural used for small numbers, is used when Allah’s favours to the Prophet Ibrahim were many, the answer is that he was grateful for all of Allah’s favours, even the few, let alone the many. Al-ijtibā’, choosing, means taking a thing wholly to oneself; the word comes from jabaytu, the gathering of water into a basin.
Reflection: The Prophet Ibrahim’s gratitude did not wait for great favours; let us make a habit of thanking Allah for small blessings, and all the more for the large ones.
Terjemahan: Dan Kami telah memberikan kepadanya kebaikan di dunia; dan sesungguhnya ia pada hari akhirat adalah dari orang-orang yang solehTranslation: And We gave him goodness in the world; and truly he, in the Hereafter, is among the righteous.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«ثُمَّ إِنَّ كَوْنَهُ مِنَ الصَّالِحِينَ لَا يَنْفِي أَنْ يَكُونَ فِي أَعْلَى مَقَامَاتِ الصَّالِحِينَ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/285 · Shamela ↗ (huraian ayat 120–123)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/285 · Shamela ↗ (commentary on 120–123)
Kata ar-Rāzī, jika ditanya mengapa Allah berfirman “ia pada hari akhirat adalah dari orang-orang yang soleh” dan tidak menyebut kedudukan tertinggi orang soleh, jawapannya: Allah telah menceritakan doa baginda supaya dihubungkan dengan orang-orang yang soleh, maka ungkapan ini mengisyaratkan bahawa doanya telah dimakbulkan. Namun, tergolong dalam orang soleh tidak menafikan baginda berada di kedudukan tertinggi mereka, sebagaimana Allah jelaskan dalam surah al-An‘ām ayat 83.
Renungan: Nabi Ibrahim sendiri berdoa supaya dihubungkan dengan orang-orang yang soleh; marilah kita juga memohon kepada Allah agar dihimpunkan bersama mereka.Ar-Rāzī says that if one asks why Allah says he will be among the righteous in the Hereafter, without naming the highest rank of the righteous, the answer is that Allah has related his prayer to be joined with the righteous, so these words signal that his prayer was answered. Yet being among the righteous does not rule out his being at their highest rank, as Allah makes clear in al-An‘ām, verse 83.
Reflection: The Prophet Ibrahim himself prayed to be joined with the righteous; let us also ask Allah to gather us among them.
Terjemahan: Kemudian Kami wahyukan kepadamu (wahai Muhammad): Hendaklah engkau menurut ugama Nabi Ibrahim, yang berdiri teguh di atas jalan yang benar; dan tiadalah ia dari orang-orang musyrikTranslation: Then We sent revelation to you (O Muhammad): follow the religion of the Prophet Ibrahim, who stood firm on the path of truth; and he was not of the people of shirk.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«يُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ الْأَمْرَ بِمُتَابَعَتِهِ فِي كَيْفِيَّةِ الدَّعْوَةِ إِلَى التَّوْحِيدِ وَهُوَ أَنْ يَدْعُوَ إِلَيْهِ بِطَرِيقِ الرِّفْقِ وَالسَّهُولَةِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/285 · Shamela ↗ (huraian ayat 120–123)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/285 · Shamela ↗ (commentary on 120–123)
Kata ar-Rāzī, setelah Allah menyifatkan Nabi Ibrahim dengan sifat-sifat yang tinggi dan mulia itu, barulah Allah mewahyukan kepada Nabi Muhammad supaya mengikut baginda. Antara kemungkinan yang beliau sebut tentang maksud “menurut ugama Nabi Ibrahim” ialah mengikut cara baginda berdakwah kepada tauhid (mengesakan Allah), iaitu menyeru dengan lembut dan mudah, serta mengemukakan bukti berulang kali dengan pelbagai cara, seperti cara yang biasa dalam al-Qur’an.
Renungan: Mengikut Nabi Ibrahim termasuk mengikut kelembutannya dalam berdakwah; marilah kita menyampaikan kebenaran dengan sabar, lembut dan berulang kali.Ar-Rāzī says that only after Allah had described the Prophet Ibrahim with those lofty, noble qualities did He reveal to the Prophet Muhammad that he should follow him. Among the possibilities he mentions for the meaning of following the Prophet Ibrahim’s religion is following his manner of calling people to tawḥīd, the Oneness of Allah: calling gently and with ease, and bringing proofs again and again in many forms, as is the familiar way of the Qur’an.
Reflection: Following the Prophet Ibrahim includes following his gentleness in calling to Allah; let us convey the truth patiently, gently and again and again.
جُعِلَ
dijadikan (Hari kelepasan yang wajib dihormati)was made (a day of rest that must be honoured) (hari Sabtu as‑sabtuthe Sabbath as‑sabtu)NF
Terjemahan: Sesungguhnya hari Sabtu itu dijadikan (Hari kelepasan yang wajib dihormati) atas orang-orang (Yahudi) yang telah berselisihan padanya; dan sesungguhnya Tuhanmu akan menghukum di antara mereka pada hari kiamat, tentang apa yang mereka telah berselisihan padanyaTranslation: Truly the Sabbath day was made (a day of rest that must be honoured) upon those (Jews) who differed over it; and truly your Lord will pass judgement among them on the Day of Resurrection about what they had differed over.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمَعْنَى: أَنَّهُ تَعَالَى سَيَحْكُمُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ للمحقين بالثواب وللمبطلين بالعقاب»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/286 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/286 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, makna “sesungguhnya Tuhanmu akan menghukum di antara mereka pada hari kiamat, tentang apa yang mereka telah berselisihan padanya” ialah: Allah akan memutuskan pada hari kiamat dengan memberi pahala kepada orang yang berada di atas kebenaran, dan azab kepada orang yang berada di atas kebatilan.
Renungan: Setiap perselisihan akhirnya akan diputuskan oleh Allah; marilah kita berusaha agar tergolong dalam golongan yang benar, kerana keputusan akhirnya di tangan-Nya.Ar-Rāzī says this means that when the Resurrection comes, Allah will settle the matter they disputed, rewarding those who stood with the truth and punishing those who stood with falsehood.
Reflection: Every dispute will in the end be settled by Allah; let us strive to be among those who hold to the truth, for the final judgement is His.
وَجَٰدِلۡهُم
dan berbahaslah dengan mereka (yang engkau serukan itu)and debate with them (those whom you call) (engkauyou)
Terjemahan: Serulah ke jalan Tuhanmu (wahai Muhammad) dengan hikmat kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik, dan berbahaslah dengan mereka (yang engkau serukan itu) dengan cara yang lebih baik; sesungguhnya Tuhanmu Dialah jua yang lebih mengetahui akan orang yang sesat dari jalan-Nya, dan Dialah jua yang lebih mengetahui akan orang-orang yang mendapat hidayah petunjukTranslation: Call to the path of your Lord (O Muhammad) with wisdom and counsel and teaching that are good, and debate with them (those whom you call) in the way that is better; truly your Lord, it is He alone Who knows best the one who has strayed from His path, and it is He alone Who knows best those who receive guidance.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَقُيِّدَتِ الْمَوْعِظَةُ بِالْحَسَنَةِ وَلَمْ تُقَيَّدِ الْحِكْمَةُ بِمِثْلِ ذَلِكَ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/327–329 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/327–329 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, al-ḥikmah (hikmat) ialah pengetahuan yang tepat dan bersih daripada kesilapan, manakala al-maw‘iẓah (nasihat pengajaran) ialah kata-kata yang melembutkan hati pendengar untuk berbuat baik. Nasihat itu disifatkan “yang baik” kerana ia biasanya bertujuan menahan seseorang daripada perbuatan buruk, maka mudah terbit kekasaran daripada pemberi nasihat dan rasa terluka pada yang dinasihati; lalu Allah membimbing supaya ia disampaikan dengan kata-kata yang lembut dan menggalakkan kebaikan. Hikmah pula ialah pengajaran kepada orang yang mencari kesempurnaan, maka tidak perlu disifatkan baik.
Renungan: Kebenaran yang disampaikan dengan kasar boleh menutup hati; marilah kita menasihati dengan lembut dan menggalakkan kebaikan.According to Ibn ‘Āshūr, al-ḥikmah, wisdom, is sound knowledge free from error, while al-maw‘iẓah, counsel, is speech that softens the listener’s heart towards doing good. Counsel is described as good because it usually aims to hold a person back from wrong deeds, so harshness can easily come from the one advising and hurt from the one advised; hence Allah guided that it be given with gentle words that draw the listener to good. Wisdom, by contrast, is teaching for those seeking perfection, so there is no need to describe it as good.
Reflection: Truth delivered harshly can close hearts; let us advise gently and encourage what is good.
عَاقَبۡتُمۡ
… membalas kejahatan (pihak lawan)… repay the evil (of the opposing side) (kamu sekalianyou all)
عُوقِبۡتُم
telah ditimpakan kepada kamu (lit. … telah dibalas)has been inflicted on you (lit. … were repaid) (kamu sekalianyou all)NF
Terjemahan: Dan jika kamu membalas kejahatan (pihak lawan), maka hendaklah kamu membalas dengan kejahatan yang sama seperti yang telah ditimpakan kepada kamu, dan jika kamu bersabar, (maka) sesungguhnya yang demikian itu adalah lebih baik bagi orang-orang yang sabarTranslation: And if you repay the evil (of the opposing side), then repay with an evil equal to what has been inflicted on you; and if you are patient, (then) truly that is better for people who are patient.
Nota nahu: بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِۦ (ayat 126).Grammar note: بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِۦ (verse 126).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَعِنْدَ هَذَا أَمَرَ الْمُحِقِّينَ فِي هَذَا الْمَقَامِ بِرِعَايَةِ الْعَدْلِ وَالْإِنْصَافِ وَتَرْكِ الزِّيَادَةِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/288–289 · Shamela ↗ (huraian ayat 126–128)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/288–289 · Shamela ↗ (commentary on 126–128)
Kata ar-Rāzī, ayat ini bersambung dengan perintah berdakwah sebelumnya: dakwah mengajak manusia meninggalkan agama nenek moyang mereka, dan hal itu menggoncang hati sehingga ramai pendengar menyakiti pendakwah; manakala orang yang benar, apabila melihat kebodohan itu, terdorong oleh tabiatnya untuk membalas. Maka Allah memerintahkan mereka menjaga keadilan dan kesaksamaan serta tidak melebihi. Beliau menyebut empat peringkat: pertama, “maka hendaklah kamu membalas dengan kejahatan yang sama” mengisyaratkan bahawa tidak membalas itu lebih utama; kedua, “jika kamu bersabar” menyatakannya dengan terang, kerana rahmat lebih utama daripada kekerasan.
Renungan: Apabila disakiti, keadilan ialah batasnya dan sabar ialah keutamaannya; marilah kita memilih sabar.Ar-Rāzī says this verse is linked to the preceding command to call to Allah: such a call asks people to leave the religion of their forefathers, which unsettles hearts, so that many listeners harm the caller; while the one in the right, seeing such folly, is moved by nature to strike back. So Allah ordered justice, fairness and no excess. He sets out four stages: first, the words permitting an equal response hint that refraining is better; second, the mention of patience says so openly, since mercy is better than harshness.
Reflection: When we are wronged, justice is the limit and patience the higher way; let us choose patience.
وَٱصۡبِرۡ
dan bersabarlah (wahai Muhammad terhadap perbuatan dan telatah golongan yang ingkar itu)and be patient (O Muhammad, towards the deeds and conduct of the group that denies) (engkauyou)
Terjemahan: Dan bersabarlah (wahai Muhammad terhadap perbuatan dan telatah golongan yang ingkar itu); dan tiadalah berhasil kesabaranmu melainkan dengan (memohon pertolongan) Allah; dan janganlah engkau berdukacita terhadap kedegilan mereka, dan janganlah engkau bersempit dada disebabkan tipu daya yang mereka lakukanTranslation: And be patient (O Muhammad, towards the deeds and conduct of the group that denies); and your patience does not bear fruit except with (asking the help of) Allah; and do not grieve over their stubbornness, and do not be distressed because of the plots they devise.
Nota nahu: مِمَّا يَمْكُرُونَ (ayat 127).Grammar note: مِمَّا يَمْكُرُونَ (verse 127).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَمَا يَحْصُلُ صَبْرُكَ إِلَّا بِتَوْفِيقِ اللَّهِ إِيَّاكَ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/336–337 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/336–337 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, Nabi Muhammad dikhususkan dengan perintah “bersabarlah” kerana kedudukan baginda lebih tinggi, maka baginda lebih layak berpegang dengan sabar, iaitu memilih jalan yang lebih teguh setelah kelonggaran membalas diberikan. Maksud “tiadalah berhasil kesabaranmu melainkan dengan (memohon pertolongan) Allah” ialah kesabaran itu hanya terhasil dengan taufik (pertolongan Allah); sabar baginda amat besar dan bukan seperti kebiasaan. Kemudian baginda dilarang berdukacita, dan dilarang bersempit dada kerana tipu daya mereka, iaitu rancangan memudaratkan secara sembunyi.
Renungan: Sabar ialah kurniaan Allah; marilah kita memohon pertolongan-Nya setiap kali kesabaran kita diuji.According to Ibn ‘Āshūr, the Prophet Muhammad is singled out with the command to be patient because his rank is higher, so he is more fit to hold fast to patience, choosing the firmer course after leave to respond had been given. The words about his patience coming only through Allah mean that it is achieved only by tawfīq, Allah’s enabling help; his patience was immense, beyond the ordinary. He is then told not to grieve, and not to feel distressed by their plotting, that is, their scheming harm in secret.
Reflection: Patience is a gift from Allah; let us ask for His help whenever our patience is tested.
Terjemahan: Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa, dan orang-orang yang berusaha memperbaiki amalannyaTranslation: Truly Allah is with those who have taqwa, and those who strive to improve their deeds.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَقَوْلُهُ: الَّذِينَ اتَّقَوْا إِشَارَةٌ إِلَى التَّعْظِيمِ لِأَمْرِ اللَّهِ تَعَالَى، وَقَوْلُهُ: وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ إِشَارَةٌ إِلَى الشَّفَقَةِ عَلَى خَلْقِ اللَّهِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/290 · Shamela ↗ (huraian ayat 126–128)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/290 · Shamela ↗ (commentary on 126–128)
Kata ar-Rāzī, ungkapan “orang-orang yang bertaqwa” mengisyaratkan sikap mengagungkan perintah Allah, manakala “orang-orang yang berusaha memperbaiki amalannya” mengisyaratkan belas kasihan kepada makhluk Allah; ini menunjukkan bahawa kesempurnaan kebahagiaan manusia terletak pada dua perkara ini. Beliau juga menjelaskan bahawa susunan empat peringkat dalam ayat-ayat ini mengajar bahawa menyuruh kebaikan dan mencegah kemungkaran perlu dilakukan dengan lembut, setahap demi setahap.
Renungan: Mengagungkan perintah Allah dan berbelas kasihan kepada manusia ialah jalan kesempurnaan; marilah kita menghimpunkan kedua-duanya dalam diri kita.Ar-Rāzī says that the mention of those who have taqwa points to honouring Allah’s command, while the mention of those who strive to do good points to compassion for Allah’s creatures; and this shows that a person’s complete happiness lies in these two things. He also explains that the four-stage order in these verses teaches that enjoining good and forbidding wrong should be done gently, step by step.
Reflection: Honouring Allah’s command and showing compassion to people make up the path to completeness; let us bring both together in ourselves.