فَمَآ
maka (janganlah engkau berdukacita wahai Muhammad), kerana … tidakthen (do not grieve, O Muhammad), for … did not
حَفِيظٗا
(untuk menjadi) pengawal (yang memelihara mereka dari melakukan kesalahan)(to be) a keeper (guarding them from doing wrong)
Terjemahan: Sesiapa yang taat kepada Rasulullah, maka sesungguhnya ia telah taat kepada Allah; dan sesiapa yang berpaling ingkar, maka (janganlah engkau berdukacita wahai Muhammad), kerana Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pengawal (yang memelihara mereka dari melakukan kesalahan)Translation: Whoever is obedient to the Messenger, then truly he has been obedient to Allah; and whoever turns away defiantly — then (do not grieve, O Muhammad), for We did not send you to be a keeper over them (guarding them from doing wrong).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَأَثْبَتَ أَنَّ الرَّسُولَ فِي تَبْلِيغِهِ إِنَّمَا يُبَلِّغُ عَنِ اللَّهِ، فَأَمْرُهُ أَمْرُ اللَّهِ، وَنَهْيُهُ نَهْيُ اللَّهِ، وَطَاعَتُهُ طَاعَةُ اللَّهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/135 · Shamela ↗ (huraian ayat 80–81)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/135 · Shamela ↗ (commentary on 80–81)
Menurut Ibn ‘Āshūr, firman “Sesiapa yang taat kepada Rasulullah, maka sesungguhnya ia telah taat kepada Allah” menjaga pendengar daripada menyangka ada pemisahan antara Allah dan Rasul-Nya dalam urusan syariat. Ayat ini menetapkan bahawa Rasul, ketika menyampaikan, hanya menyampaikan daripada Allah; maka suruhannya ialah suruhan Allah, larangannya ialah larangan Allah, dan taat kepadanya ialah taat kepada Allah.
Renungan: Apabila kita mengikut suruhan dan larangan Rasulullah, sebenarnya kita sedang taat kepada Allah; marilah kita menerimanya dengan hati yang tenang.According to Ibn ‘Āshūr, the words “Whoever is obedient to the Messenger, then truly he has been obedient to Allah” guard the listener from imagining any separation between Allah and His Messenger in matters of the Shariah. The verse establishes that the Messenger, in conveying, conveys only from Allah; so his command is Allah’s command, his prohibition is Allah’s prohibition, and obeying him is obeying Allah.
Reflection: When we follow the commands and prohibitions of the Messenger, we are in truth obeying Allah; let us accept them with a settled heart.
عَنۡهُمۡ
daripada mereka, (janganlah dihiraukan apa yang mereka rancangkan)from them (pay no heed to what they plot)
وَكِيلًا
menjadi Pembela (yang memeliharamu dari angkara mereka)as Defender (protecting you from their mischief)
Terjemahan: Dan mereka (golongan munafik) berkata: "(Kami) taat", kemudian apabila mereka keluar dari majlismu, segolongan dari mereka memutuskan pada malam hari satu rancangan yang lain daripada (pengakuan taat) yang mereka katakan (kepadamu). Sedang Allah (perintahkan malaikat) menulis apa yang mereka rancangkan itu; maka berpalinglah (wahai Muhammad) daripada mereka, (janganlah dihiraukan apa yang mereka rancangkan), serta berserahlah kepada Allah; kerana cukuplah Allah menjadi Pembela (yang memeliharamu dari angkara mereka)Translation: And they (the hypocrites) say: “(We are) obedient.” Then when they go out from your gathering, a group of them decides by night on a plan other than (the pledge of obedience) that they state (to you). While Allah (commands the angels to) write down what they plot by night; so turn away (O Muhammad) from them (pay no heed to what they plot), and put your trust in Allah; for Allah suffices as Defender (protecting you from their mischief).
Nota nahu: غَيْرَ ٱلَّذِى تَقُولُ وَٱللَّهُ يَكْتُبُ مَا يُبَيِّتُونَ (ayat 81).Grammar note: غَيْرَ ٱلَّذِى تَقُولُ وَٱللَّهُ يَكْتُبُ مَا يُبَيِّتُونَ (verse 81).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْبَ يَدُلُّ عَلَى مُجَرَّدِ الْفِعْلِ. وَأَمَّا الرَّفْعُ فَإِنَّهُ يَدُلُّ عَلَى ثَبَاتِ الطَّاعَةِ وَاسْتِقْرَارِهَا»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 10/150 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 10/150 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, perkataan ṭā‘atun (taat) dalam ucapan mereka berbaris hadapan (rafa‘), bermaksud “urusan kami ialah taat”; dari segi bahasa boleh juga berbaris atas (naṣb) dengan maksud “kami taat kepadamu”. Menurutnya, baris atas hanya menunjukkan perbuatan semata-mata, manakala baris hadapan menunjukkan ketaatan yang tetap dan kukuh.
Renungan: Lidah mudah mengaku taat yang kukuh; marilah kita pastikan apa yang kita rancang ketika bersendirian sama dengan apa yang kita ucapkan di hadapan orang.Al-Rāzī says the word ṭā‘atun (obedience) in their saying carries the ending of raf‘, meaning our affair is obedience; linguistically it may also carry naṣb, meaning we obey you. In his view, naṣb points only to the act itself, while raf‘ points to obedience that is firm and settled.
Reflection: The tongue easily claims firm obedience; let us make sure that what we plan in private matches what we say before others.
Terjemahan: Patutkah mereka (bersikap demikian), tidak mahu memikirkan isi Al-Quran? Kalaulah Al-Quran itu (datangnya) bukan dari sisi Allah, nescaya mereka akan dapati perselisihan yang banyak di dalamnyaTranslation: Should they (act this way), unwilling to ponder the contents of the Qur’an? Had the Qur’an (come) from the presence of other than Allah, they would surely find in it discrepancy that is abundant.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَقَالُوا: تَدَبَّرَ إِذَا نَظَرَ فِي دُبُرِ الْأَمْرِ، أَيْ فِي غَائِبِهِ أَوْ فِي عَاقِبَتِهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/137 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/137 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, tadabbur berasal daripada perkataan dubur, iaitu bahagian belakang; orang Arab berkata tadabbara apabila seseorang meneliti ‘belakang’ sesuatu perkara, iaitu apa yang tersembunyi atau kesudahannya. Maka mentadabbur al-Qur’an bermaksud merenungi petunjuknya. Ia boleh membawa dua makna, dan konteks ayat-ayat ini lebih cenderung kepada makna pertama: merenungi butiran ayat-ayatnya dan tujuan-tujuan yang ditunjukkannya.
Renungan: Membaca al-Qur’an tidak cukup dengan lidah; marilah kita luangkan masa merenungi maknanya sehingga petunjuknya sampai ke dalam hidup kita.According to Ibn ‘Āshūr, tadabbur comes from dubur, the back; the Arabs said tadabbara when someone looked into the ‘back’ of a matter, that is, its hidden side or its outcome. So to ponder the Qur’an means to reflect on what it points to. This can carry two meanings, and the context of these verses leans towards the first: reflecting on the details of its verses and the aims they point to.
Reflection: Reading the Qur’an is not enough with the tongue alone; let us give time to reflect on its meanings until its guidance reaches our lives.
يَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ
layak mengambil keputusan mengenainyaare qualified to make decisions about it (merekathey)
لَٱتَّبَعۡتُمُ
tentulah … (terbabas) menurutwould surely have (strayed in) following (kamu sekalianyou all)
قَلِيلٗا
sedikit (iaitu orang-orang yang teguh imannya dan luas ilmunya di antara kamu)a few (namely those firm in faith and broad in knowledge among you)
Terjemahan: Dan apabila datang kepada mereka sesuatu berita mengenai keamanan atau kecemasan, mereka terus menghebahkannya; padahal kalau mereka kembalikan sahaja hal itu kepada Rasulullah dan kepada "Ulil-Amri" (orang-orang yang berkuasa) di antara mereka, tentulah hal itu dapat diketahui oleh orang-orang yang layak mengambil keputusan mengenainya di antara mereka; dan jika tidaklah kerana limpah kurnia Allah dan belas kasihan-Nya kepada kamu, tentulah kamu (terbabas) menurut Syaitan kecuali sedikit sahaja (iaitu orang-orang yang teguh imannya dan luas ilmunya di antara kamu)Translation: And when some news comes to them concerning security or alarm, they at once broadcast it; whereas had they referred that matter to the Messenger and to those who hold authority (“Ulil-Amri”) among them, those among them who are qualified to make decisions about it would surely have known it. And were it not for the abundant bounty of Allah and His compassion towards you, you would surely have (strayed in) following Satan, except a few only (namely those firm in faith and broad in knowledge among you).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّ مِثْلَ هَذِهِ الْإِرْجَافَاتِ لَا تَنْفَكُّ عَنِ الْكَذِبِ الْكَثِيرِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 10/153 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 10/153 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, ayat ini menyebut satu lagi perbuatan buruk golongan munafik: apabila datang kepada mereka sesuatu berita, sama ada mengenai keamanan atau kecemasan, mereka menghebahkannya. Menurutnya, perbuatan itu membawa mudarat dari beberapa segi; antaranya, khabar angin (irjāf) seperti ini tidak pernah lekang daripada banyak pendustaan, dan jika berita itu tentang kecemasan, orang Islam yang lemah menjadi keliru dan resah.
Renungan: Sebelum kita menyebarkan sesuatu berita, tanyalah diri: adakah ia benar, dan adakah ia patut disebarkan? Rujuklah dahulu kepada orang yang lebih mengetahui.Al-Rāzī says this verse names another evil deed of the hypocrites: whenever news came to them, whether of security or of alarm, they spread it about. In his view, this caused harm in several ways; among them, rumours (irjāf) of this kind are never free of much falsehood, and when the news is of alarm, the weaker Muslims are left confused and unsettled.
Reflection: Before we pass on any news, let us ask ourselves: is it true, and should it be spread? Let us first refer it to those who know better.
ٱللَّهِ
Allah (untuk membela Islam dari pencerobohan musuh)Allah (to defend Islam from the enemy’s aggression)
ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ
orang-orang yang beriman (supaya turut berjuang dengan gagah berani)the believers (to join the struggle with great courage)
Terjemahan: Oleh itu, berperanglah (wahai Muhammad) pada jalan Allah (untuk membela Islam dari pencerobohan musuh); engkau tidak diberati selain daripada kewajipanmu sendiri. Dan berilah peransang kepada orang-orang yang beriman (supaya turut berjuang dengan gagah berani). Mudah-mudahan Allah menahan bahaya serangan orang-orang yang kafir itu. Dan (ingatlah) Allah Amatlah besar kekuatan-Nya dan Amatlah berat azab seksa-NyaTranslation: Therefore, wage war (O Muhammad) in the way of Allah (to defend Islam from the enemy’s aggression); you are not burdened except with your own duty. And spur on the believers (to join the struggle with great courage). It is hoped that Allah will hold back the danger of the attack of those who disbelieve. And (remember), Allah is very great in His strength and very severe in His punishment.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَهُوَ أَمْرٌ لِلْقُدْوَةِ بِمَا يَجِبُ اقْتِدَاءُ النَّاسِ بِهِ فِيهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/143 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/143 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini ditujukan kepada Rasulullah sendiri, lalu disusuli dengan perintah “berilah peransang kepada orang-orang yang beriman”. Gaya ini ialah salah satu cara mendorong orang lain selain yang diajak bercakap, kerana ia perintah kepada qudwah (ikutan) dalam perkara yang mesti dicontohi oleh orang ramai.
Renungan: Dorongan yang paling berkesan ialah teladan; sebelum mengajak orang lain kepada kebaikan, marilah kita mulakan dengan diri kita sendiri.According to Ibn ‘Āshūr, this verse is addressed to the Messenger himself and then follows with the command to spur on the believers. This style is one of the ways of urging people other than the one addressed, for it is a command to the qudwah (the one others follow) in a matter in which people must follow him.
Reflection: The strongest encouragement is example; before calling others to good, let us begin with ourselves.
Terjemahan: Sesiapa yang memberikan syafaat yang baik nescaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) daripadanya; dan sesiapa yang memberikan syafaat yang buruk, nescaya ia akan mendapat bahagian (dosa) daripadanya. Dan (ingatlah) Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatuTranslation: Whoever gives an intercession that is good, there will surely be for him a share (of reward) from it; and whoever gives an intercession that is bad, there will surely be for him a portion (of sin) from it. And (remember), Allah is All-Powerful over every thing.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«الشَّفَاعَةُ مَأْخُوذَةٌ مِنَ الشَّفْعِ، وَهُوَ أَنْ يُصَيِّرَ الْإِنْسَانُ نَفْسَهُ شَفْعًا لِصَاحِبِ الْحَاجَةِ حَتَّى يَجْتَمِعَ مَعَهُ عَلَى الْمَسْأَلَةِ فِيهَا»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 10/159 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 10/159 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, syafaat berasal daripada perkataan syaf‘ (genap, berpasangan), iaitu seseorang menjadikan dirinya ‘pasangan’ kepada orang yang mempunyai hajat, sehingga dia bersama-sama orang itu dalam memohon hajat tersebut. Ayat ini menyebut: “Sesiapa yang memberikan syafaat yang baik nescaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) daripadanya”.
Renungan: Setiap kali kita menyokong permohonan orang lain, kita turut berkongsi pahala atau dosanya; maka marilah kita hanya menyokong perkara yang baik.Al-Rāzī says shafā‘ah (intercession) comes from shaf‘, an even number or pair: a person makes himself a ‘pair’ to the one in need, so that he joins him in asking for that need. The verse says that whoever gives an intercession that is good will have a share (of reward) from it.
Reflection: Whenever we back another person’s request, we share in its reward or its sin; so let us back only what is good.
بِتَحِيَّةٖ
dengan sesuatu ucapan hormat (seperti memberi salam)with some words of respect (such as giving salam)
رُدُّوهَآۗ
balaslah dia (dengan cara yang sama)answer it (in the same way) (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Dan apabila kamu diberikan penghormatan dengan sesuatu ucapan hormat (seperti memberi salam), maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah dia (dengan cara yang sama). Sesungguhnya Allah sentiasa menghitung tiap-tiap sesuatuTranslation: And when you are given a salutation with some words of respect (such as giving salam), then answer that salutation with what is better than it, or answer it (in the same way). Truly Allah is always taking account of every thing.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهَذِهِ الْآيَةُ مِنْ آدَابِ الْإِسْلَامِ: عَلَّمَ اللَّهُ بِهَا أَنْ يَرُدُّوا عَلَى الْمُسَلِّمِ بِأَحْسَنَ مِنْ سَلَامِهِ أَوْ بِمَا يُمَاثِلُهُ، لِيَبْطُلَ مَا كَانَ بَيْنَ الْجَاهِلِيَّةِ مِنْ تَفَاوُتِ السَّادَةِ وَالدَّهْمَاءِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/146 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/146 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini salah satu adab Islam: Allah mengajar supaya orang yang memberi salam dibalas dengan yang lebih baik daripada salamnya atau dengan yang sama, untuk menghapuskan perbezaan yang wujud pada zaman jahiliah antara golongan bangsawan dan orang kebanyakan. Dahulu ucapan ḥayyāka Allāh (semoga Allah memanjangkan hayatmu) kebanyakannya khusus untuk raja-raja. Menurutnya, didahulukan “balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya” menunjukkan bahawa itulah yang lebih utama.
Renungan: Salam ialah hak setiap Muslim, bukan hanya orang besar; marilah kita membalasnya dengan lebih baik, kepada sesiapa sahaja, tanpa mengira kedudukannya.According to Ibn ‘Āshūr, this verse is one of the manners of Islam: Allah teaches that whoever greets is answered with something better than his greeting or with its like, to do away with the gap in the time of ignorance between the nobles and the common folk. In the past, the greeting ḥayyāka Allāh (may Allah grant you long life) was mostly kept for kings. In his view, mentioning the better reply first shows that it is the more excellent.
Reflection: A greeting of peace is every Muslim’s right, not only the great; let us return it with something better, to anyone at all, whatever their standing.
Terjemahan: Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Sesungguhnya Ia akan menghimpunkan kamu pada hari kiamat, (hari) yang tidak ada syak padanya. Dan siapakah pula yang lebih benar perkataannya daripada AllahTranslation: Allah — there is no god (deserving of worship) except Him. Surely He will gather you on the Day of Resurrection, (a Day) with no doubt about it. And who, then, is more true in speech than Allah?
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«مَنْ سَلَّمَ عَلَيْكُمْ وَحَيَّاكُمْ فَاقْبَلُوا سَلَامَهُ وَأَكْرِمُوهُ وَعَامِلُوهُ بِنَاءً عَلَى الظَّاهِرِ، فَإِنَّ الْبَوَاطِنَ إِنَّمَا يَعْرِفُهَا اللَّه الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 10/167 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 10/167 · Shamela ↗
Antara huraian ar-Rāzī tentang kaitan ayat ini dengan ayat sebelumnya: seolah-olah Allah berfirman, sesiapa yang memberi salam dan penghormatan kepada kamu, terimalah salamnya, muliakanlah dia dan layanlah dia berdasarkan apa yang zahir; kerana perkara batin hanya diketahui oleh Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia, dan batin manusia hanya akan tersingkap kepada sesama makhluk pada hari kiamat.
Renungan: Kita tidak diberi kuasa menilai isi hati orang; marilah kita bersangka baik dengan yang zahir, dan serahkan yang tersembunyi kepada Allah.One of al-Rāzī’s explanations of how this verse links to the one before: it is as though Allah says, whoever greets you with peace and honour, accept his greeting, honour him and deal with him on the basis of what is outward; for what is inward is known only to Allah, besides Whom there is no god, and people’s inner selves will be laid bare to one another only on the Day of Resurrection.
Reflection: We are not given power to judge what is in people’s hearts; let us think well of what we see, and leave what is hidden to Allah.
أَرۡكَسَهُم
telah menjerumuskan mereka (ke dalam kekufuran)has plunged them back (into disbelief) (DiaHe)
Terjemahan: Maka apakah yang menyebabkan kamu (berpecah) menjadi dua golongan terhadap kaum munafik itu, padahal Allah telah menjerumuskan mereka (ke dalam kekufuran) disebabkan apa yang telah mereka usahakan? Adakah kamu pula hendak memberi pertunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan oleh Allah? Padahal sesiapa yang telah disesatkan oleh Allah, maka engkau tidak sekali-kali akan mendapat jalan untuk menyelamatkannyaTranslation: So what has caused you (to split) into two groups regarding those hypocrites, whereas Allah has plunged them back (into disbelief) because of what they have earned? Do you then want to give guidance to the ones Allah has led astray? When whoever Allah has led astray — then you will by no means obtain a way for him (to save him).
Nota nahu: وَٱللَّهُ أَرْكَسَهُم بِمَا كَسَبُوٓا۟ (ayat 88).Grammar note: وَٱللَّهُ أَرْكَسَهُم بِمَا كَسَبُوٓا۟ (verse 88).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَإِنَّ الْأَعْمَالَ تَتَوَالَدُ مِنْ جِنْسِهَا، فَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَأْتِي بِزِيَادَةِ الصَّالِحَات»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/150 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/150 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, “Allah telah menjerumuskan mereka (ke dalam kekufuran) disebabkan apa yang telah mereka usahakan” bermaksud Allah menjadikan keadaan itu balasan bagi buruknya iktikad mereka dan kurangnya keikhlasan mereka. Ini kerana amalan melahirkan amalan yang sejenis dengannya: amalan soleh membawa kepada bertambahnya amalan soleh, dan amalan buruk membawa kepada puncak maksiat. Sebab itu al-Qur’an berulang kali menyebut amalan sebagai sebab seseorang sampai kepada kesudahan yang sejenis dengannya.
Renungan: Setiap amalan kecil kita membuka jalan kepada amalan seterusnya; marilah kita mulakan dengan kebaikan, walaupun sedikit, dan jauhi dosa sebelum ia membiak.According to Ibn ‘Āshūr, Allah plunging them back (into disbelief) because of what they have earned means that Allah made that state a recompense for their evil belief and their lack of sincerity. For deeds give birth to deeds of their own kind: a righteous deed brings more righteous deeds, and an evil deed leads to the furthest reach of sin. That is why the Qur’an often speaks of deeds as the cause of reaching ends of their own kind.
Reflection: Each small deed of ours opens the way to the next; let us begin with good, however little, and keep away from sin before it multiplies.
فَتَكُونُونَ
maka (dengan yang demikian) menjadilahand so (in that way) would be (kamu sekalianyou all)ism
Terjemahan: Mereka suka kalau kamu pula menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, maka (dengan yang demikian) menjadilah kamu sama seperti mereka. Oleh itu janganlah kamu mengambil (seorang pun) di antara mereka menjadi teman rapat kamu, sehingga mereka berhijrah pada jalan Allah (untuk menegakkan Islam). Kemudian kalau mereka sengaja berpaling ingkar, maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka di mana sahaja kamu menemuinya; dan jangan sekali-kali kamu mengambil (seorang pun) di antara mereka menjadi teman rapat atau penolongTranslation: They would love that you too become disbelievers just as they have become disbelievers, and so (in that way) you would be the same as them. So do not take (anyone) from among them as your close friends until they emigrate (make hijrah) in the way of Allah (to uphold Islam). Then if they deliberately turn away in defiance, capture them and kill them wherever you come upon them; and never take (anyone) from among them as a close friend or a helper.
Nota nahu: وَدُّوا۟ لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا۟ (ayat 89).Grammar note: وَدُّوا۟ لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا۟ (verse 89).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَإِنَّهُ رُبَّمَا كَانَتِ الْهِجْرَةُ مِنْ دَارِ الْكُفْرِ إِلَى دَارِ الْإِسْلَامِ، وَمِنْ شِعَارِ الْكُفْرِ إِلَى شِعَارِ الْإِسْلَامِ لِغَرَضٍ مِنْ أَغْرَاضِ الدُّنْيَا، إِنَّمَا الْمُعْتَبَرُ وُقُوعُ تِلْكَ الهجرة لأجل أمر اللَّه تعالى»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 10/171 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 10/171 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, firman “sehingga mereka berhijrah pada jalan Allah” memakai lafaz yang umum: ia meliputi berpindah dari negeri kekufuran dan meninggalkan syiar (tanda dan amalan) kekufuran. Allah tidak menyebut hijrah sahaja, tetapi mengikatnya dengan “pada jalan Allah”, kerana kadang-kadang perpindahan itu berlaku kerana sesuatu tujuan dunia; yang diambil kira hanyalah hijrah yang dilakukan kerana perintah Allah.
Renungan: Setiap perubahan dalam hidup kita, termasuk meninggalkan kebiasaan lama, nilainya bergantung pada niat; marilah kita jadikan Allah tujuannya.Al-Rāzī says the words until they emigrate in the way of Allah use a general expression: it covers moving away from the land of disbelief and leaving the marks (signs and practices) of disbelief. Allah did not mention emigration alone but tied it to being in the way of Allah, since a move may sometimes be made for a worldly aim; what counts is only emigration made for the sake of Allah’s command.
Reflection: Every change in our lives, including leaving old habits, is worth only as much as its intention; let us make Allah its aim.
فَلَقَٰتَلُوكُمۡۚ
kemudian tentulah … memerangi kamuand then would surely have fought you (merekathey)
ٱعۡتَزَلُوكُمۡ
membiarkan kamu (dengan tidak mengancam atau mengganggu)leave you alone (without threatening or disturbing you) (merekathey)
سَبِيلٗا
sesuatu jalan (yang membolehkan kamu memerangi atau menawan)any way (permitting you to fight or capture)
Terjemahan: Kecuali orang-orang yang pergi (meminta perlindungan) kepada suatu kaum yang ada ikatan perjanjian setia antara kamu dengan mereka, atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa berat hendak memerangi kamu atau memerangi kaumnya. Dan jika Allah menghendaki, nescaya Ia menjadikan mereka berkuasa melawan kamu, kemudian tentulah mereka memerangi kamu. Dalam pada itu, jika mereka membiarkan kamu (dengan tidak mengancam atau mengganggu), serta mereka tidak memerangi kamu dan mereka menawarkan perdamaian kepada kamu, maka Allah tidak menjadikan bagi kamu sesuatu jalan (yang membolehkan kamu memerangi atau menawan) merekaTranslation: Except those who go (seeking protection) to a people with whom there is a bond of covenant between you and them, or (those who) come to you while their hearts feel reluctant to fight you or to fight their own people. And had Allah (so) willed, He would surely have made them powerful against you, and then they would surely have fought you. So then, if they leave you alone (without threatening or disturbing you), and they do not fight you, and offer peace to you, then Allah has not set for you any way (permitting you to fight or capture) them.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَاعْلَمْ أَنَّ ذَلِكَ يَتَضَمَّنُ بِشَارَةً عَظِيمَةً لِأَهْلِ الْإِيمَانِ، لِأَنَّهُ تَعَالَى لَمَّا رَفَعَ السَّيْفَ عَمَّنِ الْتَجَأَ إِلَى مَنِ الْتَجَأَ إِلَى الْمُسْلِمِينَ، فَبِأَنْ يَرْفَعَ الْعَذَابَ فِي الْآخِرَةِ عَمَّنِ الْتَجَأَ إِلَى مَحَبَّةِ اللَّه وَمَحَبَّةِ رَسُولِهِ كَانَ أَوْلَى»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 10/171 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 10/171 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, pengecualian “Kecuali orang-orang yang pergi (meminta perlindungan) kepada suatu kaum yang ada ikatan perjanjian setia antara kamu dengan mereka” mengandungi berita gembira yang besar bagi orang beriman. Jika Allah mengangkat pedang (tidak memerangi) daripada orang yang berlindung kepada pihak yang berlindung kepada orang Islam, maka lebih-lebih lagi Dia akan mengangkat azab akhirat daripada orang yang berlindung kepada cinta Allah dan cinta Rasul-Nya.
Renungan: Marilah kita jadikan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya tempat kita berlindung; di situlah harapan kita untuk selamat di akhirat.Al-Rāzī says the exception for those who go (seeking protection) to a people bound to you by a covenant holds great good news for the believers. If Allah lifted the sword from one who sought refuge with those who sought refuge with the Muslims, then all the more will He lift the punishment of the Hereafter from one who seeks refuge in love of Allah and love of His Messenger.
Reflection: Let us make love of Allah and His Messenger our refuge; there lies our hope of safety in the Hereafter.
ءَاخَرِينَ
golongan-golongan yang lain (yang pura-pura Islam)other groups (who pretend to be Muslims)
وَيَأۡمَنُواْ
dan (sebaliknya mereka melahirkan kekufurannya) supaya beroleh aman dari pihakand (in turn, showing their disbelief) to be safe from (merekathey)
يَعۡتَزِلُوكُمۡ
membiarkan kamu (dan terus mengganggu atau berpihak kepada musuh)leave you alone (and keep disturbing you or siding with the enemy) (merekathey)
فَخُذُوهُمۡ
maka hendaklah … bertindak menawan merekathen take action and capture them (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Kamu juga akan dapati golongan-golongan yang lain (yang pura-pura Islam) supaya mereka beroleh aman dari pihak kamu, dan (sebaliknya mereka melahirkan kekufurannya) supaya mereka beroleh aman dari pihak kaumnya (yang masih kafir). Tiap-tiap kali mereka diajak kepada fitnah (pencerobohan), mereka segera terjerumus ke dalamnya. Oleh itu, jika mereka tidak membiarkan kamu (dan terus mengganggu atau berpihak kepada musuh), dan (tidak pula) menawarkan perdamaian kepada kamu dan juga (tidak) menahan tangan mereka (daripada memerangi kamu), maka hendaklah kamu bertindak menawan mereka dan membunuh mereka di mana sahaja kamu menemuinya; kerana merekalah orang-orang yang Kami jadikan bagi kamu alasan yang terang nyata untuk bertindak terhadapnyaTranslation: You will also find other groups (who pretend to be Muslims) wanting to be safe from you and (in turn, showing their disbelief) to be safe from their own people (who still disbelieve). Every time they are invited back to fitnah (aggression), they are at once plunged into it. Therefore, if they do not leave you alone (and keep disturbing you or siding with the enemy), and (do not) offer peace to you, nor hold back their hands (from fighting you), then take action and capture them and kill them wherever you come upon them; for those are the ones We have given you a justification that is plain and clear to take action against them.
Nota nahu: كُلَّ مَا رُدُّوٓا۟ إِلَى ٱلْفِتْنَةِ أُرْكِسُوا۟ فِيهَا (ayat 91).Grammar note: كُلَّ مَا رُدُّوٓا۟ إِلَى ٱلْفِتْنَةِ أُرْكِسُوا۟ فِيهَا (verse 91).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَهُمْ يُظْهِرُونَ الْمَوَدَّةَ لِلْمُسْلِمِينَ لِيَأْمَنُوا غَزْوَهُمْ، وَيُظْهِرُونَ الْوُدَّ لِقَوْمِهِمْ لِيَأْمَنُوا غَائِلَتَهُمْ، وَمَا هُمْ بِمُخْلِصِينَ الْوُدَّ لِأَحَدِ الْفَرِيقَيْنِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/154 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/154 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, golongan yang disebut dalam ayat ini tidak berusaha kecuali untuk kepentingan diri sendiri dan tidak mempedulikan orang lain. Mereka menampakkan kasih kepada orang Islam supaya selamat daripada diserang, dan menampakkan kasih kepada kaum mereka supaya selamat daripada bahaya kaum itu, sedangkan mereka tidak ikhlas berkasih kepada mana-mana pihak; tiada yang mereka pentingkan selain habuan diri.
Renungan: Persahabatan yang dibina semata-mata untuk keselamatan dan kepentingan diri bukanlah kasih yang ikhlas; marilah kita periksa niat kita dalam setiap hubungan.According to Ibn ‘Āshūr, the group mentioned in this verse strive only for their own interests and care nothing for others. They show friendship to the Muslims so as to be safe from attack, and show friendship to their own people so as to be safe from their harm, yet they are sincere in friendship to neither side; nothing matters to them but their own share.
Reflection: A friendship built only for one’s safety and gain is not sincere love; let us examine our intentions in every bond we keep.
فَتَحۡرِيرُ
maka (wajiblah ia membayar kaffarah (tebusan dosa)) dengan memerdekakanthen (he must pay kaffarah (expiation)) by freeing
وَدِيَةٞ
serta membayar “diah” (denda ganti nyawa)and paying “diyah” (compensation for the life taken)
فَتَحۡرِيرُ
maka (wajiblah si pembunuh membayar kaffarah sahaja dengan) memerdekakanthen (the killer must pay the kaffarah only, by) freeing
كَانَ
(orang yang terbunuh dengan tidak sengaja itu) adalah(the one killed unintentionally) is (diahe)ism
فَدِيَةٞ
maka wajiblah membayar “diah” (denda ganti nyawa)then it is obligatory to pay “diyah” (compensation for the life taken)
تَوۡبَةٗ
untuk menerima taubat (membersihkan diri kamu)for the acceptance of repentance (cleansing yourselves)
Terjemahan: Dan tidak harus sama sekali bagi seseorang mukmin membunuh seorang mukmin yang lain, kecuali dengan tidak sengaja. Dan sesiapa yang membunuh seorang mukmin dengan tidak sengaja, maka (wajiblah ia membayar kaffarah) dengan memerdekakan seorang hamba yang beriman serta membayar "diah" (denda ganti nyawa) yang diserahkan kepada ahlinya (keluarga si mati), kecuali jika mereka sedekahkan (memaafkannya). Tetapi jika ia (yang terbunuh dengan tidak sengaja) dari kaum (kafir) yang memusuhi kamu, sedang ia sendiri beriman, maka (wajiblah si pembunuh membayar kaffarah sahaja dengan) memerdekakan seorang hamba yang beriman. Dan jika ia (orang yang terbunuh dengan tidak sengaja itu) dari kaum (kafir) yang ada ikatan perjanjian setia di antara kamu dengan mereka, maka wajiblah membayar "diah" (denda ganti nyawa) kepada keluarganya serta memerdekakan seorang hamba yang beriman. Dalam pada itu, sesiapa yang tidak dapat (mencari hamba yang akan dimerdekakannya), maka hendaklah ia berpuasa dua bulan berturut-turut; (hukum yang tersebut) datangnya dari Allah untuk menerima taubat (membersihkan diri kamu). Dan (ingatlah) Allah Maha Mengetahui, lagi Maha BijaksanaTranslation: And it is not at all permissible for a believer to kill another believer, except unintentionally. And whoever kills a believer unintentionally, then (he must pay kaffarah (expiation)) by freeing a slave who is a believer, and paying “diyah” (compensation for the life taken) handed over to his people (the family of the deceased), except if they give it up as charity (forgiving him). But if (the one killed unintentionally) is from a (disbelieving) people hostile to you, while he himself is a believer, then (the killer must pay the kaffarah only, by) freeing a slave who is a believer. And if (the one killed unintentionally) is from a (disbelieving) people with whom there is a bond of covenant between you and them, then it is obligatory to pay “diyah” (compensation for the life taken) (handed over) to his family, and to free a slave who is a believer. Then whoever does not find (a slave to free), he must fast two consecutive months; (this ruling) comes from Allah for the acceptance of repentance (cleansing yourselves). And (remember), Allah is All-Knowing, All-Wise.
Nota nahu: كَانَ (ayat 92).Grammar note: كَانَ (verse 92).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَقَوْلُهُ: تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ تَنْبِيهٌ عَلَى أَنَّهُ كَانَ مُقَصِّرًا فِي تَرْكِ الِاحْتِيَاطِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 10/182 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 10/182 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, mungkin ditanya: membunuh dengan tidak sengaja bukan maksiat, maka apakah maksud “untuk menerima taubat” dalam ayat ini? Antara jawapan yang beliau berikan: pada perbuatan itu ada kecuaian, kerana yang zahirnya, jika seseorang benar-benar berhati-hati dan memastikan keadaan, perbuatan itu tidak akan berlaku. Maka lafaz taubat di sini mengingatkan bahawa dia telah cuai kerana meninggalkan sikap berhati-hati.
Renungan: Banyak musibah berpunca daripada sikap kurang berhati-hati; marilah kita berwaspada dalam setiap tindakan yang boleh menyentuh nyawa dan hak orang lain.Al-Rāzī says one may ask: killing by mistake is not a sin, so what is meant by accepting repentance in this verse? Among the answers he gives: there is negligence in the act, for, apparently, had the person been truly careful and made sure of the situation, it would not have happened. So the word repentance here is a reminder that he fell short by leaving caution aside.
Reflection: Many calamities come from a lack of care; let us be watchful in every act that may touch the lives and rights of others.
Terjemahan: Dan sesiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka jahanam, kekal ia di dalamnya, dan Allah murka kepadanya, dan melaknatkannya serta menyediakan baginya azab seksa yang besarTranslation: And whoever kills a believer deliberately, then his recompense is Hell (Jahannam), abiding in it; and Allah is wrathful with him, and curses him, and makes ready for him a punishment that is great.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«هَذَا هُوَ الْمَقْصُودُ مِنَ التَّشْرِيعِ لِأَحْكَامِ الْقَتْلِ، لِأَنَّهُ هُوَ الْمُتَوَقَّعُ حُصُولُهُ مِنَ النَّاسِ، وَإِنَّمَا أُخِّرَ لِتَهْوِيلِ أَمْرِهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/163 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/163 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat inilah tujuan utama dalam penerangan hukum-hakam membunuh, kerana pembunuhan dengan sengaja itulah yang dijangka berlaku dalam kalangan manusia. Ia dikemudiankan untuk menggambarkan betapa dahsyatnya perkara itu, lalu dimulakan dengan menyebut pembunuhan tidak sengaja. Muta‘ammid (dengan sengaja) ialah orang yang memang bermaksud membunuh.
Renungan: Nyawa seorang mukmin amat mulia di sisi Allah; marilah kita jauhi segala yang boleh membawa kepada pertumpahan darah, dan kawal kemarahan kita sebelum ia menjadi tindakan.According to Ibn ‘Āshūr, this verse is the main aim in setting out the rulings on killing, since intentional killing is what is expected to happen among people. It is placed last to show how dreadful the matter is, after beginning with killing by mistake. Muta‘ammid (deliberately) is one who truly means to kill.
Reflection: The life of a believer is most honoured with Allah; let us keep far from all that may lead to bloodshed, and restrain our anger before it turns into action.
فَتَبَيَّنُواْ
maka hendaklah … menyelidik (apa jua perkara dengan sebaik-baiknya)then investigate (every matter as thoroughly as possible) (kamu sekalianyou all)
ٱلسَّلَٰمَ
sikap damai (dengan memberi salam atau mengucap dua Kalimah Syahadat)a peaceful stance (by giving salam or uttering the two Shahadahs)
تَبۡتَغُونَ
dengan tujuan hendak (mendapat harta bendanya yang merupakan)seeking (to gain his goods, which are) (kamu sekalianyou all)
فَعِندَ
(janganlah kamu gelap mata kepada daki dunia itu) kerana di sisi(do not be blinded by the dross of this world) for with
قَبۡلُ
dahulu (dapat diketahui oleh orang lain akan keIslaman kamu dengan memberi salam atau mengucap kalimah Syahadat)before (when others could know of your Islam by your giving salam or uttering the Shahadah)
فَتَبَيَّنُوٓاْۚ
oleh itu selidikilah (apa-apa jua lebih dahulu, dan janganlah bertindak dengan terburu-buru)so investigate (everything first, and do not act hastily) (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) pada jalan Allah (untuk membela Islam), maka hendaklah kamu menyelidik (apa jua perkara dengan sebaik-baiknya), dan janganlah kamu (terburu-buru) mengatakan kepada orang yang menunjukkan kepada kamu sikap damai (dengan memberi salam atau mengucap dua Kalimah Syahadat): "Engkau bukan orang yang beriman" (lalu kamu membunuhnya) dengan tujuan hendak (mendapat harta bendanya yang merupakan) harta benda kehidupan dunia (yang tidak kekal). (Janganlah kamu gelap mata kepada daki dunia itu) kerana di sisi Allah ada disediakan limpah kurnia yang banyak. Demikianlah juga keadaan kamu dahulu (dapat diketahui oleh orang lain akan keIslaman kamu dengan memberi salam atau mengucap kalimah Syahadat), lalu Allah mengurniakan nikmat-Nya kepada kamu. Oleh itu selidikilah (apa-apa jua lebih dahulu, dan janganlah bertindak dengan terburu-buru). Sesungguhnya Allah sentiasa memerhati dengan mendalam akan segala yang kamu lakukanTranslation: O you who believe, when you set out (to wage war) in the way of Allah (to defend Islam), then investigate (every matter as thoroughly as possible), and do not (hastily) say to one who shows you a peaceful stance (by giving salam or uttering the two Shahadahs): “You are not a believer” (and then kill him), seeking (to gain his goods, which are) the goods of the life of this world (that does not last). (Do not be blinded by the dross of this world) for with Allah (are made ready) bounties in abundance. Such too was the state you were in before (when others could know of your Islam by your giving salam or uttering the Shahadah), then Allah bestowed His favour upon you. So investigate (everything first, and do not act hastily). Truly Allah is always All-Aware (observing in depth) of all that you do.
Nota nahu: كَذَٰلِكَ كُنتُم مِّن قَبْلُ … إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا (ayat 94).Grammar note: كَذَٰلِكَ كُنتُم مِّن قَبْلُ … إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا (verse 94).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهَذِهِ تَرْبِيَةٌ عَظِيمَةٌ، وَهِيَ أَنْ يَسْتَشْعِرَ الْإِنْسَانُ عِنْدَ مُؤَاخَذَتِهِ غَيْرَهُ أَحْوَالًا كَانَ هُوَ عَلَيْهَا تُسَاوِي أَحْوَالَ مَنْ يُؤَاخِذُهُ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/168 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/168 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, firman “Demikianlah juga keadaan kamu dahulu” menambah teguran: kamu dahulu juga masuk Islam dengan kalimah Islam; jika seseorang enggan mempercayai keislaman kamu, adakah kamu akan redha? Beliau menyebut ini satu didikan yang besar: ketika mempersoalkan orang lain, seseorang hendaklah mengingati keadaan dirinya dahulu yang sama dengan keadaan orang itu, seperti guru dengan murid atau ibu bapa dengan anak. Ayat ini juga menyebarkan kepercayaan dan rasa aman sesama umat.
Renungan: Sebelum kita berkata kepada seseorang “Engkau bukan orang yang beriman”, ingatlah bahawa iman kita juga pernah bermula dengan kalimah yang sama; selidikilah, dan jangan tergesa-gesa menghukum.According to Ibn ‘Āshūr, the words that you too were like this before add to the rebuke: you too entered Islam by the word of Islam; had someone refused to believe your Islam, would you have been pleased? He calls this a great lesson in upbringing: when holding others to account, one should recall one’s own past state that was the same as theirs, as a teacher with a pupil or parents with a child. The verse also spreads trust and a sense of safety among the ummah.
Reflection: Before we tell anyone that he is not a believer, let us remember that our own faith once began with the same words; let us look into things carefully and not rush to judge.
يَسۡتَوِي
sama keadaanequal in state are (orang‑orang yang duduk al‑qa‘idunathose who sit back al‑qā‘idūna)
ٱلۡقَٰعِدُونَ
orang-orang yang duduk (tidak turut berperang)those who sit back (not joining the fighting)
وَٱلۡمُجَٰهِدُونَ
dengan orang-orang yang berjihad (berjuang)and those who carry out jihad (strive)
ٱلۡقَٰعِدِينَ
orang-orang yang tinggal duduk (tidak turut berperang kerana uzur)those who stay behind (not joining the fighting due to an impediment)
ٱلۡقَٰعِدِينَ
orang-orang yang tinggal duduk (tidak turut berperang dan tidak ada sesuatu uzur)those who stay behind (not joining the fighting and having no impediment)
Terjemahan: Tidaklah sama keadaan orang-orang yang duduk (tidak turut berperang) dari kalangan orang-orang yang beriman - selain daripada orang-orang yang ada keuzuran - dengan orang-orang yang berjihad (berjuang) pada jalan Allah (untuk membela Islam) dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjuang dengan harta benda dan jiwa mereka atas orang-orang yang tinggal duduk (tidak turut berperang kerana uzur) dengan kelebihan satu darjat. Dan tiap-tiap satu (dari dua golongan itu) Allah menjanjikan dengan balasan yang baik (Syurga), dan Allah melebihkan orang-orang yang berjuang atas orang-orang yang tinggal duduk (tidak turut berperang dan tidak ada sesuatu uzur) dengan pahala yang amat besarTranslation: Not equal in state are those who sit back (not joining the fighting) from among the believers — other than those who have an impediment — and those who carry out jihad (strive) in the way of Allah (to defend Islam) with their property and their persons. Allah has favoured those who strive with their property and their persons over those who stay behind (not joining the fighting due to an impediment) by one degree of excellence. And to each (of the two groups) Allah has promised a good reward (Paradise); and Allah has favoured those who strive over those who stay behind (not joining the fighting and having no impediment) with a reward that is very great.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّ النَّفْسَ أَشْرَفُ مِنَ الْمَالِ، فَالْمُشْتَرِي قَدَّمَ ذِكْرَ النَّفْسِ تَنْبِيهًا عَلَى أَنَّ الرَّغْبَةَ فِيهَا أَشَدُّ وَالْبَائِعُ أَخَّرَ ذِكْرَهَا تَنْبِيهًا عَلَى أَنَّ الْمُضَايَقَةَ فِيهَا أَشَدُّ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/193 · Shamela ↗ (huraian ayat 95–96)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/193 · Shamela ↗ (commentary on 95–96)
Kata ar-Rāzī, dalam surah at-Tawbah (ayat 111) Allah mendahulukan jiwa sebelum harta, tetapi di sini disebut “dengan harta dan jiwanya”, harta sebelum jiwa. Jawapannya: jiwa lebih mulia daripada harta; Pembeli mendahulukan jiwa sebagai isyarat bahawa keinginan terhadapnya lebih besar, manakala penjual mengemudiankannya sebagai isyarat bahawa dia paling berat untuk melepaskannya, dan tidak rela menyerahkannya kecuali pada peringkat terakhir.
Renungan: Jika harta pun terasa berat untuk kita korbankan kerana Allah, marilah kita mula melatih diri dengan pengorbanan yang kecil.Al-Rāzī says that in Surah at-Tawbah (verse 111) Allah mentions the self before wealth, yet here wealth comes before the self. His answer: the self is nobler than wealth; the Buyer mentions the self first to show that the desire for it is greater, while the seller mentions it last to show that he holds on to it most tightly, and is willing to give it up only at the very last stage.
Reflection: If even wealth feels heavy for us to give up for Allah’s sake, let us begin training ourselves with small sacrifices.
Terjemahan: Iaitu beberapa darjat kelebihan daripada-Nya, dan keampunan serta rahmat belas kasihan. Dan (ingatlah) adalah Allah Maha Pengampun, lagi Maha MengasihaniTranslation: Namely degrees of excellence from Him, and forgiveness and merciful compassion. And (remember), Allah is Most Forgiving, Most Merciful.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَجُمِعَ دَرَجاتٍ لِإِفَادَةِ تَعْظِيمِ الدَّرَجَةِ لِأَنَّ الْجَمْعَ لِمَا فِيهِ مِنْ مَعْنَى الْكَثْرَةِ تُسْتَعَارُ صِيغَتُهُ لِمَعْنَى الْقُوَّةِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/172 · Shamela ↗ (huraian ayat 95–96)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/172 · Shamela ↗ (commentary on 95–96)
Menurut Ibn ‘Āshūr, darajah (darjat) dalam ayat sebelumnya disebut dalam bentuk mufrad (tunggal) bukan untuk menunjukkan satu, kerana ia satu jenis makna yang tidak berbilang, dan tanwinnya (baris dua di hujung) untuk membesarkan. Kemudian ia diulang dalam bentuk jamak, “Iaitu beberapa darjat kelebihan daripada-Nya”, untuk menegaskan dan membesarkannya, kerana bentuk jamak yang membawa makna banyak dipinjam untuk makna kekuatan. Darjat-darjat itu pula datang daripada Allah.
Renungan: Ganjaran Allah bukan sekadar satu darjat, tetapi besar dan berlapis; marilah kita berusaha dengan apa yang ada untuk meraih keampunan dan rahmat-Nya.According to Ibn ‘Āshūr, darajah (degree) in the previous verse is singular, not to show one, since it is a kind of meaning that is not counted, and its tanwīn (the doubled ending) is to magnify it. It is then repeated in the plural, degrees of excellence from Him, to stress and magnify it, because the plural, carrying the sense of many, is borrowed for the sense of strength. These degrees come from Allah.
Reflection: Allah’s reward is not just one degree but great and layered; let us strive with what we have to gain His forgiveness and mercy.
أَنفُسِهِمۡ
diri sendiri (kerana enggan berhijrah untuk membela Islam dan rela ditindas oleh kaum kafir musyrik)their own selves (by refusing to emigrate to defend Islam and accepting oppression by the idolatrous disbelievers)
قَالُواْ
(malaikat) bertanya (kepada mereka) dengan berkata(the angels) ask (them), saying (merekathey)
كُنتُمۡۖ
… telah lakukan mengenai ugama kamu… have done about your religion (kamu sekalianyou all)ism
فَتُهَاجِرُواْ
yang membolehkan … berhijrah dengan bebasso that … could emigrate freely (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Sesungguhnya orang-orang yang diambil nyawanya oleh malaikat semasa mereka sedang menganiaya diri sendiri (kerana enggan berhijrah untuk membela Islam dan rela ditindas oleh kaum kafir musyrik), mereka ditanya oleh malaikat dengan berkata: "Apakah yang kamu telah lakukan mengenai ugama kamu?" Mereka menjawab: "Kami dahulu adalah orang-orang yang tertindas di bumi". Malaikat bertanya lagi: "Tidakkah bumi Allah itu luas, yang membolehkan kamu berhijrah dengan bebas padanya?" Maka orang-orang yang sedemikian itu keadaannya, tempat akhir mereka ialah neraka jahanam, dan neraka jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat kembaliTranslation: Truly those whose souls the angels take while (they are) wronging their own selves (by refusing to emigrate to defend Islam and accepting oppression by the idolatrous disbelievers) — (the angels) ask (them), saying: “What have you done about your religion?” They answer: “We were formerly oppressed on the earth.” (The angels) ask again: “Is it not that the earth of Allah is wide, so that you could emigrate freely in it?” So those in such a state — their final place is Hell (Jahannam); and (Hell) is the worst place of return.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَظُلْمُ النَّفْسِ أَنْ يَفْعَلَ أَحَدٌ فِعْلًا يَؤُولُ إِلَى مَضَرَّتِهِ، فَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ، لِأَنَّهُ فَعَلَ بِنَفْسِهِ مَا لَيْسَ مِنْ شَأْنِ الْعُقَلَاءِ أَنْ يَفْعَلُوهُ لِوَخَامَةِ عُقْبَاهُ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/174 · Shamela ↗ (huraian ayat 97–99)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/174 · Shamela ↗ (commentary on 97–99)
Menurut Ibn ‘Āshūr, menganiaya diri sendiri (ẓulm al-nafs) ialah melakukan sesuatu yang kesudahannya memudaratkan diri sendiri, kerana dia berbuat terhadap dirinya apa yang tidak dilakukan oleh orang yang berakal disebabkan buruknya akibat. Kezaliman pula ialah perkara yang tidak patut dilakukan, tidak diredhai oleh jiwa yang sejahtera dan oleh syariat. Ayat ini menyebut mereka “semasa mereka sedang menganiaya diri sendiri”.
Renungan: Setiap kali kita menangguhkan kebaikan atau memilih apa yang memudaratkan agama kita, kita sebenarnya sedang menganiaya diri sendiri; marilah kita bertindak sebelum ajal tiba.According to Ibn ‘Āshūr, wronging oneself (ẓulm al-nafs) is doing something whose end harms oneself, for one does to oneself what people of sense would not do because of its grim outcome. Wrongdoing is what ought not to be done, and what sound souls and the revealed laws do not accept. The verse describes them as wronging themselves at the time.
Reflection: Each time we delay a good deed or choose what harms our religion, we are in truth wronging ourselves; let us act before our time comes.
Terjemahan: Kecuali orang-orang yang lemah (lagi uzur) dari kaum lelaki dan perempuan serta kanak-kanak, yang tidak berdaya upaya mencari helah (untuk melepaskan diri) dan tidak pula mengetahui sesuatu jalan (untuk berhijrah)Translation: Except those who are weak (and impeded) among the men, women and children, who are not able to find a means (to free themselves), nor know any way (to emigrate).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«مُوَضِّحَةٌ لِلِاسْتِضْعَافِ لِيَظْهَرَ أَنَّهُ غَيْرُ الِاسْتِضْعَافِ الَّذِي يَقُولُهُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/177 · Shamela ↗ (huraian ayat 97–99)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/177 · Shamela ↗ (commentary on 97–99)
Menurut Ibn ‘Āshūr, sebutan “dari kaum lelaki dan perempuan serta kanak-kanak” bertujuan meliputi semua, dan lelaki didahulukan untuk mengingatkan bahawa ada juga lelaki yang benar-benar lemah. Klausa “yang tidak berdaya upaya mencari helah (untuk melepaskan diri) dan tidak pula mengetahui sesuatu jalan” menjelaskan kelemahan mereka, supaya jelas bahawa ia bukan kelemahan yang didakwa oleh orang-orang yang menganiaya diri sendiri dalam ayat sebelumnya.
Renungan: Allah membezakan kelemahan yang sebenar dengan alasan yang direka; marilah kita jujur dengan diri sendiri tentang uzur kita.According to Ibn ‘Āshūr, naming men, women and children is meant to include all, and men are named first to point out that some men too are truly weak. The clause describing those who are not able to find a means (to free themselves) nor know any way explains their weakness, to make clear that it is not the weakness claimed by those who wronged themselves in the previous verse.
Reflection: Allah tells real weakness apart from invented excuses; let us be honest with ourselves about our excuses.
Terjemahan: Maka mereka (yang demikian sifatnya), mudah-mudahan Allah maafkan mereka. Dan (ingatlah), Allah Maha Pemaaf, lagi Maha PengampunTranslation: So they (of such a description) — it is hoped that Allah will pardon them. And (remember), Allah is Most Pardoning, Most Forgiving.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهُوَ أَنَّ الْإِنْسَانَ لِشِدَّةِ نَفْرَتِهِ عَنْ مُفَارَقَةِ الْوَطَنِ رُبَّمَا ظَنَّ نَفْسَهُ عَاجِزًا عَنْهَا مَعَ أَنَّهُ لَا يَكُونُ كَذَلِكَ فِي الْحَقِيقَةِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/197 · Shamela ↗ (huraian ayat 97–99)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/197 · Shamela ↗ (commentary on 97–99)
Kata ar-Rāzī, mungkin ditanya: jika mereka benar-benar tidak mampu, mengapa disebut kemaafan, dan mengapa dengan kata “mudah-mudahan”? Menurutnya, jawapan yang lebih utama ialah: manusia, kerana sangat berat hatinya meninggalkan tanah air, kadang-kadang menyangka dirinya tidak mampu, padahal sebenarnya tidak begitu. Kerana itu kemaafan disebut dengan “mudah-mudahan”, bukan dengan kata yang memastikan. Beliau menukil jawapan lain daripada pengarang al-Kashshāf, tetapi memilih jawapan ini.
Renungan: Kadang-kadang ‘tidak mampu’ hanyalah rasa berat hati; marilah kita jujur menilai diri sebelum memberi alasan kepada Allah.Al-Rāzī says one may ask: if they were truly unable, why mention pardon, and why with the words “it is hoped that”? In his view, the better answer is this: a person, out of strong reluctance to leave his homeland, may think himself unable when in truth he is not. That is why pardon is mentioned with “it is hoped that” and not with a word of certainty. He reports another answer given by the author of al-Kashshāf, but prefers this one.
Reflection: Sometimes ‘I cannot’ is only a heavy heart; let us judge ourselves honestly before offering excuses to Allah.
يُدۡرِكۡهُ
datang kepadanya (ia mati (dalam perjalanan))comes to him (he dies (on the way)) (maut al‑mautudeath al‑mawtu)
Terjemahan: Dan sesiapa yang berhijrah pada jalan Allah (untuk membela dan menegakkan Islam), nescaya ia akan dapati di muka bumi ini tempat berhijrah yang banyak dan rezeki yang makmur; dan sesiapa yang keluar dari rumahnya dengan tujuan berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian ia mati (dalam perjalanan), maka sesungguhnya telah tetap pahala hijrahnya di sisi Allah. Dan (ingatlah) Allah Maha Pengampun, lagi Maha MengasihaniTranslation: And whoever emigrates (makes hijrah) in the way of Allah (to defend and uphold Islam) will surely find on the face of this earth many places to emigrate to and abundant provision. And whoever goes out from his home intending to emigrate to Allah and His Messenger, then death comes to him (he dies on the way), then truly the reward of his hijrah is firmly fixed with Allah. And (remember), Allah is Most Forgiving, Most Merciful.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنْ يَكُونَ لَهُ فِي وَطَنِهِ نَوْعُ رَاحَةٍ وَرَفَاهِيَةٍ، فَيَقُولُ لَوْ فَارَقْتُ الْوَطَنَ وَقَعْتُ فِي الشِّدَّةِ وَالْمَشَقَّةِ وَضِيقِ الْعَيْشِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/198 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/198 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, ada dua perkara yang menghalang seseorang daripada berhijrah. Pertama, dia hidup selesa dan senang di tanah airnya, lalu berkata: jika aku meninggalkannya, aku akan ditimpa kesusahan, kepayahan dan kesempitan hidup; Allah menjawabnya dengan “nescaya ia akan dapati di muka bumi ini tempat berhijrah yang banyak dan rezeki yang makmur”. Kedua, dia bimbang tidak sampai kepada tujuannya; Allah menjawab bahawa sesiapa yang keluar dari rumahnya untuk berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mati, telah tetap pahalanya di sisi Allah.
Renungan: Keselesaan dan rasa tidak pasti sering menghalang kita melangkah ke arah Allah; marilah kita melangkah dengan niat yang ikhlas, kerana ganjarannya ada di sisi Allah.Al-Rāzī says two things hold a person back from emigrating. First, he lives in comfort and ease in his homeland and says: if I leave it, I will fall into hardship, toil and a narrow living; Allah answers this by saying that the emigrant will find on the earth many places to emigrate to and abundant provision. Second, he fears he may not reach his goal; Allah answers that whoever goes out from his home intending to emigrate to Allah and His Messenger, after which death comes to him, his reward is firmly fixed with Allah.
Reflection: Comfort and uncertainty often keep us from stepping towards Allah; let us step forward with a sincere intention, for its reward is with Allah.