طَلَّقۡتُمُ
(engkau dan umatmu) hendak menceraikan(you and your community) intend to divorce (kamu sekalianyou all)
لِعِدَّتِهِنَّ
pada masa mereka dapat memulakan idah (tempoh menunggu) merekaat a time when they can begin their ‘iddah (waiting period)
بُيُوتِهِنَّ
rumah-rumah kediamannya (sehingga selesai idahnya)their homes (until their ‘iddah is completed)
Terjemahan: Wahai Nabi! Apabila kamu - (engkau dan umatmu) - hendak menceraikan isteri-isteri (kamu), maka ceraikanlah mereka pada masa mereka dapat memulakan idahnya, dan hitunglah masa idah itu (dengan betul), serta bertaqwalah kepada Allah, Tuhan kamu. Janganlah kamu mengeluarkan mereka dari rumah-rumah kediamannya (sehingga selesai idahnya), dan janganlah pula (dibenarkan) mereka keluar (dari situ), kecuali (jika) mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan itulah aturan-aturan hukum Allah (maka janganlah kamu melanggarnya); dan sesiapa yang melanggar aturan-aturan hukum Allah maka sesungguhnya ia telah berlaku zalim kepada dirinya. (Patuhilah hukum-hukum itu, kerana) engkau tidak mengetahui boleh jadi Allah akan mengadakan, sesudah itu, sesuatu perkara (yang lain)Translation: O Prophet! When you — (you and your community) — intend to divorce (your) wives, then divorce them at a time when they can begin their ‘iddah (waiting period), and count the ‘iddah period (correctly), and have taqwa of Allah, your Lord. Do not put them out of their homes (until their ‘iddah is completed), and nor (are they allowed to) go out (from there), except (if) they commit a shameful deed that is clear. And those are the limits of the laws of Allah (so do not transgress them); and whoever transgresses the limits of the laws of Allah has indeed done injustice to his own self. (Obey those laws, for) you do not know: it may be that Allah will bring about, after that, some (other) matter.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَلَا يَبْعُدُ أَنْ يَكُونَ الْمَعْنَى وَمَنْ يَتَجَاوَزِ الْحَدَّ الَّذِي جَعَلَهُ اللَّه تَعَالَى فَقَدْ وَضَعَ نَفْسَهُ مَوْضِعًا لَمْ يَضَعْهُ فِيهِ رَبُّهُ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 30/561 · Shamela ↗Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 30/561 · Shamela ↗
Tafsir ar-Rāzī menyebut, firman “sesiapa yang melanggar aturan-aturan hukum Allah maka sesungguhnya ia telah berlaku zalim kepada dirinya” boleh juga bermaksud: sesiapa yang melampaui batas yang Allah tetapkan telah meletakkan dirinya di tempat yang tidak diletakkan oleh Tuhannya, kerana zalim ialah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya.
Renungan: Batas Allah melindungi kita; apabila kita melampauinya, diri kita sendirilah yang pertama dirugikan.Tafsir al-Rāzī says that the words about whoever oversteps Allah’s limits having wronged himself may also mean: whoever goes beyond the limit Allah has set has put himself in a place where his Lord did not put him, for wrongdoing (ẓulm) is putting something where it does not belong.
Reflection: Allah’s limits protect us; when we overstep them, it is we ourselves who are harmed first.
فَأَمۡسِكُوهُنَّ
maka bolehlah … pegang mereka (rujuk)then … may keep them (take them back) (kamu sekalianyou all)
ذَوَيۡ
dua orang saksi yang (lit. dua orang yang mempunyai)two witnesses who are (lit. two possessors of)
مِّنكُمۡ
di antara kamu (semasa kamu merujukkan atau melepaskannya)from among you (when you take back or release them)
وَأَقِيمُواْ
dan hendaklah (yang menjadi saksi) menyempurnakanand let (those who are witnesses) fulfil (kamu sekalianyou all)
يُوعَظُ
diberi peringatan dan pengajaranare warning and teaching given (sesiapa manwhoever man)NF
ٱللَّهَ
Allah (dengan mengerjakan suruhan-Nya dan meninggalkan larangan-Nya)Allah (by doing what He commands and leaving what He forbids)
مَخۡرَجٗا
jalan keluar (dari segala perkara yang menyusahkannya)a way out (from every matter that troubles him)
Terjemahan: Kemudian, apabila mereka (hampir) habis tempoh idahnya, maka bolehlah kamu pegang mereka (rujuk) dengan cara yang baik, atau lepaskan mereka dengan cara yang baik; dan adakanlah dua orang saksi yang adil di antara kamu (semasa kamu merujukkan atau melepaskannya); dan hendaklah kamu (yang menjadi saksi) menyempurnakan persaksian itu kerana Allah semata-mata. Dengan hukum-hukum yang tersebut diberi peringatan dan pengajaran kepada sesiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat; dan sesiapa yang bertaqwa kepada Allah (dengan mengerjakan suruhan-Nya dan meninggalkan larangan-Nya), nescaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar (dari segala perkara yang menyusahkannya)Translation: Then when they have (nearly) completed their term of ‘iddah, you may keep them (take them back) in a good manner, or release them in a good manner; and call two just witnesses from among you (when you take back or release them); and let (those who are witnesses) fulfil the testimony for the sake of Allah alone. By those rulings warning and teaching are given to whoever believes in Allah and the Day of the Hereafter; and whoever has taqwa of Allah (by doing what He commands and leaving what He forbids), Allah will make for him a way out (from every matter that troubles him),
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَشَبَّهَ مَا يَمْنَحُهُمُ اللَّهُ بِهِ مِنَ اللُّطْفِ وَإِجْرَاءِ الْأُمُورِ عَلَى مَا يُلَائِمُ أَحْوَالَهُمْ بِجَعْلِ مَنْفَذٍ فِي الْمَكَانِ الْمُغْلَقِ يَتَخَلَّصُ مِنْهُ الْمُتَضَائِقُ فِيهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 28/311 · Shamela ↗ (huraian ayat 2–3)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 28/311 · Shamela ↗ (commentary on 2–3)
Menurut Ibn ‘Āshūr, kerana urusan perceraian tidak lepas daripada kesempitan dan dukacita, Allah menjanjikan “jalan keluar” kepada orang yang bertaqwa: kesempitan itu diumpamakan seperti tempat yang tertutup, manakala kelembutan (luṭf) Allah yang mengatur urusan mengikut keadaan mereka diumpamakan seperti lubang yang dibuka pada tempat itu, lalu orang yang terhimpit dapat keluar.
Renungan: Ketika kita terasa terkurung oleh masalah, taqwalah kunci yang membuka jalan keluarnya.According to Ibn ‘Āshūr, since the matter of divorce is never free of distress and sorrow, Allah promised a way out to those who have taqwa: that distress is likened to a closed place, while Allah’s gentle kindness (luṭf), arranging matters to suit their state, is likened to an opening made in that place through which the one hemmed in can escape.
Reflection: When we feel shut in by our problems, taqwa is the key that opens the way out.
يَحۡتَسِبُۚ
terlintas di hatinyacross his mind (dia (merujuk sesiapa yang)he (refers to whoever))
يَتَوَكَّلۡ
berserah diri bulat-bulatputs his trust entirely (dia (merujuk sesiapa yang)he (refers to whoever))
حَسۡبُهُۥٓۚ
cukuplah baginya (untuk menolong dan menyelamatkannya)is sufficient for him (to help and save him)
Terjemahan: Serta memberinya rezeki dari jalan yang tidak terlintas di hatinya. Dan (Ingatlah), sesiapa berserah diri bulat-bulat kepada Allah, maka Allah cukuplah baginya (untuk menolong dan menyelamatkannya). Sesungguhnya Allah tetap melakukan segala perkara yang dikehendaki-Nya. Allah telahpun menentukan kadar dan masa bagi berlakunya tiap-tiap sesuatuTranslation: and provides for him from a way that does not cross his mind. And (remember), whoever puts his trust entirely in Allah, then Allah is sufficient for him (to help and save him). Truly Allah surely carries out every matter He wills. Allah has already set a measure and a time for the occurring of every thing.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ أَيْ مَنْ وَثِقَ بِهِ فِيمَا نَالَهُ كَفَاهُ اللَّه مَا أَهَمَّهُ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 30/562 · Shamela ↗ (huraian ayat 2–3)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 30/562 · Shamela ↗ (commentary on 2–3)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, maksud “sesiapa berserah diri bulat-bulat kepada Allah, maka Allah cukuplah baginya” ialah: sesiapa yang meletakkan kepercayaannya kepada Allah dalam apa jua yang menimpanya, Allah mencukupkan baginya apa yang merunsingkannya.
Renungan: Apabila sesuatu urusan merunsingkan kita, mari kita sandarkan kepercayaan sepenuhnya kepada Allah; Dialah yang mencukupkan apa yang tidak mampu kita pikul.Tafsir al-Rāzī says the words that whoever puts his trust in Allah, Allah is enough for him, mean: whoever places his trust in Him in whatever befalls him, Allah suffices him in what worries him.
Reflection: When something worries us, let us lean our trust wholly on Allah; He is the One Who suffices us in what we cannot carry.
ٱرۡتَبۡتُمۡ
menaruh syak (terhadap tempoh idah mereka)are in doubt (about their ‘iddah) (kamu sekalianyou all)
وَٱلَّٰٓـِٔي
dan (demikian) juga idah perempuan-perempuan yangand (likewise) the ‘iddah of the women who
وَأُوْلَٰتُ
dan perempuan-perempuan (lit. yang mempunyai)and the women who are with (lit. possessors of)
Terjemahan: Dan perempuan-perempuan dari kalangan kamu yang putus asa dari kedatangan haid, jika kamu menaruh syak (terhadap tempoh idah mereka) maka idahnya ialah tiga bulan; dan (demikian) juga idah perempuan-perempuan yang tidak berhaid. Dan perempuan-perempuan mengandung, tempoh idahnya ialah hingga mereka melahirkan anak yang dikandungnya. Dan (ingatlah), sesiapa yang bertaqwa kepada Allah, nescaya Allah memudahkan baginya segala urusannyaTranslation: And those of your women who have despaired of the coming of menstruation, if you are in doubt (about their ‘iddah), then their ‘iddah is three months; and (likewise) the ‘iddah of the women who have not menstruated. And the women who are with child, their term is until they deliver the child they carry. And (remember), whoever has taqwa of Allah, Allah will make all his affairs easy for him.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً أَيْ يُيَسِّرِ اللَّه عَلَيْهِ فِي أَمْرِهِ، وَيُوَفِّقْهُ لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 30/563 · Shamela ↗ (huraian ayat 4–5)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 30/563 · Shamela ↗ (commentary on 4–5)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, maksud “sesiapa yang bertaqwa kepada Allah, nescaya Allah memudahkan baginya segala urusannya” ialah Allah memudahkan urusannya dan memberinya taufik (pertolongan Allah) untuk beramal soleh.
Renungan: Kemudahan daripada Allah bukan hanya pada urusan yang selesai, tetapi juga pada hati yang dimudahkan untuk berbuat baik; mari kita menjaga taqwa supaya kedua-duanya kita peroleh.Tafsir al-Rāzī says the words that whoever has taqwa of Allah, Allah will make his affairs easy for him, mean that Allah eases his affair for him and grants him success (tawfīq) in doing righteous deeds.
Reflection: Ease from Allah is not only in affairs that get settled, but also in a heart made ready to do good; let us hold on to taqwa so that we gain both.
Terjemahan: Peraturan-peraturan yang demikian adalah hukum-hukum Allah yang diturunkan dan diterangkan-Nya kepada kamu; dan (ingatlah), sesiapa yang bertaqwa kepada Allah, nescaya Allah menghapuskan kesalahan-kesalahannya, dan akan membesarkan pahala balasannyaTranslation: Those regulations are the laws of Allah which He sent down and made clear to you; and (remember), whoever has taqwa of Allah, Allah will wipe out his misdeeds and will make his reward great.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْكَلَامُ كِنَايَةٌ عَنِ الْحَثِّ عَلَى التَّهَمُّمِ بِرِعَايَتِهِ وَالْعَمَلِ بِهِ وَبَعْثِ النَّاسِ عَلَى التَّنَافُسِ فِي الْعِلْمِ بِهِ إِذْ قَدِ اعْتَنَى اللَّهُ بِالنَّاسِ حَيْثُ أَنْزَلَ إِلَيْهِمْ مَا فِيهِ صَلَاحُهُمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 28/324 · Shamela ↗ (huraian ayat 4–5)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 28/324 · Shamela ↗ (commentary on 4–5)
Menurut Ibn ‘Āshūr, firman “hukum-hukum Allah yang diturunkan dan diterangkan-Nya kepada kamu” ialah kiasan yang mendorong kita mengambil berat untuk menjaga dan mengamalkannya, serta berlumba-lumba mengetahuinya, kerana Allah telah memberi perhatian kepada manusia dengan menurunkan kepada mereka apa yang membawa kebaikan bagi mereka.
Renungan: Setiap hukum Allah ialah tanda perhatian-Nya kepada kita; mari kita mempelajari dan mengamalkannya dengan rasa syukur.According to Ibn ‘Āshūr, the words about the commands of Allah which He has sent down to you are a figure that urges us to take care to keep them and act on them, and to compete in learning them, for Allah has shown His care for people by sending down to them what is for their good.
Reflection: Every command of Allah is a sign of His care for us; let us learn it and act on it with gratitude.
أَسۡكِنُوهُنَّ
tempatkanlah isteri-isteri (yang menjalani idahnya) ituhouse those wives (who are observing their ‘iddah) (kamu sekalianyou all)
تُضَآرُّوهُنَّ
adakan sesuatu yang menyakiti mereka (di tempat tinggal itu)do anything that harms them (in that dwelling) (kamu sekalianyou all)
لِتُضَيِّقُواْ
dengan tujuan hendak menyusahkanin order to make things hard (kamu sekalianyou all)
عَلَيۡهِنَّۚ
kedudukan mereka (supaya mereka keluar meninggalkan tempat itu)for them (so that they leave that place)
تَعَاسَرۡتُمۡ
(dari kedua pihak) mengalami kesulitan(from both sides) meet with difficulty (kamu sekalianyou all)
فَسَتُرۡضِعُ
maka bolehlah … menyusukannyathen … may nurse him (perempuan lain ukhraanother woman ukhrā)
Terjemahan: Tempatkanlah isteri-isteri (yang menjalani idahnya) itu di tempat kediaman kamu sesuai dengan kemampuan kamu; dan janganlah kamu adakan sesuatu yang menyakiti mereka (di tempat tinggal itu) dengan tujuan hendak menyusahkan kedudukan mereka (supaya mereka keluar meninggalkan tempat itu). Dan jika mereka berkeadaan sedang mengandung, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya sehingga mereka melahirkan anak yang dikandungnya; kemudian jika mereka menyusukan anak untuk kamu, maka berikanlah kepada mereka upahnya; dan berundinglah di antara kamu (dalam hal menyusunya) dengan cara yang baik. Dan (sebaliknya) jika kamu (dari kedua pihak) mengalami kesulitan, maka bolehlah perempuan lain menyusukannyaTranslation: House those wives (who are observing their ‘iddah) in the place where you dwell, in keeping with what you can afford; and do not do anything that harms them (in that dwelling) in order to make things hard for them (so that they leave that place). And if they are with child, then give them their maintenance until they deliver the child they carry; then if they nurse the child for you, give them their wages; and consult together among yourselves (about the nursing) in a good manner. And (on the other hand) if you (from both sides) meet with difficulty, then another woman may nurse him.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«كَأَنَّهُ قِيلَ: كَيْفَ نَعْمَلُ بِالتَّقْوَى فِي شَأْنِ الْمُعْتَدَّاتِ، فَقِيلَ: أَسْكِنُوهُنَّ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 30/564 · Shamela ↗ (huraian ayat 6–7)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 30/564 · Shamela ↗ (commentary on 6–7)
Tafsir ar-Rāzī menukil penjelasan al-Zamakhsharī (pengarang al-Kashshāf; lafaz yang sama dalam al-Kashshāf, 4/558) bahawa ayat ini menerangkan taqwa yang disebut sebelumnya, seolah-olah ditanya: “Bagaimanakah kami mengamalkan taqwa terhadap wanita yang menjalani idah (tempoh menunggu)?” Lalu dijawab: “Tempatkanlah isteri-isteri (yang menjalani idahnya) itu …”.
Renungan: Taqwa bukan sekadar rasa dalam hati; ia terzahir dalam cara kita melayan orang yang berada di bawah tanggungan kita, terutama ketika hubungan sedang sukar.Tafsir al-Rāzī reports the explanation of al-Zamakhsharī (author of al-Kashshāf; the same wording is in al-Kashshāf, 4/558) that this verse explains the taqwa mentioned before it, as though it were asked: How do we live taqwa towards women in their waiting period (‘iddah)? And the answer came: House those wives (who are observing their ‘iddah) …
Reflection: Taqwa is not only a feeling in the heart; it shows in how we treat those in our care, above all when a relationship is going through a hard time.
فَلۡيُنفِقۡ
maka hendaklah … memberi nafkahthen let … spend (dia (merujuk sesiapa yang)he (refers to whoever))
سَيَجۡعَلُ
(orang-orang yang dalam kesempitan hendaklah ingat bahawa) … akan memberikan(let those in hardship remember that) … will give (AllahAllah)
Terjemahan: Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya; dan sesiapa yang disempitkan rezekinya, maka hendaklah ia memberi nafkah dari apa yang diberikan Allah kepadanya (sekadar yang mampu); Allah tidak memberati seseorang melainkan (sekadar kemampuan) yang diberikan Allah kepadanya. (Orang-orang yang dalam kesempitan hendaklah ingat bahawa) Allah akan memberikan kesenangan sesudah berlakunya kesusahanTranslation: Let the one who has means spend in keeping with his means; and whoever has his provision restricted, let him spend from what has been given to him by Allah (as far as he is able). Allah does not burden any soul except (within the capacity) given to it by Allah. (Let those in hardship remember that) Allah will give ease after hardship has come.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهَذَا الْكَلَامُ خَبَرٌ مُسْتَعْمَلٌ فِي بَعْثِ التَّرَجِّي وَطَرْحِ الْيَأْسِ عَنِ الْمُعْسِرِ مِنْ ذَوِي الْعِيَالِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 28/332 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 28/332 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, firman “Allah akan memberikan kesenangan sesudah berlakunya kesusahan” ialah berita yang digunakan untuk membangkitkan harapan dan membuang rasa putus asa daripada orang yang susah yang menanggung keluarga; sesiapa dalam kesusahan berharap agar dia termasuk dalam limpah kurnia Allah.
Renungan: “Allah tidak memberati seseorang melainkan (sekadar kemampuan) yang diberikan Allah kepadanya”; maka mari kita tunaikan apa yang termampu dan tidak berputus asa daripada rahmat-Nya.According to Ibn ‘Āshūr, the words that Allah will bring ease after hardship are a statement used to stir up hope and to lift despair from the one in hardship who supports a family; whoever is in hardship hopes to be among those whom Allah’s bounty reaches.
Reflection: Allah does not burden a soul beyond what He has given it; so let us do what we are able to do and never despair of His mercy.
عَتَتۡ
yang penduduknya menderhaka (lit. yang menderhaka)whose people rebelled (lit. that rebelled) (ia (negeri itu)it (the town))
فَحَاسَبۡنَٰهَا
maka … hitung amal mereka satu persatu (lit. menghisabnya)so … reckoned their deeds one by one (lit. reckoned it) (KamiWe)
وَعَذَّبۡنَٰهَا
serta … seksakan mereka (lit. mengazabnya)and … punished them (lit. punished it) (KamiWe)
Terjemahan: Dan bukan sedikit negeri-negeri yang penduduknya menderhaka terhadap perintah Tuhan mereka dan Rasul-rasul-Nya, maka Kami hitung amal mereka satu persatu dengan hitungan yang keras rapi, serta Kami seksakan mereka dengan azab yang tidak pernah dikenal dahsyatnyaTranslation: And not a few are the towns whose people rebelled against the command of their Lord and His Messengers; so We reckoned their deeds one by one with a strict and thorough reckoning, and We punished them with a punishment whose horror was never known before.
Nota nahu: وَكَأَيِّن مِّن قَرْيَةٍ عَتَتْ (ayat 8–9).Grammar note: وَكَأَيِّن مِّن قَرْيَةٍ عَتَتْ (verses 8–9).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِئَلَّا يَسْلُكُوا سَبِيلَ التَّهَاوُنِ بِإِقَامَةِ الشَّرِيعَةِ، فَيُلْقِي بِهِمْ ذَلِكَ فِي مَهْوَاةِ الضَّلَالِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 28/333 · Shamela ↗ (huraian ayat 8–11)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 28/333 · Shamela ↗ (commentary on 8–11)
Menurut Ibn ‘Āshūr, setelah banyak hukum diturunkan, Allah mengingatkan orang Islam tentang azab yang menimpa kaum-kaum yang tidak mengendahkan perintah Allah dan rasul-rasul-Nya, supaya mereka tidak mengambil jalan memandang ringan dalam menegakkan syariat, lalu terjerumus ke jurang kesesatan, kerana perkara kecil boleh membawa kepada perkara besar.
Renungan: Mari kita tidak meremehkan perintah Allah yang kelihatan kecil, kerana kelalaian kecil boleh membawa kepada kelalaian yang besar.According to Ibn ‘Āshūr, after many rulings had been sent down, Allah reminded the Muslims of the punishment that struck peoples who paid no heed to the command of Allah and His messengers, so that they would not take the path of treating the upholding of the Sharī‘ah lightly and so fall into the pit of misguidance, for small things can lead to great ones.
Reflection: Let us not belittle any command of Allah that looks small, for a small neglect can lead to a great one.
Terjemahan: Lalu mereka merasai kesan yang buruk dari perbuatan derhakanya, dan menjadilah akibat perbuatan mereka satu kerugian yang besarTranslation: So they tasted the evil result of their rebellious deeds, and the outcome of their deeds became a great loss.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَيْ ذَاقُوا الْوَبَالَ الَّذِي تَسَبَّبَ لَهُمْ فِيهِ أَمْرُهُمْ وَشَأْنُهُمُ الَّذِي كَانُوا عَلَيْهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 28/335 · Shamela ↗ (huraian ayat 8–11)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 28/335 · Shamela ↗ (commentary on 8–11)
Menurut Ibn ‘Āshūr, maksud “merasai kesan yang buruk dari perbuatan derhakanya” ialah mereka merasai akibat buruk yang ditimbulkan oleh keadaan dan perbuatan mereka sendiri; dan kesudahan mereka diumpamakan seperti kerugian seorang peniaga dalam jualannya: mereka menyangka telah menang, tetapi tidak lama kemudian menjadi hina.
Renungan: Mari kita menimbang setiap perbuatan dengan akibatnya, kerana keuntungan yang disangka hari ini boleh menjadi kerugian yang besar esok.According to Ibn ‘Āshūr, tasting the evil result of their conduct means they tasted the harm brought on them by their own state and the way they were; and their end is likened to a trader’s loss in his sale: they thought they had won, but before long they were humbled.
Reflection: Let us weigh every deed by where it leads, for what looks like a gain today can become a great loss tomorrow.
Terjemahan: Allah menyediakan bagi mereka azab seksa yang seberat-beratnya. Maka bertaqwalah kepada Allah kepada wahai orang yang berakal sempurna dari kalangan orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan kepada kamu peringatanTranslation: Allah has prepared for them a most severe punishment. So have taqwa of Allah, O people of perfect understanding from among those who believe. Truly Allah has sent down to you a reminder —
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّ خِطَابَ اللَّه تَعَالَى لَا يَكُونُ إِلَّا لِذَوِي الْعُقُولِ فَمَنْ لَا عَقْلَ لَهُ فَلَا خِطَابَ عَلَيْهِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 30/565 · Shamela ↗ (huraian ayat 8–11)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 30/565 · Shamela ↗ (commentary on 8–11)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, seruan “wahai orang yang berakal sempurna” ditujukan kepada orang beriman, dan ia menunjukkan bahawa seruan Allah hanya ditujukan kepada orang yang berakal; sesiapa yang tidak berakal tidak ditujukan seruan kepadanya.
Renungan: Allah memuliakan kita dengan akal dan menyeru kita melaluinya; mari kita gunakan akal untuk mengambil pengajaran dan bertaqwa, bukan untuk mencari alasan.Tafsir al-Rāzī says the call to those of sound understanding is addressed to the believers, and it shows that Allah’s address is only to those who have reason; whoever has no reason is not addressed.
Reflection: Allah honours us with reason and calls us through it; let us use our reason to take lessons and to have taqwa, not to look for excuses.
رَّسُولٗا
(dengan mengutuskan) seorang Rasul (Nabi Muhammad s.a.w)(by sending) a Messenger (the Prophet Muhammad)
يُدۡخِلۡهُ
akan dimasukkan oleh Allah (lit. memasukkannya)will be admitted by Allah (lit. He will admit him) (DiaHe)
Terjemahan: (Dengan mengutuskan) seorang Rasul (Nabi Muhammad s.a.w) yang membacakan kepada kamu ayat-ayat Allah yang menerangkan kebenaran, supaya Allah mengeluarkan orang-orang (yang sedia diketahui-Nya akan) beriman dan beramal soleh - dari gelap-gelita (kesesatan) kepada cahaya (hidayah petunjuk). Dan (ingatlah), sesiapa yang beriman kepada Allah dan beramal soleh, akan dimasukkan oleh Allah ke dalam Syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai; kekallah mereka di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah (dengan yang demikian) telah mengurniakan kepadanya sebaik-baik pemberianTranslation: (by sending) a Messenger (the Prophet Muhammad) who recites to you the verses of Allah which make the truth clear, so that Allah may bring those (whom He already knows will) believe and do righteous deeds out of the deep darkness (of misguidance) to the light (of guidance). And (remember), whoever believes in Allah and does righteous deeds will be admitted by Allah into Paradise with rivers flowing beneath it, they abiding in it for ever. Truly Allah (by that) has granted him the best of gifts.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَمِنْ ظُلْمَةِ الشُّبْهَةِ إِلَى نُورِ الْحُجَّةِ، وَمِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ إِلَى نُورِ الْعِلْمِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 30/565 · Shamela ↗ (huraian ayat 8–11)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 30/565 · Shamela ↗ (commentary on 8–11)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, maksud mengeluarkan “dari gelap-gelita (kesesatan) kepada cahaya (hidayah petunjuk)” ialah dari gelap kekufuran kepada cahaya iman, dari gelap syubhah (kekeliruan) kepada cahaya hujah, dan dari gelap kejahilan kepada cahaya ilmu.
Renungan: Setiap kali kita mempelajari al-Qur’an dan menjernihkan kekeliruan dengan ilmu, kita sedang dibawa keluar dari satu kegelapan kepada satu cahaya.Tafsir al-Rāzī says bringing them out of the depths of darkness into light means from the darkness of disbelief to the light of faith, from the darkness of doubt to the light of clear proof, and from the darkness of ignorance to the light of knowledge.
Reflection: Each time we study the Qur’an and clear away confusion with knowledge, we are being brought out of one darkness into a light.
لِتَعۡلَمُوٓاْ
(berlakunya yang demikian) supaya … mengetahui(this is so) that … may know (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Allah yang menciptakan tujuh petala langit dan (Ia menciptakan) bumi seperti itu; perintah Allah berlaku terus menerus di antara alam langit dan bumi. (Berlakunya yang demikian) supaya kamu mengetahui bahawa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu, dan bahawa sesungguhnya Allah tetap meliputi ilmu-Nya akan tiap-tiap sesuatuTranslation: Allah is the One Who has created seven heavens and (He created) the earth like them; the command of Allah continually takes effect between the realms of the heavens and the earth. (This is so) that you may know that truly Allah is All-Powerful over every thing, and that truly Allah has encompassed every thing in His knowledge.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَعَلَيْهِمْ أَنْ يَتَّقُوهُ، وَلَا يَتَعَدَّوْا حُدُودَهُ، وَيُحَاسِبُوا أَنْفُسَهُمْ عَلَى مَدَى طَاعَتِهِمْ إِيَّاهُ فَإِنَّهُ لَا تَخْفَى عَلَيْهِ خَافِيَةٌ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 28/339 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 28/339 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, sifat Allah “yang menciptakan tujuh petala langit dan (Ia menciptakan) bumi seperti itu” menunjukkan kebesaran kuasa-Nya, dan bahawa manusia, yang termasuk penghuni bumi, ialah hamba-Nya; maka mereka diseru supaya bertaqwa kepada-Nya, tidak melanggar batas-Nya, dan menghisab diri tentang sejauh mana ketaatan mereka, kerana tiada sesuatu pun yang tersembunyi daripada-Nya.
Renungan: Mari kita menilai ketaatan kita setiap hari, kerana tiada satu pun amalan kita yang tersembunyi daripada-Nya.According to Ibn ‘Āshūr, describing Allah as the One Who has created seven heavens and (He created) the earth like them shows the greatness of His power, and that people, being among what is on the earth, are His servants; so they are called to have taqwa of Him, not to overstep His limits, and to take account of themselves over how far they obey Him, for nothing is hidden from Him.
Reflection: Let us weigh our obedience every day, for none of our deeds is hidden from Him.