تَأۡكُلُونَ
… jadikan untuk makan (lit. … makan)… set aside for eating (lit. … eat) (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Yusuf menjawab: "Hendaklah kamu menanam bersungguh-sungguh tujuh tahun berturut-turut, kemudian apa yang kamu ketam biarkanlah dia pada tangkai-tangkainya; kecuali sedikit dari bahagian yang kamu jadikan untuk makanTranslation: Yusuf replied: “You should plant in earnest for seven years in a row; then whatever you reap, leave it on its stalks, except a little of the portion that you set aside for eating.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَقَدْ مَزَجَ تَعْبِيرَهُ بِإِرْشَادٍ جَلِيلٍ لِأَحْوَالِ التَّمْوِينِ وَالِادِّخَارِ لِمَصْلَحَةِ الْأُمَّةِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/286 · Shamela ↗ (huraian ayat 47–49)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/286 · Shamela ↗ (commentary on 47–49)
Menurut Ibn ‘Āshūr, Nabi Yusuf mentakbirkan mimpi raja itu meliputi semua yang ditunjukkannya. Dalam “Hendaklah kamu menanam bersungguh-sungguh tujuh tahun berturut-turut”, bertanam disebut kerana ia memang kebiasaan mereka; kata da’aban (berturut-turut) bermaksud kebiasaan dan berterusan melakukannya. Baginda menggabungkan takbir mimpi itu dengan bimbingan yang besar tentang pengurusan bekalan makanan dan simpanan demi kemaslahatan (kebaikan bersama) umat.
Renungan: Ilmu yang bermanfaat bukan sekadar menerangkan masalah, tetapi juga menunjukkan jalan keluar; marilah kita merancang lebih awal demi kebaikan keluarga dan masyarakat.According to Ibn ‘Āshūr, the Prophet Yusuf interpreted the king’s dream in full, covering all that it pointed to. Sowing is mentioned because farming was already their custom; da’aban, ‘one after another’, means a habit and keeping steadily to it. He blended his interpretation with weighty guidance on managing food supplies and stores for the common good of the community.
Reflection: Useful knowledge does not only explain a problem but also shows the way out; let us plan early for the good of our families and society.
تُحۡصِنُونَ
… simpan (untuk dijadikan benih)… store away (to be used as seed) (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Kemudian akan datang selepas tempoh itu, tujuh tahun kemarau yang besar, yang akan menghabiskan makanan yang kamu sediakan baginya; kecuali sedikit dari apa yang kamu simpan (untuk dijadikan benih)Translation: Then after that period there will come seven years of a great drought, which will use up the food you have prepared for them, except a little of what you store away (to be used as seed).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهَذَا تَحْرِيضٌ عَلَى اسْتِكْثَارِ الِادِّخَارِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/287 · Shamela ↗ (huraian ayat 47–49)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/287 · Shamela ↗ (commentary on 47–49)
Menurut Ibn ‘Āshūr, Nabi Yusuf menasihati mereka supaya mengurangkan makan pada tahun-tahun subur dan menyimpan lebihannya untuk masa susah, serta membiarkannya pada tangkainya supaya lebih selamat daripada serangan kutu bijirin. Tahun-tahun susah itu dikatakan “menghabiskan makanan yang kamu sediakan baginya” secara kiasan, kerana pada masa itulah simpanan habis digunakan, kecuali sedikit yang tinggal di gudang. Kata beliau, ini dorongan supaya memperbanyak simpanan.
Renungan: Masa senang ialah peluang untuk bersedia menghadapi masa susah; marilah kita berjimat dan menyimpan sebahagian rezeki, tidak menghabiskan semuanya hari ini.According to Ibn ‘Āshūr, the Prophet Yusuf advised them to eat less in the fertile years and keep the surplus for hard times, leaving it in the ear where it is safer from grain weevils. The hard years are said to consume what was laid up for them figuratively, since that is when the stores are used up, save a little left in the granaries. This, he says, urges them to store in plenty.
Reflection: Times of ease are a chance to prepare for hardship; let us be thrifty and put part of our provision aside, rather than spending it all today.
يُغَاثُ
… beroleh rahmat hujan… receive the mercy of rain (orang ramai an‑nasuthe people an‑nāsu)NF
يَعۡصِرُونَ
… dapat memerah (hasil anggur, zaitun dan sebagainya)… are able to press (the yield of grapes, olives and the like) (merekathey)
Terjemahan: Kemudian akan datang pula sesudah itu tahun yang padanya orang ramai beroleh rahmat hujan, dan padanya mereka dapat memerah (hasil anggur, zaitun dan sebagainya)"Translation: Then after that there will come in turn a year in which people receive the mercy of rain, and in which they are able to press (the yield of grapes, olives and the like).”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى ذَهَابِ الْجَدْبِ وَحُصُولِ الْخِصْبِ وَالْخَيْرِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/466 · Shamela ↗ (huraian ayat 47–49)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/466 · Shamela ↗ (commentary on 47–49)
Ar-Rāzī menukil bahawa yughāth (beroleh rahmat hujan) bermaksud manusia diturunkan hujan; kata beliau, ia juga boleh bermaksud mereka diselamatkan daripada kesempitan musim kering. Maksud “padanya mereka dapat memerah” pula ialah mereka memerah hasil tanaman seperti bijan dan zaitun untuk diambil minyaknya, serta anggur. Kata beliau, ini menunjukkan musim kering telah berlalu dan kesuburan serta kebaikan telah tiba.
Renungan: Selepas kesempitan, Allah membuka pintu kelapangan; marilah kita tidak berputus asa ketika diuji, dan terus mengharapkan rahmat Allah.Ar-Rāzī reports that yughāth, receiving the mercy of rain, means people are given rain; he adds that it may also mean they are rescued from the distress of the dry years. Their pressing means pressing crops such as sesame and olives for their oil, and grapes too. This, he says, shows that the dry years have passed and that fertility and good have come.
Reflection: After distress Allah opens the door of relief; let us not lose hope when we are tested, and keep hoping for Allah’s mercy.
وَقَالَ
dan (apabila mendengar tafsiran itu) berkatalahand (on hearing that interpretation) … said (raja al‑malikuthe king al‑maliku)
جَآءَهُ
… datang kepada Yusuf (menjemputnya mengadap raja)… came to Yusuf (to fetch him to appear before the king) (utusan ar‑rasuluthe messenger ar‑rasūlu)
Terjemahan: Dan (apabila mendengar tafsiran itu) berkatalah raja Mesir: "Bawalah dia kepadaku!" Maka tatkala utusan raja datang kepada Yusuf (menjemputnya mengadap raja), Yusuf berkata kepadanya: "Kembalilah kepada tuanmu kemudian bertanyalah kepadanya: 'Apa halnya perempuan-perempuan yang melukakan tangan mereka?' Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengetahui tipu daya mereka"Translation: And (on hearing that interpretation) the king of Egypt said: “Bring him to me!” So when the king’s messenger came to Yusuf (to fetch him to appear before the king), Yusuf said to him: “Go back to your master, then ask him: ‘What is the matter with the women who wounded their hands?’ Truly my Lord is All-Knowing of their trickery.”
Nota nahu: فَلَمَّا جَآءَهُ ٱلرَّسُولُ (ayat 50).Grammar note: فَلَمَّا جَآءَهُ ٱلرَّسُولُ (verse 50).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ جَعَلَ عِلْمَهُ سَبَبًا لِخَلَاصِهِ مِنَ الْمِحْنَةِ الدُّنْيَوِيَّةِ، فَكَيْفَ لَا يَكُونُ الْعِلْمُ سَبَبًا لِلْخَلَاصِ مِنَ الْمِحَنِ الْأُخْرَوِيَّةِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/466 · Shamela ↗ (huraian ayat 50–52)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/466 · Shamela ↗ (commentary on 50–52)
Kata ar-Rāzī, perintah raja “Bawalah dia kepadaku!” setelah mendengar takbir itu menunjukkan kelebihan ilmu: Allah menjadikan ilmu Nabi Yusuf sebab baginda terlepas daripada ujian dunia, maka lebih-lebih lagi ilmu menjadi sebab terselamat daripada ujian akhirat. Namun baginda enggan keluar dari penjara sehingga perkaranya terbongkar dan tuduhan itu hilang sepenuhnya. Menurut beliau, kesabaran itulah yang sesuai dengan kebijaksanaan; antara alasan yang beliau sebut, jika baginda terus keluar, mungkin masih tinggal kesan tuduhan itu dalam hati raja.
Renungan: Ilmu menyelamatkan kita di dunia dan akhirat, dan nama yang bersih lebih berharga daripada kebebasan yang tergesa-gesa; marilah kita menuntut ilmu dan menjaga maruah dengan sabar.Ar-Rāzī says that the king’s order to bring him, given after hearing the interpretation, shows the virtue of knowledge: Allah made the Prophet Yusuf’s knowledge the cause of his release from a worldly trial, so all the more can knowledge be a cause of rescue from the trials of the Hereafter. Yet he refused to leave prison until his case was laid open and the charge wholly removed. In his view that patience was what prudence called for; among the reasons he gives, had he left at once, some trace of the charge might have stayed in the king’s heart.
Reflection: Knowledge saves us in this world and the next, and a clean name is worth more than hasty freedom; let us seek knowledge and guard our honour with patience.
قَالَ
(setelah perempuan-perempuan itu dipanggil), … bertanya kepada mereka(after the women had been summoned), … asked them (dia (raja)he (the king))
لِلَّهِ
Allah dari segala cacat cela (lit. bagi Allah)is Allah (from every flaw and defect) (lit. for Allah)
Terjemahan: (Setelah perempuan-perempuan itu dipanggil), raja bertanya kepada mereka: "Apahal kamu, semasa kamu memujuk Yusuf mengenai dirinya?" Mereka menjawab: "Jauhnya Allah dari segala cacat cela, kami tidak mengetahui sesuatu kejahatan terhadap Yusuf". Isteri Al-Aziz pun berkata: "Sekarang ternyatalah kebenaran (yang selama ini tersembunyi), akulah yang memujuk Yusuf berkehendakkan dirinya (tetapi ia telah menolak); dan sesungguhnya adalah ia dari orang-orang yang benarTranslation: (After the women had been summoned), the king asked them: “What was the matter with you when you coaxed Yusuf concerning his person?” They replied: “How far is Allah from every flaw and defect! We do not know of any evil on the part of Yusuf.” The wife of al-‘Aziz then said: “Now the truth (that was hidden all this time) has come out clearly; it was I who coaxed Yusuf, desiring his person (but he refused); and truly he is among those who are truthful.
Nota nahu: قُلْنَ حَٰشَ لِلَّهِ (ayat 51).Grammar note: قُلْنَ حَٰشَ لِلَّهِ (verse 51).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَهَذَا إِقْرَارٌ مِنْهَا عَلَى نَفْسِهَا، وَشَهَادَةٌ لِغَيْرِهَا بِالْبَرَاءَةِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/292 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/292 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, dalam “akulah yang memujuk Yusuf berkehendakkan dirinya”, kata ‘aku’ didahulukan untuk mengkhususkan, iaitu menafikan bahawa perempuan-perempuan lain itu yang memujuknya. Ini ialah pengakuan terhadap dirinya sendiri dan kesaksian bahawa orang lain tidak bersalah; malah dia menguatkan lagi kebenaran Nabi Yusuf dengan dua penegas (inna dan lām) dalam “sesungguhnya adalah ia dari orang-orang yang benar”.
Renungan: Mengaku kesilapan sendiri dan membersihkan nama orang yang tertuduh memerlukan keberanian; marilah kita berani berkata benar walaupun terhadap diri sendiri.According to Ibn ‘Āshūr, in her words it was I who coaxed him, the word ‘I’ is placed first to single her out, denying that the other women had done the coaxing. This is an admission against herself and a testimony that another was innocent; she went further and stressed the Prophet Yusuf’s truthfulness with two particles of emphasis, inna and lām.
Reflection: Owning our own fault and clearing the name of someone wrongly accused takes courage; let us dare to speak the truth even against ourselves.
بِٱلۡغَيۡبِ
semasa ia tidak hadir (bersama di sini) (lit. secara ghaib)while he was not present (here with us) (lit. in absence)
Terjemahan: (Pengakuanku) yang demikian supaya ia mengetahui, bahawa aku tidak mengkhianatinya semasa ia tidak hadir (bersama di sini); dan bahawa Allah tidak menjayakan tipu daya orang-orang yang khianatTranslation: (My confession) like this is so that he may come to know that I have not betrayed him while he was not present (here with us), and that Allah does not bring to success the trickery of those who betray.
Nota nahu: ذَٰلِكَ لِيَعْلَمَ أَنِّى لَمْ أَخُنْهُ بِٱلْغَيْبِ (ayat 52).Grammar note: ذَٰلِكَ لِيَعْلَمَ أَنِّى لَمْ أَخُنْهُ بِٱلْغَيْبِ (verse 52).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«إِنَّ سُنَّةَ اللَّهِ فِي الْكَوْنِ جَرَتْ عَلَى أَنَّ فُنُونَ الْبَاطِلِ وَإِنْ رَاجَتْ أَوَائِلُهَا لَا تَلْبَثُ أَنْ تَنْقَشِعَ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/293 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/293 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, khianat lebih mudah dilakukan ketika seseorang tiada berbanding ketika dia hadir, kerana orang yang hadir dapat menyedari niat pengkhianat lalu menolaknya dengan hujah. Maksud “Allah tidak menjayakan tipu daya orang-orang yang khianat” ialah Allah tidak melangsungkan dan tidak memudahkannya; sunnatullah (ketetapan Allah) pada alam ini, segala bentuk kebatilan, walaupun laris pada awalnya, tidak lama kemudian akan lenyap.
Renungan: Kejujuran sebenar teruji ketika tiada orang melihat; marilah kita menjaga amanah terhadap orang yang tidak hadir, kerana tipu daya tidak akan kekal.According to Ibn ‘Āshūr, betrayal is easier when a person is absent than when he is present, for one who is present may see through the betrayer’s aim and push it back with argument. Allah not letting the schemes of the treacherous succeed means He does not carry them through or smooth their way; it is sunnatullah, Allah’s set way in the world, that every kind of falsehood, though it may thrive at first, soon melts away.
Reflection: True honesty is tested when no one is watching; let us keep faith with those who are absent, for scheming does not last.
رَحِمَ
telah diberi rahmat (lit. … merahmati)have been shown mercy (lit. … had mercy on) (Tuhanku rabbimy Lord rabbī)
رَبِّيٓۚ
oleh Tuhanku (maka terselamatlah ia dari hasutan nafsu itu)by my Lord (and so such a one is kept safe from the incitement of that self)
Terjemahan: Dan tiadalah aku berani membersihkan diriku; sesungguhnya nafsu manusia itu sangat menyuruh melakukan kejahatan, kecuali orang-orang yang telah diberi rahmat oleh Tuhanku (maka terselamatlah ia dari hasutan nafsu itu). Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani"Translation: And I do not dare to clear myself; truly the human self strongly urges the doing of evil, except those who have been shown mercy by my Lord (and so such a one is kept safe from the incitement of that self). Truly my Lord is Most Forgiving, Most Merciful.”
Nota nahu: إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ (ayat 53).Grammar note: إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ (verse 53).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«رَحْمَتُهُ بِأَنْ يُقَيِّضَ لَهُ مَا يَصْرِفُهُ عَنْ فِعْلِ السُّوءِ، أَوْ يُقَيِّضُ حَائِلًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ فِعْلِ السُّوءِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/5 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/5 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ungkapan “sesungguhnya nafsu manusia itu sangat menyuruh melakukan kejahatan” menjadi alasan bagi “tiadalah aku berani membersihkan diriku”, iaitu tidak mendakwa diri bersih daripada dosa, kerana jiwa manusia banyak menyuruh kepada kejahatan. Rahmat Allah itu ialah Dia menyediakan sesuatu yang memalingkan hamba daripada kejahatan, atau penghalang antaranya dengan kejahatan. Penutup ayat pula memuji Allah: amat mengampuni orang yang berdosa, dan amat mengasihani hamba-Nya apabila Dia mahu memalingkannya daripada dosa.
Renungan: Kita tidak patut merasa diri suci; marilah kita sentiasa memohon rahmat Allah agar dijauhkan daripada dorongan nafsu.According to Ibn ‘Āshūr, the words about the human self strongly urging evil give the reason for not daring to clear oneself, that is, not claiming to be free of sin, because souls very often bid us to evil. Allah’s mercy lies in His arranging something that turns His servant away from evil, or a barrier between him and it. The close of the verse praises Allah as greatly forgiving towards one who sins, and greatly merciful to His servant when He wills to turn him from sin.
Reflection: We ought never to think ourselves pure; let us keep asking for Allah’s mercy to be kept far from the pull of the self.
وَقَالَ
dan (setelah mendengar pengakuan perempuan-perempuan itu), … berkataand (after hearing the confession of the women), … said (raja al‑malikuthe king al‑maliku)
أَسۡتَخۡلِصۡهُ
… hendak menjadikan dia orang yang khas… wish to make him one specially close (akuI)
لِنَفۡسِيۖ
untuk aku bermesyuarat dengannya (lit. untuk diriku)to me, for me to take counsel with (lit. for myself)
كَلَّمَهُۥ
(Yusuf dibawa mengadap, dan raja) berkata-kata dengannya (serta mengetahui kebijaksanaannya)(Yusuf had been brought before him, and the king) had spoken with him (and come to know his wisdom) (dia (raja)he (the king))
Terjemahan: Dan (setelah mendengar pengakuan perempuan-perempuan itu), raja berkata: "Bawalah Yusuf kepadaku, aku hendak menjadikan dia orang yang khas untuk aku bermesyuarat dengannya." Setelah (Yusuf dibawa mengadap, dan raja) berkata-kata dengannya (serta mengetahui kebijaksanaannya) berkatalah raja kepadanya: "Sesungguhnya engkau pada hari ini (wahai Yusuf), seorang yang berpangkat tinggi, lagi dipercayai di kalangan kami"Translation: And (after hearing the confession of the women), the king said: “Bring Yusuf to me; I wish to make him one specially close to me, for me to take counsel with.” When (Yusuf had been brought before him, and the king) had spoken with him (and come to know his wisdom), the king said to him: “Truly you, on this day (O Yusuf), are one of high rank and trusted among us.”
Nota nahu: فَلَمَّا كَلَّمَهُۥ قَالَ (ayat 54).Grammar note: فَلَمَّا كَلَّمَهُۥ قَالَ (verse 54).
(2) Di sini لَمَّا (“ketika”, “setelah”) diwarnakan hijau sebagai ẓarf, seperti dalam ayat 50; pandangan ḥarf (huruf) dan warnanya diterangkan dalam nota ayat 50. Muḥyī al-Dīn Darwīsh (I‘rāb al-Qur’ān wa Bayānuh) di sini juga menyebut: “ولما ظرفية حينية أو رابطة وكلمه فعل وفاعل مستتر ومفعول به” (lammā ẓarf bermakna “ketika” atau ḥarf penghubung; kallamahu kata kerja dengan fā‘il tersembunyi dan objek) (5/12 · Shamela ↗).(1) The fā‘il of كَلَّمَهُۥ is written (he (the king)). Our reference book, Dār al-Ṣaḥābah (I‘rāb al-Qur’ān al-Karīm), says: “﴿كَلَّمَهُ﴾: فعل ماض وفاعله مستتر تقديره: هو و (الهاء): مفعول به” (a past-tense verb; its fā‘il is hidden, “he”; the hā is its object) and of the clause: “معطوفة على استئناف مقدر، أى: فجاءوا به، فلما كلمه” (joined to an implied clause, i.e. “so they brought him, and when he spoke with him”) (2/1080 · Shamela ↗); Maḥmūd Ṣāfī (al-Jadwal fī I‘rāb al-Qur’ān) says: “والفاعل ضمير مستتر تقديره هو، أي الملك” (its fā‘il is hidden, “he”, i.e. the king) (7/11 · Shamela ↗; a footnote in al-Jadwal fī I‘rāb al-Qur’ān allows Yusuf); and Basmeih: “(… dan raja) berkata-kata dengannya” (“(… and the king) had spoken with him”). Muḥammad ‘Alī Ṭāhā al-Durrah (Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm wa I‘rābuhu wa Bayānuh), however, says: “والفاعل يعود إلى يوسف أو إلى الملك” (the fā‘il refers to Yusuf or to the king) (4/611 · Shamela ↗); on that first view the bracket would be (he (Yusuf)). The colour does not change.
(2) Here لَمَّا (“when”) is coloured green as a ẓarf, as in verse 50; the particle (ḥarf) view and its colour are given in the note on verse 50. Muḥyī al-Dīn Darwīsh (I‘rāb al-Qur’ān wa Bayānuh) also says here: “ولما ظرفية حينية أو رابطة وكلمه فعل وفاعل مستتر ومفعول به” (lammā is a temporal ẓarf or a linking particle; kallamahu is a verb with a hidden fā‘il and an object) (5/12 · Shamela ↗).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَمَّا كَوْنُهُ أَمِينًا فَهُوَ عِبَارَةٌ عَنْ كَوْنِهِ حَكِيمًا لَا يَفْعَلُ الْفِعْلَ لِدَاعِي الشَّهْوَةِ بَلْ إِنَّمَا يَفْعَلُهُ لِدَاعِي الْحِكْمَةِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/472 · Shamela ↗ (huraian ayat 54–55)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/472 · Shamela ↗ (commentary on 54–55)
Kata ar-Rāzī, raja itu mahu Nabi Yusuf menjadi orang khasnya sahaja, tidak dikongsi dengan orang lain. Kata-kata “seorang yang berpangkat tinggi, lagi dipercayai” merangkumi segala kelebihan yang diperlukan: kedudukan tinggi memerlukan kuasa dan ilmu, kerana tanpa ilmu seseorang tidak dapat membezakan apa yang patut dilakukan dan apa yang patut ditinggalkan; sifat amanah pula bermaksud bijaksana, iaitu bertindak kerana dorongan hikmah, bukan kerana dorongan nafsu.
Renungan: Kedudukan tanpa amanah membawa kerosakan; marilah kita menghimpunkan ilmu dan amanah dalam setiap tanggungjawab, dan bertindak dengan pertimbangan, bukan hawa nafsu.Ar-Rāzī says the king wanted the Prophet Yusuf to be his alone, shared with no one else. Calling him highly placed and trustworthy gathers every merit that is needed: high standing requires power and knowledge, since without knowledge one cannot tell what ought to be done from what ought to be left; and being trusted means being wise, acting at the call of wisdom, not at the call of desire.
Reflection: Position without trustworthiness brings ruin; let us join knowledge and trust in every duty we carry, and act on sound judgement, not on our whims.
Terjemahan: Yusuf berkata: "Jadikanlah daku pengurus perbendaharaan hasil bumi (Mesir); sesungguhnya aku sedia menjaganya dengan sebaik-baiknya, lagi mengetahui cara mentadbirkannya"Translation: Yusuf said: “Make me manager of the treasuries of the produce of the land (of Egypt); truly I am ready to guard it in the very best way, and know how to administer it.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَلِذَلِكَ لَمْ يَسْأَلْ مَالًا لِنَفْسِهِ وَلَا عَرَضًا مِنْ مَتَاع الدُّنْيَا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/8 · Shamela ↗ (huraian ayat 54–55)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/8 · Shamela ↗ (commentary on 54–55)
Menurut Ibn ‘Āshūr, permintaan “Jadikanlah daku pengurus perbendaharaan hasil bumi (Mesir)” ialah persediaan diri untuk menguruskan kemaslahatan (kebaikan bersama) umat, mengikut jalan orang yang mulia yang senang hati menggunakan ilmu untuk kebaikan umum. Kerana itu baginda tidak meminta harta untuk dirinya atau sedikit pun kesenangan dunia, tetapi meminta diberi urusan perbendaharaan supaya dapat menjaga harta, adil dalam pembahagiannya, dan berlembut dengan rakyat ketika mengumpul dan menyampaikannya.
Renungan: Jawatan ialah amanah untuk berkhidmat, bukan peluang mengaut keuntungan; marilah kita menggunakan kebolehan kita untuk kebaikan orang ramai.According to Ibn ‘Āshūr, the Prophet Yusuf’s request to be placed over the land’s storehouses was a readying of himself to serve the community’s welfare, in the way of people of virtue who are glad to put knowledge to the public good. That is why he asked for no wealth for himself and no share of worldly goods, but asked to be given charge of the stores so as to guard the wealth, be just in sharing it out, and be gentle with the people in gathering it and passing it on.
Reflection: Office is a trust for service, not a chance for gain; let us use our abilities for the good of others.
Terjemahan: Dan demikianlah caranya, Kami tetapkan kedudukan Yusuf memegang kuasa di bumi Mesir; ia bebas tinggal di negeri itu di mana sahaja yang disukainya. Kami limpahkan rahmat Kami kepada sesiapa sahaja yang Kami kehendaki, dan Kami tidak menghilangkan balasan baik orang-orang yang berbuat kebaikanTranslation: And in this way We established Yusuf’s position, holding power in the land of Egypt, free to live in that land wherever he pleased. We pour out Our mercy on anyone We will, nor do We let the good recompense of those who do good be lost.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَذَلِكَ لِأَنَّ إِضَاعَةَ الْأَجْرِ إِمَّا أَنْ يَكُونَ لِلْعَجْزِ أَوْ لِلْجَهْلِ أَوْ لِلْبُخْلِ وَالْكُلُّ مُمْتَنِعٌ فِي حَقِّ اللَّه تَعَالَى»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/475 · Shamela ↗ (huraian ayat 56–57)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/475 · Shamela ↗ (commentary on 56–57)
Kata ar-Rāzī, maksud “Kami tetapkan kedudukan Yusuf memegang kuasa di bumi Mesir” ialah Allah memberinya kemampuan melakukan apa yang dikehendakinya dengan menyingkirkan segala halangan, hingga tiada sesiapa yang menentang atau menyainginya. Kemudian Allah menegaskan bahawa semua itu daripada-Nya: “Kami limpahkan rahmat Kami kepada sesiapa sahaja yang Kami kehendaki”. Allah tidak mensia-siakan pahala, kerana mensia-siakan pahala hanya berpunca daripada lemah, jahil atau bakhil, dan semuanya mustahil bagi Allah.
Renungan: Tiada satu kebaikan pun yang hilang di sisi Allah; marilah kita terus berbuat ihsan (kebaikan) dengan ikhlas walaupun tidak dihargai manusia.Ar-Rāzī says that Allah establishing Yusuf with authority over Egypt means He enabled him to do what he wished by removing every obstacle, so that no one resisted or contested him. Allah then affirms that all of it came from Him, in bestowing His mercy on whom He wills. Allah never lets a reward go to waste, for wasting a reward can only come from weakness, ignorance or miserliness, and all of these are impossible for Allah.
Reflection: No good deed is ever lost with Allah; let us keep doing ihsan, excellent good, sincerely, even when people do not value it.
Terjemahan: Dan sesungguhnya pahala hari akhirat lebih baik bagi orang-orang yang beriman serta mereka pula sentiasa bertaqwaTranslation: And truly, for those who believe and who, moreover, always have taqwa, the reward of the Day of the Hereafter is better.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَأَمَّا التَّقْوَى فَهِيَ مُتَجَدِّدَةٌ بِتَجَدُّدِ أَسْبَابِ الْأَمْرِ وَالنَّهْيِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/11 · Shamela ↗ (huraian ayat 56–57)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/11 · Shamela ↗ (commentary on 56–57)
Menurut Ibn ‘Āshūr, pahala di akhirat lebih baik bagi Nabi Yusuf daripada nikmat dan kedudukan yang diterimanya di dunia, dan juga bagi setiap orang yang beriman dan bertaqwa (menjaga diri daripada kemurkaan Allah). Iman disebut dalam bentuk kata kerja lampau kerana ia ikatan hati yang teguh yang terhasil sekali gus; manakala taqwa disebut dalam bentuk kata kerja masa kini, “sentiasa bertaqwa”, kerana ia diperbaharui setiap kali datang suruhan dan larangan, dan berbeza mengikut amalan dan masa.
Renungan: Taqwa perlu diperbaharui pada setiap ketika; marilah kita memeriksa diri setiap kali berdepan suruhan dan larangan Allah.According to Ibn ‘Āshūr, the Hereafter’s reward is better for the Prophet Yusuf than the favours and rank he received in this world, and better too for all who believe and have taqwa, guarding themselves against Allah’s displeasure. Faith is put in the past tense because it is the heart’s firm conviction, reached at one stroke; taqwa is put in the present tense because it is renewed whenever a command or prohibition arises, and varies with deeds and times.
Reflection: Taqwa must be renewed at every moment; let us examine ourselves each time we meet Allah’s commands and prohibitions.
وَجَآءَ
dan (setelah tiba musim kemarau) datanglah … (ke Mesir)and (when the season of drought arrived) … came (to Egypt) (saudara‑saudara ikhwatuthe brothers ikhwatu)
Terjemahan: Dan (setelah tiba musim kemarau) datanglah saudara-saudara Yusuf (ke Mesir), lalu masuklah mereka mendapatkannya; Yusuf dengan serta merta kenal mereka, sedang mereka tidak mengenalnyaTranslation: And (when the season of drought arrived) the brothers of Yusuf came (to Egypt), then they went in to see him; Yusuf knew them at once, while they did not recognise him.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«يُرَاقِبُ أَمْرَ بَيْعِ الطَّعَامِ بِحُضُورِهِ وَيَأْذَنُ بِهِ فِي مَجْلِسِهِ خَشْيَةَ إِضَاعَةِ الْأَقْوَاتِ لِأَنَّ بِهَا حَيَاةَ الْأُمَّةِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/12 · Shamela ↗ (huraian ayat 58–60)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/12 · Shamela ↗ (commentary on 58–60)
Menurut Ibn ‘Āshūr, saudara-saudara itu masuk mendapatkan Nabi Yusuf sendiri; ini menunjukkan baginda mengawasi urusan penjualan makanan dengan kehadirannya dan memberi izin di majlisnya, kerana bimbang bekalan makanan disia-siakan, sebab padanya bergantung hidup umat. Baginda mengenali mereka selepas bertahun-tahun berpisah kerana firasat (ketajaman pandangan) dan kecerdasan akalnya. Ungkapan “sedang mereka tidak mengenalnya” disebut dalam jumlah ismiyyah (ayat yang dimulakan dengan kata nama) untuk menunjukkan hal itu tetap pada mereka, dan ia ketentuan Allah, kerana rupa Nabi Yusuf bukanlah mudah dilupakan.
Renungan: Orang yang amanah sendiri mengawasi urusan yang menyangkut hidup orang ramai; marilah kita teliti dalam setiap amanah yang diserahkan kepada kita.According to Ibn ‘Āshūr, the brothers went in to the Prophet Yusuf himself, which shows he oversaw the sale of food in person and gave leave for it in his own sitting, fearing the food stores might be wasted, since the life of the community depended on them. He knew them after years apart through his firāsah, keen insight, and sharpness of mind. Their not knowing him is put in a jumlah ismiyyah, a sentence beginning with a noun, to show it was fixed in them, and it was Allah’s doing, for Yusuf’s features were not easily forgotten.
Reflection: A trustworthy person sees in person to matters on which people’s lives depend; let us be careful in every trust placed in our hands.
ٱئۡتُونِي
(pada kali yang lain) bawalah kepadaku(on another occasion) bring me (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Dan ketika Yusuf menyediakan untuk mereka bekalan mereka, berkatalah ia: "(Pada kali yang lain) bawalah kepadaku saudara kamu yang sebapa. Tidakkah kamu melihat, bahawa aku menyempurnakan bekalan makanan kamu, dan bahawa aku sebaik-baik penerima tetamuTranslation: And when Yusuf had prepared for them their provisions, he said: “(On another occasion) bring me your brother who shares your father. Do you not see how I give you your food supplies in full, and that I am the very best at receiving guests?
Nota nahu: وَلَمَّا جَهَّزَهُم (ayat 59).Grammar note: وَلَمَّا جَهَّزَهُم (verse 59).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهَذِهِ الْجُمْلَةُ كِنَايَةٌ عَنِ الْوَعْدِ بِأَنْ يُوفِيَ لَهُمُ الْكَيْلَ وَيُكْرِمَ ضِيَافَتَهُمْ إِنْ أَتَوْا بِأَخِيهِمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/13 · Shamela ↗ (huraian ayat 58–60)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/13 · Shamela ↗ (commentary on 58–60)
Menurut Ibn ‘Āshūr, “saudara kamu yang sebapa” bermaksud saudara mereka dari pihak bapa sahaja, dan ia disebut secara umum seolah-olah baginda tidak mengenalinya kecuali daripada cerita mereka. “Tidakkah kamu melihat, bahawa aku menyempurnakan bekalan makanan kamu” ialah galakan supaya mereka kembali, kerana baginda tahu bekalan itu tidak cukup untuk keluarga mereka yang ramai. Ungkapan “sebaik-baik penerima tetamu” menunjukkan baginda menjamu orang yang datang membeli bekalan; ungkapan ini kiasan bagi janji menyempurnakan sukatan dan memuliakan mereka jika mereka membawa saudara itu.
Renungan: Menyempurnakan sukatan dan memuliakan tetamu menawan hati; marilah kita berurusan dengan jujur dan pemurah.According to Ibn ‘Āshūr, a brother of theirs by their father means a brother on the father’s side only, and he is mentioned in general terms as if the Prophet Yusuf knew of him only from what they had told him. Pointing out that he gave full measure was to encourage their return, since he knew their supplies would not suffice for so large a family. Calling himself the best of hosts shows he lodged those who came for provisions; the phrase hints at a promise of full measure and generous welcome if they brought that brother.
Reflection: Giving full measure and honouring guests wins hearts; let us deal honestly and generously.
Terjemahan: Oleh itu, kalau kamu tidak membawanya kepadaku, maka tidak ada hak bagi kamu mendapat bekalan makanan di sisiku, dan janganlah kamu menghampiriku lagi"Translation: So, if you fail to bring him to me, then you will have no right to receive food supplies from me, and do not come near me again.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لَمَّا طَلَبَ مِنْهُمْ إِحْضَارَ ذَلِكَ الْأَخِ جَمَعَ بَيْنَ التَّرْغِيبِ وَالتَّرْهِيبِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/478 · Shamela ↗ (huraian ayat 58–61)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/478 · Shamela ↗ (commentary on 58–61)
Kata ar-Rāzī, ketika meminta mereka membawa saudara itu, Nabi Yusuf menggabungkan galakan dan amaran. Galakannya ialah janji menyempurnakan sukatan dan layanan tetamu yang terbaik; amarannya ialah “maka tidak ada hak bagi kamu mendapat bekalan makanan di sisiku, dan janganlah kamu menghampiriku lagi”. Amaran itu amat berat kerana mereka sangat memerlukan makanan dan tidak dapat memperolehnya kecuali daripada baginda.
Renungan: Dalam mendidik, galakan dan peringatan perlu seimbang; marilah kita membimbing anak dan murid dengan harapan dan juga ketegasan.Ar-Rāzī says that in asking them to bring that brother, the Prophet Yusuf joined encouragement with warning. The encouragement was the promise of full measure and the best hospitality; the warning was that they would get no measure from him and must not come near him. That warning weighed heavily, for they were in dire need of food and could obtain it only from him.
Reflection: In teaching, encouragement and warning should be in balance; let us guide our children and students with both hope and firmness.
Terjemahan: Mereka menjawab: "Kami akan memujuk bapanya melepaskan dia bersama-sama kami, dan sesungguhnya kami akan melakukannya"Translation: They replied: “We will coax his father to let him go with us, and truly we will do it.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَيْ سَنَجْتَهِدُ وَنَحْتَالُ عَلَى أَنْ نَنْزِعَهُ مِنْ يَدِهِ، وَإِنَّا لَفَاعِلُونَ هَذِهِ الْمُرَاوَدَةَ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/478 · Shamela ↗ (huraian ayat 58–61)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/478 · Shamela ↗ (commentary on 58–61)
Kata ar-Rāzī, maksud “Kami akan memujuk bapanya melepaskan dia bersama-sama kami” ialah: kami akan berusaha bersungguh-sungguh dan mencari helah untuk mengambilnya daripada tangan bapanya; “sesungguhnya kami akan melakukannya” pula ialah ulangan untuk menegaskan pujukan itu. Antara kemungkinan yang beliau sebut, maksudnya kami pasti membawanya kepadamu, atau kami akan melakukan segala yang terdaya.
Renungan: Janji yang ditegaskan perlu disusuli usaha yang sungguh-sungguh; marilah kita tidak mudah berjanji kecuali kita benar-benar mahu berusaha menunaikannya.Ar-Rāzī says their promise to coax his father means: we shall strive hard and use every device to draw him from his father’s hand; and their saying they would surely do it repeats the point for emphasis. Among the possibilities he names, it means we shall certainly bring him to you, or we shall do all that lies in our power.
Reflection: An emphatic promise must be followed by real effort; let us not promise lightly unless we truly mean to strive to keep our word.
رِحَالِهِمۡ
tempat simpanan barang di kenderaan merekathe place for keeping goods on their mounts
Terjemahan: Dan (selepas itu) berkatalah Yusuf kepada orang-orang suruhannya: "Masukkanlah barang-barang dagangan mereka pada tempat simpanan barang di kenderaan mereka, supaya mereka mengetahuinya kelak ketika mereka kembali kepada keluarga mereka, dan supaya mereka datang lagi (ke negeri ini)"Translation: And (after that) Yusuf said to his attendants: “Put their merchandise into the place for keeping goods on their mounts, so that they will come to know of it later when they return to their families, and so that they will come again (to this land).”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَرَادَ أَنْ يُقَابِلَ مُبَالَغَتَهُمْ فِي الْإِسَاءَةِ بِمُبَالَغَتِهِ فِي الْإِحْسَانِ إِلَيْهِمْ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/479 · Shamela ↗ (huraian ayat 62–64)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/479 · Shamela ↗ (commentary on 62–64)
Ar-Rāzī menukil bahawa kebanyakan ulama berpendapat saudara-saudara itu tidak tahu barang dagangan mereka dimasukkan semula; kata beliau, ini jelas daripada “supaya mereka mengetahuinya kelak”. Para ulama menyebut pelbagai sebab Nabi Yusuf berbuat demikian; antaranya supaya mereka tahu itu kemurahan semata-mata lalu ingin kembali, kerana mengambil bayaran makanan daripada bapa dan saudara yang amat memerlukan dianggap tidak mulia, untuk berbuat baik tanpa mengaibkan atau mengungkit, dan untuk membalas keburukan mereka yang besar dengan kebaikan yang besar.
Renungan: Membalas keburukan dengan kebaikan ialah akhlak yang tinggi; marilah kita berbuat baik kepada keluarga yang pernah menyakiti kita, tanpa mengungkitnya.Ar-Rāzī reports that most scholars hold the brothers did not know their goods had been put back; he says this is clear from the hope that they would recognise them later. Scholars give many reasons why the Prophet Yusuf did this; among them, that they would see it was pure generosity and want to return, that taking payment for food from a father and brothers in such need would be unworthy, to do them good without shaming them or reminding them of the favour, and to meet their great wrong with great kindness.
Reflection: Answering harm with kindness is the highest character; let us do good to relatives who once hurt us, without bringing it up.
مُنِعَ
(tetap diberi amaran bahawa kami) tidak akan mendapat … lagi (lit. telah ditahan)(were firmly warned that we) will not get … again (lit. has been withheld) (bekalan makanan al‑kailufood supplies al‑kaylu)NF
ٱلۡكَيۡلُ
bekalan makanan (kiranya Bunyamin tidak pergi bersama)food supplies (if Bunyamin does not go along)
لَحَٰفِظُونَ
(sungguh) akan menjaga … dengan sebaik-baiknya(truly) will guard … in the very best way
Terjemahan: Maka ketika mereka kembali kepada bapa mereka, berkatalah mereka: "Wahai ayah kami! Kami (tetap diberi amaran bahawa kami) tidak akan mendapat lagi bekalan makanan (kiranya Bunyamin tidak pergi bersama). Oleh itu, hantarkanlah dia bersama-sama kami, supaya kami dapat lagi bekalan makanan; dan sesungguhnya kami akan menjaganya dengan sebaik-baiknya"Translation: So when they had gone home to their father, they spoke up: “O our father! We (were firmly warned that we) will not get food supplies again (if Bunyamin does not go along). So send him with us, so that we can get food supplies again; and truly we will guard him in the very best way.”
Nota nahu: فَلَمَّا رَجَعُوٓا۟ … مُنِعَ مِنَّا ٱلْكَيْلُ (ayat 63).Grammar note: فَلَمَّا رَجَعُوٓا۟ … مُنِعَ مِنَّا ٱلْكَيْلُ (verse 63).
(2) Di sini لَمَّا (“ketika”, “setelah”) diwarnakan hijau sebagai ẓarf, seperti dalam ayat 50; pandangan ḥarf (huruf) dan warnanya diterangkan dalam nota ayat 50.(1) مُنِعَ is a passive verb. Our reference book, Dār al-Ṣaḥābah (I‘rāb al-Qur’ān al-Karīm), says: “﴿مُنِعَ﴾: فعل ماض مبني للمجهول” (a passive past-tense verb) and “﴿الْكَيْلُ﴾: نائب فاعل مرفوع” (al-kaylu is the nā’ib fā‘il (deputy subject) in the nominative) (2/1084 · Shamela ↗). So the NF (deputy subject) bracket is (food supplies al-kaylu): literally “the measure (of food supplies) has been withheld from us”. Basmeih makes “Kami” (“we”) the subject (“We (were firmly warned that we) will not get food supplies again”) — the same meaning; the English follows Basmeih, while the bracket follows the i‘rāb (grammatical analysis).
(2) Here لَمَّا (“when”) is coloured green as a ẓarf, as in verse 50; the particle (ḥarf) view and its colour are given in the note on verse 50.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَأَكَّدُوا حِفْظَهُ بِالْجُمْلَةِ الِاسْمِيَّةِ الدَّالَّةِ عَلَى الثَّبَاتِ وَبِحَرْفِ التَّوْكِيدِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/16 · Shamela ↗ (huraian ayat 63–64)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/16 · Shamela ↗ (commentary on 63–64)
Menurut Ibn ‘Āshūr, mereka tentu telah menceritakan kisah itu kepada bapa mereka dengan terperinci, tetapi al-Qur’an meringkaskannya kerana maksudnya jelas. Mereka berkata “tidak akan mendapat lagi bekalan makanan” kerana telah diberi amaran bahawa mereka tidak akan diberi, maka meminta tanpa saudara itu sia-sia. Mereka menegaskan janji menjaganya dengan jumlah ismiyyah (ayat yang dimulakan dengan kata nama) yang menunjukkan ketetapan dan dengan huruf penegas: “sesungguhnya kami akan menjaganya dengan sebaik-baiknya”.
Renungan: Janji yang paling tegas pun perlu dibuktikan dengan amanah; marilah kita membina kepercayaan orang melalui perbuatan, bukan hanya kata-kata.According to Ibn ‘Āshūr, they must have told their father the whole story in detail, but the Qur’an abridges it because the point is clear. They said they would get no more provisions because they had been warned they would be refused, so asking without that brother would be futile. They stressed their promise to guard him with a jumlah ismiyyah, a sentence beginning with a noun that conveys constancy, and with a particle of emphasis.
Reflection: Even the firmest promise must be proven by trustworthiness; let us build people’s trust through deeds, not words alone.
هَلۡ
(jika aku lepaskan dia pergi bersama-sama kamu) … tidak (lit. adakah)(if I let him go with you) … would not (lit. shall … ?)
قَبۡلُ
dahulu (yang telah kamu hampakan. Oleh itu aku hanya menaruh kepercayaan kepada Allah)before (whom you let down. So I place my trust only in Allah)
Terjemahan: Bapa mereka berkata: "(Jika aku lepaskan dia pergi bersama-sama kamu), aku tidak menaruh kepercayaan kepada kamu menjaganya melainkan seperti kepercayaanku kepada kamu menjaga saudaranya dahulu (yang telah kamu hampakan. Oleh itu aku hanya menaruh kepercayaan kepada Allah), kerana Allah jualah Penjaga yang sebaik-baiknya, dan Dialah jua Yang Maha Mengasihani dari sesiapa sahaja yang menaruh belas kasihan"Translation: Their father said: “(If I let him go with you), I would not trust you to guard him except as I trusted you to guard his brother before (whom you let down. So I place my trust only in Allah), for Allah alone is the Guardian Who is the very best, and He alone is the Most Merciful of all who show compassion.”
Nota nahu: إِلَّا كَمَآ أَمِنتُكُمْ (ayat 64).Grammar note: إِلَّا كَمَآ أَمِنتُكُمْ (verse 64).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«يَعْنِي لَمَّا لَمْ يَحْصُلِ الْأَمَانُ هُنَاكَ فَكَذَلِكَ لَا يَحْصُلُ هاهنا»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/479 · Shamela ↗ (huraian ayat 62–64)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/479 · Shamela ↗ (commentary on 62–64)
Kata ar-Rāzī, maksud jawapan bapa mereka: dahulu kamu telah mengucapkan kata-kata yang sama tentang Yusuf dan menjamin akan menjaganya, kini kamu mengulang lafaz itu juga; maka sebagaimana dahulu tiada jaminan keselamatan, begitu juga sekarang. Beliau menukil pula bahawa maksud “Allah jualah Penjaga yang sebaik-baiknya” ialah: dahulu aku mempercayai kamu menjaga Yusuf lalu berlakulah apa yang berlaku, maka sekarang aku bertawakal (berserah) kepada Allah untuk menjaganya.
Renungan: Penjagaan Allah lebih baik daripada segala penjagaan manusia; marilah kita menyerahkan keselamatan orang yang kita sayangi kepada Allah, di samping berhati-hati.Ar-Rāzī says their father’s reply means: once before you spoke these same words about Yusuf and pledged to guard him, and now you repeat them; just as there was no safety then, there is none now. He also reports that Allah being the best guardian means: I trusted you to guard Yusuf, and what happened happened, so now I put my trust in Allah to guard this one.
Reflection: Allah’s protection is better than any human care; let us entrust the safety of those we love to Allah, while still taking care.
رُدَّتۡ
telah dikembalikanhad been given back (ia (barang‑barang dagangan itu)it (the merchandise))NF
بِضَٰعَتُنَا
barang-barang dagangan yang kita jadikan tukaran (bagi mendapat gandum) ituour merchandise that we used in exchange (to obtain wheat)
رُدَّتۡ
telah dikembalikanit has been given back (ia (barang‑barang dagangan itu)it (the merchandise))NF
وَنَمِيرُ
dan (dengan kemurahan hati menteri yang berbudi itu) akan dapatlah … membawa lagi bekalan makanan kepadaand (through the generosity of that kind minister) … will be able to bring food supplies again to (kamiwe)
Terjemahan: Dan semasa mereka membuka barang-barang mereka, mereka dapati barang-barang dagangan mereka telah dikembalikan kepada mereka. Mereka berkata dengan gembiranya: "Wahai ayah kami! Apa yang kita kehendaki lagi? Ini dia barang-barang dagangan yang kita jadikan tukaran (bagi mendapat gandum) itu telah dikembalikan kepada kita. Dan (dengan kemurahan hati menteri yang berbudi itu) akan dapatlah kami membawa lagi bekalan makanan kepada keluarga kami, dan kami pula akan dapat menjaga saudara kami, serta akan dapat tambahan benda-benda makanan sebanyak muatan seekor unta lagi. Pemberian tambahan yang sebanyak itu mudah sekali ditunaikannya"Translation: And when they opened up their belongings, they found their merchandise had been given back to them. They said joyfully: “O our father! What more do we want? Here is our merchandise that we used in exchange (to obtain wheat); it has been given back to us. And (through the generosity of that kind minister) we will be able to bring food supplies again to our family, and we will also be able to guard our brother, and will get, in addition, food as much as one more camel’s load. Such an additional gift is very easy for him to give.”
Nota nahu: وَلَمَّا فَتَحُوا۟ … مَا نَبْغِى (ayat 65).Grammar note: وَلَمَّا فَتَحُوا۟ … مَا نَبْغِى (verse 65).
(2) Di sini لَمَّا (“ketika”, “setelah”) diwarnakan hijau sebagai ẓarf, seperti dalam ayat 50; pandangan ḥarf (huruf) dan warnanya diterangkan dalam nota ayat 50.(1) مَا in مَا نَبْغِى is coloured green as an interrogative noun (ism istifhām, Basmeih “Apa yang kita kehendaki lagi?”, “What more do we want?”). Our reference book, Dār al-Ṣaḥābah (I‘rāb al-Qur’ān al-Karīm), says: “﴿ما﴾: استفهامية مفعول به مقدم [أو نافية]” (mā is interrogative, an object placed first [or nāfiyah (negating)]) (2/1085 · Shamela ↗) — the second view in this book’s own square brackets. So too Abū al-Baqā’ al-‘Ukbarī (al-Tibyān fī I‘rāb al-Qur’ān): “«مَا» : اسْتِفْهَامٌ فِي مَوْضِعِ نَصْبٍ بِنَبْغِي. وَيَجُوزُ أَنْ تَكُونَ نَافِيَةً” (an interrogative in the accusative by nabghī; it may also be nāfiyah) (2/737 · Shamela ↗); Muḥyī al-Dīn Darwīsh (I‘rāb al-Qur’ān wa Bayānuh): “وما اسم استفهام في محل نصب مفعول مقدم لنبغي”, and he reports: “وقال الزجاج: يحتمل أن تكون نافية أي ما بقي لنا ما نطلب” (al-Zajjāj said it may be nāfiyah, i.e. “nothing is left for us to ask for”) (5/18 · Shamela ↗); Muḥammad ‘Alī Ṭāhā al-Durrah (Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm wa I‘rābuhu wa Bayānuh): “اسم استفهام مبني على السكون في محل نصب مفعول به مقدم” … “هذا؛ وأجيز اعتبارها نافية” (taking it as nāfiyah has also been allowed) (4/622 · Shamela ↗); and Maḥmūd Ṣāfī (al-Jadwal fī I‘rāb al-Qur’ān): “(ما) اسم استفهام” (7/23 · Shamela ↗; a footnote in al-Jadwal fī I‘rāb al-Qur’ān mentions the nāfiyah view). On the nāfiyah view مَا is a particle and would be coloured red. We follow our reference book and Basmeih.
(2) Here لَمَّا (“when”) is coloured green as a ẓarf, as in verse 50; the particle (ḥarf) view and its colour are given in the note on verse 50.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَيُّ شَيْءٍ نَبْغِي فَوْقَ هَذَا الْإِكْرَامِ إِنَّ الرَّجُلَ رَدَّ دَرَاهِمَنَا إِلَيْنَا»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/480 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/480 · Shamela ↗
Ar-Rāzī menukil dua pendapat tentang kata mā dalam “Apa yang kita kehendaki lagi?”: sama ada ia penafian atau pertanyaan. Kata beliau, jika ia pertanyaan, maksudnya: apa lagi yang kita mahu melebihi layanan mulia ini? Lelaki itu telah memulangkan wang kita; apabila kita pergi kepadanya, kita akan membawa bekalan untuk keluarga, menjaga saudara kita, dan mendapat tambahan sebanyak muatan seekor unta kerana kehadiran saudara kita.
Renungan: Kemurahan hati menimbulkan rasa syukur dan keyakinan pada orang lain; marilah kita menghargai budi orang dan membalasnya dengan kebaikan.Ar-Rāzī reports two views on the word mā in their question: it is either a negation or a question. If it is a question, he says, the meaning is: what more could we want beyond this generous treatment? The man has returned our money; when we go to him we shall bring food for our family, guard our brother, and receive an extra camel’s load because our brother is with us.
Reflection: Generosity stirs gratitude and trust in others; let us value people’s kindness and repay it with good.
لَتَأۡتُنَّنِي
bahawa (sungguh) … akan membawanya kembali kepadaku dengan selamat(truly) to bring him home to me in safety (kamu sekalianyou all)
يُحَاطَ
… dikepong dan dikalahkan oleh musuh… are … surrounded and overpowered by an enemy (kamu sekalian bikumyou all bikum)NF
مَوۡثِقَهُمۡ
perjanjian yang teguh (bersumpah) (lit. perjanjian mereka)their firm pledge (on oath)
Terjemahan: Bapa mereka berkata: "Aku tidak sekali-kali akan melepaskan dia (Bunyamin) pergi bersama-sama kamu, sehingga kamu memberi kepadaku satu perjanjian yang teguh (bersumpah) dengan nama Allah, bahawa kamu akan membawanya kembali kepadaku dengan selamat, kecuali jika kamu semua dikepong dan dikalahkan oleh musuh". Maka ketika mereka memberikan perjanjian yang teguh (bersumpah) kepadanya, berkatalah ia: "Allah jualah yang menjadi Saksi dan Pengawas atas apa yang kita semua katakan itu"Translation: Their father said: “I will never let him (Bunyamin) go with you until you have given me a firm pledge (on oath) in the name of Allah to bring him home to me in safety, unless you are all surrounded and overpowered by an enemy.” So when they had handed him their firm pledge (on oath), he said: “Allah alone is the Witness and Overseer over what we all say.”
Nota nahu: فَلَمَّآ ءَاتَوْهُ … عَلَىٰ مَا نَقُولُ (ayat 66).Grammar note: فَلَمَّآ ءَاتَوْهُ … عَلَىٰ مَا نَقُولُ (verse 66).
(2) Di sini لَمَّا (“ketika”, “setelah”) diwarnakan hijau sebagai ẓarf, seperti dalam ayat 50; pandangan ḥarf (huruf) dan warnanya diterangkan dalam nota ayat 50.(1) مَا in عَلَىٰ مَا نَقُولُ is coloured green as a relative noun (ism mawṣūl, Basmeih “apa yang”, “what”). Our reference book, Dār al-Ṣaḥābah (I‘rāb al-Qur’ān al-Karīm), says: “﴿عَلى ما﴾: جار ومجرور موصول في محل جر متعلق بوكيل” (a preposition with mā, a relative noun in the genitive, attached to wakīl) (2/1086 · Shamela ↗). Maḥmūd Ṣāfī (al-Jadwal fī I‘rāb al-Qur’ān), however, says: “(على) حرف جرّ (ما) حرف مصدريّ” (‘alā is a preposition; mā is a maṣdarī particle) (7/25 · Shamela ↗; a footnote in al-Jadwal fī I‘rāb al-Qur’ān mentions the relative view), and Muḥammad ‘Alī Ṭāhā al-Durrah (Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm wa I‘rābuhu wa Bayānuh): “تحتمل الموصولة، والموصوفة، والمصدرية” (mā may be a relative noun, a described noun, or maṣdariyyah) (4/623 · Shamela ↗). On the maṣdariyyah view مَا is a particle and would be coloured red, meaning “over our saying”. We follow our reference book; the word meanings follow Basmeih.
(2) Here لَمَّا (“when”) is coloured green as a ẓarf, as in verse 50; the particle (ḥarf) view and its colour are given in the note on verse 50.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَإِنْ وَفَّيْتُمْ بِهِ جَازَاكُمْ بِأَحْسَنِ الْجَزَاءِ، وإن غدرتم فيه كافأكم بأعظم العقوبات»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/481 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/481 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, mawthiq (perjanjian yang teguh) ialah janji yang boleh dipegang; ia dikaitkan “dengan nama Allah” kerana janji itu dikuatkan dengan menjadikan Allah sebagai saksi dan bersumpah dengan nama-Nya. Ungkapan “Allah jualah yang menjadi Saksi dan Pengawas atas apa yang kita semua katakan itu” bermaksud perjanjian itu diserahkan kepada Allah: jika kamu menunaikannya, Dia membalas dengan sebaik-baik balasan; jika kamu mengkhianatinya, Dia membalas dengan seberat-berat hukuman.
Renungan: Setiap janji kita disaksikan Allah; marilah kita menunaikan janji dan tidak mempermainkan sumpah.Ar-Rāzī says a mawthiq, a firm pledge, is a covenant that can be relied on; it is tied to Allah because it is made firm by taking Allah as witness and swearing by His name. Allah being Witness and Overseer over their words means the covenant is entrusted to Him: if you keep it, He rewards you with the finest reward; if you betray it, He requites you with the heaviest penalty.
Reflection: Allah witnesses every promise we make; let us keep our word and never treat an oath lightly.
ٱلۡحُكۡمُ
kuasa menetapkan sesuatu (sebab dan musabab) ituthe power to determine anything (of causes and effects)
فَلۡيَتَوَكَّلِ
hendaknya berserahshould … entrust themselves (orang‑orang yang berserah diri al‑mutawakkilunathose who entrust themselves al‑mutawakkilūna)
Terjemahan: Dan ia berkata lagi: "Wahai anak-anakku! Janganlah kamu masuk (ke bandar Mesir) dari sebuah pintu sahaja, tetapi masuklah dari beberapa buah pintu yang berlainan. Dan aku (dengan nasihatku ini), tidak dapat menyelamatkan kamu dari sesuatu takdir yang telah ditetapkan oleh Allah. Kuasa menetapkan sesuatu (sebab dan musabab) itu hanya tertentu bagi Allah. Kepada-Nyalah aku berserah diri, dan kepada-Nyalah hendaknya berserah orang-orang yang mahu berserah diri"Translation: And he said further: “O my sons! Do not go into (the city of Egypt) by one gate only, but go in by several different gates. And I (with this advice of mine) cannot save you from anything that has been decreed by Allah. The power to determine anything (of causes and effects) belongs only to Allah. It is to Him that I entrust myself, and to Him should those who wish to entrust themselves entrust themselves.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَأَرَادَ بِهَذَا تَعْلِيمَهُمُ الِاعْتِمَادَ عَلَى تَوْفِيقِ اللَّهِ وَلُطْفِهِ مَعَ الْأَخْذِ بِالْأَسْبَابِ الْمُعْتَادَةِ الظَّاهِرَةِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/21 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/21 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, maksud “aku (dengan nasihatku ini), tidak dapat menyelamatkan kamu dari sesuatu takdir yang telah ditetapkan oleh Allah” ialah nasihat itu hanyalah adab dan mematuhi apa yang Allah suruh: jika ia menepati takdir, terhasil dua faedah; jika tidak, tetap terhasil faedah mematuhi perintah-Nya dan ketenangan jiwa kerana tidak cuai. Dengan nasihat itu, baginda mahu mengajar anak-anaknya bergantung kepada taufik (pertolongan Allah) dan kelembutan-Nya sambil mengambil sebab-sebab yang biasa dan zahir.
Renungan: Tawakal (berserah kepada Allah) tidak bermakna meninggalkan usaha; marilah kita berusaha sebaik mungkin, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.According to Ibn ‘Āshūr, saying that his advice could not save them from anything Allah had decreed means the advice was only good conduct and keeping to what Allah commands: if it matches His decree, two benefits are gained; if not, there is still the benefit of obeying Him and the soul’s peace at not having been careless. Through it he meant to teach his sons to rely on Allah’s tawfīq, His enabling help, and His kindness while taking the usual, visible means.
Reflection: Tawakkul, reliance on Allah, does not mean giving up effort; let us strive as best we can, then leave the outcome to Allah.
أَمَرَهُمۡ
diperintahkan (lit. … memerintahkan mereka)commanded (lit. … commanded them) (bapa mereka abuhumtheir father abūhum)
قَضَىٰهَاۚ
yang demikian itu … melahirkan (lit. … menunaikannya)that was … the expressing of (lit. … fulfilled it) (dia (Nabi Yaakub)he (the Prophet Ya‘qub))
عَلَّمۡنَٰهُ
… telah mengajarnya (dengan perantaraan wahyu)… had taught him (by means of revelation) (KamiWe)
يَعۡلَمُونَ
… mengetahui (akan rahsia takdir Tuhan)… know (the secret of the Lord’s decree) (merekathey)
Terjemahan: Dan ketika mereka masuk menurut arah yang diperintahkan oleh bapa mereka, tidaklah perintahnya itu dapat menyelamatkan mereka dari apa yang telah ditakdirkan oleh Allah sedikitpun, tetapi yang demikian itu hanyalah melahirkan hajat yang terpendam dalam hati Nabi Yaakub. Dan sesungguhnya ia orang yang berilmu, kerana Kami telah mengajarnya (dengan perantaraan wahyu); tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (akan rahsia takdir Tuhan)Translation: And when they entered by the way commanded by their father, his command could not in any way save them from what had been decreed by Allah; rather, that was only the expressing of a wish hidden in the heart of the Prophet Ya‘qub. And truly he was a man of knowledge, for We had taught him (by means of revelation); but most of mankind do not know (the secret of the Lord’s decree).
Nota nahu: مَّا كَانَ يُغْنِى عَنْهُم … لِّمَا عَلَّمْنَٰهُ (ayat 68).Grammar note: مَّا كَانَ يُغْنِى عَنْهُم … لِّمَا عَلَّمْنَٰهُ (verse 68).
(2) مَا dalam لِّمَا عَلَّمْنَٰهُ diwarnakan hijau sebagai kata nama penghubung. Kitab rujukan kami menyebut: “والجملة صلة الموصول-ما-” (klausa ‘allamnāhu ialah ṣilah (klausa pelengkap) bagi mā) (2/1088 · Shamela ↗); demikian juga Muḥyī al-Dīn Darwīsh (I‘rāb al-Qur’ān wa Bayānuh): “وذو علم خبر إن وجملة علمناه صلة” (5/25 · Shamela ↗). Namun Maḥmūd Ṣāfī (al-Jadwal fī I‘rāb al-Qur’ān) menyebut: “(اللام) حرف جرّ (ما) حرف مصدريّ” (lām ḥarf jar; mā ḥarf maṣdarī) (7/28 · Shamela ↗; nota kaki dalam al-Jadwal fī I‘rāb al-Qur’ān menyebut pandangan kata nama penghubung), dan Muḥammad ‘Alī Ṭāhā al-Durrah (Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm wa I‘rābuhu wa Bayānuh) mendahulukan maṣdariyyah: “و (ما) المصدرية والفعل بعدها في تأويل مصدر في محل جر باللام” (mā maṣdariyyah bersama kata kerja selepasnya membentuk kata terbitan yang majrur oleh lām: “kerana pengajaran Kami kepadanya”), lalu: “وإن اعتبرت (ما) موصولة، فيكون التقدير: وإنه لذو علم للشيء الذي علمناه إياه، وهو معنى صحيح” (jika mā dijadikan kata nama penghubung, maknanya: “dia mempunyai ilmu tentang apa yang Kami ajarkan kepadanya” — makna yang betul) (4/627 · Shamela ↗). Pada pandangan maṣdariyyah, مَا ialah ḥarf dan akan diwarnakan merah; terjemahan Basmeih “kerana Kami telah mengajarnya” selaras dengan makna itu. Kami mengikut kitab rujukan kami.
(3) Di sini لَمَّا (“ketika”, “setelah”) diwarnakan hijau sebagai ẓarf, seperti dalam ayat 50; pandangan ḥarf (huruf) dan warnanya diterangkan dalam nota ayat 50.
(4) Basmeih menterjemah أَمَرَهُمْ أَبُوهُم secara pasif — “yang diperintahkan oleh bapa mereka”; dalam i‘rab, pelaku أَمَرَ ialah أَبُوهُم: Dār al-Ṣaḥābah (I‘rāb al-Qur’ān al-Karīm) menyebut: “﴿أَبُوهُمْ﴾: فاعل مرفوع بالواو” (2/1087 · Shamela ↗). Maka kurungan pelaku ialah (bapa mereka abuhum); warna tidak berubah.(1) Our reference book, Dār al-Ṣaḥābah (I‘rāb al-Qur’ān al-Karīm), says: “﴿كانَ﴾: فعل ماض ناقص واسمه مستتر-هو- ﴿يُغْنِي﴾: مضارع مرفوع بالضمة المقدرة وفاعله مستتر-هو-” (kāna is an incomplete verb whose ism is hidden, “it”; yughnī has a hidden fā‘il, “it”) (2/1087 · Shamela ↗), without naming the referent. The bracket here is (it (his command)), matching Basmeih (“tidaklah perintahnya itu dapat menyelamatkan mereka”, “his command could not save them”) and the first view of Muḥammad ‘Alī Ṭāhā al-Durrah (Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm wa I‘rābuhu wa Bayānuh): “يعود إلى رأي يعقوب المفهوم من المقام. أو إلى الدخول نفسه المفهوم من (دخلوا)” (it refers to Ya‘qub’s counsel, understood from the context, or to the entering itself, understood from dakhalū) (4/626 · Shamela ↗). Other books refer it to the entering by separate ways: Maḥmūd Ṣāfī (al-Jadwal fī I‘rāb al-Qur’ān): “واسمه ضمير مستتر تقديره هو” (its ism is a hidden pronoun “it”, which it explains as their entering separately) and “والفاعل هو أي الدخول” (its fā‘il is “it”, i.e. the entering) (7/28 · Shamela ↗); Muḥyī al-Dīn Darwīsh (I‘rāb al-Qur’ān wa Bayānuh): “وكان فعل ماض ناقص واسمها ضمير التفرق المدلول عليه بالكلام السابق” (the ism of kāna is a pronoun for “the dispersal” indicated by the preceding words) (5/24 · Shamela ↗); and Abū al-Baqā’ al-‘Ukbarī (al-Tibyān fī I‘rāb al-Qur’ān): “وَفَاعِلُ يُغْنِي «التَّفَرُّقُ»” (the fā‘il of yughnī is “the dispersal”) (2/738 · Shamela ↗). On that view the bracket would be (it (the entering separately)); on Muḥammad ‘Alī Ṭāhā al-Durrah (Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm wa I‘rābuhu wa Bayānuh)’s second view, (it (the entering itself)). The colour does not change.
(2) مَا in لِّمَا عَلَّمْنَٰهُ is coloured green as a relative noun. Our reference book says: “والجملة صلة الموصول-ما-” (the clause ‘allamnāhu is the ṣilah (completing clause) of mā) (2/1088 · Shamela ↗); so too Muḥyī al-Dīn Darwīsh (I‘rāb al-Qur’ān wa Bayānuh): “وذو علم خبر إن وجملة علمناه صلة” (5/25 · Shamela ↗). Maḥmūd Ṣāfī (al-Jadwal fī I‘rāb al-Qur’ān), however, says: “(اللام) حرف جرّ (ما) حرف مصدريّ” (lām is a preposition; mā is a maṣdarī particle) (7/28 · Shamela ↗; a footnote in al-Jadwal fī I‘rāb al-Qur’ān mentions the relative view), and Muḥammad ‘Alī Ṭāhā al-Durrah (Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm wa I‘rābuhu wa Bayānuh) gives maṣdariyyah first: “و (ما) المصدرية والفعل بعدها في تأويل مصدر في محل جر باللام” (mā with the verb after it forms a verbal noun in the genitive by the lām: “because of Our teaching him”), then: “وإن اعتبرت (ما) موصولة، فيكون التقدير: وإنه لذو علم للشيء الذي علمناه إياه، وهو معنى صحيح” (if mā is taken as relative, the sense is: “he has knowledge of what We taught him” — a sound meaning) (4/627 · Shamela ↗). On the maṣdariyyah view مَا is a particle and would be coloured red; Basmeih’s “kerana Kami telah mengajarnya” (“for We had taught him”) matches that sense. We follow our reference book.
(3) Here لَمَّا (“when”) is coloured green as a ẓarf, as in verse 50; the particle (ḥarf) view and its colour are given in the note on verse 50.
(4) Basmeih renders أَمَرَهُمْ أَبُوهُم with a passive — “yang diperintahkan oleh bapa mereka” (“commanded by their father”); in the i‘rāb the doer of أَمَرَ is أَبُوهُم: Dār al-Ṣaḥābah (I‘rāb al-Qur’ān al-Karīm) says: “﴿أَبُوهُمْ﴾: فاعل مرفوع بالواو” (2/1087 · Shamela ↗). So the doer bracket is (their father abūhum); the colour does not change.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَمِنْهُمْ مَنْ يُهْمِلُ مَعْرِفَةَ أَنَّ الْأَسْبَابَ الظَّاهِرِيَّةَ لَا تَدْفَعُ أَمْرًا قَدَّرَهُ اللَّهُ وَعَلِمَ أَنَّهُ وَاقِعٌ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُهْمِلُ الْأَسْبَابَ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/25 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/25 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, “hajat yang terpendam dalam hati Nabi Yaakub” ialah keprihatinannya untuk mengingatkan anak-anaknya tentang bahaya yang boleh menimpa orang seperti mereka dalam perjalanan itu, dan mengajar mereka mengambil sebab di samping bertawakal kepada Allah. Ungkapan “sesungguhnya ia orang yang berilmu” ialah pujian atas ilmu dan pengurusannya, dan nasihat itu datang daripada ilmu yang Allah kurniakan. Kebanyakan manusia pula mengabaikan salah satu daripada dua perkara: ada yang lupa bahawa sebab zahir tidak dapat menolak takdir Allah, dan ada yang meninggalkan sebab.
Renungan: Ilmu yang sebenar menyeimbangkan usaha dan tawakal; marilah kita tidak mengabaikan usaha dan tidak pula bergantung kepadanya semata-mata.According to Ibn ‘Āshūr, the Prophet Ya‘qub’s inner wish was his concern to alert his sons to the dangers that could befall people like them on such a journey, and to teach them to take means while relying on Allah. Calling him one endowed with knowledge praises his knowledge and good management, and his advice came from the knowledge Allah gave him. Most people neglect one of the two: some forget that outward means cannot turn back what Allah has decreed, and some abandon the means.
Reflection: True knowledge keeps effort and reliance in balance; let us neither neglect effort nor depend on it alone.
Terjemahan: Dan semasa mereka masuk mendapatkan Yusuf, ia menempatkan saudara kandungnya (Bunyamin) bersama-samanya, sambil berkata kepadanya: "Akulah saudara engkau (Yusuf), oleh itu janganlah engkau berdukacita lagi disebabkan apa yang mereka lakukan"Translation: And when they went in to see Yusuf, he took his full brother (Bunyamin) to stay with him, saying to him: “I am your brother (Yusuf), so do not grieve any longer because of what they did.”
Nota nahu: فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ (ayat 69).Grammar note: فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ (verse 69).
(2) Di sini لَمَّا (“ketika”, “setelah”) diwarnakan hijau sebagai ẓarf, seperti dalam ayat 50; pandangan ḥarf (huruf) dan warnanya diterangkan dalam nota ayat 50.(1) مَا is coloured green as a relative noun (ism mawṣūl, Basmeih “apa yang”, “what”). Our reference book, Dār al-Ṣaḥābah (I‘rāb al-Qur’ān al-Karīm), says: “وجملة: كان ومتعلقاتها صلة الموصول” (the clause of kāna with what belongs to it is the ṣilah (completing clause) of the relative noun) (2/1088 · Shamela ↗); so too Maḥmūd Ṣāfī (al-Jadwal fī I‘rāb al-Qur’ān): “(ما) اسم موصول مبني في محلّ جرّ متعلّق ب (تبتئس)” (7/30 · Shamela ↗), and Muḥyī al-Dīn Darwīsh (I‘rāb al-Qur’ān wa Bayānuh): “وبما متعلقان بتبتئس وجملة كانوا صلة” (5/25 · Shamela ↗). Muḥammad ‘Alī Ṭāhā al-Durrah (Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm wa I‘rābuhu wa Bayānuh), however, says: “و (ما) تحتمل الموصولة، والموصوفة، والمصدرية” (mā may be a relative noun, a described noun, or maṣdariyyah) (4/628 · Shamela ↗). On the maṣdariyyah view مَا is a particle and would be coloured red, meaning “because of their doing”. We follow our reference book; the word meanings follow Basmeih.
(2) Here لَمَّا (“when”) is coloured green as a ẓarf, as in verse 50; the particle (ḥarf) view and its colour are given in the note on verse 50.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَأَرَادَ أَنْ يَجْعَلَ قَلْبَ أَخِيهِ صَافِيًا معهم أَيْضًا»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/485 · Shamela ↗ (huraian ayat 69–72)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/485 · Shamela ↗ (commentary on 69–72)
Antara huraian ar-Rāzī tentang “janganlah engkau berdukacita lagi disebabkan apa yang mereka lakukan”: Nabi Yusuf tidak lagi menyimpan sebarang permusuhan dalam hatinya terhadap saudara-saudaranya, lalu baginda mahu hati saudaranya itu juga bersih terhadap mereka, iaitu tidak lagi menghiraukan apa yang mereka lakukan dahulu. Kata beliau, pendapat yang sahih, iaitu pendapat para mufassir, ialah baginda memperkenalkan dirinya sebagai saudara senasab, kerana itu lebih kuat menghilangkan rasa sunyi dan mendatangkan kemesraan.
Renungan: Hati yang bersih daripada dendam mampu merapatkan keluarga; marilah kita memaafkan, dan membantu orang lain melepaskan luka lama.Among ar-Rāzī’s explanations of telling his brother not to grieve over what they had done: the Prophet Yusuf no longer held any enmity in his heart towards his brothers, and he wished his brother’s heart to be clear towards them as well, paying no more heed to what they had done before. He says the sound view, held by the exegetes, is that he made himself known as his brother by blood, for that does more to remove loneliness and bring comfort.
Reflection: A heart free of grudges can draw a family together; let us forgive, and help others let go of old wounds.