Terjemahan: Katakanlah (wahai Muhammad): "Wahai Ahli Kitab! Kamu tidak mencela dan menyalahkan kami melainkan kerana kami beriman kepada Allah dan beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami, serta beriman kepada apa yang diturunkan sebelum itu, dan kerana kebanyakan kamu sesungguhnya adalah orang-orang yang fasik"Translation: Say (O Muhammad): “O People of the Book! You do not reproach and blame us except because we believe in Allah, and believe in what was sent down to us, as well as believe in what was sent down from before that, and because most of you are truly people who are rebellious.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَمَّا الْإِيمَانُ باللَّه فَهُوَ رَأْسُ جَمِيعِ الطَّاعَاتِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 12/389 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 12/389 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, ayat ini bertanya dengan nada hairan: adakah yang dicela pada agama ini selain beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan kepada semua nabi sebelumnya? Semua itu bukan perkara yang patut dicela; beriman kepada Allah ialah kepala segala ketaatan, dan beriman kepada semua nabi itulah kebenaran.
Renungan: Janganlah kita malu dengan iman kita; ia kepala segala ketaatan, maka marilah kita menjaganya.Al-Rāzī says the verse asks in wonder: is there anything to blame in this religion besides faith in Allah, in what was sent down to the Prophet Muhammad and in all the prophets before him? None of that deserves blame; faith in Allah is the head of all obedience, and faith in all the prophets is the truth.
Reflection: Let us never be ashamed of our faith; it is the head of all obedience, so let us guard it.
Terjemahan: Katakanlah: "Mahukah, aku khabarkan kepada kamu tentang yang lebih buruk balasannya di sisi Allah daripada yang demikian itu? Ialah orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan dimurkai-Nya, dan orang-orang yang dijadikan di antara mereka sebagai kera dan babi, dan penyembah Taghut. Mereka inilah yang lebih buruk kedudukannya dan yang lebih sesat dari jalan yang betul"Translation: Say: “Shall I inform you about what is worse than that in its recompense with Allah? (They are) the people Allah has cursed, and against whom He is angry, and those among them He made into apes and swine, and those who worshipped Taghut. These are worse in standing and further astray from the right path.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمَثُوبَةُ مُشْتَقَّةٌ مِنْ ثَابَ يَثُوبُ، أَيْ رَجَعَ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 6/245 · Shamela ↗ (huraian ayat 59–60)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 6/245 · Shamela ↗ (commentary on 59–60)
Menurut Ibn ‘Āshūr, perkataan mathūbah (balasan) diambil daripada thāba yathūbu, iaitu kembali. Ia dinamakan demikian kerana ia sesuatu yang dibawa pulang oleh seseorang ke rumahnya sebagai balasan bagi amal yang dikerjakannya atau usaha yang dilakukannya.
Renungan: Setiap amal ada balasan yang akan kita bawa pulang; marilah kita memastikan apa yang kita bawa kepada Allah ialah balasan yang baik.According to Ibn ‘Āshūr, the word mathūbah (recompense) comes from thāba yathūbu, to return. It is so called because it is what a person brings back home as a reward for a deed he did or an effort he made.
Reflection: Every deed has a recompense that we will carry back; let us make sure that what we bring to Allah is a good one.
جَآءُوكُمۡ
(orang-orang Yahudi atau munafik itu) datang kepada kamu(the Jews or those hypocrites) come to you (merekathey)
Terjemahan: Dan apabila mereka (orang-orang Yahudi atau munafik itu) datang kepada kamu, mereka berkata: "Kami telah beriman". Padahal sesungguhnya mereka itu masuk menemui kamu dengan kekufurannya, dan sesungguhnya mereka keluar (dari sisi kamu) dengan kekufurannya juga; dan (hendaklah mereka ingat), Allah lebih mengetahui akan apa yang mereka sembunyikanTranslation: And when they (the Jews or those hypocrites) come to you, they say: “We have believed.” Yet truly they came in to see you with their disbelief, and they truly went out (from your presence) with that same disbelief; and (let them remember) Allah knows better what they used to hide.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«يُفِيدُ بَقَاءَ الْكُفْرِ مَعَهُمْ حَالَتَيِ الدُّخُولِ وَالْخُرُوجِ مِنْ غَيْرِ نُقْصَانٍ وَلَا تَغْيِيرٍ فِيهِ أَلْبَتَّةَ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 12/392 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 12/392 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, huruf bā’ (dengan) pada ‘masuk dengan’ dan ‘keluar dengan’ menunjukkan kekufuran itu kekal bersama mereka ketika masuk dan ketika keluar, tanpa berkurang atau berubah sedikit pun, seperti kata orang: dia masuk dengan bajunya dan keluar dengan bajunya, iaitu bajunya tetap seperti semasa dia masuk.
Renungan: Janganlah kita menghadiri majlis ilmu lalu keluar tanpa sesuatu pun yang berubah dalam hati kita.Al-Rāzī says the letter bā’ (with) in ‘came in with’ and ‘went out with’ shows that the disbelief stayed with them on coming in and on going out, without lessening or changing at all, as one says: he came in with his garment and went out with it, that is, the garment stayed as it was when he came in.
Reflection: Let us not attend a gathering of knowledge and leave with nothing changed in our hearts.
Terjemahan: Dan engkau lihat kebanyakan dari mereka berlumba-lumba pada melakukan dosa dan pencerobohan serta memakan yang haram. Demi sesungguhnya amatlah buruk apa yang mereka telah lakukanTranslation: And you see many of them racing one another in committing sin and transgression, and in eating what is unlawful. Most surely, very evil is what they have done.
Nota nahu: fā‘il لَبِئْسَ مَا (ayat 62 dan 63).Grammar note: the fā‘il of لَبِئْسَ مَا (verses 62 and 63).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّ لَفْظَ الْمُسَارَعَةِ إِنَّمَا يُسْتَعْمَلُ فِي أَكْثَرِ الْأَمْرِ فِي الْخَيْرِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 12/392 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 12/392 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, perkataan musāra‘ah (berlumba-lumba) kebanyakannya digunakan untuk kebaikan; ia dipakai di sini kerana mereka melakukan kemungkaran itu seolah-olah mereka di pihak yang benar. Dosa pula merangkumi semua maksiat, dan disebut selepasnya pencerobohan dan memakan yang haram kerana kedua-duanya antara jenis dosa yang paling besar.
Renungan: Marilah kita berlumba-lumba kepada kebaikan, dan berwaspada daripada dosa yang kita sangka benar.Al-Rāzī says the word musāra‘ah (racing) is mostly used for good; it is used here because they went into those evils as if they were in the right. Sin covers all disobedience, and transgression and eating what is unlawful are named after it because these two are among the greatest kinds of sin.
Reflection: Let us race towards the good, and beware of sins we have convinced ourselves are right.
يَنۡهَىٰهُمُ
… melarang mereka… forbade them (ketua‑ketua ugama ar‑rabbaniyyunathe religious leaders ar‑rabbāniyyūna)
Terjemahan: Alangkah baiknya kalau ketua-ketua ugama dan pendita-pendita mereka melarang mereka dari mengeluarkan perkataan-perkataan yang dusta dan dari memakan yang haram? Sesungguhnya amatlah buruk apa yang mereka telah kerjakanTranslation: How good it would be if their religious leaders and rabbis forbade them from uttering words that are false and from eating what is unlawful? Truly, very evil is what they have practised.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَذَلِكَ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ تَارِكَ النَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ بِمَنْزِلَةِ مُرْتَكِبِهِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 12/393 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 12/393 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, ayat ini menunjukkan bahawa orang yang meninggalkan larangan terhadap kemungkaran sama kedudukannya dengan orang yang melakukannya, kerana Allah mencela kedua-duanya dengan lafaz yang serupa. Bahkan celaan kepada ulama yang berdiam diri lebih kuat, kerana perbuatan mereka disebut ṣun‘ (perbuatan yang sudah sebati), bukan sekadar ‘amal (perbuatan biasa).
Renungan: Ilmu yang ada pada kita menuntut kita menegur kemungkaran dengan hikmah; marilah kita tidak berdiam diri.Al-Rāzī says this verse shows that one who leaves off forbidding wrong is in the same position as one who does it, because Allah blames both with similar words. Indeed the blame on the silent scholars is stronger, since their doing is called ṣun‘ (a deed that has become settled), not mere ‘amal (ordinary doing).
Reflection: The knowledge we hold requires us to correct wrong with wisdom; let us not stay silent.
مَبۡسُوطَتَانِ
sentiasa terbuka (nikmat dan kurnia-Nya luas melimpah-limpah)are ever open (His favours and bounty are vast and overflowing)
وَلَيَزِيدَنَّ
dan demi sesungguhnya … akan menjadikan … bertambahand most surely … will make … increase (mamā)
Terjemahan: Dan orang-orang Yahudi itu berkata: "Tangan Allah terbelenggu (bakhil - kikir)", tangan merekalah yang terbelenggu dan mereka pula dilaknat dengan sebab apa yang mereka telah katakan itu, bahkan kedua tangan Allah sentiasa terbuka (nikmat dan kurnia-Nya luas melimpah-limpah). Ia belanjakan (limpahkan) sebagaimana yang Ia kehendaki; dan demi sesungguhnya, apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu akan menjadikan kebanyakan dari mereka bertambah derhaka dan kufur; dan Kami tanamkan perasaan permusuhan dan kebencian di antara mereka hingga hari kiamat. Tiap-tiap kali mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya; dan mereka pula terus-menerus melakukan kerosakan di muka bumi, sedang Allah tidak suka kepada orang-orang yang melakukan kerosakanTranslation: And the Jews said: “The Hand of Allah is shackled (stingy, miserly).” It is their hands that are shackled, and they are cursed because of what they have said. Nay, both Hands of Allah are ever open (His favours and bounty are vast and overflowing); He spends (bestows) as He wills. And most surely, what has been sent down upon you from your Lord will make many of them increase in rebellion and disbelief. And We have planted enmity and hatred among them until the Day of Resurrection. Each time they light a fire of war, Allah extinguishes it; and they keep working corruption on the earth, while Allah does not like those who work corruption.
Nota nahu: بِمَا قَالُوا۟ dan كُلَّمَآ (ayat 64).Grammar note: بِمَا قَالُوا۟ and كُلَّمَآ (verse 64).
Nota akidah: يَدُ ٱللَّهِ dan يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ. Terjemahan perkataan di sini mengikut Basmeih sepenuhnya: “Tangan Allah terbelenggu (bakhil - kikir)” dan “kedua tangan Allah sentiasa terbuka (nikmat dan kurniaNya luas melimpah-limpah)”. Para ulama mempunyai beberapa pendekatan tentang sifat ini. Fakhr al-Dīn al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb) menukil pendekatan pertama jumhur (majoriti) ahli tauhid: “فَأَمَّا أَنَّ الْيَدَ مَا هِيَ وَمَا حَقِيقَتُهَا فَقَدْ فَوَّضْنَا مَعْرِفَتَهَا إِلَى اللَّه تَعَالَى، وَهَذَا هُوَ طَرِيقَةُ السَّلَفِ” (adapun apakah tangan itu dan hakikatnya, kami serahkan pengetahuannya kepada Allah Ta‘ala; inilah jalan Salaf, iaitu generasi awal umat Islam), dan selepas menyebut makna-makna yang diberikan oleh ahli kalam (ulama akidah yang berhujah dengan dalil akal), beliau berkata: “الْيَدُ فِي حَقِّ اللَّه يَمْتَنِعُ أَنْ تَكُونَ بِمَعْنَى الْجَارِحَةِ، وَأَمَّا سَائِرُ الْمَعَانِي فكلها حاصلة” (tangan bagi Allah mustahil bermakna anggota, adapun makna-makna lain semuanya terhasil) (12/395 · Shamela ↗). Muḥyī al-Dīn Darwīsh (I‘rāb al-Qur’ān wa Bayānuh) menyebut: “ومعظم أهل السنة ذهبوا الى أن يد الله صفة من صفات ذاته سبحانه، كالسمع والبصر والوجه، فيجب علينا الايمان بها وإثباتها له بلا كيف ولا تشبيه” (kebanyakan Ahli Sunnah berpendapat tangan Allah ialah salah satu sifat zat-Nya, seperti pendengaran, penglihatan dan wajah; wajib kita beriman dengannya dan menetapkannya bagi-Nya tanpa bertanya bagaimana dan tanpa menyerupakan) (2/520 · Shamela ↗). Ibn ‘Āshūr (al-Taḥrīr wa al-Tanwīr) menerangkan penggunaan bahasa Arab: “وَيَجْعَلُونَ بَسْطَ الْيَدِ اسْتِعَارَةً لِلْبَذْلِ وَالْكَرَمِ” (mereka menjadikan “membentangkan tangan” kiasan bagi memberi dan bermurah hati) (6/249 · Shamela ↗). Untuk perbincangan akidah lanjut, sila rujuk guru yang bertauliah.(1) Here مَا in بِمَا قَالُوا۟ is coloured green (a relative noun, “what”). Dār al-Ṣaḥābah (I‘rāb al-Qur’ān al-Karīm) puts this view first, then says: “﴿بِما﴾: جار ومجرور متعلق ب: لعنوا. [أو أن: ما مصدرية” (bā’ with mā is linked to lu‘inū, “they are cursed”; or mā is a maṣdariyyah particle (ḥarf), “because of their saying”) (1/536 · Shamela ↗). Maḥmūd Ṣāfī (al-Jadwal fī I‘rāb al-Qur’ān) holds the particle view: “(الباء) حرف جرّ (ما) حرف مصدريّ” (3/400 · Shamela ↗); Muḥammad ‘Alī Ṭāhā al-Durrah (Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm wa I‘rābuhu wa Bayānuh) gives all three possibilities: “و (ما) تحتمل الموصولة، والموصوفة، والمصدرية” (mā may be a relative noun, a described noun, or maṣdariyyah) (3/160 · Shamela ↗). On the particle view mā would be coloured red. (2) كُلَّمَآ (“each time”) is coloured green as one word. Dār al-Ṣaḥābah (I‘rāb al-Qur’ān al-Karīm) says: “﴿كُلَّما﴾: ظرف بمعنى حين متضمن معنى الشرط متعلق بالجواب” (an adverb of time meaning “when”, carrying the sense of a condition) (1/537 · Shamela ↗). Muḥammad ‘Alī Ṭāhā al-Durrah (Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm wa I‘rābuhu wa Bayānuh) analyses it as kull + mā: “(ما): مصدرية توقيتية” (mā is a maṣdariyyah particle marking a span of time), and “وقيل: (ما) نكرة موصوفة، والجملة الفعلية بعدها صفة لها، وهي بمعنى وقت أيضا” (it is also said that mā is a described noun, likewise meaning a time) (3/162 · Shamela ↗). Kull is a noun on every view, so the colour of the word does not change. Here we follow our reference book.
Creed note: يَدُ ٱللَّهِ and يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ. The word glosses here follow Basmeih exactly: “Tangan Allah terbelenggu (bakhil - kikir)” (the Hand of Allah is shackled (stingy, miserly)) and “kedua tangan Allah sentiasa terbuka (nikmat dan kurniaNya luas melimpah-limpah)” (both Hands of Allah are ever open (His favours and bounty are vast and overflowing)). Scholars have taken several approaches to this attribute. Fakhr al-Dīn al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb) reports the first approach of the majority of the people of tawḥīd: “فَأَمَّا أَنَّ الْيَدَ مَا هِيَ وَمَا حَقِيقَتُهَا فَقَدْ فَوَّضْنَا مَعْرِفَتَهَا إِلَى اللَّه تَعَالَى، وَهَذَا هُوَ طَرِيقَةُ السَّلَفِ” (as for what the hand is and its reality, we leave knowledge of it to Allah the Exalted; this is the way of the Salaf), and after listing the meanings given by the theologians he says: “الْيَدُ فِي حَقِّ اللَّه يَمْتَنِعُ أَنْ تَكُونَ بِمَعْنَى الْجَارِحَةِ، وَأَمَّا سَائِرُ الْمَعَانِي فكلها حاصلة” (the hand, with respect to Allah, cannot mean a bodily limb; as for the other meanings, they all hold) (12/395 · Shamela ↗). Muḥyī al-Dīn Darwīsh (I‘rāb al-Qur’ān wa Bayānuh) says: “ومعظم أهل السنة ذهبوا الى أن يد الله صفة من صفات ذاته سبحانه، كالسمع والبصر والوجه، فيجب علينا الايمان بها وإثباتها له بلا كيف ولا تشبيه” (most of Ahl al-Sunnah hold that the Hand of Allah is one of the attributes of His essence, like hearing, sight and the Face; we must believe in it and affirm it for Him without asking how and without likening) (2/520 · Shamela ↗). Ibn ‘Āshūr (al-Taḥrīr wa al-Tanwīr) explains Arabic usage: “وَيَجْعَلُونَ بَسْطَ الْيَدِ اسْتِعَارَةً لِلْبَذْلِ وَالْكَرَمِ” (they make “stretching out the hand” a metaphor for giving and generosity) (6/249 · Shamela ↗). For further discussion of creed, please refer to a qualified teacher.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَفِي قَوْلِهِ: كَيْفَ يَشاءُ زِيَادَةُ إِشَارَةٍ إِلَى أَنَّ تَقْتِيرَهُ الرِّزْقَ عَلَى بَعْضِ عَبِيدِهِ لِمَصْلَحَةٍ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 6/250 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 6/250 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini menolak kata-kata mereka dan menetapkan keluasan kurnia Allah. Firman-Nya “Ia belanjakan (limpahkan) sebagaimana yang Ia kehendaki” pula memberi isyarat bahawa apabila Allah menyempitkan rezeki sebahagian hamba-Nya, ia kerana sesuatu maslahat (kebaikan yang dikehendaki-Nya), seperti hukuman kerana tidak mensyukuri nikmat.
Renungan: Apabila rezeki kita sempit, janganlah kita bersangka buruk kepada Allah; marilah kita bersyukur dan bermuhasabah.According to Ibn ‘Āshūr, the verse refutes their words and affirms how wide Allah’s bounty is. His words that He spends as He wills also point out that when Allah narrows the provision of some of His servants, it is for some maṣlaḥah (a good He intends), such as a penalty for being ungrateful for His favours.
Reflection: When our provision is tight, let us not think ill of Allah; let us give thanks and examine ourselves.
وَلَأَدۡخَلۡنَٰهُمۡ
dan tentulah … akan masukkan merekaand … would surely have admitted them (KamiWe)
Terjemahan: Dan sekiranya Ahli Kitab itu beriman dan bertaqwa tentulah Kami akan hapuskan dari mereka kejahatan-kejahatan mereka, dan tentulah Kami akan masukkan mereka ke dalam Syurga-syurga yang penuh nikmatTranslation: And if those People of the Book had had faith and had taqwa, We would surely have wiped away from them their evil deeds, and We would surely have admitted them into Gardens of Paradise full of bliss.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«الْمُرَادُ كَوْنُهُ آتِيًا بِالْإِيمَانِ لِغَرَضِ التَّقْوَى وَالطَّاعَةِ، لَا لِغَرَضٍ آخَرَ مِنَ الْأَغْرَاضِ الْعَاجِلَةِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 12/398 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 12/398 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, kebahagiaan akhirat terhimpun dalam dua perkara: dihapuskan hukuman, iaitu dihapuskan kejahatan-kejahatan, dan diberi pahala, iaitu dimasukkan ke dalam Syurga. Taqwa (menjaga diri dengan mentaati Allah) disebut bersama iman kerana yang dimaksudkan ialah iman kerana taqwa dan ketaatan, bukan kerana kepentingan dunia yang segera.
Renungan: Marilah kita memeriksa niat iman kita: kerana Allah, atau kerana habuan dunia?Al-Rāzī says the happiness of the Hereafter lies in two things: punishment lifted, which is the wiping away of evil deeds, and reward given, which is entry into Paradise. Taqwa (guarding oneself by obeying Allah) is named with faith because what is meant is faith held for the sake of taqwa and obedience, not for some quick worldly aim.
Reflection: Let us check the intention behind our faith: is it for Allah, or for some worldly gain?
أَقَامُواْ
bersungguh-sungguh menegakkan (menjalankan perintah-perintah Allah dalam)had earnestly upheld (carried out Allah’s commands in) (merekathey)
Terjemahan: Dan kalau mereka bersungguh-sungguh menegakkan (menjalankan perintah-perintah Allah dalam) Taurat dan Injil dan apa yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan mereka (Al-Quran), nescaya mereka akan makan (yang mewah) dari atas mereka (langit) dan dari bawah kaki mereka (bumi). Di antara mereka ada sepuak yang adil, dan kebanyakan dari mereka, buruk keji amal perbuatannyaTranslation: And if they had earnestly upheld (carried out Allah’s commands in) the Torah and the Gospel and whatever was sent down upon them from their Lord (the Qur’an), they would surely have eaten (in plenty) from above them (the sky) and from beneath their feet (the earth). Among them is a group that is just, but many of them are foul and evil in the deeds they do.
Nota nahu: سَآءَ مَا يَعْمَلُونَ (ayat 66).Grammar note: سَآءَ مَا يَعْمَلُونَ (verse 66).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«مَعْنَى الِاقْتِصَادِ فِي اللُّغَةِ الِاعْتِدَالُ فِي الْعَمَلِ مِنْ غَيْرِ غُلُوٍّ وَلَا تَقْصِيرٍ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 12/399 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 12/399 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, iqtiṣād (bersikap adil dan sederhana) dari segi bahasa ialah bersederhana dalam amalan tanpa melampau dan tanpa cuai. Asalnya qaṣd (tujuan): orang yang tahu apa yang dituju akan menuju kepadanya di jalan yang lurus tanpa menyimpang, manakala orang yang tidak tahu tujuannya akan kebingungan, sekejap ke kanan dan sekejap ke kiri.
Renungan: Marilah kita jelas tentang tujuan hidup kita supaya langkah kita lurus dan seimbang.Al-Rāzī says iqtiṣād (being just and moderate) in the language means moderation in deeds, without excess and without falling short. Its root is qaṣd (aim): one who knows his goal heads for it on the straight path without turning aside, while one who does not know it wanders, now to the right and now to the left.
Reflection: Let us be clear about the aim of our lives so that our steps are straight and balanced.
تَفۡعَلۡ
… melakukannya (dengan menyampaikan semuanya)… done it (by conveying all of it) (engkauyou)
Terjemahan: Wahai Rasul Allah! Sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu; dan jika engkau tidak melakukannya (dengan menyampaikan semuanya), maka bermakna tiadalah engkau menyampaikan perutusan-Nya; dan Allah jualah akan memeliharamu dari (kejahatan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi hidayah petunjuk kepada kaum yang kafirTranslation: O Messenger of Allah! Convey what has been sent down upon you from your Lord; and should you not have done it (by conveying all of it), then that means you have not delivered His message; and Allah alone will guard you from (the harm of) people. Truly Allah does not grant guidance to the people who disbelieve.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَمَرَ الرَّسُولَ بِأَنْ لَا يَنْظُرَ إِلَى قِلَّةِ الْمُقْتَصِدِينَ وَكَثْرَةِ الْفَاسِقِينَ وَلَا يَخْشَى مَكْرُوهَهُمْ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 12/399 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 12/399 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, Allah memerintahkan Rasul supaya tidak melihat kepada sedikitnya orang yang adil dan banyaknya orang yang fasik, dan tidak takut kepada kejahatan mereka. Maksud perintah menyampaikan itu ialah: bersabarlah dalam menyampaikan apa yang diturunkan kepadamu, kerana Allah memeliharamu daripada tipu daya mereka.
Renungan: Apabila kita menyampaikan kebenaran, janganlah kita gentar kerana sedikitnya penyokong; Allah jualah Pemelihara kita.Al-Rāzī says Allah commanded the Messenger not to look at how few are the just and how many are the wrongdoers, and not to fear their harm. The command to convey means: be patient in conveying what was sent down upon you, for Allah guards you from their plotting.
Reflection: When we convey the truth, let us not lose heart because few stand with us; Allah is our Protector.
وَٱلۡإِنجِيلَ
dan Injil (yang membawa kamu percaya kepada Nabi Muhammad)and the Gospel (which lead you to believe in the Prophet Muhammad)
Terjemahan: Katakanlah: "Wahai Ahli Kitab! Kamu tidak dikira mempunyai sesuatu ugama sehingga kamu tegakkan ajaran Kitab-kitab Taurat dan Injil (yang membawa kamu percaya kepada Nabi Muhammad) dan apa yang diturunkan kepada kamu dari Tuhan kamu (iaitu Al-Quran)". Dan demi sesungguhnya, apa yang diturunkan kepadamu (wahai Muhammad) dari Tuhanmu itu, akan menambahkan kederhakaan dan kekufuran kepada kebanyakan mereka. Oleh itu janganlah engkau berdukacita terhadap kaum yang kafir ituTranslation: Say: “O People of the Book! You are not counted as having any religion until you uphold the teachings of the Books of the Torah and the Gospel (which lead you to believe in the Prophet Muhammad) and what was sent down upon you from your Lord (namely the Qur’an).” And most surely, what was sent down to you (O Muhammad) from your Lord will add rebellion and disbelief to many of them. So do not be sorrowful over the people who disbelieve.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمَقْصُودُ نَفْيُ أَنْ يَكُونَ لَهُمْ حَظٌّ مُعْتَدٌّ بِهِ عِنْدَ اللَّهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 6/265 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 6/265 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, perkataan shay’ (sesuatu) ialah nama bagi setiap yang wujud dan sangat umum maknanya. Apabila dinafikan di sini, maksudnya mereka tidak mempunyai bahagian yang diambil kira di sisi Allah selagi mereka tidak menegakkan Taurat, Injil dan al-Qur’an; seperti kata orang Arab ‘ini bukan apa-apa’ bagi sesuatu yang tidak diambil kira.
Renungan: Amalan kita hanya bernilai di sisi Allah apabila kita menegakkan ajaran Kitab-Nya; marilah kita menilai diri.According to Ibn ‘Āshūr, the word shay’ (thing) names everything that exists and is very general in meaning. When it is denied here, it means they have no share that counts with Allah as long as they do not uphold the Torah, the Gospel and the Qur’an, as the Arabs say ‘this is nothing’ of what does not count.
Reflection: Our deeds have worth with Allah only when we uphold the teachings of His Book; let us take stock of ourselves.
بِٱللَّهِ
kepada Allah (dan segala Rasul-Nya meliputi Nabi Muhammad s.a.w.)in Allah (and all His Messengers, including the Prophet Muhammad, peace be upon him)
Terjemahan: Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang Yahudi, dan orang-orang Saabiein, dan orang-orang Nasrani - sesiapa sahaja di antara mereka yang beriman kepada Allah (dan segala Rasul-Nya meliputi Nabi Muhammad s.a.w) dan (beriman kepada) hari akhirat serta beramal soleh, maka tidaklah ada kebimbangan (dari berlakunya kejadian yang tidak baik) terhadap mereka, dan mereka pula tidak akan berdukacitaTranslation: Truly those who believe, and the people who are Jews, and the Sabians (Saabi’in), and the Christians (Nasrani) – whoever (among them) believes in Allah (and all His Messengers, including the Prophet Muhammad, peace be upon him) and (believes in) the Last Day and does righteous deeds, then there is no fear (of anything bad befalling) for them, and they too will not be sorrowful.
Nota nahu: وَٱلصَّٰبِـُٔونَ (ayat 69).Grammar note: وَٱلصَّٰبِـُٔونَ (verse 69).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لَا يَحْصُلُ لِأَحَدٍ فَضِيلَةٌ وَلَا مَنْقَبَةٌ إِلَّا إِذَا آمَنَ باللَّه وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 12/403 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 12/403 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, ayat ini menjelaskan bahawa tiada kelebihan dan kemuliaan bagi sesiapa pun melainkan apabila dia beriman kepada Allah dan hari akhirat serta beramal soleh. Ini kerana manusia mempunyai dua kekuatan: kekuatan berfikir, yang sempurna dengan mengenal kebenaran, dan kekuatan beramal, yang sempurna dengan melakukan kebaikan.
Renungan: Kemuliaan kita bukan pada nama atau kumpulan, tetapi pada iman dan amal soleh; marilah kita menyempurnakan kedua-duanya.Al-Rāzī says this verse makes clear that no one gains merit or honour except by having faith in Allah and in the Last Day, and doing righteous deeds. This is because a person has two powers: the power of thought, made complete by knowing the truth, and the power of action, made complete by doing good.
Reflection: Our honour lies not in a name or a group but in faith and good deeds; let us perfect both.
Terjemahan: Demi sesungguhnya! Kami telah mengambil perjanjian setia dari Bani Israil dan Kami telah utuskan kepada mereka beberapa orang Rasul. (Tetapi) tiap-tiap kali datang seorang Rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak disukai oleh hawa nafsu mereka, mereka dustakan sebahagian dari Rasul-rasul itu, dan mereka bunuh yang sebahagian lagiTranslation: Most surely We have taken the pledge of loyalty of the Children of Israel, and We have sent to them a number of Messengers. (But) each time a Messenger came to them bringing what their desires did not like, some (of the Messengers) they denied, and the others they killed.
Nota nahu: كُلَّمَا (ayat 70).Grammar note: كُلَّمَا (verse 70).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَيْ بِمَا يُخَالِفُ أَهْوَاءَهُمْ وَمَا يُضَادُّ شَهَوَاتِهِمْ مِنْ مَشَاقِّ التَّكْلِيفِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 12/404 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 12/404 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, ayat ini berkait dengan pembukaan surah yang menyuruh menunaikan perjanjian. Maksud Rasul datang membawa apa yang tidak disukai hawa nafsu mereka ialah apa yang menyalahi hawa nafsu dan bertentangan dengan keinginan mereka, iaitu kesukaran taklif (tanggungjawab agama).
Renungan: Ujian sebenar iman ialah apabila suruhan Allah menyalahi keinginan kita; marilah kita memilih suruhan-Nya.Al-Rāzī says this verse is tied to the opening of the surah, which commands keeping covenants. A Messenger coming with what their desires did not like means what went against their desires and opposed their wants, namely the hardships of taklīf (religious duty).
Reflection: The real test of faith is when Allah’s command goes against what we want; let us choose His command.
Terjemahan: Dan mereka juga menyangka bahawa tidak akan berlaku sebarang bencana, lalu mereka membutakan mata dan memekakkan telinga, kemudian Allah menerima taubat mereka, setelah itu kebanyakan dari mereka membutakan mata dan memekakkan telinga lagi. Padahal Allah Maha Melihat akan apa yang mereka lakukanTranslation: And they also thought that no calamity at all would occur, so they made themselves blind and deaf; then Allah accepted their repentance; after that many of them again made themselves blind and deaf. Yet Allah is All-Seeing of whatever they do.
Nota nahu: كَثِيرٌ dan بِمَا يَعْمَلُونَ (ayat 71).Grammar note: كَثِيرٌ and بِمَا يَعْمَلُونَ (verse 71).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَإِذَا حَصَلَ الْإِعْرَاضُ عَنْ ذَلِكَ غَلَبَ الْهَوَى عَلَى النُّفُوسِ، لِأَنَّ الِانْسِيَاقَ إِلَيْهِ فِي الْجِبِلَّةِ، فَتَجَنُّبُهُ مُحْتَاجٌ إِلَى الْوَازِعِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 6/277 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 6/277 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, buta dan pekak di sini kiasan (isti‘ārah) yang menghimpunkan semua bentuk terhalang daripada manfaat yang paling baik, kerana buta dan pekak menyebabkan seseorang sesat jalan. Apabila seseorang berpaling daripada petunjuk, hawa nafsu menguasai jiwanya, kerana kecenderungan kepadanya ialah tabiat semula jadi, dan menjauhinya memerlukan pencegah.
Renungan: Marilah kita membuka mata dan telinga hati kepada petunjuk Allah, kerana tanpanya hawa nafsu mudah menguasai kita.According to Ibn ‘Āshūr, blindness and deafness here are a metaphor (isti‘ārah) that gathers every way of being kept from the best benefit, since the blind and the deaf lose the road. When a person turns away from guidance, desire takes over the soul, because being drawn to it is in our nature and keeping away from it needs a restraint.
Reflection: Let us open the eyes and ears of our hearts to Allah’s guidance, for without it desire easily takes over.
Terjemahan: Demi sesungguhnya! Telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Bahawasanya Allah ialah Al-Masih Ibni Maryam". Padahal Al-Masih sendiri berkata: "Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kamu". Bahawasanya sesiapa yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain, maka sesungguhnya Allah haramkan kepadanya Syurga, dan tempat kembalinya ialah neraka; dan tiadalah seorang penolong pun bagi orang-orang yang berlaku zalimTranslation: Most surely those who said: “Truly Allah is al-Masih, son of Maryam,” have disbelieved. Yet al-Masih himself spoke: “O Children of Israel! Worship Allah, Who is my Lord and your Lord.” Truly whoever associates others with Allah, then most surely Allah has made Paradise forbidden for him, and his place of return is the Fire; and there is not a single helper for those who do wrong.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّهُ لَا يَكُونُ إِلَّا مَرْبُوبًا، وَذَلِكَ مُفَادُ قَوْلِهِ: رَبِّي»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 6/280 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 6/280 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, kata-kata Al-Masih sendiri, “Tuhanku dan Tuhan kamu”, membatalkan dakwaan itu: ‘Tuhanku’ menunjukkan dia hanyalah hamba yang dipelihara oleh Tuhannya, dan ‘Tuhan kamu’ menunjukkan tiada tuhan lain bersama Allah. Kerana itu ia diiringi amaran bahawa sesiapa yang mempersekutukan Allah, Allah haramkan Syurga baginya.
Renungan: Seruan para nabi satu, iaitu Tauhid (mengesakan Allah); marilah kita mengesakan Allah dalam ibadat kita.According to Ibn ‘Āshūr, al-Masih’s own words, my Lord and your Lord, cancel that claim: ‘my Lord’ shows he is only a servant under his Lord’s care, and ‘your Lord’ shows there is no other god with Allah. That is why it is followed by the warning that anyone who associates others with Allah has Paradise made forbidden for him by Allah.
Reflection: The call of the prophets is one, Tauhid (affirming Allah’s Oneness); let us worship Allah alone.
لَيَمَسَّنَّ
sudah tentu … akan menimpathen surely … will strike (azab seksa ‘adzabuna punishment ‘adhābun)
Terjemahan: Demi sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Bahawasanya Allah ialah salah satu dari tiga tuhan". Padahal tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Tuhan yang Maha Esa. Dan jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, sudah tentu orang-orang yang kafir dari antara mereka akan dikenakan azab seksa yang tidak terperi sakitnyaTranslation: Most surely those who said: “Truly Allah is one of three gods,” have disbelieved. Yet there is no god (deserving of worship) except the One God. And if they have not stopped from what they say, then surely a punishment of indescribable pain will strike those of them who disbelieve.
Nota nahu: عَمَّا يَقُولُونَ (ayat 73).Grammar note: عَمَّا يَقُولُونَ (verse 73).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«اهْتِمَامًا بِإِبْرَازِ حَرْفِ (مِنْ) الدَّالِّ بَعْدَ النَّفْيِ عَلَى تَحْقِيقِ النَّفْيِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 6/283 · Shamela ↗ (huraian ayat 73–74)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 6/283 · Shamela ↗ (commentary on 73–74)
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini tidak berkata lā ilāha illā ilāhun wāḥid (tiada tuhan melainkan Tuhan yang satu), tetapi wa mā min ilāhin illā ilāhun wāḥid (tiada sebarang tuhan pun melainkan Tuhan yang satu), kerana huruf min selepas penafian menegaskan lagi penafian itu; ini memberi perhatian yang lebih kepada penafian tuhan selain Yang Maha Esa. Beliau menyebut bahawa perkara ini tidak disentuh oleh ahli tafsir sebelumnya.
Renungan: Al-Qur’an menegaskan Tauhid dengan bahasa yang halus; marilah kita menghayatinya setiap kali mengucapkan kalimah Tauhid.According to Ibn ‘Āshūr, the verse does not say lā ilāha illā ilāhun wāḥid (there is no god but one God) but wa mā min ilāhin illā ilāhun wāḥid (there is no god at all but one God), because the letter min after a negation makes the negation firmer; this gives more weight to denying any god besides the One. He notes that no commentator before him had touched on this.
Reflection: The Qur’an affirms Tauhid with fine language; let us take it to heart each time we say the words of Tauhid.
وَيَسۡتَغۡفِرُونَهُۥۚ
dan memohon keampunan-Nya (sesudah mereka mendengar keterangan-keterangan tentang kepercayaan mereka yang salah dan balasan seksanya)and ask His forgiveness (after hearing the explanations about their wrong beliefs and the punishment for them) (merekathey)
Terjemahan: Oleh itu tidakkah mereka mahu bertaubat kepada Allah dan memohon keampunan-Nya (sesudah mereka mendengar keterangan-keterangan tentang kepercayaan mereka yang salah dan balasan seksanya)? Padahal Allah Maha Pengampun, lagi Maha MengasihaniTranslation: So will they not turn in repentance to Allah and ask His forgiveness (after hearing the explanations about their wrong beliefs and the punishment for them)? Yet Allah is Most Forgiving, Most Merciful.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَالتَّوْبَةُ هِيَ الْإِقْلَاعُ عَمَّا هُوَ عَلَيْهِ فِي الْمُسْتَقْبَلِ وَالرُّجُوعُ إِلَى الِاعْتِقَادِ الْحَقِّ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 6/284 · Shamela ↗ (huraian ayat 73–74)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 6/284 · Shamela ↗ (commentary on 73–74)
Menurut Ibn ‘Āshūr, selepas ancaman Allah mengiringinya dengan galakan kepada petunjuk. Taubat ialah berhenti daripada keadaan lama pada masa hadapan dan kembali kepada kepercayaan yang benar, manakala istighfar ialah memohon ampun atas yang telah lalu dan menyesalinya. Sifat Maha Pengampun lagi Maha Mengasihani pula menunjukkan keampunan dan rahmat yang amat besar.
Renungan: Pintu taubat sentiasa terbuka; marilah kita berhenti, menyesal dan memohon ampun.According to Ibn ‘Āshūr, after the warning Allah follows it with an urging towards guidance. Repentance is leaving one’s former state from now on and returning to the true belief, while istighfār is asking forgiveness for what is past and regretting it. Most Forgiving, Most Merciful shows forgiveness and mercy that are very great.
Reflection: The door of repentance is always open; let us stop, regret and ask forgiveness.
ٱلۡأٓيَٰتِ
keterangan-keterangan (yang tegas yang menunjukkan kesesatan mereka)the signs (that are decisive, showing their error)
يُؤۡفَكُونَ
… dipalingkan (oleh hawa nafsu mereka dari menerima kebenaran yang jelas nyata itu)… are turned away (by their desires from accepting the truth that is so clear) (merekathey)NF
Terjemahan: Tiadalah Al-Masih Ibni Maryam itu melainkan seorang Rasul yang telah terdahulu sebelumnya beberapa orang Rasul, dan ibunya seorang perempuan yang amat benar, mereka berdua adalah memakan makanan (seperti kamu juga). Lihatlah bagaimana Kami jelaskan kepada mereka (Ahli Kitab itu) keterangan-keterangan (yang tegas yang menunjukkan kesesatan mereka), kemudian lihatlah bagaimana mereka dipalingkan (oleh hawa nafsu mereka dari menerima kebenaran yang jelas nyata itu)Translation: Al-Masih, son of Maryam, is nothing but a Messenger before whom a number of Messengers had passed away; and his mother was a woman most truthful; the two of them used to eat food (just as you do). See how We explain to them (the People of the Book) the signs (that are decisive, showing their error); then see how they are turned away (by their desires from accepting the truth that is so clear).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّ الْمُرَادَ بِكَوْنِهَا صِدِّيقَةً غَايَةُ بُعْدِهَا عَنِ الْمَعَاصِي وَشِدَّةُ جِدِّهَا وَاجْتِهَادِهَا فِي إِقَامَةِ مَرَاسِمِ الْعُبُودِيَّةِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 12/409 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 12/409 · Shamela ↗
Antara huraian ar-Rāzī tentang ṣiddīqah (perempuan yang amat benar): Maryam sangat jauh daripada maksiat dan bersungguh-sungguh menegakkan tuntutan ubudiah (pengabdian kepada Allah); orang yang sempurna dalam sifat ini dinamakan ṣiddīq. Beliau juga menjelaskan bahawa Al-Masih tidak lain hanyalah seorang Rasul seperti Rasul-rasul sebelumnya.
Renungan: Marilah kita mencontohi Maryam: menjauhi maksiat dan bersungguh-sungguh dalam ibadat.One of al-Rāzī’s explanations of ṣiddīqah (a woman of great truthfulness): Maryam was very far from disobedience and earnest in carrying out the duties of servanthood to Allah; one who is complete in this quality is called ṣiddīq. He also explains that al-Masih was no more than a Messenger like the Messengers before him.
Reflection: Let us follow Maryam’s example: keeping far from sin and earnest in worship.
Terjemahan: Katakanlah (wahai Muhammad): "Patutkah kamu menyembah sesuatu yang lain dari Allah, yang tidak berkuasa memberi mudarat kepada kamu dan tidak juga berkuasa memberi manfaat? Padahal Allah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui"Translation: Say (O Muhammad): “Is it right that you worship, besides Allah, something that has no power to bring harm to you and no power either to bring benefit? Yet Allah is the All-Hearing, the All-Knowing.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَحَقِيقَةُ مَعْنَى الْمِلْكِ التَّمَكُّنُ مِنَ التَّصَرُّفِ بِدُونِ مُعَارِضٍ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 6/288 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 6/288 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, soalan dalam ayat ini teguran kepada sesiapa yang menyembah sesuatu selain Allah bersama-Nya. Makna sebenar al-milk (berkuasa memiliki) ialah mampu bertindak tanpa ada yang menghalang, kemudian dipakai bagi keupayaan bertindak tanpa lemah; maka ‘tidak berkuasa memberi mudarat’ bermaksud tidak mampu melakukannya.
Renungan: Hanya Allah yang berkuasa memberi mudarat dan manfaat; marilah kita bergantung kepada-Nya sahaja.According to Ibn ‘Āshūr, the question in this verse is a rebuke to whoever worships something else alongside Allah. The real meaning of al-milk (having power) is being able to act with no one to oppose, then it is used for being able to act without weakness; so having no power to harm means being unable to do it.
Reflection: Only Allah has power to harm and to benefit; let us rely on Him alone.
وَضَلُّواْ
dan juga (sekarang) … telah tersesat (jauh)and (now) too have strayed (far) (merekathey)
Terjemahan: Katakanlah: "Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu melampau dalam ugama kamu secara yang tidak benar, dan janganlah kamu menurut hawa nafsu suatu kaum yang telah sesat sebelum ini dan telah menyesatkan banyak manusia, dan juga (sekarang) mereka telah tersesat (jauh) dari jalan yang betul"Translation: Say: “O People of the Book! Do not exceed the bounds in your religion in a way that is not true, and do not follow the desires of a people who went astray before this, and led many people astray, and (now) too have strayed (far) from the right path.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ الْحَقَّ بَيْنَ طَرَفَيِ الْإِفْرَاطِ وَالتَّفْرِيطِ، وَدِينَ اللَّه بَيْنَ الْغُلُوِّ وَالتَّقْصِيرِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 12/411 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 12/411 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, ghuluw (melampau) ialah lawan cuai, iaitu keluar daripada batas, kerana kebenaran terletak di antara dua hujung, berlebih-lebihan dan cuai, dan agama Allah di antara melampau dan cuai. Hawa nafsu di sini pula ialah mazhab (aliran pegangan) yang diajak oleh syahwat, bukan oleh hujah.
Renungan: Marilah kita beragama dengan seimbang, tidak melampau dan tidak cuai, serta berpegang kepada hujah, bukan kepada nafsu.Al-Rāzī says ghuluw (exceeding the bounds) is the opposite of falling short, that is, going beyond the limit, because the truth lies between two ends, excess and neglect, and Allah’s religion lies between extremism and falling short. Desires here are ways of belief that appetite calls to, not proof.
Reflection: Let us practise our religion with balance, neither extreme nor careless, holding to proof and not to desire.