Terjemahan: Segala puji tertentu bagi Allah yang memiliki dan menguasai segala yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan bagi-Nyalah juga segala puji di akhirat; dan Dialah sahaja Yang Maha Bijaksana, lagi Maha Mendalam pengetahuan-NyaTranslation: All praise belongs to Allah, Who owns and rules everything in the heavens and everything on the earth; and to Him also belongs all the praise in the Hereafter; He alone is All-Wise and All-Aware.
Nota bahasa: لِلَّهِ (ayat 1).Language note: لِلَّهِ (verse 1).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَالْفَاعِلُ الَّذِي فِعْلُهُ عَلَى وَفْقِ الْعِلْمِ هُوَ الْحَكِيمُ، وَالْخَبِيرُ هُوَ الَّذِي يَعْلَمُ عَوَاقِبَ الْأُمُورِ وَبَوَاطِنَهَا»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/191 · Shamela ↗Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/191 · Shamela ↗
Tafsir ar-Rāzī menyebut, al-Ḥakīm (Yang Maha Bijaksana) ialah Zat yang perbuatan-Nya selari dengan ilmu, manakala al-Khabīr (Yang Maha Mendalam pengetahuan-Nya) ialah Zat yang mengetahui kesudahan segala urusan dan hakikat batinnya.
Renungan: Allah mengetahui kesudahan setiap urusan kita; mari kita bertindak dengan ilmu, lalu menyerahkan hasilnya kepada-Nya dengan hati yang tenang.Tafsir al-Rāzī says that al-Ḥakīm (the All-Wise) is the One whose action accords with knowledge, while al-Khabīr (the All-Aware) is the One who knows the outcomes of all matters and their inner realities.
Reflection: Allah knows how each of our affairs will end; let us act with knowledge, then leave the outcome to Him with a calm heart.
Terjemahan: Ia mengetahui apa yang masuk ke bumi serta apa yang keluar daripadanya, dan apa yang turun dari langit serta apa yang naik kepadanya; dan Dialah jua yang Maha Mengasihani, lagi Maha PengampunTranslation: He knows what goes into the earth as well as what emerges from it, and what comes down from the sky as well as what rises up to it; He is indeed the Most Merciful and the Most Forgiving.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهَذَا إِجْمَالٌ قُصِدَ مِنْهُ حَثُّ النَّاسِ عَلَى طَلَبِ أَسْبَابِ الرَّحْمَةِ وَالْمَغْفِرَةِ الْمَرْغُوبِ فِيهِمَا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/138 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/138 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, sifat Allah “Maha Mengasihani, lagi Maha Pengampun” disebut secara ringkas untuk mendorong manusia mencari sebab-sebab rahmat dan keampunan yang mereka dambakan, kerana amal soleh dan kata-kata yang baik naik ke langit.
Renungan: Jika kita mendambakan rahmat dan keampunan Allah, mari kita cari jalannya: amal soleh, kata-kata yang baik dan taubat.According to Ibn ‘Āshūr, the attributes “the Most Merciful and the Most Forgiving” are stated briefly to urge people to seek the means to the mercy and forgiveness they long for, since righteous deeds and good words rise up to the sky.
Reflection: If we long for Allah’s mercy and forgiveness, let us seek the way to them: righteous deeds, good words and repentance.
وَقَالَ
dan … berkataand … said (orang‑orang yang kafir alladzinathose who disbelieve alladhīna)
لَتَأۡتِيَنَّكُمۡ
sesungguhnya … akan datang kepada kamutruly … will come to you (ia (hari kiamat itu)it (the Hour))
Terjemahan: Dan orang-orang yang kafir berkata: "Hari kiamat itu tidak akan datang kepada kami". Katakanlah (wahai Muhammad): "Bahkan (tetap datang). Demi Tuhanku yang mengetahui segala perkara yang ghaib, hari kiamat itu sesungguhnya akan datang kepada kamu". Tiada tersembunyi dari pengetahuan-Nya barang seberat debu yang ada di langit atau di bumi, dan tidak ada yang lebih kecil dari itu atau yang lebih besar melainkan semuanya tertulis di dalam Kitab yang terang nyataTranslation: And those who disbelieve said: “The Hour is not coming to us.” Say (O Muhammad): “Yes indeed (it will come). By my Lord, the Knower of all that is unseen, truly it will come to you.” Not hidden from His knowledge is even a speck of dust’s weight in the heavens or on the earth, and there is nothing smaller than that or greater, but all of it is written in a Book that is clear.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَأَكَّدَ مَا اقْتَضَاهُ بَلى مِنْ إِثْبَاتِ إِتْيَانِ السَّاعَةِ بِالْقَسَمِ عَلَى ذَلِكَ لِلدَّلَالَةِ عَلَى ثِقَةِ الْمُتَكَلِّمِ بِأَنَّهَا آتِيَةٌ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/139 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/139 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, jawapan “Bahkan” dikuatkan lagi dengan sumpah “Demi Tuhanku” untuk menunjukkan keyakinan penuh orang yang berkata bahawa hari kiamat pasti datang, bukan untuk meyakinkan pendengar.
Renungan: Kepastian hari kiamat disampaikan dengan sumpah; mari kita bersiap untuknya dengan yakin, bukan dengan ragu-ragu.According to Ibn ‘Āshūr, the answer “Yes indeed” is further strengthened by the oath “By my Lord” to show the speaker’s full certainty that the Hour will come, not to convince the listeners.
Reflection: The certainty of the Hour is conveyed with an oath; let us prepare for it with conviction, not with doubt.
لِّيَجۡزِيَ
(kedatangan hari kiamat itu) supaya … membalas(the coming of the Hour is) so that … may reward (Dia (Tuhan)He (the Lord))
Terjemahan: (Kedatangan hari kiamat itu) supaya Tuhan membalas orang-orang yang beriman dan beramal soleh; mereka itu akan beroleh keampunan dan limpah kurnia yang muliaTranslation: (The coming of the Hour is) so that the Lord may reward those who have faith and do righteous deeds; such people will have forgiveness and a noble bounty.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمَعْنَى: أَنَّ الْحِكْمَةَ فِي إِيجَادِ السَّاعَةِ لِلْبَعْثِ وَالْحَشْرِ هِيَ جَزَاءُ الصَّالِحِينَ عَلَى صَلَاحِ اعْتِقَادِهِمْ وَأَعْمَالِهِمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/142 · Shamela ↗ (huraian ayat 4–5)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/142 · Shamela ↗ (commentary on 4–5)
Menurut Ibn ‘Āshūr, hikmah didatangkan hari kiamat untuk kebangkitan dan perhimpunan ialah membalas orang-orang soleh atas kebaikan akidah (pegangan iman) dan amal mereka; merekalah yang “akan beroleh keampunan dan limpah kurnia yang mulia”.
Renungan: Tiada amal soleh yang sia-sia di sisi Allah; mari kita teruskan kebaikan walaupun tidak dilihat orang.According to Ibn ‘Āshūr, the wisdom in bringing the Hour, for the resurrection and the gathering, is to reward the righteous for the soundness of their beliefs and their deeds; it is they who “will have forgiveness and a noble bounty”.
Reflection: No righteous deed is wasted with Allah; let us keep doing good even when no one sees it.
مُعَٰجِزِينَ
sambil menyangka dapat melepaskan diri (dari hukuman Kami)thinking they can escape (Our punishment)
Terjemahan: Dan (sebaliknya) orang-orang yang berusaha menentang dan membatalkan ayat-ayat keterangan Kami sambil menyangka dapat melepaskan diri (dari hukuman Kami), - mereka itu akan beroleh azab dari jenis azab seksa yang tidak terperi sakitnyaTranslation: And (on the other hand) those who have striven to oppose and undo Our verses, thinking they can escape (Our punishment) – those will have a punishment of the kind of torment that is painful beyond words.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَكُلُّ ذَلِكَ إِشَارَةٌ إِلَى سَعَةِ الرَّحْمَةِ وَقِلَّةِ الْغَضَبِ بِالنِّسْبَةِ إِلَيْهَا»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/193 · Shamela ↗Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/193 · Shamela ↗
Antara huraian dalam Tafsir ar-Rāzī: ganjaran orang beriman disebut penuh, “keampunan dan limpah kurnia yang mulia”, sedangkan azab orang yang menentang disebut dengan lafaz yang boleh membawa makna “sebahagian” (min tab‘īḍiyyah); semua itu isyarat luasnya rahmat Allah dan sedikitnya kemurkaan berbanding rahmat itu.
Renungan: Rahmat Allah amat luas; mari kita berlari kepadanya dengan taubat, bukan menentang ayat-ayat-Nya.One of the explanations in Tafsir al-Rāzī: the believers’ reward is stated in full, “forgiveness and a noble bounty”, while the punishment of those who oppose is stated with a word that can carry the sense of “a part” (min tab‘īḍiyyah); all this points to the vastness of Allah’s mercy and how small His wrath is beside it.
Reflection: Allah’s mercy is vast; let us run to it with repentance, not oppose His verses.
وَيَرَى
dan … mengetahui (dengan yakin)and … know (with certainty) (orang‑orang yang alladzinathe people who alladhīna)
رَّبِّكَ
Tuhanmu (mengenai hari kiamat dan lain-lainnya)your Lord (about the Hour and other matters)
وَيَهۡدِيٓ
serta yang memimpinand is a guide (ia (keterangan yang diturunkan itu)it (the revelation sent down))
Terjemahan: Dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan, mengetahui (dengan yakin, bahawa keterangan-keterangan) yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu (mengenai hari kiamat dan lain-lainnya) itulah yang benar serta yang memimpin ke jalan Allah Yang Maha Kuasa, lagi Maha TerpujiTranslation: And the people who have been given knowledge know (with certainty that the revelation) which has been sent down to you from your Lord (about the Hour and other matters) is the very truth, and that it is a guide to the path of Allah, the All-Mighty, the Most Praiseworthy.
Nota bahasa: هُوَ (ayat 6).Language note: هُوَ (verse 6).
Nota nahu: وَيَهْدِىٓ (ayat 6).Grammar note: وَيَهْدِىٓ (verse 6).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَاخْتِيرَ فِعْلُ الرُّؤْيَةِ هُنَا دُونَ (وَيَعْلَمُ) لِلتَّنْبِيهِ عَلَى أَنَّهُ عِلْمٌ يَقِينِيٌّ بِمَنْزِلَةِ الْعِلْمِ بِالْمَرْئِيَّاتِ الَّتِي عِلْمُهَا ضَرُورِيٌّ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/145 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/145 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, kata kerja “melihat” (yarā) dipilih, bukan “mengetahui” (ya‘lamu), untuk menunjukkan bahawa ilmu mereka tentang kebenaran wahyu itu ilmu yang yakin, seperti yakinnya kita terhadap perkara yang dilihat dengan mata.
Renungan: Ilmu yang benar melahirkan keyakinan; mari kita mendalami al-Qur’an sehingga kebenarannya terasa jelas seperti yang dilihat mata.According to Ibn ‘Āshūr, the verb “see” (yarā) was chosen rather than “know” (ya‘lamu) to show that their knowledge of the truth of the revelation is certain, like our certainty about what we see with our own eyes.
Reflection: True knowledge gives rise to certainty; let us study the Qur’an deeply until its truth feels as clear as what the eye sees.
وَقَالَ
dan … pula berkata (sesama sendiri secara mengejek-ejek)and … also said (among themselves, mockingly) (orang‑orang yang kafir alladzinathose who disbelieve alladhīna)
لَفِي
(sungguh) akan dihidupkan semula dalam (lit. dalam)(truly) will be brought back to life in (lit. in)
Terjemahan: Dan orang-orang yang kafir pula berkata (sesama sendiri secara mengejek-ejek): "Mahukah, kami tunjukkan kepada kamu seorang lelaki yang memberitakan kepada kamu: ‘(Bahawa apabila kamu dihancurkan sehancur-hancurnya sesudah mati), sesungguhnya kamu akan dihidupkan semula dalam bentuk kejadian yang baru’Translation: And those who disbelieve also said (among themselves, mockingly): “Shall we point you to a man who tells you: ‘(That when you have been torn utterly into pieces after death,) truly you will be brought back to life in a new form of creation’?
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ الْمَقْصُودَ فِي الْآيَةِ الِاعْتِبَارُ بِشَنَاعَةِ الْقَوْلِ، وَلَا غَرَضَ يَتَعَلَّقُ بِالْمَقُولِ لَهُمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/147 · Shamela ↗ (huraian ayat 7–8)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/147 · Shamela ↗ (commentary on 7–8)
Menurut Ibn ‘Āshūr, orang yang diajak bercakap dalam kata-kata “Mahukah, kami tunjukkan kepada kamu seorang lelaki …” tidak disebut, kerana tujuan ayat ini ialah mengambil iktibar (pengajaran) daripada buruknya kata-kata itu.
Renungan: Yang dinilai ialah kata-kata kita, bukan siapa pendengarnya; mari kita jaga lidah daripada mengejek kebenaran, di hadapan sesiapa pun.According to Ibn ‘Āshūr, the people addressed in the words “Shall we point you to a man …” are not named, because the aim of the verse is to take a lesson from how ugly those words are.
Reflection: What is weighed is our words, not who hears them; let us guard our tongues from mocking the truth, before anyone at all.
أَفۡتَرَىٰ
adakah … berdusta (lit. mengada-adakan)has … lied (lit. fabricated) (dia (lelaki itu)he (that man))
Terjemahan: Adakah ia berdusta terhadap Allah, atau ia kena penyakit gila?" (Tidak ada satupun) bahkan orang-orang yang tidak percaya kepada hari akhirat tetap beroleh (di sana) azab seksa yang seburuk-buruknya dan (di sini) tetap berada dalam kesesatan yang jauh terpesongTranslation: Has he lied against Allah, or is he afflicted by madness?” (Neither of these;) rather, those who have no faith in the Hereafter will meet (there) the worst torment, and (here) remain in misguidance that is far astray.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ مَنْ يُسَمِّي الْمُهْتَدِي ضَالًّا يَكُونُ هُوَ الضَّالَّ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/195 · Shamela ↗Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/195 · Shamela ↗
Tafsir ar-Rāzī menyebut, mereka menuduh Nabi s.a.w. “kena penyakit gila”, lalu Allah menyatakan merekalah yang berada “dalam kesesatan yang jauh terpesong”, kerana sesiapa yang menamakan orang yang mendapat petunjuk sebagai sesat, dialah sebenarnya yang sesat.
Renungan: Sebelum melabel orang lain sesat, mari kita periksa diri dan pastikan kita sendiri berada di atas petunjuk.Tafsir al-Rāzī says that they accused the Prophet ﷺ of being “afflicted by madness”, and Allah declared that it is they who are in “misguidance that is far astray”, for whoever calls the rightly guided misguided is himself the one astray.
Reflection: Before labelling others as misguided, let us examine ourselves and make sure we are upon guidance.
أَفَلَمۡ
(setelah mereka mengejek-ejek dan membuat tuduhan-tuduhan itu) tidakkah(after their mocking and accusations) did … not
مُّنِيبٖ
yang mahu kembali kepada-Nya (dengan taat dan berbakti)who turns back to Him (in obedience and devotion)
Terjemahan: (Setelah mereka mengejek-ejek dan membuat tuduhan-tuduhan itu) tidakkah mereka melihat apa yang ada di hadapan mereka dan yang ada di belakang mereka dari langit dan bumi (dapatkah mereka melarikan diri)? Jika Kami kehendaki nescaya Kami timbuskan mereka di bumi, atau Kami gugurkan atas mereka ketul-ketul dan serpihan-serpihan dari langit (yang akan membinasakan mereka). Sesungguhnya yang demikian mengandungi satu tanda (yang memberi keinsafan) bagi tiap-tiap hamba Allah yang mahu kembali kepada-Nya (dengan taat dan berbakti)Translation: (After their mocking and accusations,) did they not see what lies in front of them and what lies behind them, of the sky and of the earth (can they flee)? If We will, We would bury them in the earth, or bring down upon them lumps and fragments from the sky (that would destroy them). Truly that contains a sign (that brings awareness) for every servant of Allah who turns back to Him (in obedience and devotion).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَيْ لِكُلِّ مَنْ يَرْجِعُ إِلَى اللَّهِ وَيَتْرُكُ التَّعَصُّبَ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/195 · Shamela ↗Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/195 · Shamela ↗
Tafsir ar-Rāzī menyebut, “hamba Allah yang mahu kembali kepada-Nya” ialah setiap orang yang kembali kepada Allah dan meninggalkan ta‘aṣṣub (fanatik kepada pendirian sendiri); bagi orang seperti itulah langit dan bumi menjadi tanda yang menginsafkan.
Renungan: Fanatik menutup mata hati; mari kita lapangkan dada untuk kebenaran supaya ayat-ayat Allah di sekeliling kita benar-benar menginsafkan.Tafsir al-Rāzī says that “every servant of Allah who turns back to Him” is everyone who returns to Allah and abandons ta‘aṣṣub (blind attachment to one’s own stand); it is for such a person that the sky and the earth become a sign that brings awareness.
Reflection: Blind partisanship closes the heart’s eye; let us open our hearts to the truth so that Allah’s signs around us truly awaken us.
أَوِّبِي
ulang-ulangilah mengucap tasbihrepeat glorification (engkau (wahai gunung‑ganang)you (O mountains))
مَعَهُۥ
bersama-sama dengan Nabi Daud (lit. bersamanya)together with the Prophet Dawud (lit. with him)
وَٱلطَّيۡرَۖ
dan wahai burung-burung (bertasbihlah bersama-sama dengannya)and O birds (glorify together with him)
Terjemahan: Dan demi sesungguhnya, Kami telah memberikan kepada Nabi Daud limpah kurnia dari Kami (sambil Kami berfirman): "Hai gunung-ganang, ulang-ulangilah mengucap tasbih bersama-sama dengan Nabi Daud, dan wahai burung-burung (bertasbihlah bersama-sama dengannya)!" Dan juga telah melembutkan besi baginyaTranslation: And truly, We gave the Prophet Dawud bounty from Us (as We said): “O mountains, repeat glorification together with the Prophet Dawud, and O birds (glorify together with him)!” And We also softened iron for him.
Nota nahu: أَوِّبِى (ayat 10).Grammar note: أَوِّبِى (verse 10).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«ثُمَّ إِنَّ مِنَ النَّاسِ مَنْ لَمْ يُوَافِقْهُ وَهُمُ الْقَاسِيَةُ قُلُوبُهُمُ الَّتِي هِيَ أَشَدُّ قَسْوَةً مِنَ الْحِجَارَةِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/196 · Shamela ↗Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/196 · Shamela ↗
Tafsir ar-Rāzī menyebut, gunung-ganang dan burung-burung turut bertasbih bersama Nabi Daud, maka makhluk lain lebih patut turut serta; namun ada manusia yang tidak turut serta, iaitu mereka yang keras hatinya, lebih keras daripada batu.
Renungan: Jika gunung dan burung bertasbih, janganlah hati kita lebih keras daripada batu; mari kita lembutkan hati dengan zikir dan tasbih.Tafsir al-Rāzī says that the mountains and the birds joined the Prophet Dawud in glorification, so other creatures had all the more reason to join; yet there are people who did not join him, those whose hearts are hard, harder than stone.
Reflection: If mountains and birds glorify Allah, let our hearts not be harder than stone; let us soften them with remembrance and glorification.
وَٱعۡمَلُواْ
dan kerjakanlah (wahai Daud dan umatmu)and do (O Dawud and your people) (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: (Serta Kami wahyukan kepadanya): "Buatlah baju-baju besi yang luas labuh, dan sempurnakanlah jalinannya sekadar yang dikehendaki; dan kerjakanlah kamu (wahai Daud dan umatmu) amal-amal yang soleh, sesungguhnya Aku Maha Melihat akan segala yang kamu kerjakan"Translation: (And We revealed to him): “Make wide, long coats of mail, and perfect their weaving as is needed; and do righteous deeds (O Dawud and your people); truly I am All-Seeing of all that you do.”
Nota nahu: بِمَا تَعْمَلُونَ (ayat 11).Grammar note: بِمَا تَعْمَلُونَ (verse 11).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَلَمَّا سَخَّرَ اللَّهُ لَهُ مَا اسْتَصْعَبَ عَلَى غَيْرِهِ أَتْبَعَهُ بِأَمْرِهِ بِالشُّكْرِ بِأَنْ يَعْمَلَ صَالِحًا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/157 · Shamela ↗ (huraian ayat 10–11)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/157 · Shamela ↗ (commentary on 10–11)
Menurut Ibn ‘Āshūr, setelah Allah memudahkan bagi Nabi Daud apa yang sukar bagi orang lain, Dia menyusulinya dengan perintah bersyukur, iaitu beramal soleh, kerana syukur itu dengan amal yang diredhai Pemberi nikmat.
Renungan: Setiap kemudahan dalam kerja kita ialah nikmat; mari kita syukurinya dengan amal soleh, kerana Allah “Maha Melihat akan segala yang kamu kerjakan”.According to Ibn ‘Āshūr, after Allah made easy for the Prophet Dawud what was hard for others, He followed it with the command to give thanks by doing righteous deeds, since gratitude is shown through deeds that please the Giver of favours.
Reflection: Every ease in our work is a favour; let us give thanks for it with righteous deeds, for Allah is “All-Seeing of all that you do”.
ٱلرِّيحَ
(kuasa menggunakan) angin (untuk perjalanannya)(power to use) the wind (for his journeys)
Terjemahan: Dan Kami kurniakan kepada Nabi Sulaiman kuasa menggunakan angin untuk perjalanannya: sepagi perjalanannya adalah menyamai perjalanan biasa sebulan, dan sepetang perjalanannya adalah menyamai perjalanan biasa sebulan; dan Kami alirkan baginya matair dari tembaga; dan (Kami mudahkan) sebahagian dari jin untuk bekerja di hadapannya dengan izin Tuhannya. Dan sesiapa dari jin itu yang menyeleweng dari perintah Kami, Kami akan merasakannya (pukulan) dari azab api nerakaTranslation: And We granted the Prophet Sulaiman power to use the wind for his journeys: its morning journey equalled an ordinary journey of a month, and its evening journey equalled an ordinary journey of a month; and We made a spring of copper flow for him; and (We made subservient) some of the jinn to work before him with his Lord’s permission. And whoever of them deviates from Our command, We shall give him a taste (of a blow) of the punishment of the Blazing Fire.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَذَلِكَ لِأَنَّ الرَّبَّ لَفْظٌ يُنْبِئُ عَنِ الرحمة»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/198 · Shamela ↗Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/198 · Shamela ↗
Tafsir ar-Rāzī menyebut, ayat ini berkata “dengan izin Tuhannya” dengan lafaz Rabb (Tuhan yang memelihara), kerana lafaz itu membayangkan rahmat ketika menyebut penjagaan Nabi Sulaiman; tetapi ketika menyebut hukuman, ia berkata “perintah Kami” dengan lafaz keagungan yang menambah rasa gerun.
Renungan: Mari kita mengharap rahmat Tuhan kita dan takut menyimpang daripada perintah-Nya.Tafsir al-Rāzī says that the verse says “with his Lord’s permission”, using the word Rabb (the Lord who nurtures), because that word suggests mercy when speaking of the care given to the Prophet Sulaiman; but when speaking of punishment it says “Our command”, with the plural of majesty that adds awe.
Reflection: Let us hope for our Lord’s mercy and fear deviating from His command.
ٱعۡمَلُوٓاْ
(setelah itu Kami perintahkan): beramallah(then We commanded): work (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Golongan jin itu membuat untuk Nabi Sulaiman apa yang ia kehendaki dari bangunan-bangunan yang tinggi, dan patung-patung, dan pinggan-pinggan hidangan yang besar seperti kolam, serta periuk-periuk besar yang tetap di atas tukunya. (Setelah itu Kami perintahkan): "Beramallah kamu wahai keluarga Daud untuk bersyukur!" Dan sememangnya sedikit sekali di antara hamba-hamba-Ku yang bersyukurTranslation: The jinn would make for the Prophet Sulaiman whatever he wished of lofty buildings, statues, great serving bowls like basins, and large cooking pots fixed on their stands. (Then We commanded): “Work, O family of Dawud, in gratitude!” And truly few among My servants are those who are grateful.
Nota nahu: وَجِفَانٍ كَٱلْجَوَابِ (ayat 13).Grammar note: وَجِفَانٍ كَٱلْجَوَابِ (verse 13).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَذُيِّلَ بِقَوْلِهِ: وَقَلِيلٌ مِنْ عِبادِيَ الشَّكُورُ فَهُوَ مِنْ تَمَامِ الْمَقُولِ، وَفِيهِ حَثٌّ عَلَى الِاهْتِمَامِ بِالْعَمَلِ الصَّالِحِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/163 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/163 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, penutup ayat “sedikit sekali … yang bersyukur” termasuk dalam perintah yang sama kepada keluarga Daud, dan padanya ada dorongan supaya bersungguh-sungguh dalam amal soleh.
Renungan: Syukur bukan sekadar ucapan; mari kita berusaha menjadi antara yang sedikit itu dengan amal soleh setiap hari.According to Ibn ‘Āshūr, the closing words “few among My servants are those who are grateful” belong to the same command to the family of Dawud, and they urge earnest care for righteous deeds.
Reflection: Gratitude is more than words; let us strive to be among those few through righteous deeds every day.
تَبَيَّنَتِ
ternyatalah kepada… came to realise (lit. became clear) (golongan jin itu al‑jinnuthe jinn al‑jinnu)
Terjemahan: Setelah Kami tetapkan berlakunya kematian Nabi Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka tentang kematiannya melainkan semut putih (anai-anai) yang telah memakan tongkatnya. Maka apabila ia tumbang, ternyatalah kepada golongan jin itu, bahawa kalaulah mereka sedia, mengetahui perkara yang ghaib nescaya mereka tidak tinggal sedemikian lamanya di dalam azab (kerja berat) yang menghinaTranslation: When We decreed death for the Prophet Sulaiman, nothing showed them his death except the termite that was eating his staff. Then when he fell down, the jinn came to realise that if they had had knowledge of the unseen, they would not have stayed so long in the punishment (of hard labour) that humiliates.
Nota nahu: فَلَمَّا (ayat 14, dua kali).Grammar note: فَلَمَّا (verse 14, twice).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«تَنْبِيهًا لِلْخَلْقِ عَلَى أَنَّ الْمَوْتَ لَا بُدَّ مِنْهُ، وَلَوْ نَجَا مِنْهُ أَحَدٌ لَكَانَ سُلَيْمَانُ أَوْلَى بِالنَّجَاةِ مِنْهُ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/199 · Shamela ↗Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/199 · Shamela ↗
Tafsir ar-Rāzī menyebut, setelah menerangkan kebesaran Nabi Sulaiman dan apa yang ditundukkan baginya, Allah menyatakan baginda tetap tidak terlepas daripada kematian, sebagai peringatan bahawa mati pasti berlaku; jika ada yang terselamat daripadanya, tentu Nabi Sulaiman lebih layak.
Renungan: Kuasa dan kekayaan tidak menangguhkan ajal; mari kita bersedia untuk mati dengan amal, bukan dengan angan-angan.Tafsir al-Rāzī says that after showing the greatness of the Prophet Sulaiman and what was made subservient to him, Allah states that he was still not spared from death, as a reminder that death is certain; had anyone escaped it, the Prophet Sulaiman would have been more fitting.
Reflection: Power and wealth do not delay the appointed end; let us prepare for death with deeds, not with wishful hopes.
جَنَّتَانِ
iaitu: dua kumpulan kebun (yang luas lagi subur)namely: two groups of gardens (wide and fertile)
كُلُواْ
(lalu dikatakan kepada mereka): makanlah(and it was said to them): eat (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Demi sesungguhnya, adalah bagi penduduk negeri Saba', satu tanda (yang membuktikan kemurahan Allah) yang terdapat di tempat tinggal mereka, iaitu: dua kumpulan kebun (yang luas lagi subur), yang terletak di sebelah kanan dan di sebelah kiri (kampung mereka). (Lalu dikatakan kepada mereka): "Makanlah dari rezeki pemberian Tuhan kamu dan bersyukurlah kepada-Nya; (negeri kamu ini adalah) negeri yang baik (aman dan makmur), dan (Tuhan kamu adalah) Tuhan yang Maha Pengampun"Translation: Truly, for the people of Saba’ there was a sign (proving the generosity of Allah) in their dwelling place: two groups of gardens (wide and fertile), on the right side and on the left (of their village). (And it was said to them): “Eat of your Lord’s provision and give thanks to Him; (this land of yours is) a good land (safe and prosperous), and (your Lord is) a Most Forgiving Lord.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَقَدْ كَانَ فِي إِنْعَامِهِ عَلَيْهِمْ مَا هُوَ دَلِيلٌ عَلَى وُجُودِهِ ثُمَّ عَلَى وَحْدَانِيَّتِهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/166 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/166 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, nikmat yang Allah kurniakan kepada penduduk negeri Saba’ sudah cukup menjadi bukti tentang wujud-Nya, kemudian tentang keesaan-Nya; namun mereka tidak mengambil petunjuk daripada tanda itu.
Renungan: Setiap nikmat ialah tanda yang menunjuk kepada Pemberinya; mari kita melihat di sebalik nikmat itu dan bersyukur kepada-Nya.According to Ibn ‘Āshūr, the favours Allah granted the people of Saba’ were in themselves proof of His existence and then of His Oneness; yet they took no guidance from that sign.
Reflection: Every favour is a sign pointing to its Giver; let us look beyond the favour and give thanks to Him.
Terjemahan: Maka mereka berpaling ingkar, lalu Kami hantarkan kepada mereka banjir yang membinasakan, dan Kami gantikan dua kumpulan kebun mereka (yang subur) itu dengan dua kumpulan kebun yang berisi dengan pohon-pohon yang pahit buahnya, dan pohon-pohon yang jarang berbuah, serta sedikit pohon-pohon bidaraTranslation: But they turned away in denial, so We sent against them a flood that destroys, and We replaced their two (fertile) groups of gardens with two groups of gardens filled with trees whose fruit is bitter, and trees that seldom bear fruit, and a few lote trees.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَبَيَّنَ كَمَالَ ظُلْمِهِمْ بِالْإِعْرَاضِ بَعْدَ إِبَانَةِ الْآيَةِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/201 · Shamela ↗ (huraian ayat 16–17)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/201 · Shamela ↗ (commentary on 16–17)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, Allah menerangkan betapa besarnya kezaliman mereka kerana berpaling setelah tanda itu dijelaskan kepada mereka; lalu kebun-kebun mereka yang subur diganti dengan kebun yang pahit buahnya dan jarang berbuah, sebagai tanda kerosakan yang berpanjangan.
Renungan: Berpaling setelah diberi peringatan ialah kezaliman yang besar; mari kita sambut setiap peringatan Allah dengan taat.Tafsir al-Rāzī says that Allah shows how great their wrongdoing was, for they turned away after the sign had been made clear to them; so their fertile gardens were replaced with gardens of bitter fruit that seldom bore fruit, a sign of lasting ruin.
Reflection: Turning away after being reminded is a great wrong; let us meet every reminder from Allah with obedience.
كَفَرُواْۖ
kekufuran mereka (lit. mereka kufur)their disbelief (lit. they disbelieved) (merekathey)
Terjemahan: Demikianlah Kami membalas mereka disebabkan kekufuran mereka; dan sebenarnya Kami tidak menimpakan balasan yang demikian melainkan kepada orang-orang yang amat kufurTranslation: Thus We repaid them because of their disbelief; and in truth We do not bring such a repayment except upon those who greatly disbelieve.
Nota nahu: بِمَا كَفَرُوا۟ (ayat 17).Grammar note: بِمَا كَفَرُوا۟ (verse 17).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمَعْنَى: مَا يُجَازَى ذَلِكَ الْجَزَاءُ إِلَّا الْكَفُورُ لِأَنَّ ذَلِكَ الْجَزَاءَ عَظِيمٌ فِي نَوْعِهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/173 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/173 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, maksud ayat ini ialah balasan seberat itu tidak ditimpakan kecuali kepada orang yang amat kufur, kerana balasan itu besar dalam jenisnya.
Renungan: Kufur nikmat boleh membawa kepada kehilangan yang besar; mari kita jaga nikmat yang ada dengan syukur dan taat.According to Ibn ‘Āshūr, the verse means that a repayment as heavy as this is brought only upon those who greatly disbelieve, because it is a great repayment of its kind.
Reflection: Ingratitude for favours can lead to great loss; let us guard the favours we have with gratitude and obedience.
بَيۡنَهُمۡ
di antara tempat tinggal mereka (di negeri Yaman) (lit. di antara mereka)between their dwelling places (in the land of Yemen) (lit. between them)
ظَٰهِرَةٗ
yang jelas kelihatan (kepada orang-orang yang melalui jalan itu)clearly visible (to those travelling that road)
ٱلسَّيۡرَۖ
jarak perjalanan (sekadar yang dapat dijadikan tempat-tempat persinggahan)the distances of travel (so as to serve as stopping places)
سِيرُواْ
(serta dikatakan kepada mereka): berjalanlah(and it was said to them): travel (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Dan - di antara tempat tinggal mereka (di negeri Yaman) dengan bandar-bandar (di daerah negeri Syam) yang Kami limpahkan berkat kepadanya (dengan kemakmuran), - Kami adakan beberapa buah bandar yang jelas kelihatan (kepada orang-orang yang melalui jalan itu), dan Kami tentukan jarak perjalanan di antaranya (sekadar yang dapat dijadikan tempat-tempat persinggahan), (serta dikatakan kepada mereka): "Berjalanlah kamu di bandar-bandar itu pada bila-bila masa yang kamu suka, malam dan siang, dalam keadaan yang aman"Translation: And between their dwelling places (in the land of Yemen) and the towns (in the land of Syam) that We blessed (with prosperity), We placed towns clearly visible (to those travelling that road), and We set the distances of travel between them (so as to serve as stopping places); (and it was said to them): “Travel in those towns whenever you like, by night and by day, in safety.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَتَقْدِيمُ اللَّيَالِي على الْأَيَّام للاهتمام بِهَا فِي مَقَامِ الِامْتِنَانِ لِأَنَّ الْمُسَافِرِينَ أَحْوَجُ إِلَى الْأَمْنِ فِي اللَّيْلِ مِنْهُمْ إِلَيْهِ فِي النَّهَارِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/176 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/176 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, “malam” didahulukan sebelum “siang” kerana ayat ini menyebut nikmat, dan musafir lebih memerlukan keamanan pada waktu malam berbanding siang.
Renungan: Keamanan dalam perjalanan ialah nikmat yang besar; mari kita mensyukurinya setiap kali kita pergi dan pulang dengan selamat.According to Ibn ‘Āshūr, “night” is placed before “day” because the verse is recounting a favour, and travellers need safety at night more than in the daytime.
Reflection: Safety on a journey is a great favour; let us give thanks for it each time we set out and return safely.
فَقَالُواْ
(maka kemakmuran dan kemudahan itu menjadikan mereka sombong dan kufur) lalu … berkata(then that prosperity and ease made them arrogant and ungrateful) so … said (merekathey)
أَسۡفَارِنَا
perjalanan kami (di antara sebuah bandar dengan yang lain)of our journeys (between one town and another)
فَجَعَلۡنَٰهُمۡ
lalu … jadikan (kisah perbuatan derhaka) merekaso … made (the story of the misdeeds of) them (KamiWe)
Terjemahan: (Maka kemakmuran dan kemudahan itu menjadikan mereka sombong dan kufur) lalu berkata: "Wahai Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami (di antara sebuah bandar dengan yang lain)", dan mereka berlaku zalim kepada diri mereka sendiri; lalu Kami jadikan (kisah perbuatan derhaka) mereka buah mulut orang ramai, serta Kami pecah belahkan mereka berkecai-kecai. Sesungguhnya kisah mereka yang tersebut mengandungi tanda-tanda (yang besar pengajarannya bagi tiap-tiap seorang (mukmin) yang sentiasa bersikap sabar, lagi sentiasa bersyukurTranslation: (Then that prosperity and ease made them arrogant and ungrateful,) so they said: “O our Lord, lengthen the distance of our journeys (between one town and another)”; and they wronged their own selves. So We made (the story of the misdeeds of) them the talk of the people, and We scattered them into fragments. Truly that story of theirs contains signs (with great lessons) for every (believer) who is ever patient and ever grateful.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَلَمَّا تَمَّتِ النِّعْمَةُ بَطَرُوهَا فَحَلَّتْ بِهِمْ أَسْبَابُ سَلْبِهَا عَنْهُمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/176 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/176 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, apabila nikmat itu telah sempurna, mereka bersikap angkuh terhadapnya, lalu datanglah sebab-sebab nikmat itu ditarik daripada mereka; antara sebab terbesar hilangnya nikmat ialah kufur nikmat.
Renungan: Kisah ini pengajaran bagi orang yang “sentiasa bersikap sabar, lagi sentiasa bersyukur”; mari kita jaga nikmat dengan syukur.According to Ibn ‘Āshūr, once the favour was complete they grew arrogant over it, and so the causes of its removal befell them; among the greatest causes of losing a favour is ingratitude for it.
Reflection: This story is a lesson for one who is “ever patient and ever grateful”; let us guard our favours with gratitude.
ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
orang-orang yang beriman (yang tidak terpedaya kepada hasutannya)the believers (who were not deceived by his incitement)
Terjemahan: Dan sesungguhnya Iblis telah dapati sangkaannya tepat terhadap mereka, iaitu mereka menurutnya, kecuali sebahagian dari orang-orang yang beriman (yang tidak terpedaya kepada hasutannya)Translation: And truly Iblis found his assumption about them to be true; namely, they followed him – all but a group of the believers (who were not deceived by his incitement).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَالْمَقْصُودُ تَنْبِيهُ الْمُؤْمِنِينَ إِلَى مَكَائِدِ الشَّيْطَانِ وَسُوءِ عَاقِبَةِ أَتْبَاعِهِ لِيَحْذَرُوهُ وَيَسْتَيْقِظُوا لِكَيْدِهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/182 · Shamela ↗ (huraian ayat 20–21)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/182 · Shamela ↗ (commentary on 20–21)
Menurut Ibn ‘Āshūr, tujuan ayat ini ialah mengingatkan orang beriman tentang tipu daya syaitan dan buruknya kesudahan pengikutnya, supaya mereka berwaspada dan sedar akan perangkapnya.
Renungan: Iblis menyangka kita akan mengikutnya; mari kita patahkan sangkaannya dengan menjadi antara “sebahagian dari orang-orang yang beriman” itu.According to Ibn ‘Āshūr, the aim of this verse is to alert the believers to the schemes of Satan and the evil end of his followers, so that they beware of him and stay awake to his snares.
Reflection: Iblis assumes we will follow him; let us prove his assumption wrong by being among that “group of the believers”.
لِنَعۡلَمَ
untuk menjadi ujian bagi melahirkan pengetahuan Kamias a test to bring to light Our knowledge of (KamiWe)
Terjemahan: Dan sememangnya tiadalah bagi Iblis sebarang kuasa untuk menyesatkan mereka, melainkan untuk menjadi ujian bagi melahirkan pengetahuan Kami tentang siapakah yang benar-benar beriman kepada hari akhirat dan siapa pula yang ragu-ragu terhadapnya. Dan (ingatlah) Tuhanmu sentiasa mengawal serta mengawasi tiap-tiap sesuatuTranslation: And indeed Iblis had no power over them to mislead them, except as a test to bring to light Our knowledge of who truly believes in the Hereafter and who is in doubt about it. And (remember), your Lord ever guards and watches over every thing.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَالْحِفْظُ يَدْخُلُ فِي مَفْهُومِهِ الْعِلْمُ وَالْقُدْرَةُ، إِذِ الْجَاهِلُ بِالشَّيْءِ لَا يُمْكِنُهُ حِفْظُهُ ولا العاجز»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/203 · Shamela ↗Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/203 · Shamela ↗
Tafsir ar-Rāzī menyebut, sifat Allah yang “mengawal serta mengawasi” (ḥafīẓ) mengandungi makna ilmu dan kuasa, kerana orang yang jahil tentang sesuatu tidak mampu menjaganya, begitu juga orang yang lemah; Allah berkuasa menghalang Iblis dan mengetahui apa yang akan berlaku.
Renungan: Allah mengetahui dan berkuasa atas segalanya; mari kita berlindung kepada-Nya daripada hasutan syaitan.Tafsir al-Rāzī says that Allah’s attribute of guarding and watching over (ḥafīẓ) includes knowledge and power, for one who is ignorant of a thing cannot guard it, nor can one who is powerless; Allah is able to hold Iblis back and knows what will happen.
Reflection: Allah knows all and has power over all; let us seek refuge in Him from the incitement of Satan.
قُلِ
katakanlah (wahai Muhammad kepada kaum musyrik)say (O Muhammad, to the people of shirk) (engkauyou)
فِيهِمَا
dalam (mencipta dan mentadbirkan) langit dan bumi (lit. pada keduanya)in (creating and governing) the heavens and the earth (lit. in the two)
Terjemahan: Katakanlah (wahai Muhammad kepada kaum musyrik): "Serukanlah makhluk-makhluk yang kamu dakwakan sebagai tuhan selain dari Allah; mereka tidak memiliki kuasa seberat debu pun di langit dan di bumi, dan mereka tiada sebarang bahagian perkongsian (dengan Allah) dalam (mencipta dan mentadbirkan) langit dan bumi, dan Allah pula tidak mendapat sebarang pertolongan dari mereka"Translation: Say (O Muhammad, to the people of shirk): “Call upon those beings whom you claim as gods besides Allah; they do not own even a speck of dust’s weight, whether in the heavens or upon the earth; they have no share of partnership (with Allah) in (creating and governing) the heavens and the earth, and Allah has no help from them.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَقَدْ نُفِيَ عَنْهُمْ مِلْكُ أَحْقَرِ الْأَشْيَاءِ وَهُوَ مَا يُسَاوِي ذَرَّةً مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/186 · Shamela ↗ (huraian ayat 22–23)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/186 · Shamela ↗ (commentary on 22–23)
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini menafikan daripada sembahan-sembahan itu pemilikan terhadap benda yang paling kecil, iaitu yang seberat debu di langit dan di bumi; perintah “Serukanlah” itu pula bertujuan menyalahkan dan menempelak mereka.
Renungan: Apa yang tidak memiliki seberat debu pun tidak layak kita gantungkan harapan; mari kita halakan doa kepada Allah sahaja.According to Ibn ‘Āshūr, this verse denies those false gods ownership of even the smallest thing, the weight of a speck of dust in the heavens and on the earth; and the command “Call upon” is meant to fault and rebuke them.
Reflection: What does not own even a speck of dust does not deserve our hopes; let us direct our prayers to Allah alone.
أَذِنَ
telah diizinkan Allah (lit. … mengizinkan)Allah has permitted (lit. … permitted) (Dia (Allah)He (Allah))
حَتَّىٰٓ
(maka orang-orang yang hendak memohon syafaat terpaksa menunggu izin itu dengan penuh perasaan takut dan bimbang) sehingga(so those who seek intercession must wait for that permission, full of fear and anxiety) until
فُزِّعَ
dihapuskan Allah perasaan takut (lit. dihilangkan rasa takut)the fear was removed by Allah (lit. fear was lifted) (dari hati mereka ‘an qulubihimfrom their hearts ‘an qulūbihim)NF
قُلُوبِهِمۡ
hati mereka (dengan pemberian izin itu)their hearts (by the granting of that permission)
قَالُواْ
bersukarialah … dengan bertanya-tanyaan sesama sendiri (lit. berkata)… joyfully asked one another (lit. said) (merekathey)
قَالَ
telah dititahkan oleh (lit. telah berkata)has … decreed (lit. said) (Tuhan kamu rabbukumyour Lord rabbukum)
قَالُواْ
(sebahagian di antara) … menjawab (lit. berkata)(some of) … answered (lit. said) (merekathey)
Terjemahan: Dan tidak berfaedah syafaat di sisi Allah kecuali bagi orang yang telah diizinkan Allah, (maka orang-orang yang hendak memohon syafaat terpaksa menunggu izin itu dengan penuh perasaan takut dan bimbang) sehingga apabila dihapuskan Allah perasaan takut dari hati mereka (dengan pemberian izin itu) bersukarialah mereka dengan bertanya-tanyaan sesama sendiri: "Apakah yang telah dititahkan oleh Tuhan kamu?" Sebahagian di antara mereka menjawab: "Tuhan telah menitahkan kebenaran"; dan Dialah jua Yang Maha Tinggi keadaan-Nya, lagi Maha Besar kekuasaan-NyaTranslation: And intercession does not benefit with Allah except for the one whom Allah has permitted (so those who seek intercession must wait for that permission, full of fear and anxiety), until, when the fear was removed by Allah from their hearts (by the granting of that permission), they joyfully asked one another: “What has your Lord decreed?” Some of them answered: “The Lord has decreed the truth.” Most High is He in His state, Most Great in His power.
Nota nahu: فُزِّعَ عَن قُلُوبِهِمْ (ayat 23).Grammar note: فُزِّعَ عَن قُلُوبِهِمْ (verse 23).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَأَنَّ الَّذِينَ يَرْجُونَ أَنْ يُشَفَّعَ فِيهِمْ يَنْتَظِرُونَ مِمَّنْ هُوَ أَهْلٌ لِأَنْ يَشْفَعَ وَهُمْ فِي فَزَعٍ مِنَ الْإِشْفَاقِ أَنْ لَا يُؤْذَنَ بِالشَّفَاعَةِ فِيهِمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/189 · Shamela ↗ (huraian ayat 22–23)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/189 · Shamela ↗ (commentary on 22–23)
Menurut Ibn ‘Āshūr, mereka yang berharap diberi syafaat (pertolongan di akhirat) menunggu orang yang layak memberi syafaat, dalam keadaan takut kalau-kalau syafaat untuk mereka tidak diizinkan; apabila Allah memberi izin, hilanglah rasa takut itu daripada hati mereka.
Renungan: Syafaat hanya dengan izin Allah; mari kita bersedia dengan iman dan amal, bukan bergantung kepada selain-Nya.According to Ibn ‘Āshūr, those who hope for intercession wait for one who is worthy to intercede, fearful that intercession for them will not be permitted; when Allah grants permission, that fear is removed from their hearts.
Reflection: Intercession is only by Allah’s permission; let us prepare with faith and deeds, not rely on anyone besides Him.
قُلۡ
bertanyalah (wahai Muhammad kepada orang-orang musyrik itu) (lit. katakanlah)ask (O Muhammad, of those people of shirk) (lit. say) (engkauyou)
يَرۡزُقُكُم
memberi rezeki kepada kamugives you provision (dia (merujuk siapa)he (refers to who))
وَإِنَّآ
dan sesungguhnya (tiap-tiap satu golongan), sama ada golongan kami ahli tauhidand truly (each group), whether we, the people of tawhid
لَعَلَىٰ
(tidak sunyi daripada salah satu dari dua keadaan): (sungguh) keadaan tetapnya di atas(cannot be free of one of two states): (truly) standing firm upon
Terjemahan: Bertanyalah (wahai Muhammad kepada orang-orang musyrik itu): "Siapakah yang memberi rezeki kepada kamu dari langit dan bumi?" Terangkanlah jawabnya: "Ialah Allah; dan sesungguhnya (tiap-tiap satu golongan), sama ada golongan kami ahli tauhid atau golongan kamu ahli syirik - (tidak sunyi daripada salah satu dari dua keadaan): keadaan tetapnya di atas hidayah petunjuk atau tenggelamnya dalam kesesatan yang jelas nyata"Translation: Ask (O Muhammad, of those people of shirk): “Who gives you provision from the heavens and the earth?” State the answer: “It is Allah; and truly (each group), whether we, the people of tawhid, or you, the people of shirk, (cannot be free of one of two states): standing firm upon guidance, or sunk in clear misguidance.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«هَذَا إِرْشَادٌ مِنَ اللَّهِ لِرَسُولِهِ إِلَى الْمُنَاظَرَاتِ الْجَارِيَةِ فِي الْعُلُومِ وَغَيْرِهَا»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/205 · Shamela ↗Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/205 · Shamela ↗
Tafsir ar-Rāzī menyebut, ayat ini mengajar Rasulullah s.a.w. adab berbincang: tidak terus berkata kepada lawan “engkau salah” sehingga dia marah dan tidak dapat berfikir, tetapi mengajak sama-sama menilai pihak mana yang di atas petunjuk; al-Zamakhsharī dalam al-Kashshāf (3/581) juga menamakannya kata-kata yang adil.
Renungan: Kebenaran lebih mudah diterima dengan bahasa yang adil; mari kita berbincang dengan tenang.Tafsir al-Rāzī says that this verse teaches the Messenger ﷺ the manners of discussion: not to tell the other side outright “you are wrong”, which angers him and stops him thinking, but to invite him to weigh together which side is upon guidance; al-Zamakhsharī in al-Kashshāf (3/581) also calls it fair speech.
Reflection: The truth is more easily accepted in fair words; let us discuss calmly.
تُسۡـَٔلُونَ
bertanggungjawab (lit. ditanya)be answerable (lit. be asked) (kamu sekalianyou all)NF
Terjemahan: (Oleh itu) katakanlah (wahai Muhammad): "Kamu tidak akan bertanggungjawab tentang kesalahan yang kami lakukan, dan kami pula tidak akan bertanggungjawab tentang apa yang kamu kerjakan"Translation: (Therefore) say (O Muhammad): “You will not be answerable for the wrongs we committed, and we in turn will not be answerable for what you do.”
Nota nahu: عَمَّآ أَجْرَمْنَا dan عَمَّا تَعْمَلُونَ (ayat 25).Grammar note: عَمَّآ أَجْرَمْنَا and عَمَّا تَعْمَلُونَ (verse 25).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَضَافَ الْإِجْرَامَ إِلَى النَّفْسِ وَقَالَ فِي حَقِّهِمْ: وَلا نُسْئَلُ عَمَّا تَعْمَلُونَ ذَكَرَ بِلَفْظِ الْعَمَلِ لِئَلَّا يَحْصُلَ الإغضاب المانع من الفهم»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/206 · Shamela ↗Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/206 · Shamela ↗
Tafsir ar-Rāzī menyebut, “kesalahan” dinisbahkan kepada diri sendiri, “yang kami lakukan”, manakala bagi pihak lawan disebut “apa yang kamu kerjakan”, supaya tidak timbul kemarahan yang menghalang kefahaman; nisbah ini juga diperhatikan oleh al-Zamakhsharī dalam al-Kashshāf (3/582).
Renungan: Ketika berbeza pendapat, mari kita mulakan dengan menyemak kesilapan sendiri dan memilih kata-kata yang tidak menyakitkan.Tafsir al-Rāzī says that “wrongs” are attributed to oneself, “the wrongs we committed”, while for the other side it says “what you do”, so that no anger arises to block understanding; this wording is also noted by al-Zamakhsharī in al-Kashshāf (3/582).
Reflection: When we differ, let us begin by checking our own faults and choosing words that do not wound.
بَيۡنَنَا
kita semua (pada hari kiamat) (lit. di antara kita)all of us (on the Day of Resurrection) (lit. between us)
بِٱلۡحَقِّ
dengan penyelesaian yang benar (lit. dengan kebenaran)with true judgement (lit. with the truth)
Terjemahan: Katakanlah lagi: "Tuhan kita akan menghimpunkan kita semua (pada hari kiamat), kemudian Ia akan menyelesaikan perselisihan yang ada di antara kita dengan penyelesaian yang benar; dan Dialah jua Hakim yang seadil-adilnya, lagi Yang Maha Mengetahui segala-galanya"Translation: Say also: “Our Lord will gather all of us (on the Day of Resurrection), then He will settle the dispute between us with true judgement; and He is the Most Just Judge, the All-Knowing of all things.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّ حُكْمَهُ يَكُونُ مَعَ الْعِلْمِ لَا مِثْلَ حُكْمِ مَنْ يَحْكُمُ بِمَا يَتَّفِقُ لَهُ بِمُجَرَّدِ هواه»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/206 · Shamela ↗Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/206 · Shamela ↗
Tafsir ar-Rāzī menyebut, sifat Allah sebagai “Hakim yang seadil-adilnya, lagi Yang Maha Mengetahui segala-galanya” menunjukkan bahawa keputusan-Nya disertai ilmu, bukan seperti orang yang menghukum menurut hawa nafsunya semata-mata.
Renungan: Pada hari Allah menyelesaikan perselisihan, semuanya diputuskan dengan ilmu dan adil; mari kita juga berlaku adil dan berilmu ketika menilai orang lain.Tafsir al-Rāzī says that Allah being “the Most Just Judge, the All-Knowing of all things” shows that His judgement comes with knowledge, unlike one who judges by whatever his whims dictate.
Reflection: On the Day Allah settles our disputes, all will be decided with knowledge and justice; let us too be just and informed when we judge others.
أَرُونِيَ
tunjukkanlah kepadaku (sifat-sifat ketuhanan yang ada pada)show me (the divine qualities found in) (kamu sekalianyou all)
كـَلَّاۚ
sekali-kali tidak (ada pada sesuatu makhluk pun sifat-sifat itu)by no means (do any of them have those qualities)
Terjemahan: Katakanlah lagi: "Tunjukkanlah kepadaku sifat-sifat ketuhanan yang ada pada makhluk-makhluk yang kamu hubungkan dengan Allah sebagai sekutu-sekutu-Nya. Tidak ada pada sesuatu makhluk pun sifat-sifat itu, bahkan yang mempunyai sifat-sifat ketuhanan ialah Allah Yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana"Translation: Say also: “Show me the divine qualities found in those beings whom you attach to Allah as His partners. By no means do any of them have those qualities; rather, the One possessing divine qualities is Allah, the All-Mighty, the All-Wise.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ انْتِفَاءَ الْإِلَهِيَّةِ عَنِ الْأَصْنَامِ بَدِيهِيٌّ وَلَا يَحْتَاجُ إِلَى أَكْثَرَ مِنْ رُؤْيَةِ حَالِهَا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/196 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/196 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, perintah “Tunjukkanlah kepadaku” bertujuan mendedahkan kesilapan mereka, kerana ketiadaan sifat ketuhanan pada berhala ialah perkara yang jelas, tidak memerlukan lebih daripada melihat keadaannya.
Renungan: Tauhid (mengesakan Allah) itu terang; mari kita ingat bahawa sifat ketuhanan hanya milik Allah “Yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana”.According to Ibn ‘Āshūr, the command “Show me” is meant to expose their error, since the absence of divine qualities in idols is self-evident and needs no more than a look at their state.
Reflection: Tawhid (the Oneness of Allah) is plain; let us remember that divine qualities belong only to “Allah, the All-Mighty, the All-Wise”.
بَشِيرٗا
sebagai Rasul pembawa berita gembira (kepada orang-orang yang beriman) (lit. pembawa berita gembira)as a Messenger bringing good news (to those who believe) (lit. a bringer of good news)
وَنَذِيرٗا
dan pemberi amaran (kepada orang-orang yang ingkar)and a warner (to those who reject faith)
Terjemahan: Dan tiadalah Kami mengutusmu (wahai Muhammad) melainkan untuk umat manusia seluruhnya, sebagai Rasul pembawa berita gembira (kepada orang-orang yang beriman), dan pemberi amaran (kepada orang-orang yang ingkar); akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (hakikat itu)Translation: And We have not sent you (O Muhammad) except to all mankind, as a Messenger bringing good news (to those who believe) and a warner (to those who reject faith); but most of mankind do not know (this truth).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَلكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ذَلِكَ لا لخفائه ولكن لغفلتهم»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/206 · Shamela ↗Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/206 · Shamela ↗
Tafsir ar-Rāzī menyebut, pada salah satu daripada dua huraiannya (seperti juga al-Kashshāf 3/583), bahawa Rasulullah s.a.w. diutus untuk seluruh manusia; baginda mendorong dengan janji dan menegah dengan ancaman; dan kebanyakan manusia tidak mengetahuinya bukan kerana ia tersembunyi, tetapi kerana mereka lalai.
Renungan: Kebenaran risalah ini jelas, yang menghalang ialah kelalaian; mari kita sedarkan diri dan menyampaikannya dengan hikmah.Tafsir al-Rāzī says, in one of its two explanations (as al-Kashshāf 3/583 also does), that the Messenger ﷺ was sent to all mankind, urging with promise and restraining with warning; and most people do not know this, not because it is hidden, but because they are heedless.
Reflection: The truth of this message is clear and what blocks it is heedlessness; let us wake ourselves and convey it with wisdom.
وَيَقُولُونَ
dan … bertanya (lit. dan … berkata)and … ask (lit. and … say) (mereka (yang ingkar)they (who reject faith))
ٱلۡوَعۡدُ
azab yang telah dijanjikan itu (lit. janji)the punishment that was promised (lit. the promise)
Terjemahan: Dan mereka (yang ingkar) bertanya: "Bilakah berlakunya azab yang telah dijanjikan itu, jika betul kamu orang-orang yang benar"Translation: And they (who reject faith) ask: “When will the punishment that was promised take place, if you are indeed truthful?”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهَذَا كَلَامٌ صَادِرٌ عَنْ جَهَالَةٍ لِأَنَّهُ لَا يَلْزَمُ مِنَ الصِّدْقِ فِي الْإِخْبَارِ بِشَيْءٍ أَنْ يَكُونَ الْمُخْبِرُ عَالِمًا بِوَقْتِ حُصُولِهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/200 · Shamela ↗ (huraian ayat 29–30)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/200 · Shamela ↗ (commentary on 29–30)
Menurut Ibn ‘Āshūr, soalan “Bilakah berlakunya azab yang telah dijanjikan itu” lahir daripada kejahilan, kerana orang yang benar dalam menyampaikan berita tidak semestinya mengetahui bila perkara itu akan berlaku.
Renungan: Yang lebih penting bukan bila hari itu tiba, tetapi kepastiannya; mari kita isi masa dengan amal untuk menghadapinya.According to Ibn ‘Āshūr, the question “When will the punishment that was promised take place” springs from ignorance, for one who is truthful in giving news need not know when it will happen.
Reflection: What matters more is not when that day comes but that it surely will; let us fill our time with deeds to meet it.
Terjemahan: Jawablah (wahai Muhammad): "Untuk kamu disediakan satu hari yang kamu tidak dapat melambatkannya sesaat pun, dan tidak pula kamu dapat menyegerakannya"Translation: Answer (O Muhammad): “For you a day has been set which you cannot delay by even a moment, nor can you hasten it.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّهُمْ لَمَّا طَلَبُوا الِاسْتِعْجَالَ بَيَّنَ أَنَّهُ لَا اسْتِعْجَالَ فِيهِ كَمَا لَا إِمْهَالَ، وَهَذَا يُفِيدُ عِظَمَ الْأَمْرِ وَخَطَرَ الْخَطْبِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/207 · Shamela ↗ (huraian ayat 29–30)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/207 · Shamela ↗ (commentary on 29–30)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, apabila mereka meminta hari itu disegerakan, Allah menerangkan bahawa ia tidak akan disegerakan dan tidak pula ditangguhkan; ini menunjukkan besarnya urusan itu, kerana perkara kecil tidak diikat dengan waktu tertentu.
Renungan: Hari yang dijanjikan tetap pada waktunya; mari kita gunakan masa yang masih ada sebelum ia tiba.Tafsir al-Rāzī says that when they asked for that day to be hastened, Allah made clear that it will be neither hastened nor delayed; this shows how great the matter is, for a small matter is not bound to a fixed time.
Reflection: The promised day keeps to its time; let us use the time we still have before it comes.
وَقَالَ
dan … berkataand … said (orang‑orang yang kafir alladzinathose who disbelieved alladhīna)
بِٱلَّذِي
kepada Kitab-kitab ugama yang (lit. kepada yang)in the religious Scriptures that (lit. in what)
يَرۡجِعُ
… tuduh menuduh (lit. … mengembalikan)… trade blame (lit. … turn back) (sebahagian mereka ba‘dhuhumsome of them ba‘ḍuhum)
ٱسۡتَكۡبَرُواْ
sombong takbur (yang menjadi ketuanya)were arrogant (who were their chiefs) (merekathey)
Terjemahan: Dan orang-orang yang kafir berkata: "Kami tidak akan beriman sama sekali kepada Al-Quran ini dan tidak juga kepada Kitab-kitab ugama yang terdahulu daripadanya". Dan (sungguh ngeri) kalau engkau melihat ketika orang-orang yang zalim itu dibawa berdiri di hadapan Tuhan mereka (untuk dihisab), masing-masing tuduh menuduh antara satu dengan yang lain. Orang-orang yang tertindas berkata kepada orang-orang yang sombong takbur (yang menjadi ketuanya): "Kalaulah tidak kerana kamu (menindas dan memperdayakan kami), tentulah kami sudah menjadi orang yang beriman"Translation: And those who disbelieved said: “We will by no means believe in this Qur’an, nor in the religious Scriptures that came before it.” And (how dreadful it is) if you could see the time when the wrongdoers are brought to stand before their Lord (to be judged), each of them trading blame with one another. Those who were oppressed say to those who were arrogant (who were their chiefs): “Had it not been for you (oppressing and deceiving us), we would surely have been believers.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«كَمَا يَكُونُ عَلَيْهِ حَالُ جَمَاعَةٍ أَخْطَئُوا فِي أَمْرٍ يَقُولُ بَعْضُهُمْ كَانَ ذَلِكَ بِسَبَبِكَ وَيَرُدُّ عَلَيْهِ الْآخَرُ مِثْلَ ذَلِكَ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/207 · Shamela ↗Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/207 · Shamela ↗
Tafsir ar-Rāzī menyebut, keadaan orang-orang zalim yang “tuduh menuduh antara satu dengan yang lain” itu seperti sekumpulan orang yang tersilap dalam satu urusan: seorang berkata, “Ini berlaku kerana engkau,” lalu yang lain membalas dengan tuduhan yang sama.
Renungan: Saling menyalahkan tidak menyelamatkan sesiapa; mari kita bertanggungjawab atas pilihan sendiri sejak di dunia.Tafsir al-Rāzī says that the state of the wrongdoers “trading blame with one another” is like a group who erred in some matter: one says, “This happened because of you,” and the other answers with the same charge.
Reflection: Blaming one another saves no one; let us take responsibility for our own choices while still in this world.
قَالَ
… menjawab (lit. … berkata)… replied (lit. … said) (orang‑orang yang alladzinathose who alladhīna)
كُنتُم
… yang menyebabkan diri sendiri menjadi (lit. … adalah)… caused yourselves to be (lit. … were) (kamu sekalianyou all)ism
Terjemahan: Orang-orang yang sombong takbur itu menjawab kepada orang-orang yang tertindas: "Kamikah yang telah menghalang kamu daripada menerima hidayah petunjuk sesudah ia datang kepada kamu? (Bukan kami yang menghalang) bahkan kamulah yang menyebabkan diri sendiri menjadi orang-orang yang berdosa"Translation: Those who were arrogant replied to those who were oppressed: “Was it we who turned you away from (accepting) guidance after it came to you? (It was not we who turned you away;) rather, it was you who caused yourselves to be sinners.”
Nota nahu: بَعْدَ إِذْ جَآءَكُم (ayat 32).Grammar note: بَعْدَ إِذْ جَآءَكُم (verse 32).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهَذَا الْإِنْكَارُ بُهْتَانٌ وَإِنْكَارٌ لِلْوَاقِعِ بَعَثَهُ فِيهِمْ خَوْفُ إِلْقَاءِ التَّبِعَةِ عَلَيْهِمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/206 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/206 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, penafian orang-orang yang sombong itu ialah dusta dan pengingkaran terhadap kenyataan, didorong oleh takut dipertanggungjawabkan, serta marah dan kesal kerana pengikut mereka berpaling menentang mereka.
Renungan: Lari daripada tanggungjawab hanya menambah dosa; mari kita akui kesilapan kita dengan jujur sebelum terlambat.According to Ibn ‘Āshūr, the denial of those who were arrogant is a slander and a denial of what happened, driven by fear of being held to account, and by anger and grief that their followers had turned against them.
Reflection: Running from responsibility only adds to sin; let us admit our mistakes honestly before it is too late.
بَلۡ
tidak! bahkan (yang menghalang kami daripada beriman ialah)no! rather (what kept us from faith was)
مَكۡرُ
perbuatan kamu memperdaya kami (lit. tipu daya)your scheming against us (lit. the scheming of)
وَأَسَرُّواْ
akhirnya … diam sambil memendamkan (lit. dan … menyembunyikan)in the end … kept silent, hiding (lit. and … concealed) (mereka (masing‑masing)they (each of them))
Terjemahan: Dan berkata pula orang-orang yang tertindas kepada orang-orang yang sombong takbur itu: "Tidak! Bahkan (yang menghalang kami daripada beriman ialah) perbuatan kamu memperdaya kami malam dan siang, ketika kamu menyuruh kami berlaku kufur kepada Allah dan mengadakan sekutu-sekutu bagi-Nya." Akhirnya masing-masing diam sambil memendamkan perasaan sesal dan kecewa semasa mereka melihat azab; dan Kami pasangkan belenggu-belenggu pada leher orang-orang yang kafir itu. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang mereka telah kerjakanTranslation: And those who were oppressed said to those who were arrogant: “No! Rather, (what kept us from faith was) your scheming against us night and day, when you kept commanding us to act in disbelief towards Allah and to make partners for Him.” In the end each of them kept silent, hiding their regret and dismay when they saw the punishment; and We fastened shackles round the necks of those who disbelieved. They are recompensed for nothing except what they used to do.
Nota nahu: إِلَّا مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ (ayat 33).Grammar note: إِلَّا مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ (verse 33).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«مَعْنَاهُ أَنَّهُمْ يَتَرَاجَعُونَ الْقَوْلَ فِي الْأَوَّلِ، ثُمَّ إِذَا جَاءَهُمُ الْعَذَابُ الشَّاغِلُ يُسِرُّونَ ذَلِكَ التَّرَاجُعَ الدَّالَّ عَلَى النَّدَامَةِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/208 · Shamela ↗Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/208 · Shamela ↗
Tafsir ar-Rāzī menyebut, mula-mula mereka saling berbalas kata, kemudian apabila datang azab yang menyibukkan itu, mereka memendamkan perbalahan yang menunjukkan penyesalan; itulah maksud “diam sambil memendamkan perasaan sesal dan kecewa”.
Renungan: Penyesalan ketika melihat azab tidak lagi berguna; mari kita menyesal dan bertaubat sekarang, selagi pintunya masih terbuka.Tafsir al-Rāzī says that at first they traded words, then when the all-absorbing punishment came they hid that exchange which showed their regret; this is the meaning of “kept silent, hiding their regret and dismay”.
Reflection: Regret on seeing the punishment no longer helps; let us regret and repent now, while the door is still open.
نَّذِيرٍ
seseorang Rasul pemberi amaran (lit. pemberi amaran)a Messenger who warns (lit. a warner)
قَالَ
… berkata… said (orang‑orang yang berada dalam kemewahan di negeri itu mutrafuhathose living in luxury in that town mutrafūhā)
مُتۡرَفُوهَآ
orang-orang yang berada dalam kemewahan di negeri ituthose living in luxury in that town
Terjemahan: Dan Kami tidak mengutus kepada sesebuah negeri seseorang Rasul pemberi amaran melainkan orang-orang yang berada dalam kemewahan di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami tetap mengingkari apa yang kamu diutuskan membawanya"Translation: And We have not sent to any town a Messenger who warns, except that those living in luxury in that town said: “Truly we firmly reject that with which you have been sent.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَبَيَانًا لِأَنَّ إِيذَاءَ الْكُفَّارِ الْأَنْبِيَاءَ الْأَخْيَارَ لَيْسَ بِدْعًا، بَلْ ذَلِكَ عَادَةٌ جَرَتْ مِنْ قَبْلُ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/209 · Shamela ↗ (huraian ayat 34–35)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/209 · Shamela ↗ (commentary on 34–35)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, seperti juga al-Kashshāf (3/585), ayat ini menghibur hati Nabi s.a.w. dan menjelaskan bahawa penentangan orang kafir terhadap para nabi yang mulia bukan perkara baharu, malah kebiasaan yang telah berlaku sejak dahulu.
Renungan: Penolakan terhadap kebenaran sudah berlaku sejak zaman para nabi; mari kita tabah menyampaikan kebaikan walaupun ditolak.Tafsir al-Rāzī says, as al-Kashshāf (3/585) also does, that this verse consoles the Prophet ﷺ and makes clear that the disbelievers’ hostility to the noble prophets is nothing new, but a pattern that has run from earlier times.
Reflection: Rejection of the truth has happened since the time of the prophets; let us stay steadfast in conveying good even when it is rejected.
بِمُعَذَّبِينَ
akan diseksa (lit. orang-orang yang diseksa)going to be punished (lit. ones punished)
Terjemahan: Dan mereka berkata lagi: "Kami lebih banyak harta benda dan anak pinak, dan kami pula tidak akan diseksa"Translation: And they also said: “We have more wealth and children, and we for our part are not going to be punished.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَجَعَلُوا كَثْرَةَ أَمْوَالِهِمْ وَأَوْلَادِهِمْ حُجَّةً عَلَى أَنَّهُمْ أَهْلُ حَظٍّ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/212 · Shamela ↗ (huraian ayat 35–36)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/212 · Shamela ↗ (commentary on 35–36)
Menurut Ibn ‘Āshūr, mereka menjadikan banyaknya harta dan anak sebagai bukti bahawa mereka mendapat tempat di sisi Allah, lalu mendakwa “kami pula tidak akan diseksa”.
Renungan: Banyak harta dan anak bukan tanda keredhaan Allah; mari kita menilai diri dengan iman dan amal, bukan dengan apa yang kita miliki.According to Ibn ‘Āshūr, they took their abundance of wealth and children as proof that they had a place of favour with Allah, and so claimed that “we for our part are not going to be punished”.
Reflection: Much wealth and many children are no sign of Allah’s pleasure; let us measure ourselves by faith and deeds, not by what we own.
وَيَقۡدِرُ
dan … juga yang menyempitkan (bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya) (lit. dan … menyempitkan)and … too makes it narrow (for whomever He wills) (lit. and … narrows) (DiaHe)
Terjemahan: Katakanlah (wahai Muhammad): "Sesungguhnya Tuhanku memewahkan rezeki bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya, dan Dia juga yang menyempitkan (bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya); akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (hakikat itu)"Translation: Say (O Muhammad): “Truly my Lord makes provision abundant for whomever He wills, and He too makes it narrow (for whomever He wills); but most of mankind do not know (this truth).”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَرُبَّمَا وَسَّعَ اللَّهُ الرِّزْقَ عَلَى الْعَاصِي وَضَيَّقَهُ عَلَى الْمُطِيعِ وَرُبَّمَا عَكَسَ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/213 · Shamela ↗ (huraian ayat 35–36)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/213 · Shamela ↗ (commentary on 35–36)
Menurut Ibn ‘Āshūr (sejalan dengan al-Kashshāf 3/586), luas atau sempitnya rezeki tidak berkait dengan petunjuk atau kesesatan; kadang-kadang Allah meluaskan rezeki orang yang derhaka dan menyempitkan rezeki orang yang taat, dan kadang-kadang sebaliknya.
Renungan: Jangan menilai kedudukan seseorang di sisi Allah daripada rezekinya; mari kita bersyukur ketika lapang dan bersabar ketika sempit.According to Ibn ‘Āshūr (in line with al-Kashshāf 3/586), abundant or narrow provision has no tie to guidance or misguidance; at times Allah widens the provision of the disobedient and narrows that of the obedient, and at times the reverse.
Reflection: Let us not judge anyone’s standing with Allah by their provision; let us be grateful in plenty and patient in hardship.
Terjemahan: Dan bukanlah harta benda kamu dan tidak juga anak pinak kamu yang mendampingkan kamu di sisi Kami walau sedikitpun, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh, maka mereka itu akan beroleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang mereka telah kerjakan; dan mereka pula ditempatkan dalam mahligai-mahligai (di Syurga) dengan aman sentosaTranslation: And neither your wealth nor your children are the things that bring you near to Us even slightly, except those who have believed and done righteous deeds; for they will have a reward multiplied because of what they have done, and they are placed in lofty chambers (in Paradise) in safety and peace.
Nota nahu: بِمَا عَمِلُوا۟ (ayat 37).Grammar note: بِمَا عَمِلُوا۟ (verse 37).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَإِنَّ الْمَالَ لَا يُقَرِّبُ إِلَى اللَّهِ وَلَا اعْتِبَارَ بِالتَّعَزُّزِ بِهِ، وَإِنَّمَا الْمُفِيدُ الْعَمَلُ الصَّالِحُ بَعْدَ الْإِيمَانِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/209 · Shamela ↗Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/209 · Shamela ↗
Tafsir ar-Rāzī menyebut, harta tidak mendekatkan seseorang kepada Allah dan tiada nilainya bermegah dengannya; yang berguna ialah amal soleh selepas iman, kerana harta dan anak boleh melalaikan daripada Allah, sedangkan amal soleh menghadapkan diri kepada-Nya.
Renungan: Mari kita jadikan harta dan anak jalan untuk amal soleh, supaya keduanya mendekatkan kita kepada Allah, bukan menjauhkan.Tafsir al-Rāzī says that wealth does not bring one near to Allah and there is no worth in taking pride in it; what benefits is righteous deeds after faith, for wealth and children can distract from Allah, while righteous deeds turn one towards Him.
Reflection: Let us make our wealth and children a path to righteous deeds, so that they bring us nearer to Allah, not further away.
يَسۡعَوۡنَ
… berusaha menentang dan membatalkan (lit. … berusaha)… strive to oppose and undo (lit. … strive) (merekathey)
مُعَٰجِزِينَ
sambil menyangka dapat melepaskan diri (dari hukuman Kami)thinking they can escape (Our punishment)
Terjemahan: Dan orang-orang yang berusaha menentang dan membatalkan ayat-ayat keterangan Kami sambil menyangka dapat melepaskan diri (dari hukuman Kami), mereka itu akan berada di dalam azab seksaTranslation: And those who strive to oppose and undo Our verses, thinking they can escape (Our punishment), they will be in the torment.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«جَرَى الْكَلَامُ عَلَى عَادَةِ الْقُرْآنِ فِي تَعْقِيبِ التَّرْغِيبِ بِالتَّرْهِيبِ وَعَكْسِهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/218 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/218 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini mengikut kebiasaan al-Qur’an menyusuli dorongan (targhīb) dengan amaran (tarhīb), dan sebaliknya: selepas pujian kepada orang beriman, disebut nasib orang-orang yang “berusaha menentang dan membatalkan ayat-ayat keterangan Kami”.
Renungan: Harapan dan takut berjalan seiring; mari kita beramal dengan mengharap rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya.According to Ibn ‘Āshūr, this verse follows the Qur’an’s custom of following encouragement (targhīb) with warning (tarhīb), and the reverse: after praise of the believers comes the fate of those who “strive to oppose and undo Our verses”.
Reflection: Hope and fear go hand in hand; let us act hoping for His mercy and fearing His punishment.
وَيَقۡدِرُ
dan … juga yang menyempitkan (lit. dan … menyempitkan)and … too makes it narrow (lit. and … narrows) (DiaHe)
Terjemahan: Katakanlah (wahai Muhammad): "Sesungguhnya Tuhanku memewahkan rezeki bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, dan Ia juga yang menyempitkan baginya; dan apa sahaja yang kamu dermakan maka Allah akan menggantikannya; dan Dialah jua sebaik-baik Pemberi rezeki"Translation: Say (O Muhammad): “Truly my Lord makes provision abundant for whomever He wills among His servants, and He too makes it narrow for him; and whatever you spend, Allah will replace it; and He is the most excellent of those who give provision.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَإِنَّ مَا فِي يَدِ الْإِنْسَانِ فِي مَعْرِضِ الْبَوَارِ وَالتَّلَفِ وَهُمَا لَا يَتَطَرَّقَانِ إِلَى مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْخَلَفِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/210 · Shamela ↗Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/210 · Shamela ↗
Tafsir ar-Rāzī menyebut, apa yang dibelanjakan oleh orang beriman akan diganti oleh Allah, dan ganti daripada Allah lebih baik, kerana apa yang ada di tangan manusia terdedah kepada rosak dan binasa, sedangkan ganti yang di sisi Allah tidak begitu.
Renungan: Harta yang kita belanjakan kerana Allah tidak hilang; mari kita bersedekah dengan yakin bahawa Dialah “sebaik-baik Pemberi rezeki”.Tafsir al-Rāzī says that what the believer spends Allah will replace, and Allah’s replacement is better, for what is in human hands is exposed to ruin and loss, while the replacement with Allah is not.
Reflection: What we spend for Allah is never lost; let us give in charity, certain that He is “the most excellent of those who give provision”.
كَانُواْ
(kamu setujui) … dahulu (lit. … adalah)(with your consent) … used to (lit. … were) (merekathey)ism
Terjemahan: Dan (ingatkanlah) masa Allah menghimpunkan mereka semua (pada hari kiamat), kemudian Ia bertanya kepada malaikat: "Adakah orang-orang ini, (kamu setujui) menyembah kamu dahulu"Translation: And (recall) the time when Allah gathers them all (on the Day of Resurrection), then He asks the angels: “Is it these who, (with your consent,) used to worship you?”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَوَصَفَ هُنَا افْتِضَاحَهُمْ بِتَبَرُّؤِ الْمَلَائِكَةِ مِنْهُمْ وَشَهَادَتِهِمْ عَلَيْهِمْ بِأَنَّهُمْ يَعْبُدُونَ الْجِنَّ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/221 · Shamela ↗ (huraian ayat 40–41)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/221 · Shamela ↗ (commentary on 40–41)
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini menggambarkan terbukanya aib orang-orang musyrik (yang menyekutukan Allah) apabila para malaikat berlepas diri daripada mereka dan menjadi saksi bahawa mereka sebenarnya menyembah jin.
Renungan: Pada hari itu, apa yang disembah selain Allah akan berlepas diri daripada penyembahnya; mari kita ikhlaskan ibadat untuk Allah sahaja.According to Ibn ‘Āshūr, this verse depicts the exposure of the people of shirk (associating partners with Allah) when the angels disown them and bear witness that they in fact worshipped the jinn.
Reflection: On that day whatever is worshipped besides Allah will disown its worshippers; let us make our worship sincerely for Allah alone.
قَالُواْ
… menjawab (lit. … berkata)… replied (lit. … said) (mereka (malaikat)they (the angels))
سُبۡحَٰنَكَ
Maha Suci Engkau (dari adanya sebarang sekutu dengan-Mu)Glory be to You (above having any partner with You)
أَنتَ
Engkaulah (yang kami hubungi sebagai Pemimpin dan)You are (the One we are bound to as Leader and)
بَلۡ
(tidak ada hubungan dari pihak kami dengan mereka mengenai penyembahan mereka kepada kami), bahkan(we have no tie with them regarding their worship of us;) rather
مُّؤۡمِنُونَ
percaya (sebagai sekutu Tuhan yang dipuja dan dipatuhi)believe (as partners of God to be worshipped and obeyed)
Terjemahan: Malaikat menjawab: "Maha Suci Engkau (dari adanya sebarang sekutu dengan-Mu). Engkaulah (yang kami hubungi sebagai Pemimpin dan) Pelindung kami bukan mereka. (Tidak ada hubungan dari pihak kami dengan mereka mengenai penyembahan mereka kepada kami), bahkan mereka adalah menyembah Jin Syaitan; kebanyakan mereka pula percaya kepada Jin Syaitan itu (sebagai sekutu Tuhan yang dipuja dan dipatuhi)"Translation: The angels replied: “Glory be to You (above having any partner with You)! You are (the One we are bound to as Leader and) our Protector, not they. (We have no tie with them regarding their worship of us;) rather, they used to worship the satanic jinn; most of them believe in those satanic jinn (as partners of God to be worshipped and obeyed).”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«سُبْحَانَكَ نُنَزِّهُكَ عَنْ أَنْ يَكُونَ غَيْرُكَ مَعْبُودًا وَأَنْتَ مَعْبُودُنَا وَمَعْبُودُ كُلِّ خَلْقٍ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/211 · Shamela ↗ (huraian ayat 40–41)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/211 · Shamela ↗ (commentary on 40–41)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, ucapan para malaikat “Maha Suci Engkau” bermaksud: kami menyucikan-Mu daripada ada yang lain disembah; Engkaulah sembahan kami dan sembahan setiap makhluk.
Renungan: Makhluk semulia malaikat pun menyembah Allah dan menyucikan-Nya; mari kita perbaharui tasbih kita dan buang apa sahaja yang menyaingi Allah dalam hati.Tafsir al-Rāzī says that the angels’ words “Glory be to You” mean: we declare You far above any other being worshipped; You are the One we worship and the One worshipped by every creature.
Reflection: Even beings as noble as the angels worship Allah and glorify Him; let us renew our glorification and cast out whatever rivals Allah in our hearts.
يَمۡلِكُ
… berkuasa memberi (lit. … memiliki)… has power to give (lit. … owns) (masing‑masing di antara kamu ba‘dhukumeach of you ba‘ḍukum)
Terjemahan: Maka pada hari ini, masing-masing di antara kamu tidak berkuasa memberi sebarang manfaat kepada kawannya, dan tidak pula dapat menolak sesuatu bahaya daripadanya; dan Kami katakan kepada orang-orang yang zalim (yang berlaku syirik) itu: "Rasalah azab neraka yang kamu dahulu mendustakannya"Translation: So on this day each of you has no power to give any benefit to another, nor to ward off any harm from him; and We say to those who did wrong (by committing shirk): “Taste the punishment of the Fire that you used to deny.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَقُدِّمَ الظَّرْفُ عَلَى عَامِلِهِ لِأَنَّ النَّفْعَ وَالضُّرَّ يَوْمَئِذٍ قَدِ اخْتَصَّ صَغِيرُهُمَا وَكَبِيرُهُمَا بِاللَّهِ تَعَالَى»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/224 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/224 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, frasa “pada hari ini” didahulukan kerana pada hari itu manfaat dan mudarat, yang kecil dan yang besar, khusus milik Allah, berbeza dengan keadaan di dunia.
Renungan: Hari ini kita masih boleh saling membantu dalam kebaikan; mari kita gunakannya sebelum tiba hari tiada siapa berkuasa memberi manfaat kepada orang lain.According to Ibn ‘Āshūr, the phrase “on this day” comes first because on that day benefit and harm, small and great, belong to Allah alone, unlike the state of affairs in this world.
Reflection: Today we can still help one another in good; let us use it before the day comes when no one has power to benefit another.
كَانَ
telah (lit. … adalah)has (lit. … was) (dia (merujuk datuk nenek kamu)he (refers to your forefathers))ism
يَعۡبُدُ
disembah oleh (lit. … menyembah)been worshipped by (lit. … worshipped) (datuk nenek kamu aba’ukumyour forefathers ābā’ukum)
وَقَالَ
dan berkatalah …and … say (orang‑orang yang kafir alladzinathose who disbelieve alladhīna)
Terjemahan: Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat keterangan Kami yang jelas nyata, berkatalah mereka (sesama sendiri): "Orang ini (Muhammad) tidak lain hanyalah seorang lelaki yang hendak menghalang kamu daripada menyembah apa yang telah disembah oleh datuk nenek kamu"; dan mereka berkata lagi: "(Al-Quran) ini tidak lain hanyalah kata-kata dusta yang direka-reka"; dan berkatalah orang-orang yang kafir terhadap kebenaran ketika datangnya kepada mereka: "ini tidak lain hanyalah sihir yang terang nyata"Translation: And when Our clear verses are recited to them, they say (among themselves): “This man (Muhammad) is none other than a man who seeks to bar you from worshipping what has been worshipped by your forefathers”; and they also say: “This (Qur’an) is none other than a lie that is made up”; and those who disbelieve say about the truth, at the time it comes to them: “This is none other than magic that is plain.”
Nota nahu: عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ ءَابَآؤُكُمْ (ayat 43).Grammar note: عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ ءَابَآؤُكُمْ (verse 43).
Nota nahu: عَمَّا (ayat 43).Grammar note: عَمَّا (verse 43).
Nota nahu: لِلْحَقِّ لَمَّا جَآءَهُمْ (ayat 43).Grammar note: لِلْحَقِّ لَمَّا جَآءَهُمْ (verse 43).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«يَعْنِي يُعَارِضُونَ الْبُرْهَانَ بِالتَّقْلِيدِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/213 · Shamela ↗Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/213 · Shamela ↗
Tafsir ar-Rāzī menyebut, apabila ayat-ayat yang jelas dibacakan, mereka berkata Nabi hendak “menghalang kamu daripada menyembah apa yang telah disembah oleh datuk nenek kamu”, iaitu mereka menentang bukti dengan taklid (ikut-ikutan tanpa dalil).
Renungan: Warisan nenek moyang bukan hujah terhadap kebenaran; mari kita timbang amalan kita dengan dalil, bukan semata-mata kerana ia warisan.Tafsir al-Rāzī says that when the clear verses were recited they claimed the Prophet sought “to bar you from worshipping what has been worshipped by your forefathers”, meaning they opposed proof with taqlid (following without evidence).
Reflection: Ancestral custom is no argument against the truth; let us weigh our practices by evidence, not merely because they are inherited.
وَمَآ
dan (tidak ada sebarang alasan bagi dakwaan mereka, kerana) … tidak pernahand (there is no ground for their claim, for) … never
يَدۡرُسُونَهَاۖ
untuk … membaca dan mengkajinya (lit. … mengkajinya)for … to read and study (lit. … study them) (merekathey)
نَّذِيرٖ
seseorang Rasul pemberi amaran (melarang mereka menerima ajaranmu) (lit. pemberi amaran)any Messenger who warns (forbidding them to accept your teaching) (lit. a warner)
Terjemahan: Dan (tidak ada sebarang alasan bagi dakwaan mereka, kerana) Kami tidak pernah memberi kepada mereka Kitab-kitab untuk mereka membaca dan mengkajinya, dan Kami juga tidak pernah mengutus kepada mereka sebelummu (wahai Muhammad) seseorang Rasul pemberi amaran (melarang mereka menerima ajaranmu)Translation: And (there is no ground for their claim, for) We never gave them Scriptures for them to read and study, and We never sent them, before you (O Muhammad), any Messenger who warns (forbidding them to accept your teaching).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَيَكُونُ الْمَعْنَى: التَّعْجِيبُ مِنْ رَفْضِهِمُ الْحَقَّ حِينَ لَا مَانِعَ يَصُدُّهُمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/228 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/228 · Shamela ↗
Antara huraian Ibn ‘Āshūr: mereka tidak pernah berpegang kepada kitab atau agama daripada Allah yang boleh dijadikan alasan untuk ragu terhadap kebenaran; maka maksud ayat ialah rasa hairan terhadap penolakan mereka, padahal tiada apa-apa yang menghalang mereka.
Renungan: Apabila tiada alasan untuk menolak kebenaran, menangguhkannya hanyalah kerugian; mari kita terimanya sebaik sahaja ia jelas.One of Ibn ‘Āshūr’s explanations: they never held to any Scripture or religion from Allah that could excuse doubting the truth; so the verse expresses wonder at their rejection when nothing at all held them back.
Reflection: When there is no excuse to reject the truth, delaying it is only loss; let us accept it as soon as it is clear.
وَكَذَّبَ
dan (ketahuilah bahawa) … telah juga mendustakan (Rasul-rasulnya)and (know that) … also denied (their Messengers) (orang‑orang yang sebelum mereka alladzinathose before them alladhīna)
مِعۡشَارَ
satu persepuluh (dari kekayaan, kepandaian dan kekuatan)a tenth (of the wealth, knowledge and strength)
ءَاتَيۡنَٰهُمۡ
… beri kepada umat-umat yang terdahulu itu (lit. … beri kepada mereka)… gave to those earlier nations (lit. … gave them) (KamiWe)
فَكَذَّبُواْ
setelah … mendustakan (lit. maka … mendustakan)when … denied (lit. so … denied) (merekathey)
فَكَيۡفَ
dengan yang demikian perhatikanlah bagaimana (lit. maka bagaimana)so consider how (lit. then how)
كَانَ
buruknya akibat (lit. adanya)terrible was the outcome of (lit. was) (kemurkaan‑Ku nakiriMy reproach nakīri)ism
Terjemahan: Dan (ketahuilah bahawa) umat-umat yang terdahulu sebelum mereka telah juga mendustakan (Rasul-rasulnya), sedang mereka (yang mendustakanmu) itu tidak mencapai satu persepuluh (dari kekayaan, kepandaian dan kekuatan) yang Kami beri kepada umat-umat yang terdahulu itu; setelah umat-umat itu mendustakan Rasul-rasul-Ku (mereka pun dibinasakan). Dengan yang demikian perhatikanlah bagaimana buruknya akibat kemurkaan-Ku (menimpa mereka)Translation: And (know that) the nations of old before them also denied (their Messengers), while these (who deny you) did not reach a tenth (of the wealth, knowledge and strength) that We gave to those earlier nations; when those nations denied My Messengers (they were destroyed). So consider how terrible was the outcome of My reproach (that struck them)!
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«قَالَ الْمُفَسِّرُونَ مَعْنَاهُ: وَمَا بَلَغَ هَؤُلَاءِ الْمُشْرِكُونَ مِعْشَارَ مَا آتَيْنَا الْمُتَقَدِّمِينَ مِنَ الْقُوَّةِ وَالنِّعْمَةِ وَطُولِ الْعُمُرِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/214 · Shamela ↗ (huraian ayat 44–45)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/214 · Shamela ↗ (commentary on 44–45)
Tafsir ar-Rāzī menukil para mufassir: orang musyrik itu tidak mencapai satu persepuluh daripada kekuatan, nikmat dan panjang umur yang diberikan kepada umat terdahulu; namun Allah membinasakan umat terdahulu itu dan kekuatan mereka tidak berguna.
Renungan: Jika umat yang lebih kuat pun binasa kerana mendustakan rasul, mari kita tidak terpedaya dengan kekuatan dan kemewahan yang ada pada kita.Tafsir al-Rāzī reports the exegetes: those people of shirk did not reach a tenth of the strength, favour and long life given to the earlier nations; yet Allah destroyed those nations and their strength did not help them.
Reflection: If stronger nations perished for denying the Messengers, let us not be deceived by the strength and comfort we have.
تَقُومُواْ
hendaklah … bersungguh-sungguh berusaha mencari kebenaran (lit. … bangun)… strive earnestly to seek the truth (lit. … stand up) (kamu sekalianyou all)
تَتَفَكَّرُواْۚ
hendaklah … berfikir sematang-matangnya (untuk mengetahui salah benarnya ajaranku)… reflect most deeply (to know whether my teaching is false or true) (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Katakanlah (wahai Muhammad): "Aku hanyalah mengajar dan menasihati kamu dengan satu perkara sahaja, iaitu: hendaklah kamu bersungguh-sungguh berusaha mencari kebenaran kerana Allah semata-mata, sama ada dengan cara berdua (dengan orang lain), atau seorang diri; kemudian hendaklah kamu berfikir sematang-matangnya (untuk mengetahui salah benarnya ajaranku)". Sebenarnya tidak ada pada (Muhammad) yang menjadi sahabat kamu sebarang penyakit gila (sebagaimana yang dituduh); ia hanyalah seorang Rasul pemberi amaran kepada kamu, sebelum kamu ditimpa azab yang berat (di akhirat)Translation: Say (O Muhammad): “I only teach and advise you on a single matter, namely: that you strive earnestly to seek the truth for the sake of Allah alone, whether in pairs (with another) or on your own; then that you reflect most deeply (to know whether my teaching is false or true).” In truth there is no madness at all in (Muhammad), your companion (as alleged); he is but a Messenger who warns you before you are struck by a severe punishment (in the Hereafter).
Nota nahu: مَا بِصَاحِبِكُم مِّن جِنَّةٍ (ayat 46).Grammar note: مَا بِصَاحِبِكُم مِّن جِنَّةٍ (verse 46).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا خَلَا بِنَفْسِهِ عِنْدَ التَّأَمُّلِ لَمْ يَرْضَ لَهَا بِغَيْرِ النُّصْحِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/233 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/233 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, berfikir “berdua (dengan orang lain), atau seorang diri” menjauhkan gangguan orang ramai yang ada antara mereka pengikut hawa nafsu dan penipu; apabila seseorang bersendirian ketika merenung, dia tidak rela dirinya menerima selain nasihat yang jujur.
Renungan: Mari kita luangkan waktu bersendirian, atau bersama sahabat yang ikhlas, untuk merenung kebenaran dengan tenang.According to Ibn ‘Āshūr, reflecting “in pairs (with another) or on your own” keeps away the disturbance of crowds, among whom are followers of whims and deceivers; for when a person is alone in reflection, he accepts nothing for himself but sincere counsel.
Reflection: Let us set aside time alone, or with a sincere friend, to reflect calmly on the truth.
سَأَلۡتُكُم
yang … harap kamu berikan kepadaku (lit. … meminta kepada kamu)… may have asked of you (lit. … asked of you) (akuI)
Terjemahan: Katakanlah (wahai Muhammad): "Apa jua yang aku harap kamu berikan kepadaku sebagai upah maka faedahnya tetap terpulang kepada kamu; balasan yang menjadi upahku yang sebenar hanyalah dari Allah, dan Ia sentiasa Memerhati serta Menyaksikan tiap-tiap sesuatu"Translation: Say (O Muhammad): “Whatever payment I may have asked of you, its benefit goes back to you; my true reward is from Allah only, and He is ever Observing and Witnessing every thing.”
Nota nahu: قُلْ مَا سَأَلْتُكُم مِّنْ أَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْ (ayat 47).Grammar note: قُلْ مَا سَأَلْتُكُم مِّنْ أَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْ (verse 47).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَأُجِيبَ بِأَنَّ أَجْرَهُ مَضْمُونٌ وَعَدَهُ اللَّهُ بِهِ لِأَنَّهُ إِنَّمَا يَقُومُ بِعَمَلٍ لِمَرْضَاتِهِ وَامْتِثَالِ أَمْرِهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/237 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/237 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, kata-kata “balasan yang menjadi upahku yang sebenar hanyalah dari Allah” menjawab persoalan tentang upah Nabi s.a.w.: upahnya dijamin oleh Allah dengan janji-Nya, kerana baginda bekerja untuk keredhaan-Nya dan menurut perintah-Nya.
Renungan: Kerja kebaikan tidak menuntut upah manusia; mari kita ikhlaskan niat dan mengharap ganjaran daripada Allah.According to Ibn ‘Āshūr, the words “my true reward is from Allah only” answer the question of the Prophet’s ﷺ reward: it is guaranteed by Allah’s promise, since he works only to please Him and to obey His command.
Reflection: Good work does not seek human payment; let us make our intention sincere and hope for reward from Allah.
يَقۡذِفُ
menurunkan wahyu (kepada Nabi-nabi pilihan-Nya) (lit. … melontarkan)sends down revelation (to His chosen Prophets) (lit. … casts) (DiaHe)
عَلَّٰمُ
Ia sentiasa Mengetahui akan (lit. Yang Maha Mengetahui)He is ever Knowing of (lit. the All-Knower of)
Terjemahan: Katakanlah lagi: "Sesungguhnya Tuhanku menurunkan wahyu (kepada Nabi-nabi pilihan-Nya) dengan perkara yang benar; Ia sentiasa Mengetahui akan segala perkara yang ghaib"Translation: Say also: “Truly my Lord sends down revelation (to His chosen Prophets) with the truth; He is ever Knowing of all that is unseen.”
Nota nahu: إِنَّ رَبِّى يَقْذِفُ بِٱلْحَقِّ عَلَّٰمُ ٱلْغُيُوبِ (ayat 48).Grammar note: إِنَّ رَبِّى يَقْذِفُ بِٱلْحَقِّ عَلَّٰمُ ٱلْغُيُوبِ (verse 48).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمَعْنَى عَلَى هَذَا الْوَجْهِ هُوَ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَذَفَ مَا قَذَفَ فِي قَلْبِ الرُّسُلِ وَهُوَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ يَعْلَمُ مَا في قلوبهم وما في قلوبكم»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/216 · Shamela ↗Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/216 · Shamela ↗
Antara huraian dalam Tafsir ar-Rāzī: Allah mencampakkan apa yang dicampakkan-Nya ke dalam hati para rasul dengan benar, dan Dia “sentiasa Mengetahui akan segala perkara yang ghaib”, mengetahui apa yang ada dalam hati mereka dan dalam hati kamu.
Renungan: Allah mengetahui isi hati kita; mari kita bersihkan hati supaya layak menerima kebenaran daripada-Nya.One of the explanations in Tafsir al-Rāzī: Allah casts what He casts into the hearts of the Messengers with truth, and He is “ever Knowing of all that is unseen”, knowing what is in their hearts and in yours.
Reflection: Allah knows what is in our hearts; let us purify them so that they are fit to receive the truth from Him.
ٱلۡحَقُّ
kebenaran (al-Qur’an yang memberi segala kebaikan)the truth (the Qur’an that brings every good)
يُبۡدِئُ
memberi sebarang kebaikan di dunia (lit. memulakan)bring any good in this world (lit. begin) (perkara yang salah al‑batiluwhat is false al‑bāṭilu)
يُعِيدُ
hendak mengulanginya di akhirat (lit. … mengulangi)repeat it in the Hereafter (lit. … repeat) (ia (perkara yang salah)it (what is false))
Terjemahan: Katakanlah lagi: "Telah datang kebenaran (Al-Quran yang memberi segala kebaikan), dan perkara yang salah tidak memberi sebarang kebaikan di dunia, usahkan hendak mengulanginya di akhirat"Translation: Say also: “The truth (the Qur’an that brings every good) has come, and what is false brings no good in this world, let alone repeating it in the Hereafter.”
Nota nahu: وَمَا يُبْدِئُ ٱلْبَٰطِلُ وَمَا يُعِيدُ (ayat 49).Grammar note: وَمَا يُبْدِئُ ٱلْبَٰطِلُ وَمَا يُعِيدُ (verse 49).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّهُ إِذَا جَاءَ الْحَقُّ انْقَشَعَ الْبَاطِلُ مِنَ الْمَوْضِعِ الَّذِي حَلَّ فِيهِ الْحَقُّ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/239 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/239 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, apabila kebenaran datang, kebatilan tersingkir dari tempat yang didiami oleh kebenaran itu; ungkapan bahawa kebatilan tidak memulakan dan tidak mengulangi apa-apa ialah kiasan tentang lenyapnya kebatilan.
Renungan: Apabila kebenaran masuk ke dalam hati, kebatilan akan pergi; mari kita isi hati dengan al-Qur’an supaya tiada ruang bagi kebatilan.According to Ibn ‘Āshūr, when the truth comes, falsehood is cleared from the place where the truth has settled; saying that falsehood neither begins nor repeats anything is a figure for its vanishing.
Reflection: When the truth enters the heart, falsehood leaves; let us fill our hearts with the Qur’an so that no room is left for falsehood.
أَضِلُّ
bahaya kesesatanku akan menimpa (lit. … sesat)the harm of my straying falls (lit. … stray) (akuI)
يُوحِيٓ
apa yang telah diwahyukan oleh (lit. … mewahyukan)what has been revealed by (lit. … reveals) (Tuhanku rabbimy Lord rabbī)
Terjemahan: Katakanlah lagi: "Sekiranya aku sesat maka bahaya kesesatanku akan menimpa diriku sendiri, dan jika aku beroleh hidayah petunjuk maka yang demikian disebabkan apa yang telah diwahyukan oleh Tuhanku kepadaku; sesungguhnya Ia Maha Mendengar, lagi Maha Dekat"Translation: Say also: “If I stray, then the harm of my straying falls upon myself; and if I am guided, that is because of what has been revealed to me by my Lord. Truly He is All-Hearing, Ever Near.”
Nota nahu: فَبِمَا يُوحِىٓ إِلَىَّ رَبِّىٓ (ayat 50).Grammar note: فَبِمَا يُوحِىٓ إِلَىَّ رَبِّىٓ (verse 50).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«يَعْنِي ضَلَالِي عَلَى نَفْسِي كَضَلَالِكُمْ، وَأَمَّا اهْتِدَائِي فَلَيْسَ بِالنَّظَرِ وَالِاسْتِدْلَالِ كَاهْتِدَائِكُمْ، وَإِنَّمَا هُوَ بِالْوَحْيِ الْمُبِينِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/217 · Shamela ↗Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/217 · Shamela ↗
Tafsir ar-Rāzī menyebut maksudnya: andai aku sesat, kesesatanku menimpa diriku sendiri seperti kesesatan kamu; tetapi petunjukku bukan hasil pemerhatian dan pendalilan seperti petunjuk kamu, sebaliknya dengan wahyu yang jelas.
Renungan: Petunjuk itu nikmat daripada Allah, bukan hasil kepandaian kita semata-mata; mari kita berpegang teguh kepada wahyu.Tafsir al-Rāzī explains it this way: if I were to stray, my straying would fall upon myself as yours does; but my guidance is not by observation and reasoning as yours is, rather it is by clear revelation.
Reflection: Guidance is a gift from Allah, not merely the fruit of our own cleverness; let us hold firmly to revelation.
تَرَىٰٓ
… melihat (keadaan orang-orang yang bersalah itu)… could see (the state of the guilty) (engkauyou)
فَزِعُواْ
… gelisah takut (menyaksikan azabnya)… are in terror (on seeing its punishment) (merekathey)
مَّكَانٖ
tempat (mereka berada) (untuk dibawa ke tempat azab)the place (where they are) (to be taken to the place of punishment)
Terjemahan: Dan (sungguh ngeri) jika engkau melihat (keadaan orang-orang yang bersalah itu) ketika mereka gelisah takut (menyaksikan azabnya) serta mereka tidak mendapat jalan mengelaknya, dan mereka pun diambil dari tempat mereka berada (untuk dibawa ke tempat azab)Translation: And (how dreadful it is) if you could see (the state of the guilty) when they are in terror (on seeing its punishment), and there is no way of escape, and they are seized from the place where they are (to be taken to the place of punishment).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهَذَا الْفَزَعُ عِنْدَ الْبَعْثِ يُشْعِرُ بِأَنَّهُمْ كَانُوا غَيْرَ مُهَيِّئِينَ لِهَذَا الْوَقْتِ أَسْبَابَ النَّجَاةِ مِنْ هَوْلِهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/242 · Shamela ↗ (huraian ayat 51–53)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/242 · Shamela ↗ (commentary on 51–53)
Menurut Ibn ‘Āshūr, rasa terkejut dan takut ketika dibangkitkan itu menunjukkan bahawa mereka tidak menyediakan sebab-sebab keselamatan daripada kedahsyatan saat itu.
Renungan: Rasa takut pada hari itu bergantung pada persediaan hari ini; mari kita sediakan bekal iman dan amal supaya hati tenang ketika dibangkitkan.According to Ibn ‘Āshūr, their sudden terror at the resurrection shows that they had not prepared the means of safety from the horror of that hour.
Reflection: Our fear on that day depends on our preparation today; let us prepare the provision of faith and deeds so that our hearts are at peace when we are raised.
بِهِۦ
kepada kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad (s.a.w) (lit. kepadanya)in the truth brought by the Prophet Muhammad (peace be upon him) (lit. in it)
Terjemahan: Dan (pada ketika itu) mereka berkata: "Kami sekarang beriman kepada kebenaran yang di bawa oleh Nabi Muhammad (s.a.w)"; (apa jalannya) dan bagaimana caranya mereka dapat mencapai iman dari tempat yang jauhTranslation: And (at that time) they say: “We now believe in the truth brought by the Prophet Muhammad (peace be upon him)”; (what way is there?) and how can they attain faith from a place far away,
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَيْ بَعْدَ ظُهُورِ الْأَمْرِ حَيْثُ لَا يَنْفَعُ إِيمَانٌ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/217 · Shamela ↗Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/217 · Shamela ↗
Tafsir ar-Rāzī menyebut, mereka berkata “Kami sekarang beriman” setelah segala-galanya nyata, ketika iman tidak lagi berguna; bagaimana mereka dapat mencapainya sedangkan iman hanya diterima di dunia, dan dunia sudah jauh daripada akhirat.
Renungan: Iman bernilai ketika perkara masih ghaib, bukan setelah nyata; mari kita perkukuh iman hari ini sementara peluang masih ada.Tafsir al-Rāzī says that they say “We now believe” after everything has become plain, when faith no longer helps; how can they attain it, when faith is accepted only in this world and this world is now far from the Hereafter.
Reflection: Faith has worth while things are still unseen, not after they are plain; let us strengthen our faith today while the chance remains.
بِٱلۡغَيۡبِ
tuduhan-tuduhan buta terhadap kebenaran itu (lit. dengan yang ghaib)blind accusations at the truth (lit. at the unseen)
Terjemahan: Pada hal mereka telah mengingkarinya sebelum itu, dan mereka pula selalu melemparkan tuduhan-tuduhan buta terhadap kebenaran itu dari tempat yang jauh? (sudah tentu salah)Translation: Whereas they had already rejected it before that, and they kept hurling blind accusations at the truth from a place far away? (Surely wrong.)
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَيَقْذِفُونَ بِالْغَيْبِ ضِدُّ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/217 · Shamela ↗Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 25/217 · Shamela ↗
Tafsir ar-Rāzī menyebut, “melemparkan tuduhan-tuduhan buta” ialah lawan kepada beriman dengan yang ghaib: orang beriman menerima berita ghaib yang dibawa oleh Rasul, manakala orang kafir berkata tentang perkara yang tidak diketahuinya.
Renungan: Bercakap tanpa ilmu tentang perkara ghaib ialah sifat yang tercela; mari kita berhenti pada apa yang diajarkan oleh wahyu.Tafsir al-Rāzī says that “hurling blind accusations” is the opposite of believing in the unseen: the believer accepts the news of the unseen brought by the Messenger, while the disbeliever speaks of what he does not know.
Reflection: Speaking without knowledge about the unseen is a blameworthy trait; let us stop at what revelation teaches.
Terjemahan: Dan disekatlah di antara mereka dengan (iman) yang mereka ingini, sebagaimana yang telah dilakukan kepada orang-orang yang sama keadaannya dengan mereka pada masa yang lalu; sesungguhnya mereka dahulu berada dalam keadaan syak yang meragukanTranslation: And a barrier is set between them and (the faith) they desire, just as was done to those like them in times past; truly they were in doubt that unsettles.
Nota nahu: وَحِيلَ بَيْنَهُمْ (ayat 54).Grammar note: وَحِيلَ بَيْنَهُمْ (verse 54).
Nota nahu: وَبَيْنَ مَا يَشْتَهُونَ (ayat 54).Grammar note: وَبَيْنَ مَا يَشْتَهُونَ (verse 54).
Nota nahu: كَمَا فُعِلَ بِأَشْيَاعِهِم (ayat 54).Grammar note: كَمَا فُعِلَ بِأَشْيَاعِهِم (verse 54).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَيْ وَحَالَ زَجُّهُمْ فِي النَّارِ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَأْمَلُونَهُ مِنَ النَّجَاةِ بِقَوْلِهِمْ: آمَنَّا بِهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/245 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 22/245 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, apabila mereka dihumban ke dalam neraka, terhalanglah mereka daripada apa yang mereka harapkan dengan ucapan “Kami sekarang beriman”, sebagaimana yang berlaku kepada umat serupa sebelum mereka; puncanya, mereka dahulu “berada dalam keadaan syak yang meragukan”.
Renungan: Keraguan yang dibiarkan boleh menutup jalan iman; mari kita rawat keraguan dengan ilmu dan bertanya kepada guru yang bertauliah.According to Ibn ‘Āshūr, when they are cast into the Fire they are barred from what they hoped to gain by saying “We now believe”, as happened to those like them before; the cause is that they “were in doubt that unsettles”.
Reflection: Doubt left untended can close the path to faith; let us treat our doubts with knowledge and ask a qualified teacher.