أَنزَلَ
diturunkan oleh (lit. … menurunkan)has been sent down by (lit. … sent down) (Tuhan kamu rabbukumyour Lord rabbukum)
Terjemahan: Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Apakah yang diturunkan oleh Tuhan kamu (kepada nabi Muhammad)?" Mereka menjawab: "Cerita-cerita dongeng orang-orang dahulu kala"Translation: And whenever they are told: “What is it that has been sent down by your Lord (to the Prophet Muhammad)?” they reply: “Fairy tales of the people of old.”
Nota nahu: وَإِذَا قِيلَ لَهُم مَّاذَآ أَنزَلَ رَبُّكُمْ (ayat 24).Grammar note: وَإِذَا قِيلَ لَهُم مَّاذَآ أَنزَلَ رَبُّكُمْ (verse 24).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لَا جَرَمَ اقْتَصَرَ فِي هَذِهِ الْآيَةِ عَلَى مُجَرَّدِ الْوَعِيدِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/197–198 · Shamela ↗ (huraian ayat 24–25)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/197–198 · Shamela ↗ (commentary on 24–25)
Kata ar-Rāzī, setelah Allah menegaskan bukti-bukti tauhid (keesaan Allah), Dia menyebut syubhah (kekeliruan) orang yang mengingkari kenabian; yang pertama ialah celaan mereka bahawa al-Qur’an hanyalah “Cerita-cerita dongeng orang-orang dahulu kala”. Allah tidak menjawabnya di sini dan cukup dengan ancaman, kerana kemukjizatan al-Qur’an telah dijelaskan berulang kali: mereka dicabar mendatangkan yang seumpamanya lalu tidak mampu, dan ia mengandungi berita tentang perkara ghaib.
Renungan: Celaan terhadap al-Qur’an tidak menjejaskan kebenarannya; marilah kita mengenali bukti-buktinya supaya iman kita teguh.Ar-Rāzī says that after Allah had set out the proofs of tawḥīd, the Oneness of Allah, He turned to the doubts of those who deny prophethood; the first is their slur that the Qur’an is nothing but tales of the ancients. Allah does not answer it here but gives only a warning, because the Qur’an’s miraculous nature had already been shown many times: they were challenged to produce its like and could not, and it tells of things unseen.
Reflection: Slurs against the Qur’an do not dent its truth; let us come to know its proofs so that our faith stands firm.
لِيَحۡمِلُوٓاْ
(mereka dibiarkan menuduh dengan yang demikian) supaya … memikul(they are left to make such accusations) so that … bear (merekathey)
Terjemahan: (Mereka dibiarkan menuduh dengan yang demikian) supaya mereka memikul dosa-dosa mereka dengan sepenuhnya pada hari kiamat, dan juga memikul sebahagian dari dosa orang-orang yang mereka sesatkan dengan tidak berdasarkan pengetahuan yang benar; sesungguhnya amatlah buruknya dosa-dosa yang mereka lakukan ituTranslation: (They are left to make such accusations) so that they bear their sins completely on the Day of Resurrection, and also bear part of the sins of those whom they lead astray without being based on true knowledge; truly, very evil indeed are the sins that they commit.
Nota nahu: pelaku (fā‘il) سَآءَ dalam أَلَا سَآءَ مَا يَزِرُونَ (ayat 25).Grammar note: the doer (fā‘il) of سَآءَ in أَلَا سَآءَ مَا يَزِرُونَ (verse 25).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«بَلِ الْمَعْنَى: أَنَّ الرَّئِيسَ إِذَا وَضَعَ سُنَّةً قَبِيحَةً عَظُمَ عِقَابُهُ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/197 · Shamela ↗ (huraian ayat 24–25)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/197 · Shamela ↗ (commentary on 24–25)
Kata ar-Rāzī, ungkapan “memikul sebahagian dari dosa orang-orang yang mereka sesatkan” bukan bermaksud azab yang layak bagi para pengikut dipindahkan kepada para ketua, kerana itu tidak layak dengan keadilan Allah; tetapi maksudnya, ketua yang memulakan sesuatu cara yang buruk menjadi besar azabnya. Ayat ini ditutup dengan “sesungguhnya amatlah buruknya dosa-dosa yang mereka lakukan itu” untuk memberi amaran yang keras.
Renungan: Setiap amalan buruk yang kita mulakan boleh diikuti orang lain; marilah kita berhati-hati agar tidak menjadi pembuka jalan kepada keburukan.Ar-Rāzī says that bearing a share in the sins of the people they mislead does not mean that the punishment the followers deserve is moved onto the leaders, for that would not befit Allah’s justice; rather it means that a leader who starts an ugly practice has his punishment made great. The verse closes by declaring how evil their sins are, as a stern deterrent.
Reflection: Any bad practice we start may be followed by others; let us take care never to open the way to evil.
مَكَرَ
menjalankan rancangan jahat (terhadap ugama Allah dan Rasul-rasul-Nya)carried out evil schemes (against the religion of Allah and His Messengers) (orang‑orang yang alladzinathose who alladhīna)
وَأَتَىٰهُمُ
dan mereka pula didatangi (lit. dan … mendatangi mereka)and they in turn were visited by (lit. and … came to them) (azab al‑‘adzabuthe punishment al‑‘adhābu)
Terjemahan: Sebenarnya orang-orang yang terdahulu dari mereka telah menjalankan rancangan jahat (terhadap ugama Allah dan Rasul-rasul-Nya); maka Allah binasakan bangunan (rancangan jahat) mereka dari asas-asasnya, lalu bumbung (bangunan itu) jatuh menimpa ke atas mereka, dan mereka pula didatangi azab kebinasaan dari arah yang mereka tidak menyedarinyaTranslation: In fact, those who came before them carried out evil schemes (against the religion of Allah and His Messengers); so Allah destroyed the building (of evil schemes) of theirs from its foundations, and the roof (of that building) fell down upon them, and they in turn were visited by the punishment of destruction from a direction they did not perceive.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«إِذِ الْمَكْرُ إِلْحَاقُ الضُّرِّ بِالْغَيْرِ فِي صُورَةِ تَمْوِيهِهِ بِالنُّصْحِ وَالنَّفْعِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/133–134 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/133–134 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, setelah disebut akibat di akhirat bagi mereka yang menyesatkan orang yang bertanya tentang al-Qur’an, ayat ini mengancam mereka dengan apa yang menimpa orang-orang seperti mereka di dunia, dan menegaskan bahawa usaha mereka akan gagal sebagaimana gagalnya orang terdahulu. Jawapan mereka itu dinamakan makar, iaitu “rancangan jahat”, kerana mereka menampakkannya sebagai nasihat sedangkan mereka mahu kekal dalam kekufuran; makar ialah memudaratkan orang lain dalam rupa nasihat dan manfaat.
Renungan: Nasihat mesti lahir daripada hati yang ikhlas; marilah kita menjauhi kata-kata yang kelihatan baik tetapi menyesatkan orang lain.According to Ibn ‘Āshūr, after the fate in the Hereafter of those who misled people asking about the Qur’an was told, this verse threatens them with what befell people like them in this world, and tells them their efforts will fail just as their forerunners failed. Their reply is called makr, an evil scheme, because they dressed it up as advice while wanting to stay in disbelief; makr is harming another in the guise of advice and benefit.
Reflection: Advice must come from a sincere heart; let us shun words that look good yet lead others astray.
يُخۡزِيهِمۡ
… menghinakan mereka (dengan azab seksa)… humiliates them (with the punishment of torment) (Dia (Allah)He (Allah))
وَيَقُولُ
sambil … bertanya (lit. dan … berkata)while … asking (lit. and … says) (Dia (Allah)He (Allah))
تُشَٰٓقُّونَ
… berperi-peri memusuhi (Nabi-nabi dan orang-orang yang beriman)… kept on showing hostility (to the Prophets and those who believe) (kamu sekalianyou all)
قَالَ
(pada ketika itu) berkatalah(at that time) … said (orang‑orang yang alladzinathose who alladhīna)
Terjemahan: Kemudian pada hari kiamat, Allah menghinakan mereka (dengan azab seksa) sambil bertanya: "Mana dia sekutu-sekutu-Ku yang kamu berperi-peri memusuhi (Nabi-nabi dan orang-orang yang beriman) untuk membela mereka?" (Pada ketika itu) berkatalah orang-orang yang beroleh ilmu pengetahuan: "Sesungguhnya kehinaan hari ini dan azab seksa, adalah tertimpa kepada orang-orang yang kafirTranslation: Then on the Day of Resurrection, Allah humiliates them (with the punishment of torment), while asking: “Where are those partners of Mine for whom you kept on showing hostility (to the Prophets and those who believe), to defend them?” (At that time) those who were given knowledge said: “Truly humiliation on this day, and the punishment of torment, fall upon those who disbelieve,
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَلَمَّا كَانَ الْمَقَامُ هُنَا مَقَامَ تَهَكُّمٍ كَانَ الِاسْتِفْهَامُ عَنِ الْمَكَانِ مُسْتَعْمَلًا فِي التَّهَكُّمِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/136 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/136 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, perkataan “Kemudian” di sini menunjukkan peringkat yang lebih tinggi, kerana kehinaan di akhirat lebih besar daripada lenyapnya nikmat dunia. Pertanyaan “Mana dia sekutu-sekutu-Ku” ialah pertanyaan tentang tempat yang digunakan untuk mengejek, kerana pada hari itu mereka tahu sekutu itu tidak wujud; dan sekutu itu disandarkan kepada Allah untuk menambah teguran, kerana keagungan-Nya ketika itu jelas di depan mata.
Renungan: Apa sahaja yang kita sandarkan selain Allah akan hilang pada hari itu; marilah kita bergantung kepada-Nya sahaja.According to Ibn ‘Āshūr, the word then here marks a higher rank, since disgrace in the Hereafter is greater than having worldly comforts wiped out. The question where Allah’s partners are is a question about place used in mockery, for on that day they know such partners do not exist; and the partners are linked to Allah to sharpen the rebuke, since His majesty is then plain to see.
Reflection: Whatever we lean on besides Allah will vanish on that day; let us rely on Him alone.
تَتَوَفَّىٰهُمُ
diambil nyawanya oleh (lit. … mengambil nyawa mereka)souls are taken by (lit. … take their souls) (malaikat al‑mala’ikatuthe angels al‑malā’ikatu)
فَأَلۡقَوُاْ
lalu … tunduk (lit. lalu … mencampakkan)then … submitted (lit. then … threw down) (merekathey)
ٱلسَّلَمَ
menyerah (ketika melihat azab sambil berkata)in surrender (on seeing the punishment, saying)
بَلَىٰٓۚ
(malaikat menjawab): bahkan (kamu ada melakukannya)(the angels reply): indeed (you did do it)
Terjemahan: (Iaitu) mereka yang diambil nyawanya oleh malaikat dalam keadaan mereka menganiaya diri sendiri (dengan kekufurannya)." Lalu mereka tunduk menyerah (ketika melihat azab sambil berkata): "Kami tiada melakukan sesuatu kejahatan". (Malaikat menjawab): "Bahkan (kamu ada melakukannya); sesungguhnya Allah Maha Mengetahui akan apa yang kamu telah kerjakanTranslation: (namely) those whose souls are taken by the angels while they are doing injustice to their own selves (by their disbelief).” Then they submitted in surrender (on seeing the punishment, saying): “We were not committing any evil.” (The angels reply): “Indeed (you did do it); truly Allah is All-Knowing of what you have done.
Nota nahu: مَا dalam إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌۢ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ (ayat 28).Grammar note: مَا in إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌۢ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ (verse 28).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَأَسْنَدُوا الْعِلْمَ إِلَى اللَّهِ دُونَ أَنْ يَقُولُوا: إِنَّا نَعْلَمُ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ، أَدَبًا مَعَ اللَّهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/139–140 · Shamela ↗ (huraian ayat 28–29)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/139–140 · Shamela ↗ (commentary on 28–29)
Menurut Ibn ‘Āshūr, “tunduk menyerah” ialah menzahirkan sikap menyerah dengan hina, seperti orang yang mencampakkan senjata: mereka meninggalkan kesombongan lalu bergegas tunduk. Jawapan malaikat dimulakan dengan “Bahkan” untuk membatalkan penafian mereka; dan malaikat menyandarkan ilmu kepada Allah, tidak berkata bahawa mereka sendiri yang tahu, sebagai adab terhadap Allah dan tanda bahawa mereka hanya tahu kerana diajar oleh-Nya.
Renungan: Malaikat pun beradab ketika menyebut ilmu; marilah kita menyandarkan segala ilmu kepada Allah dan tidak berbangga dengannya.According to Ibn ‘Āshūr, their submitting in surrender means showing surrender with abasement, like throwing down one’s weapons: they dropped their arrogance and hurried to give in. The angels’ reply opens with a word that cancels their denial; and they ascribe knowledge to Allah instead of saying that they themselves know, out of courtesy towards Allah and as a sign that they know only because He taught them.
Reflection: Even the angels are courteous when speaking of knowledge; let us ascribe all knowledge to Allah and never be proud of it.
فَلَبِئۡسَ
maka sesungguhnya (neraka itu) seburuk-buruk (lit. maka amat buruklah)then truly (that Hell) is the worst of (lit. so how evil is) (tempat tinggal mathwathe dwelling mathwā)
Terjemahan: Oleh itu, masukilah pintu-pintu neraka, tinggal kekalah kamu di dalamnya; maka sesungguhnya (neraka itu) seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong takbur"Translation: Therefore, enter the gates of Hell, remaining for ever in it; then truly (that Hell) is the worst of abodes for those who are arrogant and proud.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَإِنَّمَا صَرَّحَ تَعَالَى بِذِكْرِ الْخُلُودِ لِيَكُونَ الْغَمُّ وَالْحَزَنُ أَعْظَمَ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/200 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/200 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, perintah “masukilah pintu-pintu neraka” menunjukkan kedudukan mereka dalam azab berbeza-beza, sebahagiannya lebih berat daripada sebahagian yang lain; dan kekal di dalamnya disebut dengan terang supaya dukacita mereka lebih besar. Ayat ini ditutup dengan “seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong takbur”, iaitu sombong daripada menerima tauhid dan segala ajaran yang dibawa para nabi.
Renungan: Kesombongan menolak kebenaran membawa kepada kesudahan yang paling buruk; marilah kita merendah diri menerima kebenaran.Ar-Rāzī says the order to enter the gates of Hell shows that their places in the punishment differ, some heavier than others; and remaining in it for ever is stated outright so that their grief is all the greater. The verse closes on the evil abode of the arrogant, meaning those too proud to accept tawḥīd and all that the prophets brought.
Reflection: Pride that rejects the truth leads to the worst of ends; let us humble ourselves to accept the truth.
وَقِيلَ
dan ditanya pula (lit. dan dikatakan)and it was asked in turn (lit. and it was said) (ayat: madza anzala…the clause: mādhā anzala…)NF
أَنزَلَ
telah diturunkan oleh (lit. … telah menurunkan)has been sent down by (lit. … sent down) (Tuhan kamu rabbukumyour Lord rabbukum)
وَلَنِعۡمَ
dan memanglah negeri akhirat ialah sebaik-baik (lit. dan amat baiklah)and indeed, the abode of the Hereafter is the best of (lit. and how excellent is) (negeri daruthe abode dāru)
Terjemahan: Dan ditanya pula kepada orang-orang yang bertaqwa: "Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhan kamu?" Mereka menjawab: "Kebaikan". Orang-orang yang berbuat kebaikan di dunia ini beroleh balasan yang baik, dan sesungguhnya balasan negeri akhirat itu lebih baik lagi; dan memanglah negeri akhirat ialah sebaik-baik negeri bagi orang-orang yang bertaqwaTranslation: And it was asked in turn of those who have taqwa: “What has been sent down by your Lord?” They replied: “Good.” Those who do what is good in this world will obtain a recompense that is good, and truly the recompense of the abode of the Hereafter is better still; and indeed, the abode of the Hereafter is the best of abodes for those who have taqwa.
Dipulihkan – menunggu semakan naskhah cetak. Teks Basmeih dalam talian bagi ayat ini rosak: perkataan berulang “yang telah diturunkan oleh tuhan” telah dibuang.
Nota nahu: وَقِيلَ لِلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ مَاذَآ أَنزَلَ رَبُّكُمْ (ayat 30).Grammar note: وَقِيلَ لِلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ مَاذَآ أَنزَلَ رَبُّكُمْ (verse 30).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَأَرْشَدُوا السَّائِلِينَ وَلَمْ يَتَرَدَّدُوا فِي الْكَشْفِ عَنْ حَقِيقَةِ الْقُرْآنِ بِأَوْجَزِ بَيَانٍ وَأَجْمَعِهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/141 · Shamela ↗ (huraian ayat 30–31)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/141 · Shamela ↗ (commentary on 30–31)
Menurut Ibn ‘Āshūr, keadaan orang beriman di sini dibandingkan dengan keadaan orang kafir dalam susunan yang sangat indah. Apabila ditanya tentang al-Qur’an, mereka membimbing orang yang bertanya tanpa ragu, dengan jawapan yang paling ringkas dan padat: “Kebaikan”, kalimah yang merangkumi setiap kebaikan dunia dan akhirat; dan naṣb (baris atas) pada kalimah itu menunjukkan mereka membenarkan bahawa al-Qur’an diturunkan oleh Allah.
Renungan: Apabila ditanya tentang agama, marilah kita menjawab dengan jelas, ringkas dan jujur, supaya orang lain terbimbing.According to Ibn ‘Āshūr, the state of the believers is set here against that of the disbelievers in a most beautiful arrangement. Asked about the Qur’an, they guided the questioner without hesitating, in the briefest and fullest answer: good, a word that takes in every good of this world and the next; and the naṣb, the a-vowel ending, on that word shows that they affirmed the Qur’an was sent down by Allah.
Reflection: When asked about our religion, let us answer clearly, briefly and honestly, so that others are guided.
Terjemahan: (Untuk mereka) Syurga-syurga "Adn", yang mereka akan memasukinya, yang mengalir padanya beberapa sungai; mereka beroleh di dalam Syurga itu apa yang mereka kehendaki; demikianlah Allah membalas orang-orang yang bertaqwaTranslation: (For them are) the abodes of Paradise of “‘Adn”, which they will enter, in which rivers flow; they will obtain in that Paradise whatever they desire; in this way Allah rewards those who have taqwa.
Nota nahu: كَذَٰلِكَ يَجْزِى ٱللَّهُ ٱلْمُتَّقِينَ (ayat 31).Grammar note: كَذَٰلِكَ يَجْزِى ٱللَّهُ ٱلْمُتَّقِينَ (verse 31).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَذَلِكَ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْإِنْسَانَ لَا يَجِدُ كُلَّ مَا يُرِيدُهُ فِي الدُّنْيَا»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/202 · Shamela ↗ (huraian ayat 30–32)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/202 · Shamela ↗ (commentary on 30–32)
Kata ar-Rāzī, perkataan jannāt (taman-taman Syurga) menunjukkan istana dan taman, dan “Adn” menunjukkan kekal. Ungkapan “mereka beroleh di dalam Syurga itu apa yang mereka kehendaki” merangkumi segala kebaikan dan kebahagiaan, dan ia menunjukkan bahawa keadaan ini hanya ada di Syurga; manusia tidak mendapat semua yang dikehendakinya di dunia.
Renungan: Janganlah kita kecewa apabila tidak semua hajat dunia tercapai; marilah kita menyimpan harapan yang sempurna untuk Syurga.Ar-Rāzī says the word for the gardens of Paradise points to palaces and gardens, and ‘Adn points to permanence. That they will have in it whatever they desire takes in every good and every joy, and it shows this state is found only in Paradise, for in this world a person does not find all that he wants.
Reflection: Let us not despair when not all our worldly hopes come true; let us keep our fullest hope for Paradise.
تَتَوَفَّىٰهُمُ
diambil nyawanya oleh (lit. … mengambil nyawa mereka)souls are taken by (lit. … take their souls) (malaikat al‑mala’ikatuthe angels al‑malā’ikatu)
طَيِّبِينَ
dalam keadaan mereka bersih suci (dari kufur syirik dan maksiat)while they are clean and pure (from disbelief, shirk and disobedience)
يَقُولُونَ
sambil … berkata kepada merekaas … say to them (mereka (malaikat‑malaikat itu)they (the angels))
بِمَا
disebabkan amal baik yang (lit. dengan sebab apa yang)because of the good deeds that (lit. because of what)
Terjemahan: (Iaitu) mereka yang diambil nyawanya oleh malaikat dalam keadaan mereka bersih suci (dari kufur syirik dan maksiat), sambil malaikat itu berkata kepada mereka: "Selamat sejahtera kepada kamu; masuklah ke dalam Syurga disebabkan amal baik yang telah kamu kerjakan"Translation: (Namely) those whose souls are taken by the angels while they are clean and pure (from disbelief, shirk and disobedience), as the angels say to them: “Peace and well-being be upon you; enter Paradise because of the good deeds that you have done.”
Nota nahu: ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ (ayat 32).Grammar note: ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ (verse 32).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَقَوْلُهُ: طَيِّبِينَ كَلِمَةٌ مُخْتَصَرَةٌ جَامِعَةٌ لِلْمَعَانِي الْكَثِيرَةِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/202 · Shamela ↗ (huraian ayat 30–32)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/202 · Shamela ↗ (commentary on 30–32)
Kata ar-Rāzī, sifat “bersih suci” ialah kalimah ringkas yang menghimpunkan banyak makna: mereka melakukan semua yang diperintahkan dan menjauhi semua yang dilarang; mereka bersifat dengan akhlak yang mulia dan bersih daripada akhlak yang tercela; dan nyawa mereka diambil dengan baik disertai berita gembira tentang Syurga, seolah-olah mereka sudah menyaksikannya.
Renungan: Kesudahan yang baik lahir daripada hidup yang bersih; marilah kita membersihkan amal dan akhlak kita setiap hari.Ar-Rāzī says being clean and pure is a short phrase that gathers many meanings: they did all they were commanded and shunned all they were forbidden; they bore noble character and were free of blameworthy traits; and their souls were taken gently with the glad news of Paradise, as if they already beheld it.
Reflection: A good ending grows out of a clean life; let us cleanse our deeds and our character every day.
هَلۡ
(apakah yang ditunggu-tunggu oleh mereka yang tidak beriman itu?) … tidak (lit. adakah)(what is it that those who do not believe are waiting for?) … nothing (lit. do)
تَأۡتِيَهُمُ
kedatangan (lit. … datang kepada mereka)the coming of (lit. … come to them) (malaikat al‑mala’ikatuthe angels al‑malā’ikatu)
ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ
malaikat (yang akan mencabut nyawa mereka)the angels (who will take their souls)
فَعَلَ
yang dilakukan oleh (lit. … melakukan)was what was done by (lit. … did) (orang‑orang kafir alladzinathe disbelievers alladhīna)
Terjemahan: (Apakah yang ditunggu-tunggu oleh mereka yang tidak beriman itu?) Mereka tidak menunggu melainkan kedatangan malaikat (yang akan mencabut nyawa mereka), atau kedatangan azab Tuhanmu (yang akan membinasakan mereka). Demikianlah juga yang dilakukan oleh orang-orang kafir yang terdahulu daripada mereka (lalu dibinasakan); dan (sebenarnya) Allah tidak menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri sendiriTranslation: (What is it that those who do not believe are waiting for?) They wait for nothing but the coming of the angels (who will take their souls), or the coming of the punishment of your Lord (that will destroy them). Such too was what was done by the disbelievers who came before them (and then they were destroyed); and (in truth) Allah did not do them injustice, but they were the ones who did injustice to their own selves.
Nota nahu: كَذَٰلِكَ فَعَلَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ (ayat 33).Grammar note: كَذَٰلِكَ فَعَلَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ (verse 33).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«كَمَا تَقُولُ لِمَنْ لَا يَأْخُذُ حَذَرَهُ مِنَ الْعَدُوِّ: مَا تَتَرَقَّبُ إِلَّا أَنْ تَقَعَ أَسِيرًا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/145 · Shamela ↗ (huraian ayat 33–34)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/145 · Shamela ↗ (commentary on 33–34)
Menurut Ibn ‘Āshūr, mereka digambarkan seperti orang yang “tidak menunggu melainkan” salah satu daripada dua perkara, kerana mereka berpaling daripada ancaman dan tidak memikirkan bukti kebenaran Rasul walaupun bukti itu jelas; sama seperti kata kita kepada orang yang tidak berwaspada terhadap musuh: engkau hanya menunggu untuk ditawan. Ayat ini mengingatkan supaya tidak terpedaya kerana ancaman itu ditangguhkan, dan mendorong supaya segera beriman.
Renungan: Penangguhan bukan bererti terlepas; marilah kita segera bertaubat sementara masih ada masa.According to Ibn ‘Āshūr, they are pictured as people waiting for nothing but one of two things, because they turn away from the warning and do not reflect on the proofs of the Messenger’s truth though those proofs are plain; just as one says to someone who takes no care against an enemy: you are only waiting to be taken captive. It warns against being lulled by the delay of the threatened punishment and urges a swift turn to faith.
Reflection: Delay does not mean escape; let us hasten to repent while there is still time.
فَأَصَابَهُمۡ
oleh itu, mereka ditimpa azab sebagai balasan (lit. maka … menimpa mereka)so they were struck by punishment as recompense for (lit. so … struck them) (kejahatan‑kejahatan sayyi’atuthe evils sayyi’ātu)
وَحَاقَ
dan azab Allah itu meliputi (lit. dan … meliputi)and the punishment of Allah closed in on (lit. and … closed in on) (apa yang mawhat mā)
Terjemahan: Oleh itu, mereka ditimpa azab sebagai balasan perbuatan jahat yang mereka lakukan; dan azab Allah itu meliputi mereka sebagai balasan bagi apa yang mereka telah ejek-ejek dahuluTranslation: So they were struck by punishment as recompense for the evil deeds that they had done; and the punishment of Allah closed in on them as recompense for what they used to mock.
Nota nahu (ayat 34).Grammar note (verse 34).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَحاقَ بِهِمْ أَيْ نَزَلَ بِهِمْ عَلَى وَجْهٍ أَحَاطَ بجوانبهم»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/203 · Shamela ↗ (huraian ayat 33–34)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/203 · Shamela ↗ (commentary on 33–34)
Kata ar-Rāzī, “mereka ditimpa azab sebagai balasan perbuatan jahat” bermaksud mereka ditimpa hukuman bagi kejahatan yang mereka lakukan (penjelasan yang hampir sama terdapat dalam al-Kashshāf karya al-Zamakhsharī). Perkataan “meliputi mereka” pula bermaksud azab itu turun kepada mereka dengan cara yang mengepung mereka dari semua arah; dan yang meliputi mereka itu ialah hukuman atas ejekan mereka.
Renungan: Kejahatan yang dianggap kecil boleh kembali mengepung pelakunya; marilah kita tidak sekali-kali memperolok-olokkan peringatan Allah.Ar-Rāzī says their being struck as recompense for their evil deeds means the penalty for the evils they did struck them (a similar explanation is in al-Kashshāf by al-Zamakhsharī). Closing in on them means the punishment came down on them in a way that surrounded them on every side; and what closed in on them was the penalty for their mockery.
Reflection: Wrongs thought small can come back to hem in the one who did them; let us never make light of Allah’s warnings.
وَقَالَ
dan berkatalahand … said (orang‑orang kafir musyrik alladzinathe disbelieving people of shirk alladhīna)
أَشۡرَكُواْ
musyrik (lit. … mempersekutukan)people of shirk (lit. … associate partners) (merekathey)
فَعَلَ
yang telah dilakukan oleh (lit. … telah melakukan)was what was done by (lit. … did) (orang‑orang yang alladzinathose who alladhīna)
فَهَلۡ
(apa yang mereka katakan itu adalah salah semata-mata) kerana bukankah (lit. maka adakah)(what they say is wholly wrong) for is it not that (lit. so is)
Terjemahan: Dan berkatalah orang-orang kafir musyrik: "Kalaulah Allah menghendaki, tentulah kami tidak menyembah selain daripada-Nya sesuatupun, - (tidak) kami dan tidak juga datuk nenek kami; - dan tentulah kami tidak mengharamkan sesuatu pun dengan ketiadaan perintah-Nya". Demikianlah juga yang telah dilakukan oleh orang-orang yang terdahulu daripada mereka. (Apa yang mereka katakan itu adalah salah semata-mata) kerana bukankah Rasul-rasul semuanya tidak bertanggungjawab selain daripada menyampaikan (kehendak dan hukum Allah) dengan cara yang jelas nyataTranslation: And the disbelieving people of shirk said: “Had Allah willed, we surely would not have worshipped anything at all other than Him, - (not) we, and not our forefathers either; - and we surely would not have made anything unlawful without His command.” Such too was what was done by those who came before them. (What they say is wholly wrong) for is it not that the Messengers, all of them, are responsible for nothing other than conveying (the will and laws of Allah) in a manner that is clear and plain?
Nota nahu: كَذَٰلِكَ فَعَلَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ (ayat 35).Grammar note: كَذَٰلِكَ فَعَلَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ (verse 35).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَلَيْسَ الرُّسُلُ بِمُكَلَّفِينَ بِإِكْرَاهِ النَّاسِ عَلَى الْإِيمَانِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/148 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/148 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, maksud “Demikianlah juga yang telah dilakukan oleh orang-orang yang terdahulu daripada mereka” ialah: umat terdahulu berbuat seperti mereka lalu dibinasakan; jika perbuatan itu diredhai Allah tentu Dia tidak membinasakan mereka, maka kebinasaan itu patut menjadi bukti bahawa Allah tidak redha. Lalu perbincangan dengan mereka diputuskan: Rasul-rasul hanya bertanggungjawab menyampaikan, dan mereka tidak dibebankan untuk memaksa manusia beriman.
Renungan: Tugas kita ialah menyampaikan kebenaran dengan jelas; marilah kita melakukannya tanpa memaksa sesiapa.According to Ibn ‘Āshūr, saying that those before them did the same means: earlier nations acted as they do and were destroyed; had those deeds pleased Allah He would not have destroyed them, so that destruction should have shown them that Allah was not pleased. Then the debate with them is cut short: the Messengers are charged only with conveying the message, and they are not tasked with forcing people to believe.
Reflection: Our task is to convey the truth clearly; let us do so without forcing anyone.
رَّسُولًا
seorang Rasul (dengan memerintahkannya menyeru mereka)a Messenger (commanding him to call them)
فَمِنۡهُم
maka di antara mereka (yang menerima seruan Rasul itu)so among them (who received the call of that Messenger)
هَدَى
diberi hidayah petunjuk oleh (lit. … memberi hidayah petunjuk)were given guidance by (lit. … guided) (AllahAllah)
حَقَّتۡ
berhak ditimpa (lit. telah tetap)deserved to be struck by (lit. became binding) (kesesatan adh‑dhalalatumisguidance aḍ‑ḍalālatu)
ٱلۡمُكَذِّبِينَ
umat-umat yang mendustakan Rasul-rasulnyathe communities that denied their Messengers
Terjemahan: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus dalam kalangan tiap-tiap umat seorang Rasul (dengan memerintahkannya menyeru mereka): "Hendaklah kamu menyembah Allah dan jauhilah Taghut". Maka di antara mereka (yang menerima seruan Rasul itu), ada yang diberi hidayah petunjuk oleh Allah dan ada pula yang berhak ditimpa kesesatan. Oleh itu mengembaralah kamu di bumi, kemudian lihatlah bagaimana buruknya kesudahan umat-umat yang mendustakan Rasul-rasulnyaTranslation: And truly We have sent among every ummah (community) a Messenger (commanding him to call them): “Worship Allah and keep away from Taghut.” So among them (who received the call of that Messenger) were some who were given guidance by Allah, and some who deserved to be struck by misguidance. So travel on the earth, then see how evil was the end of the communities that denied their Messengers.
Nota nahu (ayat 36).Grammar note (verse 36).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمَعْنَى: سِيرُوا فِي الْأَرْضِ مُعْتَبِرِينَ لِتَعْرِفُوا أَنَّ الْعَذَابَ نَازِلٌ بِكُمْ كَمَا نَزَلَ بِهِمْ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/205 · Shamela ↗ (huraian ayat 35–37)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/205 · Shamela ↗ (commentary on 35–37)
Kata ar-Rāzī, tentang “Taghut” ada dua pandangan: maksudnya jauhilah penyembahan apa sahaja yang disembah selain Allah, maka semuanya dinamakan Taghut; dan tidak mustahil maksudnya jauhilah ketaatan kepada syaitan dalam seruannya kepada kamu. Perintah “mengembaralah kamu di bumi, kemudian lihatlah” bermaksud: berjalanlah sambil mengambil iktibar (pengajaran), supaya kamu tahu bahawa azab akan menimpa kamu sebagaimana ia menimpa mereka.
Renungan: Kesan umat terdahulu ialah pelajaran; marilah kita melihatnya dengan hati yang mengambil iktibar, dan menjauhi setiap yang disembah selain Allah.Ar-Rāzī says there are two views on Taghut: that it means keep away from worshipping anything that is worshipped besides Allah, all of which is called Taghut; and that it may well mean keep away from obeying Satan when he calls you. The order to travel the earth and look means: travel taking heed, so that you know punishment will fall on you as it fell on them.
Reflection: The traces of past nations are lessons; let us look on them with hearts that take heed, and keep away from all that is worshipped besides Allah.
هُدَىٰهُمۡ
(inginkan mereka beroleh hidayah petunjuk) (lit. hidayah mereka)(wishing that they obtain guidance) (lit. their guidance)
يُضِلُّۖ
berhak disesatkan-Nya (lit. … sesatkan)deserve to be led astray by Him (lit. … leads astray) (DiaHe)
Terjemahan: Jika engkau (wahai Muhammad) terlalu tamak (inginkan mereka beroleh hidayah petunjuk), maka sesungguhnya Allah tidak memberi hidayah petunjuk kepada orang-orang yang berhak disesatkan-Nya; dan tiadalah bagi mereka sesiapapun yang dapat memberikan pertolonganTranslation: If you (O Muhammad) are very eager (wishing that they obtain guidance), then truly Allah does not guide those who deserve to be led astray by Him; and they have no one at all who can give help.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْحِرْصُ: فَرْطُ الْإِرَادَةِ الْمُلِحَّةِ فِي تَحْصِيلِ الْمُرَادِ بِالسَّعْيِ فِي أَسْبَابِهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/151 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/151 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini secara tidak langsung memuji Nabi Muhammad kerana baginda sangat inginkan kebaikan untuk mereka walaupun disakiti oleh mereka, gangguan yang biasanya membangkitkan rasa marah, tetapi jiwa baginda suci daripada kekurangan itu. Al-ḥirṣ (dalam terjemahan: “terlalu tamak”) ialah keinginan yang sangat kuat untuk mencapai sesuatu dengan berusaha menempuh sebab-sebabnya.
Renungan: Marilah kita mencontohi baginda, terus menginginkan kebaikan untuk orang lain walaupun mereka menyakiti kita.According to Ibn ‘Āshūr, this verse indirectly praises the Prophet Muhammad for his eagerness for their good despite the harm they did him, harm that usually stirs up anger, yet his soul was pure of such failings. Al-ḥirṣ, rendered very eager, is an intense, pressing wish to gain something by striving through its means.
Reflection: Let us follow his example, still wishing good for others even when they hurt us.
جَهۡدَ
dengan bersungguh-sungguh (sambil berkata) (lit. sesungguh-sungguh)with full earnestness (saying) (lit. the utmost effort of)
وَعۡدًا
janji (membangkitkan orang-orang yang telah mati)the promise (to raise those who have died)
Terjemahan: Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan bersungguh-sungguh (sambil berkata): "Allah tidak akan membangkitkan semula orang-orang yang telah mati". (Itu tidak benar), bahkan janji Allah (membangkitkan orang-orang yang telah mati) tetap benar; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuiTranslation: And they swore by the name of Allah with full earnestness (saying): “Allah will not raise again those who have died.” (That is not true); rather, the promise of Allah (to raise those who have died) remains true; but the majority of mankind do not know.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَإِنَّمَا أَيْقَنُوا بِذَلِكَ وَأَقْسَمُوا عَلَيْهِ لِأَنَّهُمْ تَوَهَّمُوا أَنَّ سَلَامَةَ الْأَجْسَامِ وَعَدَمَ انْخِرَامِهَا شَرْطٌ لِقَبُولِهَا الْحَيَاةَ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/153–154 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/153–154 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, mereka bersumpah “dengan bersungguh-sungguh” untuk menunjukkan keyakinan mereka bahawa kebangkitan tidak akan berlaku. Mereka yakin begitu kerana menyangka jasad mesti kekal utuh untuk dapat hidup semula, sedangkan mereka melihat jasad orang mati hancur. Maksud “tidak mengetahui” ialah mereka tidak tahu bagaimana ia berlaku, lalu mereka menjadikan anggapan bahawa ia jauh daripada akal sebagai bukti bahawa ia mustahil.
Renungan: Akal kita terbatas; marilah kita tidak menolak janji Allah hanya kerana kita tidak dapat membayangkan caranya.According to Ibn ‘Āshūr, they swore with full earnestness to show they were certain there would be no resurrection. They were sure of it because they imagined a body must stay whole to receive life again, while they saw the bodies of the dead decay. Their not knowing means they did not know how it happens, so they took its seeming unlikeliness as proof that it is impossible.
Reflection: Our minds are limited; let us never reject a promise of Allah merely because we cannot picture how it will come about.
لِيُبَيِّنَ
(Allah menghidupkan semula orang-orang yang mati) untuk menerangkan(Allah brings the dead back to life) to make clear (DiaHe)
وَلِيَعۡلَمَ
dan supaya … mengetahuiand so that … may know (orang‑orang kafir alladzinathose who disbelieve alladhīna)
Terjemahan: (Allah menghidupkan semula orang-orang yang mati) untuk menerangkan kepada mereka apa yang mereka berselisihan padanya, dan supaya orang-orang kafir mengetahui bahawa mereka adalah orang-orang yang berdustaTranslation: (Allah brings the dead back to life) to make clear to them that over which they differ, and so that those who disbelieve may know that they were ones who lied.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهُوَ التَّمْيِيزُ بَيْنَ الْمُطِيعِ وَبَيْنَ الْعَاصِي، وَبَيْنَ الْمُحِقِّ وَالْمُبْطِلِ، وَبَيْنَ الظَّالِمِ وَالْمَظْلُومِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/207 · Shamela ↗ (huraian ayat 38–40)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/207 · Shamela ↗ (commentary on 38–40)
Kata ar-Rāzī, ayat ini menerangkan sebab janji kebangkitan itu benar, iaitu untuk membezakan antara orang yang taat dengan orang yang derhaka, antara orang yang benar dengan orang yang batil, dan antara orang yang zalim dengan orang yang dizalimi; itulah maksud “untuk menerangkan kepada mereka apa yang mereka berselisihan padanya”.
Renungan: Setiap perselisihan dan kezaliman akan diadili; marilah kita berlaku adil hari ini sebelum segala-galanya diterangkan pada hari itu.Ar-Rāzī says this verse sets out the reason why the promise of resurrection is true: to tell apart the obedient from the disobedient, the one in the right from the one in the wrong, and the oppressor from the oppressed; that is the meaning of making clear to them what they differ over.
Reflection: Every dispute and every injustice will be judged; let us act justly today, before all is laid bare on that day.
Terjemahan: Sesungguhnya perkataan Kami kepada sesuatu apabila Kami kehendaki, hanyalah Kami berkata kepadanya: "Jadilah engkau!", maka menjadilah iaTranslation: Truly what We say to anything, when We will it, is only for Us to say to it: “Be!” and so it comes to be.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِبَيَانِ أَنَّ جَهْلَهُمْ بِمَدَى قُدْرَةِ اللَّهِ تَعَالَى هُوَ الَّذِي جَرَّأَهُمْ عَلَى إِنْكَارِ الْبَعْثِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/155–156 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/155–156 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini bersambung dengan penutup ayat 38 tentang kebanyakan manusia yang tidak mengetahui, untuk menjelaskan bahawa kejahilan mereka tentang luasnya kuasa Allah itulah yang menyebabkan mereka berani mengingkari kebangkitan. Menghidupkan orang mati hanyalah salah satu daripada perkara yang dijadikan, maka ia tidak terkeluar daripada kuasa-Nya; dan ayat ini membatalkan sangkaan mereka bahawa jasad mesti selamat daripada rosak barulah dapat dihidupkan.
Renungan: Mengenal kebesaran kuasa Allah menguatkan keyakinan kita kepada hari kebangkitan; marilah kita sentiasa mengingatinya.According to Ibn ‘Āshūr, this verse links back to the close of verse 38 about most people not knowing, to show that it was their ignorance of how far Allah’s power reaches that emboldened them to deny the resurrection. Bringing the dead to life is only one of the things brought into being, so it does not lie outside His power; and the verse overturns their belief that a body must be spared from decay before it can be revived.
Reflection: Knowing the greatness of Allah’s power strengthens our certainty of the Resurrection; let us keep it ever in mind.