ظُلِمُواْ
… dianiaya (ditindas oleh musuh-musuh Islam)… were wronged (oppressed by the enemies of Islam) (merekathey)NF
وَلَأَجۡرُ
dan sesungguhnya pahala (amal mereka yang baik itu)and truly the reward (of their good deeds)
Terjemahan: Dan orang-orang yang berhijrah kerana Allah, sesudah mereka dianiaya (ditindas oleh musuh-musuh Islam), Kami akan menempatkan mereka di dunia ini pada tempatnya yang baik; dan sesungguhnya pahala (amal mereka yang baik itu) lebih besar di akhirat kelak, kalaulah mereka mengetahuiTranslation: And those who emigrated for the sake of Allah after they were wronged (oppressed by the enemies of Islam), We will lodge them in this world in a place that is good; and truly the reward (of their good deeds) is greater in the Hereafter to come, if only they knew.
Nota nahu: مِنۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا۟ (ayat 41).Grammar note: مِنۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا۟ (verse 41).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّ الْهِجْرَةَ إِذَا لَمْ تَكُنْ لِلَّهِ لَمْ يَكُنْ لَهَا مَوْقِعٌ، وَكَانَتْ بِمَنْزِلَةِ الِانْتِقَالِ مِنْ بَلَدٍ إِلَى بَلَدٍ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/209 · Shamela ↗ (huraian ayat 41–42)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/209 · Shamela ↗ (commentary on 41–42)
Kata ar-Rāzī, setelah Allah menceritakan sumpah orang kafir mengingkari kebangkitan, ayat ini menerangkan hukum hijrah (berpindah) dan apa yang diperoleh orang yang berhijrah: kebaikan di dunia dan pahala di akhirat, kerana mereka berhijrah, bersabar dan bertawakal (berserah diri) kepada Allah; ini satu galakan kepada orang lain untuk taat kepada-Nya. Ungkapan “berhijrah kerana Allah” menunjukkan bahawa hijrah yang bukan kerana Allah tiada nilainya, sama seperti berpindah dari satu negeri ke negeri lain.
Renungan: Setiap perpindahan dan perubahan dalam hidup kita bernilai di sisi Allah apabila niatnya kerana Dia; marilah kita membetulkan niat sebelum melangkah.Ar-Rāzī says that after Allah told of the disbelievers swearing their strongest oaths against the Resurrection, this verse sets out the matter of hijrah, emigrating, and what the emigrants receive: good in this world and reward in the Hereafter, because they emigrated, were patient and relied on Allah; this encourages others to obey Him. Emigrating for Allah shows that a hijrah not made for Allah carries no worth, being like any move from one town to another.
Reflection: Every move and change in our lives has worth with Allah when the intention is for Him; let us set our intention right before we take a step.
Terjemahan: (Mereka itu ialah) orang-orang yang bersabar (menanggung kezaliman) dan berserah diri kepada TuhannyaTranslation: (They are) those who were patient (in bearing oppression) and place their trust in their Lord.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَأَنَّ التَّوَكُّلَ دَيْدَنُهُمْ لِأَنَّهُمْ يَسْتَقْبِلُونَ أَعْمَالًا جَلِيلَةً تَتِمُّ لَهُمْ بِالتَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ فِي أُمُورِهِمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/159–160 · Shamela ↗ (huraian ayat 41–42)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/159–160 · Shamela ↗ (commentary on 41–42)
Menurut Ibn ‘Āshūr, sabar ialah menanggung kesusahan, dan tawakal (berserah diri) ialah bersandar. Sabar disebut dengan fi‘il māḍī (kata kerja lampau), manakala tawakal dengan fi‘il muḍāri‘ (kata kerja kini), sebagai isyarat bahawa kesabaran mereka hampir berakhir kerana sebab-sebabnya akan hilang, sedangkan tawakal menjadi kebiasaan mereka, kerana mereka akan menghadapi tugas-tugas besar yang hanya sempurna dengan bertawakal kepada Allah. Didahulukan “kepada Tuhannya” untuk menunjukkan mereka hanya berserah kepada-Nya.
Renungan: Kesusahan akan berlalu, tetapi tawakal mesti menjadi kebiasaan; marilah kita bersabar ketika diuji dan berserah diri kepada Allah dalam setiap urusan kita.According to Ibn ‘Āshūr, patience is bearing hardship, and tawakkul, trusting reliance, is leaning on another. Patience is spoken of with a fi‘l māḍī, a past-tense verb, while reliance takes a fi‘l muḍāri‘, a present-tense verb, hinting that their patience was nearly over as its causes were about to end, while reliance was their habit, since great tasks lay ahead that could only be completed by relying on Allah. Their Lord is placed first to show that they rely on Him alone.
Reflection: Hardship will pass, but reliance on Allah must become a habit; let us be patient when tested and lean on Allah in all our affairs.
فَسۡـَٔلُوٓاْ
oleh itu bertanyalah … (wahai golongan musyrik) kepadaso ask … (O people of shirk) (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Dan tidaklah Kami mengutus Rasul-rasul sebelummu (wahai Muhammad), melainkan dari kalangan orang-orang lelaki, yang Kami wahyukan kepada mereka. Oleh itu bertanyalah kamu (wahai golongan musyrik) kepada orang-orang yang berpengetahuan ugama jika kamu tidak mengetahuiTranslation: And We sent no Messengers before you (O Muhammad) except from among men, to whom We reveal. So ask (O people of shirk) those who have knowledge of religion, if you do not know.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَقُصِرَ الْإِرْسَالُ عَلَى التَّعَلُّقِ بِرِجَالٍ مَوْصُوفِينَ بِأَنَّهُمْ يُوحَى إِلَيْهِمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/160–161 · Shamela ↗ (huraian ayat 43–44)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/160–161 · Shamela ↗ (commentary on 43–44)
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini kembali membatalkan dakwaan bahawa seorang manusia tidak layak menjadi utusan antara Allah dengan manusia, dengan membandingkannya dengan para rasul terdahulu. Ungkapan “melainkan dari kalangan orang-orang lelaki, yang Kami wahyukan kepada mereka” ialah qaṣr (pembatasan) yang menyanggah kepercayaan golongan musyrik: pengutusan itu terbatas kepada lelaki yang diberi wahyu. Allah menghadapkan ucapan ini kepada Rasulullah untuk memuliakan kedudukan baginda yang setaraf dengan rasul-rasul terdahulu.
Renungan: Para rasul ialah manusia seperti kita yang menerima wahyu; marilah kita menjadikan mereka teladan yang dekat dan mudah diikuti dalam kehidupan kita.According to Ibn ‘Āshūr, this verse returns to refuting the claim that a human being is unfit to be an envoy between Allah and people, by comparison with the earlier messengers. Limiting the sending to men who receive revelation is a qaṣr, a restriction, overturning what the people of shirk believed. Allah turns the address to the Messenger here to honour his standing as one with the earlier messengers.
Reflection: The messengers were human beings like us who received revelation; let us take them as close examples that we can truly follow in our lives.
بِٱلۡبَيِّنَٰتِ
(Kami utuskan Rasul-rasul itu) membawa keterangan-keterangan yang jelas nyata (yang membuktikan kebenaran mereka)(We sent those Messengers) bringing evidence that is clear and plain (proving their truth)
Terjemahan: (Kami utuskan Rasul-rasul itu) membawa keterangan-keterangan yang jelas nyata (yang membuktikan kebenaran mereka) dan Kitab-kitab Suci (yang menjadi panduan); dan Kami pula turunkan kepadamu (wahai Muhammad) Al-Quran yang memberi peringatan, supaya engkau menerangkan kepada umat manusia akan apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan supaya mereka memikirkannyaTranslation: (We sent those Messengers) bringing evidence that is clear and plain (proving their truth) and Holy Books (that serve as guidance); and We in turn have sent down to you (O Muhammad) the Qur’an that gives reminder, so that you may make clear to mankind what has been sent down to them, and so that they may reflect on it.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«بِالْبَيِّناتِ وَالزُّبُرِ لَفْظَةٌ جَامِعَةٌ لِكُلِّ مَا تَكَامَلَ بِهِ الرِّسَالَةُ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/211 · Shamela ↗ (huraian ayat 43–47)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/211 · Shamela ↗ (commentary on 43–47)
Kata ar-Rāzī, “keterangan-keterangan yang jelas nyata” dan “Kitab-kitab Suci” ialah ungkapan yang menghimpunkan segala yang menyempurnakan risalah (tugas kerasulan). Ini kerana risalah berpaksikan dua perkara: mukjizat yang membuktikan kebenaran orang yang mendakwa menjadi rasul, itulah al-bayyināt; dan taklif (suruhan dan larangan) yang disampaikan oleh rasul daripada Allah kepada hamba-hamba-Nya, itulah al-zubur.
Renungan: Mukjizat membuktikan kebenaran, dan suruhan pula menuntut amalan; marilah kita tidak cukup sekadar membenarkan, tetapi juga melaksanakan apa yang telah disampaikan kepada kita.Ar-Rāzī says the clear proofs and the Holy Books together form a phrase that gathers everything by which the mission of a messenger is made complete. For that mission turns on two things: miracles proving the truthfulness of the one who claims to be a messenger, which are al-bayyināt; and the obligations a messenger conveys from Allah to His servants, which are al-zubur.
Reflection: Miracles prove the truth, and commands call for action; let us not stop at believing, but also carry out what has been conveyed to us.
أَفَأَمِنَ
(setelah diterangkan yang demikian) maka adakah … merasa aman(after that has been made clear,) do … then feel safe (orang‑orang yang alladzinathose who alladhīna)
يَأۡتِيَهُمُ
mereka didatangi (lit. … datang kepada mereka)from being visited by (lit. … comes to them) (azab al‑‘adzabuthe punishment al‑‘adhābu)
Terjemahan: (Setelah diterangkan yang demikian) maka adakah orang-orang yang merancang dan melakukan kejahatan-kejahatan itu merasa aman daripada ditimbuskan oleh Allah akan mereka ke dalam bumi, atau mereka didatangi azab dari arah yang mereka tidak menyedarinyaTranslation: (After that has been made clear,) do those who plotted and carried out those evil deeds then feel safe from being buried by Allah in the earth, or from being visited by punishment from a direction they are not aware of?
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَالِاسْتِفْهَامُ مُسْتَعْمَلٌ فِي التَّعْجِيبِ الْمَشُوبِ بِالتَّوْبِيخِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/164–165 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/164–165 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, setelah disebut keburukan dan tipu daya mereka, dan setelah mereka diancam dengan azab hari kebangkitan, ayat ini mengancam mereka secara terang dengan azab dunia melalui istifhām (pertanyaan) yang menimbulkan rasa hairan bercampur celaan: mereka terus berdegil, keadaan mereka seperti orang yang merasa aman daripada azab Allah. Orang-orang yang “merancang dan melakukan kejahatan-kejahatan” ialah mereka yang melakukan tipu daya yang jahat.
Renungan: Rasa aman daripada azab Allah ialah tanda hati yang lalai; marilah kita sentiasa takut dan berhati-hati, lalu meninggalkan segala rancangan yang jahat.According to Ibn ‘Āshūr, after their misdeeds and schemes were listed and they were threatened with the punishment of the Day of Resurrection, this verse threatens them openly with punishment in this world through an istifhām, a question, meant to express wonder mixed with rebuke: they persist in defiance, in the state of people who feel safe from Allah’s punishment. Their plotting of evil means schemes that are wicked.
Reflection: Feeling safe from Allah’s punishment is a sign of a heedless heart; let us stay watchful and fearful, and abandon every evil plan.
يَأۡخُذَهُمۡ
… membinasakan mereka secara mengejut (lit. … mengambil mereka)… destroys them suddenly (lit. … takes them) (DiaHe)
تَقَلُّبِهِمۡ
mereka berulang alik melakukan kerja masing-masingthey go back and forth doing their own work
Terjemahan: Atau Ia membinasakan mereka secara mengejut dalam masa mereka berulang alik melakukan kerja masing-masing? Kerana sebenarnya mereka tidak akan dapat melemahkan kuasa AllahTranslation: Or that He destroys them suddenly while they go back and forth doing their own work? For in truth they will not be able to weaken the power of Allah.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«تَفْسِيرُ هَذَا اللَّفْظِ بِأَنَّهُ يَأْخُذُهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ فِي أَحْوَالِ إِقْبَالِهِمْ وَإِدْبَارِهِمْ وَذَهَابِهِمْ وَمَجِيئِهِمْ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/212 · Shamela ↗ (huraian ayat 43–47)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/212 · Shamela ↗ (commentary on 43–47)
Antara huraian ar-Rāzī tentang taqallub (berulang alik) — beliau menyebut tiga, dan yang kedua ini hampir sama dengan penjelasan dalam al-Kashshāf karya al-Zamakhsharī: Allah membinasakan mereka pada waktu malam atau siang ketika mereka datang dan pergi, iaitu ketika mereka menguruskan urusan-urusan yang biasa diuruskan oleh orang seperti mereka. Dalam huraian pertama, beliau menegaskan bahawa mereka tidak dapat melemahkan Allah walaupun pergi ke negeri yang jauh, kerana Allah menjangkau mereka di mana sahaja.
Renungan: Kesibukan harian tidak menjamin keselamatan kita; marilah kita mengisi kesibukan itu dengan ingatan kepada Allah.One of ar-Rāzī’s explanations of taqallub, going back and forth (he gives three, and this second one is close to what al-Kashshāf of al-Zamakhsharī says): Allah seizes them by night or by day as they come and go, that is, while they are busy with the affairs that people like them usually handle. In his first explanation he stresses that they cannot escape Allah even in distant lands, for He reaches them wherever they are.
Reflection: Our daily busyness does not guarantee our safety; let us fill that busyness with the remembrance of Allah.
يَأۡخُذَهُمۡ
… membinasakan mereka (dan harta benda mereka) (lit. … mengambil mereka)… destroys them (and their possessions) (lit. … takes them) (DiaHe)
Terjemahan: Atau Ia membinasakan mereka (dan harta benda mereka) sedikit demi sedikit? Kerana sesungguhnya Tuhan kamu Amat melimpah belas kasihan dan rahmat-NyaTranslation: Or that He destroys them (and their possessions) little by little? For truly your Lord is abundantly kind and abundantly merciful.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالتَّعْلِيلُ هُنَا لِمَا فُهِمَ مِنْ مَجْمُوعِ الْمَذْكُورَاتِ فِي الْآيَةِ مِنْ أَنَّهُ تَعَالَى قَادِرٌ عَلَى تَعْجِيلِ هَلَاكِهِمْ وَأَنَّهُ أَمْهَلَهُمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/167–168 · Shamela ↗ (huraian ayat 46–47)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/167–168 · Shamela ↗ (commentary on 46–47)
Menurut Ibn ‘Āshūr, penutup ayat “Kerana sesungguhnya Tuhan kamu Amat melimpah belas kasihan dan rahmat-Nya” ialah alasan bagi semua yang disebut sebelumnya: Allah berkuasa menyegerakan kebinasaan mereka, tetapi Dia memberi mereka tempoh, sehingga mereka lupa akan azab Allah dan menjadi seperti orang yang merasa aman daripadanya. Huruf inna (sesungguhnya) di sini menunjukkan sebab, mengambil tempat huruf fā’ (yang menunjukkan susulan) dan menguatkan maknanya.
Renungan: Tempoh yang Allah berikan ialah rahmat, bukan tanda kita selamat; marilah kita menggunakannya untuk bertaubat sebelum ia berakhir.According to Ibn ‘Āshūr, the closing words about the abundant kindness and mercy of the Lord give the reason for everything mentioned before: Allah is able to hasten their ruin, yet He gives them respite, until they forget Allah’s punishment and become like people who feel safe from it. The particle inna, truly, here gives the reason, takes the place of the particle fā’ that marks a sequel, and reinforces its sense.
Reflection: The respite Allah grants is a mercy, not a sign that we are safe; let us use it to repent before it ends.
يَتَفَيَّؤُاْ
beredar (berpindah-randah)shift (moving from place to place) (bayang‑bayangnya zilaluhuits shadows ẓilāluhu)
وَٱلشَّمَآئِلِ
dan ke kiri (pada pagi dan petang)and towards the left (in the morning and the evening)
سُجَّدٗا
dengan keadaan tunduk menurut peraturan dan kehendakin a state of submission to the rules and will of
Terjemahan: Tidakkah mereka melihat dan memikirkan segala yang telah dijadikan oleh Allah, yang beredar (berpindah-randah) bayang-bayangnya ke kanan dan ke kiri (pada pagi dan petang), dengan keadaan tunduk menurut peraturan dan kehendak Allah, sedang mereka merendah diriTranslation: Do they not see and reflect on all that has been made by Allah, whose shadows shift (moving from place to place) towards the right and towards the left (in the morning and the evening), in a state of submission to the rules and will of Allah, while they abase themselves?
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالِاعْتِبَارُ لَا يَكُونُ بِنَفْسِ الرُّؤْيَةِ حَتَّى يَكُونَ مَعَهَا نَظَرٌ إِلَى الشَّيْءِ وَتَأَمُّلٌ لِأَحْوَالِهِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/213–214 · Shamela ↗ (huraian ayat 48–50)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/213–214 · Shamela ↗ (commentary on 48–50)
Kata ar-Rāzī, setelah Allah menakut-nakutkan golongan musyrik dengan empat jenis azab, Dia menyusulinya dengan tanda-tanda kesempurnaan kuasa-Nya mentadbir alam, untuk menunjukkan bahawa Dia tidak lemah untuk menimpakan azab itu. Perkataan “melihat” di sini disambung dengan huruf ilā kerana maksudnya ialah memerhati untuk mengambil iktibar (pengajaran), dan iktibar tidak berlaku dengan sekadar melihat, sehingga disertai pemerhatian dan renungan terhadap keadaan sesuatu.
Renungan: Melihat tanpa merenung tidak membawa pengajaran; marilah kita memandang alam ini dengan mata yang merenung, hingga hati kita tunduk kepada Allah.Ar-Rāzī says that after Allah warned the people of shirk with four kinds of punishment, He followed it with signs of His perfect power in governing the world, to show that He is not unable to bring that punishment upon them. The verb to see is joined here with the particle ilā because the aim is looking in order to take i‘tibār, a lesson, and a lesson does not come from mere seeing until it is joined by attention to a thing and reflection on its states.
Reflection: Seeing without reflecting brings no lesson; let us look at this world with reflective eyes, until our hearts bow to Allah.
يَسۡتَكۡبِرُونَ
berlaku sombong takbur (daripada beribadat dan sujud kepada-Nya)behave proudly and arrogantly (disdaining to worship and prostrate to Him) (merekathey)
Terjemahan: Dan bagi Allah jualah tunduk sujud apa yang ada di langit dan yang ada di bumi, dari makhluk-makhluk yang bergerak serta malaikat; sedang mereka (malaikat-malaikat itu) tidak berlaku sombong takbur (daripada beribadat dan sujud kepada-Nya)Translation: And to Allah alone humbly prostrates what exists in the heavens and what exists on the earth, of creatures that move, as well as the angels; while they (those angels) do not behave proudly and arrogantly (disdaining to worship and prostrate to Him).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَفِي ذِكْرِ أَشْرَفِ الْمَخْلُوقَاتِ وَأَقَلِّهَا تَعْرِيضٌ بِذَمِّ مَنْ نَزَلَ مِنَ الْبَشَرِ عَنْ مَرْتَبَةِ الدَّوَابِّ فِي كُفْرَانِ الْخَالِقِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/170–171 · Shamela ↗ (huraian ayat 49–50)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/170–171 · Shamela ↗ (commentary on 49–50)
Menurut Ibn ‘Āshūr, didahulukan “bagi Allah” untuk menunjukkan bahawa segala yang ada di langit dan di bumi sujud kepada Allah, bukan kepada yang lain. Disebut makhluk yang paling rendah, iaitu haiwan yang bergerak, dan yang paling mulia, iaitu malaikat, sebagai sindiran yang mencela manusia yang jatuh lebih rendah daripada haiwan kerana kufur (tidak bersyukur) kepada Pencipta, dan sebagai pujian bagi manusia yang menyerupai keadaan para malaikat.
Renungan: Haiwan pun tunduk kepada Penciptanya; marilah kita tidak jatuh lebih rendah daripadanya, sebaliknya berusaha meniru para malaikat yang tidak pernah sombong untuk beribadat.According to Ibn ‘Āshūr, placing to Allah first shows that all in the heavens and on the earth prostrate to Allah and to no other. The lowest of creatures, the moving animals, and the noblest, the angels, are both named as a hint that blames humans who sink below the animals through ingratitude to the Creator, and praises humans who come to resemble the angels.
Reflection: Even animals submit to their Creator; let us not fall lower than them, but strive to be like the angels, who are never too proud to worship.
يُؤۡمَرُونَ
diperintahkan (lit. … diperintahkan)is commanded (lit. … are commanded) (merekathey)NF
Terjemahan: Mereka takut kepada Tuhan mereka yang mengatasi mereka (dengan kekuasaan-Nya), serta mereka mengerjakan apa yang diperintahkanTranslation: They fear their Lord, Who is above them (with His power), and carry out what is commanded.
Nota nahu: وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (ayat 50).Grammar note: وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (verse 50).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«كُلَّمَا كَانَتْ مَعْرِفَةُ اللَّهِ تَعَالَى أَتَمَّ، كَانَ الْخَوْفُ مِنْهُ أَعْظَمَ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/218 · Shamela ↗ (huraian ayat 48–50)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/218 · Shamela ↗ (commentary on 48–50)
Antara huraian ar-Rāzī: beliau menyebut dua jawapan tentang takutnya para malaikat dalam firman “Mereka takut kepada Tuhan mereka”: pertama, mereka takut akan ancaman azab lalu meninggalkan dosa; kedua, yang beliau nukil dan beliau anggap lebih sahih, ialah khawf al-ijlāl (takut kerana mengagungkan Allah). Hujah beliau, surah Fāṭir ayat 28 menunjukkan bahawa semakin sempurna makrifat (pengenalan) seseorang terhadap Allah, semakin besar takutnya kepada-Nya, dan takut seperti ini ialah takut kerana keagungan dan kebesaran-Nya.
Renungan: Takut yang sebenar lahir daripada mengenal Allah; marilah kita menambah ilmu tentang-Nya supaya hati kita lebih takut dan lebih taat.Among ar-Rāzī’s explanations: he gives two answers about the fear of the angels mentioned here: first, they fear the warning of punishment and so leave sin; second, which he reports and holds to be the sounder, is khawf al-ijlāl, fear born of reverence for Allah. His proof is that Fāṭir, verse 28 shows that the more complete one’s knowledge of Allah, the greater one’s fear of Him, and such fear can only be fear of His majesty and greatness.
Reflection: True fear grows out of knowing Allah; let us increase our knowledge of Him so that our hearts fear Him more and obey Him more.
فَٱرۡهَبُونِ
hendaknya … gerun gementarthat … should be in awe and trembling (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Dan Allah berfirman: "Janganlah kamu bertuhankan dua tuhan, kerana sesungguhnya Tuhan itu hanyalah Tuhan yang satu; maka kepada Akulah sahaja hendaknya kamu gerun gementar"Translation: And Allah said: “Do not take two gods for yourselves, for truly God is but One God; so it is of Me alone that you should be in awe and trembling.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّ الشَّيْءَ إِذَا كَانَ مُسْتَنْكَرًا مُسْتَقْبَحًا، فَمَنْ أَرَادَ الْمُبَالَغَةَ فِي التَّنْفِيرِ عَنْهُ عَبَّرَ عَنْهُ بِعِبَارَاتٍ كَثِيرَةٍ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/219–220 · Shamela ↗ (huraian ayat 51–55)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/219–220 · Shamela ↗ (commentary on 51–55)
Kata ar-Rāzī, daripada empat jawapan tentang sebab disebut “dua tuhan” lalu ditegaskan lagi dengan bilangan dua dalam lafaz Arabnya, yang paling hampir di sisi beliau ialah: sesuatu yang amat buruk, apabila hendak dijauhkan orang daripadanya, diungkapkan dengan banyak ungkapan supaya akal benar-benar menyedari keburukannya. Beliau juga menjelaskan bahawa “kepada Akulah sahaja hendaknya kamu gerun gementar” membawa makna ḥaṣr (pembatasan): makhluk tidak patut takut kecuali kepada-Nya, dan tidak berharap kecuali kepada kurnia-Nya.
Renungan: Syirik (menyekutukan Allah) amat buruk sehingga larangannya ditegaskan berulang kali; marilah kita menjauhinya, dan menumpukan rasa takut serta harapan kita kepada Allah semata-mata.Ar-Rāzī says that of four answers on why two gods is stressed again with the number two, the nearest in his view is this: when something is utterly repugnant and one wishes to turn people firmly away from it, it is described in many expressions, so that the mind fully grasps its ugliness. He also explains that the command to be in awe of Allah alone carries ḥaṣr, restriction: creation should fear none but Him and hope for nothing but His bounty.
Reflection: Shirk is so ugly that the warning against it is stressed again and again; let us keep far from it, and direct our fear and hope to Allah alone.
أَفَغَيۡرَ
(sesudah kamu mengetahui yang demikian) maka tidaklah patut … kepada yang lain (lit. adakah maka yang lain)(after you know this,) it is not fitting, then, that … other (lit. is it then other)
Terjemahan: Dan bagi-Nyalah (hak milik) segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada-Nya sahaja tertentu ibadat dan ketaatan selama-lamanya; (sesudah kamu mengetahui yang demikian) maka tidaklah patut kamu takut kepada yang lain dari AllahTranslation: And to Him belongs (the ownership of) everything that exists in the heavens and on the earth; and to Him alone are worship and obedience due for ever; (after you know this,) it is not fitting, then, that you fear other than Allah.
Nota bahasa: وَلَهُ ٱلدِّينُ (ayat 52).Language note: وَلَهُ ٱلدِّينُ (verse 52).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّهُ لَمَّا قَصَرَ الْمَوْجُودَاتِ عَلَى الْكَوْنِ فِي مِلْكِهِ كَانَ حَقِيقًا بِقَصْرِ الطَّاعَةِ عَلَيْهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/175–176 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/175–176 · Shamela ↗
Antara huraian Ibn ‘Āshūr (yang pertama daripada tiga kemungkinan makna al-dīn): al-dīn di sini bermaksud ketaatan. Oleh kerana segala yang wujud telah dibataskan sebagai milik Allah, maka Dialah yang paling berhak agar ketaatan juga dibataskan kepada-Nya; kerana itulah didahulukan “kepada-Nya”, sama seperti dalam ungkapan sebelumnya yang menyebut hak milik-Nya. Wāṣib (selama-lamanya) pula bermaksud tetap dan berkekalan.
Renungan: Segala yang kita miliki adalah milik Allah; marilah kita menjadikan ketaatan kepada-Nya berkekalan, bukan hanya pada waktu-waktu tertentu atau ketika kita senang.One of Ibn ‘Āshūr’s explanations (the first of three possible meanings of al-dīn): al-dīn here means obedience. Since all that exists has been confined to Allah’s ownership, He is most entitled to have obedience confined to Him as well; that is why the phrase to Him comes first, just as in the clause before it about His ownership. Wāṣib, for ever, means fixed and lasting.
Reflection: All that we own belongs to Allah; let us make our obedience to Him lasting, not only at certain times or when life is easy.
مَسَّكُمُ
kamu ditimpa (lit. … menyentuh kamu)you are struck by (lit. … touches you) (kesusahan adh‑dhurruhardship aḍ‑ḍurru)
Terjemahan: Dan apa-apa nikmat yang ada pada kamu maka adalah ia dari Allah; kemudian, apabila kamu ditimpa kesusahan maka kepada-Nyalah kamu meraung meminta pertolonganTranslation: And whatever favour you have, it is from Allah; then, when you are struck by hardship, it is to Him that you cry out for help.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«اسْتُعِيرَ الْمَسُّ لِلْحُصُولِ الْخَفِيفِ لِلْإِشَارَةِ إِلَى ضِيقِ صَبْرِ الْإِنْسَانِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/177–178 · Shamela ↗ (huraian ayat 53–54)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/177–178 · Shamela ↗ (commentary on 53–54)
Menurut Ibn ‘Āshūr, maksud ayat ini ialah menegaskan bahawa Allah jualah yang mentadbir sebab-sebab kebaikan dan keburukan yang menimpa manusia, dan bahawa mereka hanya berlindung kepada-Nya apabila ditimpa kesusahan. Perkataan massa (menyentuh) dipinjam untuk sentuhan yang ringan, sebagai isyarat betapa sempitnya kesabaran manusia: sedikit sahaja kesusahan, dia sudah “meraung meminta pertolongan” kepada Allah.
Renungan: Kita cepat merintih apabila disentuh sedikit kesusahan; marilah kita belajar bersabar, dan mengingati bahawa setiap nikmat yang ada pada kita datang daripada Allah.According to Ibn ‘Āshūr, the point of this verse is to affirm that Allah alone manages the causes of the good and harm that reach people, and that they turn to none but Him when hardship strikes. The word massa, touching, is borrowed for a light contact, pointing to how narrow human patience is: at the slightest hardship one already raises a loud plea to Allah.
Reflection: We are quick to complain at the slightest touch of hardship; let us learn patience, and remember that every favour we have comes from Allah.
Terjemahan: Kemudian, apabila Ia menghapuskan kesusahan itu daripada kamu, tiba-tiba sepuak di antara kamu mempersekutukan (sesuatu yang lain) dengan Tuhan merekaTranslation: Then, when He removes that hardship from you, all at once a group among you associate (something else) with their Lord,
Nota nahu: إِذَا فَرِيقٌ مِّنكُم بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ (ayat 54).Grammar note: إِذَا فَرِيقٌ مِّنكُم بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ (verse 54).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وكانت هَذِهِ الْحَالَةَ الَّتِي شَرَحَهَا اللَّهُ تَعَالَى فِي هَذِهِ الْآيَةِ تَجْرِي مَجْرَى الصِّفَةِ اللَّازِمَةِ لِجَوْهَرِ نَفْسِ الْإِنْسَانِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/222–223 · Shamela ↗ (huraian ayat 51–55)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/222–223 · Shamela ↗ (commentary on 51–55)
Kata ar-Rāzī, apabila kesusahan diangkat, manusia berpecah: sepuak kekal berlindung hanya kepada Allah, dan sepuak lagi berubah lalu menyekutukan-Nya; ini satu kejahilan besar, kerana fitrah asal mereka sendiri telah mengakui ketika ditimpa bala bahawa tiada tempat berlindung selain Yang Esa. Beliau menceritakan, ketika menulis bahagian ini berlaku gempa bumi yang kuat; orang ramai berteriak berdoa, tetapi setelah ia reda mereka segera lupa dan kembali kepada kebodohan dan kejahilan. Keadaan ini, kata beliau, berlaku seperti sifat yang melekat pada jiwa manusia.
Renungan: Marilah kita tidak hanya ingat kepada Allah ketika susah, tetapi terus bersyukur dan setia kepada-Nya setelah kesusahan berlalu.Ar-Rāzī says that when hardship is lifted people divide: one group keeps turning to Allah alone, while another changes and associates others with Him; this is great ignorance, since their own original nature, in the face of calamity, already bore witness that there is no refuge but the One. He recounts that while writing this part a strong earthquake struck; people cried out in prayer, but once it calmed they promptly forgot it and went back to their folly and ignorance. This state, he says, runs like a trait bound up with the human self.
Reflection: Let us not remember Allah only in hardship, but stay grateful and loyal to Him after the hardship has passed.
لِيَكۡفُرُواْ
(mereka melakukan yang demikian) kerana … kufur, tidak bersyukur(they do so) because … are ungrateful, not giving thanks (merekathey)
فَتَمَتَّعُواْ
oleh itu, bersenang-senanglah … (dengan nikmat-nikmat itu bagi sementara di dunia)so enjoy yourselves (with those favours for a while in this world) (kamu sekalianyou all)
تَعۡلَمُونَ
mengetahui (balasan buruk yang akan menimpa kamu)come to know (the evil recompense that will befall you) (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: (Mereka melakukan yang demikian) kerana mereka kufur, tidak bersyukur akan nikmat-nikmat yang Kami berikan kepada mereka. Oleh itu, bersenang-senanglah kamu (dengan nikmat-nikmat itu bagi sementara di dunia), kemudian kamu akan mengetahui (balasan buruk yang akan menimpa kamu)Translation: (they do so) because they are ungrateful, not giving thanks for the favours We have given them. So enjoy yourselves (with those favours for a while in this world); then you will come to know (the evil recompense that will befall you).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَوَجْهُ الشَّبَهِ مُبَادَرَتُهُمْ لِكُفْرِ النِّعْمَةِ دُونَ تَرَيُّثٍ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/178–179 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/178–179 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, kufur di sini ialah kufur nikmat (tidak mensyukuri nikmat). Kembalinya mereka kepada syirik sebaik sahaja kesusahan diangkat diumpamakan dengan sebab yang mendorong sesuatu perbuatan; titik persamaannya ialah mereka bersegera mengingkari nikmat tanpa bertangguh. Perintah “bersenang-senanglah kamu” pula ialah perintah memberi tempoh, tanda Allah membiarkan mereka buat seketika.
Renungan: Nikmat yang diingkari hanya dapat dinikmati sementara; marilah kita segera mensyukuri setiap nikmat, sebelum tempoh kesenangan kita berakhir.According to Ibn ‘Āshūr, disbelief here is ingratitude for favours. Their return to shirk as soon as hardship is lifted is likened to a cause that drives an action; the point of likeness is that they rush to deny the favour without any pause. The command to enjoy themselves is a command granting respite, a sign that Allah leaves them alone for a while.
Reflection: Favours that are denied can be enjoyed only briefly; let us hurry to give thanks for every favour before our time of ease runs out.
وَيَجۡعَلُونَ
dan … (yang musyrik itu) menentukanand … (the people of shirk) set aside (merekathey)
لَتُسۡـَٔلُنَّ
sesungguhnya … akan ditanya kelaktruly … will be asked later (kamu sekalianyou all)NF
Terjemahan: Dan mereka (yang musyrik itu) menentukan untuk keperluan benda-benda yang mereka tidak mengetahui hal keadaannya, sebahagian dari harta-benda yang Kami kurniakan kepada mereka. Demi Allah! Sesungguhnya kamu akan ditanya kelak tentang apa yang kamu ada-adakan secara dusta ituTranslation: And they (the people of shirk) set aside, for the needs of things whose state they do not know, a share of the wealth that We have bestowed on them. By Allah! Truly you will be asked later about what you used to fabricate falsely.
Nota nahu: tiga مَا dalam ayat 56.Grammar note: the three مَا in verse 56.
(2) مِّمَّا رَزَقْنَٰهُمْ: مَا diwarnakan hijau (“harta-benda yang”), seperti dalam surah ar-Ra‘d ayat 22 dan Ibrahim ayat 31. Muḥammad ‘Alī Ṭāhā al-Durrah (Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm wa I‘rābuhu wa Bayānuh) juga menyebut: “ويجوز اعتبار (ما) مصدرية تؤوّل مع الفعل بعدها بمصدر في محل جر ب: (من)، التقدير: نصيبا كائنا من رزقنا لهم” (boleh juga mā dianggap maṣdariyyah: “sebahagian daripada rezeki Kami kepada mereka”) (5/207 · Shamela ↗); pada pandangan itu مَا akan diwarnakan merah.
(3) عَمَّا كُنتُمْ تَفْتَرُونَ: di sini مَا diwarnakan merah sebagai maṣdariyyah (huruf yang menjadikan kata kerja selepasnya bermakna kata nama terbitan: “tentang pengada-adaan kamu”). Kitab rujukan kami menyebut: “﴿عَمّا﴾: عن: حرف جر و (ما) مصدرية” (2/1207 · Shamela ↗); demikian juga teks utama Maḥmūd Ṣāfī (al-Jadwal fī I‘rāb al-Qur’ān): “(عن) حرف جرّ (ما) حرف مصدريّ” (7/337 · Shamela ↗) — nota kaki dalam al-Jadwal fī I‘rāb al-Qur’ān menyebut kata nama penghubung. Muḥammad ‘Alī Ṭāhā al-Durrah (Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm wa I‘rābuhu wa Bayānuh) pula merujuk: “مثل إعراب: ﴿بِما كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ﴾ في الآية رقم [٢٨] بلا فارق” (i‘rabnya sama seperti ayat 28) (5/207 · Shamela ↗), dan di sana menyebut: “و (ما) تحتمل الموصولة، والموصوفة، والمصدرية” (mā boleh jadi kata nama penghubung, kata nama tidak tentu yang disifatkan (mawṣūfah), atau maṣdariyyah) (5/175 · Shamela ↗). Pada pandangan kata nama penghubung atau mawṣūfah, مَا akan diwarnakan hijau; terjemahan Basmeih “tentang apa yang kamu ada-adakan” menggunakan bentuk kata nama penghubung, dan makna perkata mengikut Basmeih.
Pada semua pandangan ini kurungan pelaku tidak berubah. Kami mengikut kitab rujukan kami. (Dalam ayat 28 surah ini, بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ diwarnakan hijau kerana di sana kitab rujukan kami menjadikan mā kata nama penghubung; lihat nota ayat itu. Bandingkan juga عَمَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ dalam surah al-Hijr ayat 93, yang diwarnakan hijau kerana di sana kitab rujukan kami menjadikan mā kata nama penghubung, dan عَمَّا يَعْمَلُ ٱلظَّٰلِمُونَ dalam surah Ibrahim ayat 42, yang diwarnakan merah seperti di sini; lihat nota kedua-dua ayat itu. Frasa yang hampir sama, عَمَّا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ dalam ayat 93 surah ini, diwarnakan hijau kerana di sana kitab rujukan kami menjadikan mā kata nama penghubung; lihat nota ayat 93.)(1) لِمَا لَا يَعْلَمُونَ: مَا is coloured green as a relative noun (“things that”), in line with Basmeih. Dār al-Ṣaḥābah (I‘rāb al-Qur’ān al-Karīm) says: “﴿يَعْلَمُونَ﴾: مثل (يجعلون) والجملة صلة الموصول” (the clause لَا يَعْلَمُونَ is the ṣilah (relative clause) of that relative noun) (2/1207 · Shamela ↗). Muḥammad ‘Alī Ṭāhā al-Durrah (Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm wa I‘rābuhu wa Bayānuh), however, says: “﴿لِما:﴾ متعلقان بالفعل قبلهما، و (ما) تحتمل الموصولة والمصدرية” (mā may be a relative noun or maṣdariyyah (a verbal-noun particle)) and: “وعلى اعتبار (ما) مصدرية تؤوّل مع الفعل بعدها بمصدر في محل جر باللام، ويكون التقدير: يجعلون لعدم علمهم” (on the maṣdariyyah view the sense is “they set aside because of their lack of knowledge”) (5/207 · Shamela ↗). On that view مَا would be coloured red.
(2) مِّمَّا رَزَقْنَٰهُمْ: مَا is coloured green (“the wealth that”), as in surah ar-Ra‘d verse 22 and Ibrahim verse 31. Muḥammad ‘Alī Ṭāhā al-Durrah (Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm wa I‘rābuhu wa Bayānuh) also says: “ويجوز اعتبار (ما) مصدرية تؤوّل مع الفعل بعدها بمصدر في محل جر ب: (من)، التقدير: نصيبا كائنا من رزقنا لهم” (mā may also be taken as maṣdariyyah: “a share of Our providing for them”) (5/207 · Shamela ↗); on that view مَا would be coloured red.
(3) عَمَّا كُنتُمْ تَفْتَرُونَ: here مَا is coloured red as maṣdariyyah (a particle that turns the verb after it into a verbal noun: “about your fabricating”). Our reference book says: “﴿عَمّا﴾: عن: حرف جر و (ما) مصدرية” (2/1207 · Shamela ↗); so too the main text of Maḥmūd Ṣāfī (al-Jadwal fī I‘rāb al-Qur’ān): “(عن) حرف جرّ (ما) حرف مصدريّ” (7/337 · Shamela ↗) — a footnote in al-Jadwal fī I‘rāb al-Qur’ān gives the relative noun. Muḥammad ‘Alī Ṭāhā al-Durrah (Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm wa I‘rābuhu wa Bayānuh), however, refers: “مثل إعراب: ﴿بِما كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ﴾ في الآية رقم [٢٨] بلا فارق” (its i‘rāb is the same as in verse 28) (5/207 · Shamela ↗), and there says: “و (ما) تحتمل الموصولة، والموصوفة، والمصدرية” (mā may be a relative noun, an indefinite noun with a description (mawṣūfah), or maṣdariyyah) (5/175 · Shamela ↗). On the relative or mawṣūfah view, مَا would be coloured green; Basmeih’s rendering “tentang apa yang kamu ada-adakan” (“about what you fabricate”) uses the relative form, and the word meanings follow Basmeih.
On every one of these views the doer brackets do not change. We follow our reference book. (In verse 28 of this surah, بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ is coloured green because there our reference book takes mā as a relative noun; see the note on that verse. Compare also عَمَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ in surah al-Hijr verse 93, which is coloured green because there our reference book takes mā as a relative noun, and عَمَّا يَعْمَلُ ٱلظَّٰلِمُونَ in surah Ibrahim verse 42, which is coloured red as here; see the notes on both verses. The near-identical phrase عَمَّا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ in verse 93 of this surah is coloured green because there our reference book takes mā as a relative noun; see the note on verse 93.)
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ الْمُرَادَ أَنَّهُ يَسْأَلُهُمْ سُؤَالَ تَوْبِيخٍ وَتَهْدِيدٍ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/223–224 · Shamela ↗ (huraian ayat 56–60)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/223–224 · Shamela ↗ (commentary on 56–60)
Kata ar-Rāzī, setelah Allah menerangkan dengan dalil-dalil yang kukuh rosaknya kata-kata golongan syirik, ayat ini mula memperincikan kata-kata mereka, dan inilah yang pertama. Kemudian Allah bersumpah dengan diri-Nya bahawa Dia akan menyoal mereka; ini ancaman yang keras, kerana yang dimaksudkan ialah soalan untuk mencela dan mengancam. Beliau menyebut dua kemungkinan waktu soalan itu, dan menganggap yang lebih utama ialah di akhirat.
Renungan: Setiap apa yang kita ada-adakan akan disoal; marilah kita berhati-hati dalam setiap ucapan dan amalan, terutama dalam perkara agama.Ar-Rāzī says that after Allah exposed, with compelling proofs, the corruption of the sayings of the people of shirk, this verse begins to detail those sayings, and this is the first. Then Allah swears by Himself that He will question them; this is a severe threat, for what is meant is questioning that rebukes and threatens. He mentions two possible times for that questioning, and holds the more fitting to be in the Hereafter.
Reflection: Everything we invent will be questioned; let us be careful in every word and deed, especially in matters of religion.
وَيَجۡعَلُونَ
dan … mengatakan (lit. dan … menjadikan)and … say that (lit. and … make) (merekathey)
وَلَهُم
sedang bagi mereka pula mereka sediakan (lit. dan bagi mereka)while for themselves they set aside (lit. and for them)
Terjemahan: Dan mereka mengatakan Allah mempunyai anak-anak perempuan. Maha Suci Ia. Sedang bagi mereka pula mereka sediakan apa yang mereka sukai (anak-anak lelaki)Translation: And they say that Allah has daughters. Glory be to Him! While for themselves they set aside what they desire (sons).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَقَوْلُهُ: سُبْحانَهُ مِثْلُ قَوْلِهِمْ: حَاشَ لِلَّهِ وَمَعَاذَ اللَّهِ، أَيْ تَنْزِيهًا لَهُ عَنْ أَنْ يَكُونَ لَهُ ذَلِك»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/182–183 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/182–183 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini juga mengingatkan nikmat Allah berupa zuriat, sambil menyebut satu bentuk kekufuran mereka yang buruk. Ungkapan “Maha Suci Ia” sama seperti ucapan ḥāsya lillāh dan ma‘ādhallāh (Allah terpelihara daripada perkara itu), iaitu penyucian Allah daripada mempunyai anak. Ia didahulukan sebelum “Sedang bagi mereka pula” supaya jelas bahawa yang disucikan ialah penisbahan anak kepada Allah itu sendiri; manakala “apa yang mereka sukai” ialah anak-anak lelaki.
Renungan: Marilah kita sentiasa menyucikan Allah daripada segala yang tidak layak bagi-Nya, dan mensyukuri zuriat yang dikurniakan-Nya, sama ada lelaki atau perempuan.According to Ibn ‘Āshūr, this verse also recalls Allah’s favour of offspring, while naming one shameful form of their disbelief. The words glorifying Allah here are like saying ḥāsha lillāh and ma‘ādha Allāh, Allah is far above that, a declaration that He is free of having children. They come before the mention of what the people keep for themselves so that it is clear that what He is declared free of is ascribing offspring to Him at all; and what they desire means sons.
Reflection: Let us always declare Allah free of all that does not befit Him, and give thanks for the children He grants us, whether sons or daughters.
بُشِّرَ
dikhabarkan kepada (lit. … diberi khabar)it is announced to (lit. … is given news) (seseorang dari mereka ahaduhumone of them aḥaduhum)NF
بِٱلۡأُنثَىٰ
bahawa ia beroleh anak perempuan (lit. dengan anak perempuan)that he has a baby girl (lit. of a female)
Terjemahan: Dan apabila dikhabarkan kepada seseorang dari mereka bahawa ia beroleh anak perempuan, muramlah mukanya sepanjang hari (kerana menanggung dukacita), sedang ia menahan perasaan marahnya dalam hatiTranslation: And when it is announced to one of them that he has a baby girl, his face stays gloomy all day long (from bearing grief), while he holds back his anger in his heart.
Nota nahu: وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِٱلْأُنثَىٰ (ayat 58).Grammar note: وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِٱلْأُنثَىٰ (verse 58).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا فَالْمَعْنَى أَنَّهُ يَصِيرُ مُتَغَيِّرًا تَغَيُّرَ مُغْتَمٍّ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/225 · Shamela ↗ (huraian ayat 56–60)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/225 · Shamela ↗ (commentary on 56–60)
Kata ar-Rāzī, ayat ini menunjukkan bahawa seorang daripada mereka tidak rela anak perempuan untuk dirinya, maka bagaimana dia menisbahkannya kepada Allah. Tabsyīr (mengkhabarkan) pada asal bahasa ialah berita yang mengubah kulit wajah, sama ada kerana gembira atau sedih; beliau menganggap ia benar bagi kedua-duanya, dan pandangan ini lebih tepat. Ungkapan “muramlah mukanya” bermaksud wajahnya berubah seperti orang yang berduka, dan kaẓīm (menahan perasaan) bermaksud hatinya penuh dengan duka dan kesedihan.
Renungan: Apa yang kita tidak sukai untuk diri sendiri, jangan sekali-kali dinisbahkan kepada Allah; marilah kita menjaga adab dalam setiap ucapan tentang-Nya.Ar-Rāzī says the verse shows that one of them would not accept a daughter for himself, so how could he ascribe that to Allah? Tabshīr, giving news, in its root sense is news that changes the skin of the face, whether from joy or from grief; he takes it as true for both, and holds this view the sounder. A face turning dark means it changes as a grieving person’s face does, and kaẓīm, holding back one’s feelings, means one whose heart is full of sorrow and grief.
Reflection: What we dislike for ourselves must never be ascribed to Allah; let us keep proper courtesy in all we say about Him.
بِهِۦٓۚ
kepadanya (tentang ia beroleh anak perempuan; sambil ia berfikir) (lit. dengannya)to him (about his having a baby girl; while he thinks) (lit. of it)
Terjemahan: Ia bersembunyi dari orang ramai kerana (merasa malu disebabkan) berita buruk yang disampaikan kepadanya (tentang ia beroleh anak perempuan; sambil ia berfikir): adakah ia akan memelihara anak itu dalam keadaan yang hina, atau ia akan menanamnya hidup-hidup dalam tanah? Ketahuilah! Sungguh jahat apa yang mereka hukumkan ituTranslation: He hides himself from people because of (feeling ashamed over) the bad news that is conveyed to him (about his having a baby girl; while he thinks): will he keep that child in a state of disgrace, or will he bury it alive in the ground? Know this! Truly evil is what they judge.
Nota nahu: ayat 59.Grammar note: verse 59.
(2) أَلَا سَآءَ مَا يَحْكُمُونَ: سَآءَ (sungguh jahat) ialah kata kerja untuk mencela. Kitab rujukan kami menyebut: “﴿ما﴾: نكرة موصوفة تمييز والفاعل ضمير مستتر في ساء” (mā kata nama tidak tentu yang disifatkan, sebagai tamyīz (penjelas), dan pelakunya kata ganti tersembunyi dalam sā’a) (2/1208 · Shamela ↗); demikian juga Maḥmūd Ṣāfī (al-Jadwal fī I‘rāb al-Qur’ān): “(ساء) فعل ماض لإنشاء الذمّ، والفاعل ضمير مستتر تقديره هو (ما) نكرة موصوفة في محلّ نصب تمييز لضمير الفاعل” (7/339 · Shamela ↗). Maka مَا diwarnakan hijau dan kurungan pelaku ialah (ia). Namun kitab rujukan kami sendiri menambah dalam kurungannya: “[أو أن (ما) مصدرية وما دخلت عليه في تأويل مصدر فاعل]” (atau mā maṣdariyyah, dan ia bersama kata kerjanya menjadi kata terbitan yang berkedudukan sebagai pelaku) (2/1208 · Shamela ↗); Muḥyī al-Dīn Darwīsh (I‘rāb al-Qur’ān wa Bayānuh) menyebut: “وما نكرة منصوبة على التمييز أو موصولة فاعل ساء وجملة يحكمون صلة ولك أن تجعلها مصدرية والمصدر المؤول فاعل أي ساء حكمهم” (mā sebagai tamyīz, atau kata nama penghubung yang menjadi pelaku sā’a, atau maṣdariyyah: “buruklah hukum mereka”) (5/321 · Shamela ↗); dan Muḥammad ‘Alī Ṭāhā al-Durrah (Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm wa I‘rābuhu wa Bayānuh) merujuk: “مثل إعراب: ﴿أَلا ساءَ ما يَزِرُونَ﴾ في الآية رقم [٢٥] بلا فارق بينهما” (i‘rabnya sama seperti ayat 25) (5/212 · Shamela ↗), dan di sana, selepas pandangan tamyīz, beliau menukil bahawa Abū al-Baqā’: “كما أجاز اعتبار ﴿ما﴾ موصولة وموصوفة ومصدرية” (membenarkan mā sebagai kata nama penghubung, kata nama yang disifatkan, atau maṣdariyyah) (5/171 · Shamela ↗). Maka: pada pandangan kata nama penghubung, مَا tetap hijau dan kurungan pelaku menjadi (apa yang ma) — selaras dengan bentuk terjemahan Basmeih “Sungguh jahat apa yang mereka hukumkan itu”; pada pandangan maṣdariyyah, مَا diwarnakan merah dan kurungan pelaku menjadi “hukum mereka”. Kami mengikut kitab rujukan kami, sama seperti dalam surah al-Ma’idah ayat 66 (lihat juga nota surah al-An‘ām ayat 136); maknanya tetap sama.(1) مِن سُوٓءِ مَا بُشِّرَ بِهِۦٓ: Basmeih translates “berita buruk yang disampaikan kepadanya” (“the bad news that is conveyed to him”), with “news” as the subject. In the i‘rāb (grammatical analysis), Dār al-Ṣaḥābah (I‘rāb al-Qur’ān al-Karīm) says: “﴿بُشِّرَ﴾: ماض مبني للمجهول ونائب الفاعل مستتر-هو-والجملة صلة الموصول (ما)” (a passive past verb; its nā’ib fā‘il (stand-in doer) is a hidden pronoun, “he”; the clause is the ṣilah (relative clause) of mā) (2/1208 · Shamela ↗), and Muḥammad ‘Alī Ṭāhā al-Durrah (Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm wa I‘rābuhu wa Bayānuh) explains: “ونائب الفاعل يعود إلى ﴿أَحَدُهُمْ﴾ أيضا” (that stand-in doer refers back to أَحَدُهُم, “one of them”) (5/212 · Shamela ↗). Literally: “the evil of what he was given news of”. So the stand-in doer bracket is (he); the word meanings and the English follow Basmeih, with the literal sense in “(lit. …)”.
(2) أَلَا سَآءَ مَا يَحْكُمُونَ: سَآءَ (evil is) is a verb of blame. Our reference book says: “﴿ما﴾: نكرة موصوفة تمييز والفاعل ضمير مستتر في ساء” (mā is an indefinite noun with a description, acting as tamyīz (specifier), and the doer is a pronoun hidden in sā’a) (2/1208 · Shamela ↗); so too Maḥmūd Ṣāfī (al-Jadwal fī I‘rāb al-Qur’ān): “(ساء) فعل ماض لإنشاء الذمّ، والفاعل ضمير مستتر تقديره هو (ما) نكرة موصوفة في محلّ نصب تمييز لضمير الفاعل” (7/339 · Shamela ↗). So مَا is coloured green and the doer bracket is (it). Our reference book itself, however, adds in its own bracket: “[أو أن (ما) مصدرية وما دخلت عليه في تأويل مصدر فاعل]” (or mā is maṣdariyyah, and with its verb it forms a verbal noun standing as the doer) (2/1208 · Shamela ↗); Muḥyī al-Dīn Darwīsh (I‘rāb al-Qur’ān wa Bayānuh) says: “وما نكرة منصوبة على التمييز أو موصولة فاعل ساء وجملة يحكمون صلة ولك أن تجعلها مصدرية والمصدر المؤول فاعل أي ساء حكمهم” (mā as tamyīz, or a relative noun that is the doer of sā’a, or maṣdariyyah: “evil is their judging”) (5/321 · Shamela ↗); and Muḥammad ‘Alī Ṭāhā al-Durrah (Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm wa I‘rābuhu wa Bayānuh) refers: “مثل إعراب: ﴿أَلا ساءَ ما يَزِرُونَ﴾ في الآية رقم [٢٥] بلا فارق بينهما” (its i‘rāb is the same as in verse 25) (5/212 · Shamela ↗), and there, after the tamyīz view, reports that Abū al-Baqā’: “كما أجاز اعتبار ﴿ما﴾ موصولة وموصوفة ومصدرية” (allowed mā to be a relative noun, a described noun, or maṣdariyyah) (5/171 · Shamela ↗). So: on the relative-noun view مَا stays green and the doer bracket becomes (what mā) — matching the form of Basmeih’s rendering “Sungguh jahat apa yang mereka hukumkan itu” (“Truly evil is what they judge”); on the maṣdariyyah view مَا would be coloured red and the doer bracket would be “their judging”. We follow our reference book, as in surah al-Ma’idah verse 66 (see also the note on surah al-An‘ām verse 136); the meaning stays the same.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَأَعْلَنَ ذَمُّهُ بِحَرْفِ أَلا لِأَنَّهُ جَوْرٌ عَظِيمٌ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/184–185 · Shamela ↗ (huraian ayat 58–59)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/184–185 · Shamela ↗ (commentary on 58–59)
Menurut Ibn ‘Āshūr, kelahiran seorang anak pada hakikatnya ialah nikmat bagi seorang ayah; maka ungkapan berita itu mengandungi sindiran terhadap mereka kerana menganggap berita gembira sebagai musibah, walaupun ia dianggapnya “berita buruk”. Dia bersembunyi kerana malu, sambil berbelah bahagi dalam hatinya antara dua pilihan. Perbuatan itu dinamakan Allah sebagai hukum, dan celaannya diumumkan dengan huruf alā (“Ketahuilah!”) kerana ia satu kezaliman yang besar.
Renungan: Setiap anak ialah nikmat daripada Allah; marilah kita menyambut kelahiran anak perempuan dengan syukur dan kasih sayang, dan menjauhi setiap adat yang menzalimi mereka.According to Ibn ‘Āshūr, the birth of a child is in truth a blessing for a father, so calling it good news carries a rebuke to them for treating good news as a calamity, though he counts it bad news. He hides away out of shame, torn in his heart between two choices. Allah names that conduct a judgement, and declares its blame with the particle alā, Know this, because it is a grave injustice.
Reflection: Every child is a blessing from Allah; let us welcome the birth of a daughter with gratitude and love, and keep away from every custom that wrongs her.
Terjemahan: Bagi mereka yang tidak beriman kepada hari akhirat itu, sifat yang buruk, dan bagi Allah jualah sifat yang tertinggi; dan Dialah jua Yang Maha Kuasa, lagi Maha BijaksanaTranslation: For those who do not have faith in the Day of the Hereafter is the attribute that is evil, and to Allah alone belongs the attribute that is highest; and He alone is the All-Mighty, the All-Wise.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَحُذِفَ الْمُفَضَّلُ عَلَيْهِ لِقَصْدِ الْعُمُومِ، أَيْ أَعْلَى مِنْ كُلِّ مَثَلٍ فِي الْعُلُوِّ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/186–187 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/186–187 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini ialah jawapan kepada kata-kata mereka yang buruk, dengan menghina perlakuan mereka terhadap anak perempuan. Mathal (sifat) bermaksud keadaan yang menakjubkan, sama ada pada keelokan atau keburukan. Dari segi bahasa, al-a‘lā ialah ism tafḍīl (kata nama yang menunjukkan kelebihan), dan perkara yang dibandingkan dengannya tidak disebut supaya maknanya umum: “sifat yang tertinggi” itu lebih tinggi daripada setiap sifat.
Renungan: Marilah kita mengagungkan Allah dengan sifat-sifat-Nya yang tertinggi, dan menjauhi sifat-sifat buruk yang dicela dalam ayat ini.According to Ibn ‘Āshūr, this verse answers their ugly words by belittling the way they treated daughters. Mathal, an attribute, means a remarkable state, whether in beauty or in ugliness. Grammatically, al-a‘lā is an ism tafḍīl, a noun of comparison, and what it is compared with is left unsaid so that the meaning is general: the highest attribute is higher than every other.
Reflection: Let us glorify Allah with His highest attributes, and keep away from the evil traits blamed in this verse.
يَسۡتَقۡدِمُونَ
… akan dapat meminta didahulukanwill … be able to ask to be brought forward (merekathey)
Terjemahan: Dan kalaulah Allah menyeksa manusia disebabkan kezaliman mereka, tentulah Ia tidak membiarkan tinggal di muka bumi sesuatu makhluk yang bergerak; akan tetapi Ia memberi tempoh kepada mereka hingga ke suatu masa yang tertentu; kemudian apabila sampai tempoh mereka, tiadalah mereka akan dapat meminta dikemudiankan sesaatpun dan tidak pula mereka akan dapat meminta didahulukanTranslation: And if Allah were to punish mankind because of their wrongdoing, He would surely not leave on the face of the earth a single creature that moves; but He gives them respite until a certain fixed time; then, when their term arrives, they will not be able to ask for delay by even a single hour, nor will they be able to ask to be brought forward.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«بَيَّنَ أَنَّهُ يُمْهِلُ هَؤُلَاءِ الْكُفَّارَ وَلَا يُعَاجِلُهُمْ بِالْعُقُوبَةِ، إِظْهَارًا لِلْفَضْلِ وَالرَّحْمَةِ وَالْكَرَمِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/227 · Shamela ↗ (huraian ayat 61–64)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/227 · Shamela ↗ (commentary on 61–64)
Kata ar-Rāzī, setelah Allah menceritakan besarnya kekufuran kaum itu dan buruknya kata-kata mereka, Dia menerangkan bahawa Dia memberi tempoh kepada orang-orang kafir itu dan tidak menyegerakan hukuman ke atas mereka, untuk menzahirkan kurnia, rahmat dan kemurahan-Nya. Inilah makna “akan tetapi Ia memberi tempoh kepada mereka hingga ke suatu masa yang tertentu”.
Renungan: Kita juga hidup dalam tempoh rahmat Allah; marilah kita tidak menyalahgunakan tempoh itu, tetapi segera bertaubat dan memperbaiki diri sebelum tiba ajal yang tidak dapat ditangguhkan walau sesaat.Ar-Rāzī says that after Allah told of the people’s great disbelief and ugly words, He made clear that He grants those disbelievers respite and does not hasten their punishment, to show His bounty, mercy and generosity. That is the sense of His delaying them to an appointed term.
Reflection: We too live within a respite of Allah’s mercy; let us not misuse it, but hurry to repent and mend ourselves before the appointed term comes, which cannot be put off even for an hour.
وَتَصِفُ
dalam pada itu, … memperkatakanat the same time … utter (lidah mereka alsinatuhumtheir tongues alsinatuhum)
مُّفۡرَطُونَ
orang-orang yang disegerakan (masuknya ke dalam neraka)the ones who are hastened (in their entry into Hell)
Terjemahan: Dan mereka mengadakan bagi Allah apa yang mereka sendiri tidak menyukainya; dalam pada itu, lidah mereka memperkatakan perkara yang dusta, (kononnya) bahawa mereka akan beroleh kesudahan yang baik di sisi Allah. Tidak syak lagi, bahawa bagi merekalah api neraka, dan bahawa merekalah orang-orang yang disegerakan (masuknya ke dalam neraka)Translation: And they ascribe to Allah what they themselves dislike; at the same time their tongues utter a falsehood, (so they claim) that they will gain a good outcome with Allah. There is no doubt at all that for them is the Fire of Hell, and that they are the ones who are hastened (in their entry into Hell).
Nota nahu: لَا جَرَمَ أَنَّ لَهُمُ ٱلنَّارَ (ayat 62).Grammar note: لَا جَرَمَ أَنَّ لَهُمُ ٱلنَّارَ (verse 62).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَمَعْنَى تَصِفُ تَذْكُرُ بِشَرْحٍ وَبَيَانٍ وَتَفْصِيلٍ، حَتَّى كَأَنَّهَا تَذْكُرُ أَوْصَافَ الشَّيْءِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/192–193 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/192–193 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini menyebut satu lagi keadaan kekufuran mereka. Perkataan taṣifu (memperkatakan) bermaksud menyebut dengan huraian, penjelasan dan perincian, seolah-olah lidah itu sedang menyebut sifat-sifat sesuatu. Lā jarama (tidak syak lagi) bermaksud: sungguh benar; dan menurut bacaan majoriti, “disegerakan” bermaksud mereka didahulukan ke neraka kerana merekalah yang paling layak menerimanya.
Renungan: Lidah boleh menghuraikan dusta dengan panjang lebar; marilah kita menjaga lidah daripada mendakwa kesudahan yang baik untuk diri sendiri tanpa amal, dan bercakap benar dalam setiap perkara.According to Ibn ‘Āshūr, this verse names yet another state of their disbelief. The verb taṣifu, to describe, means to mention something with explanation, clarity and detail, as though the tongue were listing a thing’s features. Lā jarama, there is no doubt, means: truly; and in the reading of most reciters, the word for being hastened means they are sent ahead into the Fire, as the most deserving of it.
Reflection: The tongue can spell out a lie at length; let us guard our tongues from claiming a good end for ourselves without deeds, and speak the truth in all things.
Terjemahan: Demi Allah! Sesungguhnya Kami juga telah mengutus Rasul-rasul kepada umat-umat yang terdahulu daripadamu (wahai Muhammad), lalu Syaitan memperelokkan pada pandangan mereka yang ingkar akan amal-amal mereka yang jahat itu; maka dialah menjadi pemimpin mereka pada hari ini; dan mereka akan beroleh azab seksa yang tidak terperi sakitnyaTranslation: By Allah! Truly We too have sent Messengers to nations that came before you (O Muhammad), then Satan made those evil deeds of theirs seem fine in the eyes of those who denied; so he is their leader today; and they will have a punishment whose pain is beyond words.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهَذَا يَجْرِي مَجْرَى التَّسْلِيَةِ لِلرَّسُولِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/230 · Shamela ↗ (huraian ayat 61–64)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/230 · Shamela ↗ (commentary on 61–64)
Kata ar-Rāzī, setelah itu Allah menerangkan bahawa perbuatan seperti ini telah pun dilakukan oleh umat-umat terdahulu terhadap para nabi sebelum ini, lalu berfirman “Demi Allah! Sesungguhnya Kami juga telah mengutus Rasul-rasul kepada umat-umat yang terdahulu daripadamu”. Ini menjadi penghibur bagi Rasulullah atas dukacita yang baginda alami akibat kejahilan kaumnya.
Renungan: Para rasul sebelum ini juga menghadapi penolakan; apabila kita berdepan dengan kejahilan orang lain ketika menyampaikan kebaikan, marilah kita bersabar dan mengambil kekuatan daripada kisah mereka.Ar-Rāzī says Allah then made clear that conduct like this had already come from earlier nations towards the prophets before, swearing that He had sent messengers to nations before the Prophet. This serves as consolation for the Messenger over the grief he suffered from his people’s ignorance.
Reflection: The messengers before also faced rejection; when we meet the ignorance of others while calling to good, let us be patient and draw strength from their stories.
Terjemahan: Dan tiadalah Kami menurunkan Al-Quran kepadamu (wahai Muhammad) melainkan supaya engkau menerangkan kepada mereka akan apa yang mereka berselisihan padanya; dan supaya menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berimanTranslation: And We have not sent down the Qur’an to you (O Muhammad) except so that you may make clear to them what they differed about, and so that it may be guidance and mercy for people who believe.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«ثُمَّ ذَكَرَ تَعَالَى أن مع هذا الوعيد الشديد قد أَقَامَ الْحُجَّةَ وَأَزَاحَ الْعِلَّةَ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/230 · Shamela ↗ (huraian ayat 61–64)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/230 · Shamela ↗ (commentary on 61–64)
Kata ar-Rāzī, selepas ancaman yang keras itu, Allah menyebut bahawa Dia telah pun menegakkan hujah dan menghilangkan segala alasan. Maknanya, Dia tidak menurunkan Kitab kepada Rasulullah melainkan supaya baginda menerangkan kepada mereka, melalui keterangan-keterangan al-Qur’an, perkara-perkara yang mereka perselisihkan, iaitu urusan agama seperti tauhid (mengesakan Allah) dan syirik, dan juga hukum-hakam.
Renungan: Al-Qur’an telah menegakkan hujah ke atas kita; marilah kita merujuk kepadanya apabila berselisih, dan menjadikannya “petunjuk dan rahmat” dalam hidup kita.Ar-Rāzī says that after that severe threat, Allah states that He has already established the proof and removed every excuse. The meaning is that He sent down the Book to the Messenger only so that he would make clear to them, through the explanations of the Qur’an, the matters they differed over: matters of religion such as tawḥīd, affirming the Oneness of Allah, and shirk, and also rulings.
Reflection: The Qur’an has established the proof against us; let us turn to it when we differ, and take it as guidance and mercy in our lives.